Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Kamu, Dion!


__ADS_3

Perlahan gadis ayu membuka netra. Indra penciumannya dimanjakan oleh aroma minyak kayu putih yang menggelitik. Namun, ada yang lebih mengusik, lelaki yang ada di hadapan membuatnya bergeming. Dalam lirih ia menyebut sebuah nama yang diyakini milik seseorang yang tengah ia hadapi. "Mas Dion."


Tiba-tiba saja, air mata tidak kuasa ia sembunyikan di balik sudut indra penglihatan. Luruh. Kristal kesedihan itu membuat rasanya kembali luluh.


"Mas." Lagi-lagi bibir tak berhenti memanggil.


Dalam penglihatan gadis ayu, suaminya itu terus saja tersenyum. Ia nampak bahagia melihatnya. Namun, gadis ayu justru bingung untuk mengartikan apa maksud lengkungan indah itu.


Dalam benak sang gadis, ia tahu sang suami telah pergi. Tetapi pikirannya mengingkari jika yang sedang dilihat bukan separuh jiwanya yang telah kembali. "Mas, jangan tinggalkan aku!"


"Mama," panggilan khas itu perlahan membuat pudar khayal liar.


Bening kristal semakin mengular ketika kesadaran gadis ayu perlahan datang. Putra kecilnya yang telah ia lihat sebagai wujud sang malaikat tidak bersayap, perlahan membuatnya mengulurkan tangan. Bocah kecil ia belai dan ia jatuhkan lembut dalam pelukan hangatnya. "Sayang."


"Ini Di-junior, Ma." Pengakuan sang putra semakin membuncahkan rasa di dada.


"Iya, Sayang. Maafkan, Mama."


"Mama kangen sama Papa?" Pertanyaan polos Di-junior lagi-lagi menjatuhkan gadis ayu dalam lubang kegaduhan rasa yang curam.


Adegan menyayat hati itu disaksikan oleh Mas Rud yang duduk di sisi seberang Di-junior. Gadis ayu tidak menyadari kehadirannya karena terfokus pada keberadaan semu dari pencintanya yang tulus. Memahami keadaan hati sang kekasih, Mas Rud hanya diam tanpa berniat untuk menyela kata.


Kebekuan suasana dicairkan oleh kedatangan seorang wanita dengan membawa nampan di tangan. "Makanlah dulu, Sayang! Kamu mau disuapi siapa?"


Bibir gadis ayu yang masih terkunci sulit untuk memberikan jawaban kepada sang mami.


"Cucu eyang mami, ayo lihat ikan di depan! Biarkan Mama makan dulu, Sayang," ajak mami pada Di-junior.

__ADS_1


Sebelum melepas pelukan sang mama, Di-junior mencubit hidung seperti yang dilakukan sang papa ketika merasa gemas. "Mama nurut sama Om Rud! Nanti, Di-junior wakilin papa marahin Mama kalau galau terus."


Belum cukup membuat gadis ayu terkejut, sang putra kemudian menghujani ciuman pada pipi kanan, pipi kiri, dan dahi sang mama. Sebuah senyuman akhirnya menjadi salam perpisahan.


Gadis ayu memandang punggung sang putra dengan linangan air mata. "Aku tahu itu kamu, Mas."


Bening kristal itu diusap oleh Mas Rud dengan lembut. "Dia datang untuk memberi restu pada kita, Sayang."


Gadis ayu semakin menangis tersedu-sedu. "Mas, dulu ... di sini ... Mas Dion ..."


Air mata itu kembali diseka. "Iya ... aku tahu. Jangan menangis lagi! Dia akan bersedih jika melihatmu terus menangis."


Dengan telaten, Mas Rud mendudukkan gadis ayu. Makanan itu satu per satu ia suapkan hingga mengisi perutnya yang kelaparan.


Sementara itu, Di-junior dan eyang mami tengah duduk di sebuah ranjang. Mereka asyik bercerita dalam tawa bahagia. Bocah kecil itu tidak lelah bertanya tentang papanya yang telah tiada.


Tiba-tiba saja, bocah kecil itu menyatakan perasaannya. Raut wajah yang biasanya selalu ceria, kali ini menampakkan bias kesedihan. "Ada uncle Aryan dan om Rud, tetapi kenapa mama menangis?"


