
Kekhawatiran gadis ayu tentang Mas Rud yang menolak mengalami kejadian seperti abang, membuatnya terus berusaha melakukan panggilan. Namun, tetap saja ia harus menelan kekecewaan.
"Mungkin, Rud masih di jalan, Nak. Tenanglah!" hibur bunda seraya mengusap bahu sang calon menantu.
Gadis ayu mengangguk. Ia mengharapkan hal yang sama dengan apa yang dikatakan bunda. Namun, tetap saja hatinya merasa khawatir. Pikir pun terus diajak memelintir resah agar gundah itu segera menyerah.
Ketika gadis ayu mulai sanggup mengolah buncahan rasa di kalbu, bunda kembali mengajaknya berbicara. "Sebenarnya ada masalah apa, Nak?"
Jawaban yang ingin diberikan seakan tersangkut dalam kungkungan rasa enggan. Gadis ayu merasa sangat jahat, hingga ia sukar untuk memberikan penjelasan. Namun, ia bertekad untuk menjernihkan semua masalah.
Masih dalam kondisi menunduk, gadis ayu mulai membuka mulut. "Bun, Rosa bingung."
Kalimat yang terjeda itu disela oleh bunda, "Ceritakan dari awal, Nak. Siapa tahu bunda bisa membantu."
Sebuah helaan napas mendalam mengawali kisah yang akan gadis ayu ceritakan. "Abang amnesia. Ia menganggap Rosa sebagai istri, Bun. Tadi, ketika Rosa menjelaskan yang sebenarnya, abang merasakan sakit pada kepalanya. Ketika ia terjatuh, secara tidak sengaja, Rosa ikut terjatuh. Kami saling ..."
Bunda yang memahami isi kalimat yang tidak diutarakan gadis ayu bersikap bijaksana, "Lanjutkan!"
"Mas Rud melihat itu dan memukul abang hingga pingsan. Rosa marah sama Mas Rud. Dan ... akhirnya Mas Rud bilang dia akan mundur." Gadis ayu menyelesaikan ceritanya sampai disitu saja.
"Lalu, Rud pergi dan kamu mengejarnya ke sini?" selidik bunda yang dijawab iya lewat anggukan kecil.
Beberapa waktu keduanya diam. Hening.
Sesaat kemudian, bunda mengajak gadis ayu untuk bangkit dari duduk. "Ikuti bunda, Nak!"
Tanpa berusaha membantah, gadis ayu membawa langkah mengikuti sang calon mertua. Ia menjejakkan kaki melewati ruangan di lantai satu dan kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.
"Masuklah, Nak! Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan di sana. Bunda tinggal dulu, ya."
Wanita paruh baya itu berlalu begitu saja setelah melepaskan sebuah senyuman. Gadis ayu merasa bingung. Haruskah ia masuk?
__ADS_1
Perlahan, handle pintu itu diputar oleh gadis ayu. Sempat gamang, akhirnya ia memutuskan untuk menjelajah kamar. Ruangan yang pernah ia masuki itu, membuat sensasi tersendiri. Ia seolah dibawa pada dunia liar yang dipenuhi oleh cinta seorang Rud Dinata.
Foto besarnya, benda-benda kenangan antara dia dan Mas Rud semua membangkitkan gejolak rasa. Ia seperti dikuliti. Tanpa sadar gadis ayu menangis. "Mas, maafkan aku yang tidak berpikir jauh tentang kecemburuanmu."
Linangan air mata tidak menyurutkan langkah gadis ayu untuk terus maju. Ia mendekati sebuah meja. Di sana ada sebuah kotak tanpa penutup yang penuh dengan kertas berwarna merah jambu.
Gadis ayu mengulurkan tangan untuk meraih salah satu dari benda itu. Meskipun awalnya ragu, tetapi akhirnya keyakinan datang menguatkan niat.
London,
Jarak yang memisahkan, waktu yang membuat kita semakin menjauh, ternyata tidak sanggup membuat cintaku padamu meluruh.
Ini gila. Ya, mencintaimu adalah kegilaan yang tidak bisa aku sembuhkan. Obat luka ini bukan waktu, tetapi adalah dirimu. Sayangnya, kamu telah menjadi kesayangan seseorang.
Di sini, seharusnya aku belajar mencintai wanita lain. Namun, berbulan-bulan telah terlewati, benih rasa itu tidak juga tersemai. Ia gagal tumbuh.
Lyca
Kamu
Rosaku
Dulu milikku. Sekarang tetap kumiliki. Suamimu hanya pemilik status dan ragamu. Namun cintamu telah kucuri. Sama, seperti kamu yang telah mencuri duniaku.
