Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Rasa


__ADS_3

Gadis ayu terbangun dari tidur malamnya yang panjang. Dalam diam, ia pandang wajah polos D-junior. Putra semata wayangnya itu, masih terlelap dalam mimpi.


Tanpa berkata ia mencium kening sang putra. Hanya pandangan nanar yang ia berikan. Sebuah usapan lembut penuh kasih sayang, ia sapukan pada surai hitam lebat yang menawan. Warisan sang papa tercinta.


"Mas Dion, lihatlah putra kita! Dia benar-benar mirip denganmu. Rinduku padamu, obatnya adalah Di-junior."


Ya Allah, Mas Dion memang telah Engkau ambil. Namun Engkau Maha Adil. Dia tidak pergi dari sisiku karena hadirnya Kau gantikan dengan sosok yang lain. Putra kami adalah dirinya dalam wujud kecil.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mbak, mau ke mana?" Kristy yang sedang menonton televisi menolehkan kepala saat sang kakak sudah terlewat dari pandangannya.


"Berkencan dengan Mas Dion," jawab gadis ayu tanpa menghentikan langkah.


Kristy seketika berlari mengikuti. "Yakin? Abang belum pulang, loh. Besok, aja! Nanti sore kan kita akan menjemputnya. Jadi besok bisa Mbak ajak menemui Mas Dion."


"Kasihan abang, nanti jadi orang ketiga kalau aku ngajak dia," ucap gadis ayu dengan senyum sumringah.


"Mbak yakin pergi sendiri? Aku temenin, deh."


"Gak mau, ah. Orang mau kencan kok ikut."


Kristy menarik lengan gadis ayu. Tatapannya menelisik lewat netra yang saling menyapa. Mendeteksi kebenaran tentang kalimat-kalimat yang baru saja ia dengar.


"Dapat keberanian dari mana hingga Mbak Rosa mau menemui Mas Dion sendirian?"


"Beberapa hari ini Mas Dion hadir di tidurku, Kris. Dia memberiku bunga favoritnya dengan senyum bahagia. Mimpi yang datang berulang. Kamu tau? Dia menggenggam jemariku. Lantas tersenyum melihat seseorang yang datang dari kejauhan. Wajahnya samar karena terhalang sinar yang menyilaukan."


"Lalu?"


"Aku selalu terbangun sampai di situ."


Kristy memilih diam sejenak. Dia menatap lekat sang kakak. "Pergilah, Mbak!"


💐💐💐💐💐


Dalam balutan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, gadis ayu melengkapi penampilannya dengan selendang putih yang ia jadikan penutup kepala. Ia berjalan menyusuri area pemakaman sendirian.


"Mas, aku merindukanmu."


Gadis ayu meletakkan sebuket bunga forget-me-not di pusara suaminya. Ia teringat kala itu, ketika ia dihadiahi keindahan bunga mungil yang berwarna biru dan putih. Kelembutannya mewakili kasih sayang dua sejoli. Kehangatan perasaan datang ketika bunga itu diberikan oleh Dion. Kini, dia yang melakukannya.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku karena baru kali ini aku bisa mengunjungimu seorang diri. Butuh waktu tiga tahun bagiku untuk bisa menata hati karena kamu yang mendadak pergi."


Gadis ayu menyeka kristal bening yang sedikit lolos dari sudut mata. "Aku sempat tergoda untuk membaca novel Mas Rud. Namun aku hentikan sebelum menyelesaikan. Mengetahui alasannya pergi membuatku takut. Takut jika perasaan yang sudah aku tuliskan atas namamu akan goyah kembali, Mas. Kubuang rasa penasaran dan novel itu kutinggalkan di rumah abang. Biarkan saja dia yang menyimpan."


Helaan napas panjang nan mendalam gadis ayu ulurkan. Menjeda waktu sekaligus menata rasa secara bersama-sama.


"Senin depan, putra kita mulai masuk PAUD, Mas. Rasanya baru kemarin aku merawatnya tanpamu, tak terasa usianya sudah tiga tahun lebih sekarang. Terimakasih, Sayang. Kamu kirimkan dia sebagai penggantimu saat aku rapuh. Waktu berjalan cepat, akan tetapi cintaku akan selalu ada untukmu. I love you so much."


Gadis ayu kembali menata hati. Mengembus napas hingga ketenangan emosi kembali bisa ia kuasai. Nisan bertuliskan nama pemilik hatinya itu ia usap penuh kasih. Sedalam perasaan yang masih ia simpan, begitulah cinta itu coba terus untuk ia pertahankan.


Waktu telah membuktikan jika goresan cerita masa lalu tak sedikit pun membuka rasa yang pernah ada. Logika ia mainkan bahwasanya mencintai dan memiliki tak harus berjalan lurus.


🌻🌻🌻🌻🌻


"Ayo berangkat, Aunty! Jangan kelamaan dandan!" Di-junior menggedor-gedor pintu kamar Kristy.


"Anak kecil jangan cerewet. Tunggu aja di depan sama mama!" timpal Kristy santai dari kamar.


