Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Setitik Cemas


__ADS_3

Bab. 18 : Kepikiran


Sabtu adalah hari yang ingin kuhindari. Tak bekerja membuatku tak bisa bertemu dengannya. Entahlah, apa aku bisa tahan untuk tak bersentuhan segala tentangnya seharian. Menyatukan bahagia karena rasa cinta.


Setelah mata terbuka yang kucari adalah benda pipih. Ingin mengucap selamat pagi yang dulu kubilang sebagai hal yang lebay. Rendra melakukannya dan aku mencibirnya. Sekarang aku mengikuti, menjadi berlebihan karena perasaan sayang. Cinta itu ternyata menepikan logika.


Jauhi sendiri atau aku yang akan menunjukkan cara untuk menjauhinya!


Sebuah pesan yang mengalihkan perhatian. Tak jadi menyapa dan fokus membalas Ardi sebagai pengirimnya. Syok terapi saat membuka mata ini, kembali menorehkan setitik cemas di hati. Ternyata kami sama-sama kekeh berjuang, meskipun Rosa telah menjatuhkan pilihan. Jauh sebelum menerimaku, dia sudah terlebih dulu menolaknya. Bukan lagi penolakan halus tetapi sudah kasar yang menjurus.


Dia sudah memilihku.


Balasku singkat tetapi cukup menjelaskan bagaimana dia harus bersikap. Itu jika dia menggunakan pikirannya. Namun jika ego yang bicara maka uang dan ototlah yang akan maju untuk melawan musuh yaitu aku.


Sekian lama kutunggu, balasan itu tak ada jua. Kuputuskan untuk meletakkan dan meninggalkan. Memilih untuk berganti pakaian dan jogging. Bukan lari dari ancaman justru aku menjemput hati yang sedang dia incar dengan tidak benar. Mengganggu sesuatu yang sudah ada penunggu.


Jarak rumahku dengannya yang hanya tiga kilometer, menantang adrenalin untuk melangkahkan kaki dalam ritme cepat. Olahraga sekaligus olah mata. Siapa tahu beruntung untuk menikmati tarikan pada kedua sudut bibir yang melengkung. Sebuah senyuman dari sang pujaan. Atau malah disuruh mampir. Berkah yang tak boleh dibiarkan tak terjamah.


Keringat yang mulai mengucur, meluncur tanpa alur. Napas terengah karena langkah kian jauh menempuh. Perlahan melambatkan ritme dan sejenak berhenti. Mengatur pertukaran udara. Tiba-tiba ada motor melaju dari arah belakang yang menyerempet sedikit tubuhku. Tidak keras tetapi cukup membuat tubuh sedikit oleng.


Pekikan kaget seketika menjelma menjadi rasa curiga. Pengendara itu seperti sengaja untuk menabrakku. Sebuah peringatan, yang langsung kuterka bahwa pelakunya adalah pemilik nomor yang semalam juga menerorku. Entah itu Ardi atau suruhannya, yang pasti aku harus waspada. Helm menjadi penghalang mataku untuk mengenal meski dari jarak dekat.


Aku memilih menepi. Bersandar pada sebatang pohon kayu putih yang kebetulan tumbuh rindang di pinggir jalan. Rupanya lelaki itu tak main-main dengan ucapannya. Bertindak nekat agar Rosaku bisa didekap. Meskipun hatinya telah memilih, tak membuat pencinta itu beralih. Justru ingin merebut sesuatu yang sebenarnya tak ingin ikut.


"Ren, lu di mana?" tanyaku begitu terpikir untuk menghubunginya.


Sahabat gombalku itu, kalau hari Minggu sibuknya luar biasa. Bukan karena bekerja tetapi mengerjai pacarnya. Sok car free day padahal hanya sekedar melepas kangen karena Sunday. Akal bulus yang nyatanya berjalan mulus.


Kejadian barusan membuat hati menjadi berkecamuk. Pikiran sudah tak fokus untuk meneruskan niat terselubung. Akhirnya memilih untuk memutar langkah, kembali ke rumah.


🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️

__ADS_1


"Bun," sapaku pada Bunda yang memasak di dapur.


"Mau gantiin masak lagi?" goda Bunda karena kemarin aku mengambil alih tugasnya, mempersiapkan sarapan untuk sekeluarga sekaligus bekal makan siang untuk kami berdua, aku dan Rosa.