Apa kabarmu di sana?
Masihkah kamu mengingatku? Ataukah kamu telah membungkus rasa dan menyimpan dalam gudang gelap yang penuh sarang laba-laba.
Sayang ... ah, masih bolehlah aku memanggilmu sayang?
Walaupun tidak boleh, aku akan tetap memanggilmu begitu. Karena bagiku, kamu akan selalu menjadi cintaku.
__ADS_1
Kucoba untuk menerima dan mengikhlaskan perpisahan kita. Di sini, aku sedang disiapkan untuk mencintai wanita lain. Sayangnya aku gagal sebelum berperang. Lyca tidak bisa mengalihkan cintaku.
Rasaku stuck. Aku hanya sanggup membuat status kakak dan adik. Sekadar memberi pelukan ringan tanpa perasaan untuk memberinya dukungan saat ia perlu semangat. Sebatas itu. Dan kamu, selalu menjadi satu-satunya wanita yang ingin kusentuh. Rasanya, aku merasa berdosa telah memberi pelukan pada wanita lain. Terdengar berlebihan, tetapi begitulah lebay-nya cintaku padamu.
Gadis ayu meletakkan kertas yang baru saja selesai ia baca. Rintik bening di pipi, mulai deras mengalir. Ia seperti sedang dihakimi oleh tulisan sang kekasih. "Mas, kamu menyindirku. Kakak adik versiku dan versimu berbanding terbalik. Kamu berdosa menyentuhnya, sedangkan aku justru memarahimu karena kecemburuan yang kamu wujudkan dalam tindak kekerasan pada abang ketika kamu mendapati posisi kami tidak layak dipandang.
"Mas, setinggi itu kamu mencintaiku. Apakah aku begitu bodoh?" Gadis ayu berkata seraya menahan air mata yang jatuh tanpa bisa dibendung.
Tangan itu tidak mau diam. Ia kembali mengambil kertas yang lain. Kali ini, sebuah note kecil berwarna putih.
Dion boleh mengambil madumu, tetapi akulah yang akan menemanimu hari terakhirmu. Kita akan menua berdua.
Gadis ayu semakin terjerembab dalam keharuan. Ia tahu Mas Rudnya memiliki cinta yang sangat luas, tetapi ia tidak mengira jika rasa itu tidak terbatas.
Merasa belum puas mencabik perasaan sendiri, gadis ayu kembali memilih satu kertas lagi. Tidak, itu bukan surat ataupun catatan kecil, tetapi sebuah tiket perjalanan.
Aku membeli tiket ini untuk kita, Sayang. Semoga menjadi doa agar suatu saat kita bisa ke sana. Akan kutunjukkan jika dinginnya es Islandia akan luluh oleh bara cintaku yang selalu membara tanpa mengenal waktu.
"Cintamu benar-benar tidak masuk akal, Mas. Siapa aku hingga bisa kamu pilih sebagai wanita istimewamu? Aku tidak pantas kau beri cinta sebesar ini, Sayang."
Tangis itu menjelma menjadi isak kecil. Gadis ayu meletakkan kepala di atas meja. Ia jadikan tangan sebagai tumpuan. "Mas, beri aku kesempatan terakhir untuk menjadi wanita terbaikmu."
Gadis ayu bangkit. Tidak ada artinya ia berdoa dan menyesal jika tetap diam. Kotak itu kembali ia rapikan. Sempat terabai, tetapi kemudian ia bawa pergi. Namun, belum jauh ia melangkah, kakinya berhenti.
Anggota gerak bagian bawah dilipat. Matanya melongok sesuatu yang tersembunyi di bawah meja. Ada benda yang sanggup membuat gadis ayu tidak bisa berkata-kata.
"Sepatu couple kita, Mas." Gadis ayu berusaha menahan agar air matanya tidak keluar. Ia ingat benar kalimat yang pernah terlontar dari mulut Mas Rud.
"Jika kita melangkah, maka akan seiring sejalan. Namun, jika kamu berhenti, maka aku akan menunggu sampai kamu kembali menyejajariku."
Gadis ayu melepas sandal yang dipakainya. Ia mengganti dengan sepatu putih yang mereka miliki dalam satu rupa. Dari kaki kanan dan kini berganti sebelah kiri.
__ADS_1
Sepatu milik Mas Rud ia ambil. Kotak kecil dan alas kaki itu ia bawa berdiri. Kaki kembali melangkah pergi. Janji berjalan sejajar, kali ini akan ia perjuangkan. Semoga gadis ayu belum terlambat untuk menyambut cinta Mas rud. Ia akan mencari hingga menemukan sang lelaki.