Sang tante memang sengaja mengunci pintu karena hafal dengan kebiasaan sang keponakan yang tidak sabaran jika ingin bertemu dengan uncle Aryan. Apalagi sudah seminggu mereka tidak bertemu. Abang sulung keluarga itu ada pekerjaan di London.


Bocah kecil itu terus saja mondar-mandir. Hingga yangti yang lewat sengaja berhenti. "Aunty-mu makin lama dandannya, kalau kamu suruh buru-buru."


"Marahin, Ti! Mau kelihatan cantik di depan siapa, sih? Jomblo juga," gumam Di-junior setelah memerintah yangtinya dengan tegas.


"Anak kecil bilang jomblo, emang tau apa artinya? Aunty jewer, sini!"


Di-junior berlari. Menghindar dari sang Aunty. Yangti memilih pergi. Tante dan keponakan itu memang seperti itu setiap hari.


"Ayo, berangkat!" Panggilan suara dari lantai bawah akhirnya membuat mereka menghentikan kaki.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ruang tunggu kedatangan dari luar negeri, di sanalah ketiga anggota keluarga Atmadja itu kini berada. Pesawat yang ditunggu baru saja landing. Oleh karenanya mereka harus sabar untuk menanti para penumpang keluar.


"Aunty, tebak-tebakkan, yuk!"


"Hm."


"Siapa yang akan pertama uncle, peluk?" tanya Di-junior.


"Aunty-lah. Orang paling cantik, begini," ucap sang tante seraya mengibaskan rambutnya persis model di video klip jadul.

__ADS_1


"Cantik kok jomblo," celetuk Di-junior yang dibalas dengan cubitan gemas di pipi menggemaskannya.


"Kalian berdua bisa damai nggak buat sementara? Ini bandara bukan rumah," ucap sang mama yang membuat mereka diam seketika.


Perubahan tingkah mereka drastis. Dari yang seperti Tom &Jerry berganti seperti upin dan ipin. Kebuasan mereka seketika menjinak. Ucapan sang mama sudah seperti titah baginda raja.


Mereka kembali fokus pada satu titik. Pintu keluar yang akan dilewati penumpang yang baru datang. Satu per satu, ada kaki yang mulai menjejakkan diri. Riuh suara penjemput melambaikan tangan dan di sambut pelukan.


"Itu, uncle."


Di-junior berteriak girang saat lelaki yang di tunggunya melenggang dengan senyum mengembang. Anak kecil itu berlari menyambut sang uncle tersayang. Dengan senyum yang tak kalah sempurna lengkungannya, ia sabar hingga kembarannya memangkas jarak.


Sang aunty yang iseng, segera berdiri di depan sang keponakan. Menghalangi pandangan sekaligus hendak menyabotase pelukan. Tak terima dengan kelakuan sang aunty, Di-junior berlari. Akhirnya secara bersamaan mereka tenggelam dalam pelukan sang abang. Kembaran dalam gendongan dan sang adik bungsu dalam rangkulan.


Tawa bahagia mereka membuat gadis ayu ikut membayangi wajahnya dengan senyuman. Pemandangan indah ini, sungguh mendamaikan hati.


"Rosa," sapaan lembut yang masih membayang jelas di ingatan, seketika membuatnya mengalihkan tatapan indra penglihatan.


Terkesiap saat mendapati siapa yang gadis ayu lihat. Degup jantung seketika membumbung. Bibir kelu dan tubuh hanya bisa memaku.


Tak sadar kapan lelaki itu mendekat, yang jelas ia sudah berada dalam dekapan hangat. Bergeming. Kedua insan yang telah melewati manis getir rasa yang mengatasnamakan cinta itu tak mampu bersuara.


Beberapa waktu beku oleh kedalaman rasa yang masih tersisa. Otak bisa menolak akan tetapi hati tak akan bisa di bohongi. Cinta itu masih ada.


Gadis ayu mengeratkan pelukan. Sebuah kecupan, lelaki itu berikan pada gadis ayu yang sangat ia rindu. Rosa dan mas Rud, terlarut dalam rasa akut yang masih terpaut.


Ya Tuhan, apakah mereka akan bersatu?


💘💘💘💘💘


Hai, kakak semua! Akhirnya keinginan kalian agar Mas Rud dan Rosa bertemu sudah kesampaian, ya?


Enaknya, kisahnya dilanjutkan atau cukup sampai di sini saja?☺


Lanjut, dong pastinya! Nanggung banget kalau cuma begini doang, sih. Itu menurutku. Gimana menurut kakak semua? Iya, nggak?😁


Tapi ... Depe minta izin liburan dulu, ya?


Jangan khawatir! Selagi nunggu Depe lanjutin ini, novel Aku, Si Pelakor! masih up, kok. Mampir sana aja, dulu!


Pelakorku gak bikin makan hati. Malah bikin baper. Nggak percaya? Coba mampir!

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca tulisan Depe sampai sini. 🥰🥰🥰🥰😍😍😍😘😘😘😘


__ADS_2