Eyang Mami pun menjadi ikut sedih. Beliau yang sudah mengikhlaskan kepergian putra bungsunya, mendadak disergap rindu menggebu. Wanita paruh baya itu paham mengapa sang menantu bisa pingsan ketika tadi baru saja datang. Dion memang terlampau dalam mengakar dalam kenangan.


"Mama hanya kangen dengan papamu, Sayang," jawab eyang mami memilih kata paling aman. Tidak mungkin beliau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan batin menantunya.


"Di-junior juga kangen papa, Eyang Mami," aku polos bocah kecil itu.


Sebuah usapan penuh kasih melembut di surai tebal bocah kecil. "Kita semua kangen papa Dion, Sayang. Ayo, kita doakan papa agar bahagia di sana!"


Seketika putra semata wayang mengangkat kedua tangan. Dua kakinya dibuat duduk bersila. "Ya Allah, kami kangen papa Dion. Semoga papa bahagia di sana."

__ADS_1


Doa yang dipanjatkan begitu singkat, akan tetapi sarat dengan makna mendalam. Hal itu terlihat dari bulir bening yang tiba-tiba mengalir di pipi bocah kecil. Di-junior menangis. Rupanya, rindu yang menggebu itu telah menyebar syahdu di kalbu sang putra gadis ayu.


Eyang mami meraih tubuh kecil sang cucu dalam pelukan sayang. Sebuah usapan pada surai hitam kembali ia lakukan. Tidak terasa, luruh juga air matanya.


Ini bukan anakmu, Nak. Ini adalah Dion-nya mami. Kamu tidak benar-benar pergi. Jiwamu bersemayam dalam raga putra semata wayangmu. Tuhan sedang menunjukkan keadilan cinta. Dia menyandingkan kalian bertiga dengan cara berbeda. Kamu bukan menghalangi bersatunya istrimu dan Rud, akan tetapi kamu mempererat jalinan cinta diantara mereka.


Kehangatan dekapan sang eyang membuat sang cucu terlelap. Sepertinya ia ingin bermanja di pangkuan lebih lama. Bukan, bukan Di-junior. Namun, ini adalah Dion yang rindu bermanja di pelukan mami tercinta. Kedekatan mereka, membuat apa yang dibatin terwujud dalam bentuk lain.


"Bobok?" tanya eyang papi yang mendekat dengan sangat hati-hati. Ia takut sang cucu akan terbangun.


Eyang mami mengangguk. Dengan suara lirih, beliau mulai membuka bibir. "Pi, ini Dion."


Mendengar kalimat sang istri, eyang papi seperti tenggelam juga dalam kubangan yang sama. Beliau juga melihat sang putra bungsu dalam wujud kecil sang cucu. Tidak terasa berlinanglah air mata di pipinya.


"Kamu mengunjungi papi, Nak?" batin eyang papi seraya membelai surai Di-junior.


"Pi, apakah putra kita sedang menyatukan istrinya dengan cinta pertamanya? Setulus itukah cintanya, hingga dia pergi dan kembali untuk melakukan itu?"


Eyang papi nampak memperhatikan dalam wajah yang ia yakini adalah putranya dalam raga sang cucu tercinta. "Rosa adalah bahagianya Dion, Mi. Ia memilih jalan berbeda untuk melihat senyum di wajah istrinya. Apakah Mami lupa jika ia selalu menomorsatukan Rosa dibandingkan dirinya?"


"Itu berarti kita juga harus mendukung niatnya. Bukankah begitu, Pi?" Eyang Mami juga berbicara seraya memandang wajah pulas cucunya.


Keduanya kemudian saling memandang. Ada kesepakatan yang sedang didiskusikan lewat tatapan. Ketika waktu tersita oleh jebakan rasa, tanpa diduga, ada suara yang membuat rasa semakin membuncah.


"Pi, Mi, aku bahagia menjadi seperti ini," sapa Di-junior dari alam bawah sadar.


Sepasang insan paruh baya itu seketika memutar netra. Dari sudut mata, mengalir deras bulir bening. Mereka terisak. Hati tiada kuasa menata rasa. Tuhan benar-benar sedang membawa perasaan mereka terjatuh dalam genangan rindu yang memercikkan syahdu.

__ADS_1


__ADS_2