Kutersenyum nyengir. Meneguk air yang baru saja kuambil. "Rud kangen masakan Bunda," kilahku seraya mendekat ke arah wanita pemilik kasih pertamaku itu.


"Coba gantian masakin Bunda! Masa, masaknya hanya buat si dia. Bunda cemburu, tau!"


Kupeluk Bunda penuh rasa sayang.


"Kamu itu sudah dewasa. Masih suka peluk-peluk Bunda, memang gak malu kalau dilihat temenmu?"


"Kenapa malu, Bun? Rud sayang Bunda, kok."


"Bunda atau Rosa?" sindir Bunda dengan senyum menggodanya.


Dua wanita dengan kedudukan yang berbeda. Sama-sama berharga dan mendapatkan porsi yang sama dalam hal kasih dan cinta. Aliran darah sebagai anak akan selalu merebakkan sayang yang tiada terbayang. Tulang rusuk yang hilang akan membiaskan cinta yang tiada ujungnya. Tak terpisahkan.


Wanita pemilik kasih abadi itu hanya tersenyum. "Susah memang ngobrol sama pujangga yang lagi jatuh cinta. Kalimatnya lebay," ejek Bunda lagi.


Aku hanya tersenyum. Menjauh darinya dan memilih untuk bersantai di meja makan. Mengambil gawai dan membaca sebuah pesan yang kembali mengintimidasi.


Tadi itu hanya salam perkenalan.


Kuhela napas panjang. Bisa kurasakan jika aku sedang mendapatkan teguran keras. Akan semakin beringas jika aku memaksa untuk terus maju dengan tegas. Menantang tanpa mengenal kata pantang. Saudara hanya ikatan tetapi jodoh adalah takdir Tuhan.


"Ada apa, Rud?" tanya Bunda ketika tak sengaja menangkap perubahan gelagatku.


"Gak ada apa-apa kok, Bun," bohongku untuk menghindari kecemasan dari wanita yang kusayang.


"Siapa yang mengirimimu pesan?" cerca Bunda tak percaya dengan kejujuran yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


"Ardi."


Akhirnya nama itu tak bisa kusembunyikan lagi. Toh, Bunda juga tahu masalah ini. Semuanya tahu, itu adalah kenyataan yang tak perlu ditutup-tutupi lagi.


"Dia bilang apa?" tanya Bunda segera meninggalkan aktivitasnya dan ikut duduk di seberangku.


Aku bingung menjawab. Diamku diartikan sendiri oleh Bunda sebagai sebuah perintah untuk menjauh Rosa. Aku membenarkan seraya menambahkan jika itu bukan sekadar perintah tapi sudah menjadi ancaman. Kuceritakan semua bahkan tentang kejadian saat aku sengaja disenggol barusan.


"Rud, Bunda mengkhawatirkan keselamatanmu."


"Bunda tidak perlu khawatir. Rud bisa jaga diri," yakinku pada Bunda.


"Jalanmu akan berat, Nak! Bunda mendukungmu. Apakah kamu sudah benar-benar yakin jika jalan ini akan kamu tempuh sampai akhir?"


"Rud akan tetap mempertahankan Rosa, Bun. Apapun halangannya."


Nampak ada napas yang dihela panjang. "Nak, jika kamu sudah tidak sanggup, lepaskan! Namun jika kamu tetap maju, Bunda akan selalu mendoakanmu."


_______________________________________________


Ada getar yang menghebat di hati sang gadis. Ia menyusun puzzle dari rangkaian kisah masa lalu yang berserakan. Kekeh berjuang dan meninggalkan tanpa alasan, perlahan mulai menunjukkan jalan setapak menuju pemecah teka-teki.


"Apakah semua karena Ardi? Apa lagi yang dia lakukan hingga tiba-tiba saja Mas Rud menghilang?"


Tanya yang menggantung semakin ingin dia carikan jawaban. Penasaran yang sudah pernah menghilang kini mengungkung lagi. Ada jawab yang akan segera mengungkap. Menyibak tabir rahasia tentang cinta yang penuh luka. Akankah lembar berikutnya sudah menebar berita? Penjelasan dari pelarian rasa yang sempat dibiarkan menjadi cerita.


👥👥👥👥👥


Walingmi harus selalu dinanti! Ayo terus mampir!


__ADS_1


__ADS_2