
Bibir gadis ayu menjadi kelu. Bening air mata meluruh, membiaskan hati yang meronta seketika. Apa yang ia baca sama sekali tak pernah ia ketahui. Kenyataan menyakitkan yang ditutupi dari pendengaran.
Novel itu ia biarkan. Terjatuh dari tangan dan entah bagaimana nasibnya. Si pemilik tak kuasa menahan gemuruh perasaan yang membabat habis hatinya.
Tuhan ... kenyataan apa yang sedang kau tunjukkan? Ini perih. Aku tak sanggup untuk terus merintih.
Bukankah Engkau tahu jika hatiku begitu rapuh bila itu berkaitan dengannya? Mengapa semua ini tersingkap saat aku tak ingin lagi berkhianat? Luruskan jalanku untuk terus setia, menjadi istri seorang mas Dion Wijaya.
Gadis ayu meletakkan kepalanya di meja rias. Ia ingin meringankan, bahkan jika bisa meninggalkan beban. Kenyataan ini terlalu membuat nyeri.
Dalam sesak, kristal bening terus merangsek. Meluruh bersama kisah keruh yang membuat hati pilu dan sendu. Gadis ayu membenci saat seperti ini. Hatinya goyah ditelan kisah. Setia yang ingin dia pertahankan, dihancurkan oleh seberkas kenangan usang. Padahal dia tahu, percuma digulung cerita lalu karena seseorang yang membuatnya kelu sebentar lagi akan membuka lembaran baru.
🍂🍂🍂🍂🍂
"Mbak ... Mbak Rosa," panggil Kristy entah untuk keberapa kali.
Ada getaran yang perlahan membawa gadis ayu sadar dari alam impian. Goyangan badan untuk membangunkan, yang akhirnya meraih hasil maksimal. Mata sang gadis mulai membuka dan mengerjap setelahnya.
"Mbak Rosa tidur di sini semalaman?" tanya Kristy sambil duduk di tepi ranjang.
Bukannya menjawab, gadis ayu justru melihat diri sendiri. Baru ia sadari, jika ia masih setia tergeletak di meja rias seperti semalam. Sang gadis menarik badan hingga duduk dengan tegak. Memerhatikan pantulan wajahnya di cermin.
Ketika gadis ayu fokus dengan wajahnya yang menjadi saksi kesedihan semalam, Kristy memungut novel yang terserak di dekat kakinya. Meletakkan di meja dan memilih memarkirkan badannya di sana. Melihat pantulan wajah sang kakak yang melukiskan kesedihan yang berarak.
"Ada apa, Mbak?"
__ADS_1
"Kris ..." panggil gadis ayu yang tak bisa ia lanjutkan lagi kalimatnya.
Novel itu ia raih. Dengan berat hati, membuka lembarnya hingga halaman terakhir yang semalam membuat perasaannya menggelora. Mematahkan kekuatan yang coba ia pertahankan. Menyodorkan benda kecil yang menjadi saksi cinta itu kepada adiknya.
Kristy yang paham disuruh membaca, segera memasrahkan netra untuk mengikuti paragraf demi paragraf yang tersusun dari kalimat-kalimat yang menyayat. Ia yang hanya mengikuti saja menampakkan perubahan raut, jadi ia memahami mengapa sang kakak menjadi seperti ini.
Tanpa berkata, ia segera memberikan pelukan terhadap kakak semata wayangnya. Adik yang biasa cerewet itu kini lebih memilih menjadi lengket. Membenamkan sang kakak dalam pelukan erat.
"Belum berjodoh dengan mas Rud, Mbak Rosa diberi ganti mas Dion. Jangan larut dalam penyesalan, Mbak. Itu tak akan mengubah apapun. Waktu tak akan bisa diputar kembali, Mbak.
"Aku tidak menyesal tentang tali jodohku dengan mas Dion, Kris. Namun, aku kecewa ... sangat kecewa dengan pak dhe Haryo. Bagaimana mungkin dia mengambil keputusan tentang hidupku tanpa meminta persetujuan dariku. Punya hak apa dia memutuskan semuanya?"
Air mata gadis ayu kembali mengalir di pipi. Emosinya yang masih menampakkan sisa kini meluap lagi. Sesak yang masih mendesak, terus merangsek dalam benak. Menyuarakan buncahan perasaan tentang tali perjodohan yang dihancurkan oleh seseorang yang tidak berhak memutuskan.
"Dia jahat, Kris. Jahat!" seru gadis ayu dengan lelehan air mata yang semakin menggila.
Nasehat bijaksana itu hanya terlewat begitu saja di telinga gadis ayu. Kenyatakan tidak berjodoh karena kecurangan sang pak dhe membuat ia tak terima. Rupanya, mas Rudnya mundur bukan karena inginnya tetapi ancaman pihak-pihak yang jahat, di belakang mereka.
"Kamu gak tahu rasanya, Kris. Bagaimana saat aku ditinggalkan mas Rud saat perasaan ini berada pada masa sayang-sayangnya. Ketika kami sedang membangun mimpi bersama dan diruntuhkan oleh orang yang tidak pantas memberikan keputusan. Sakit, Kris ... sakit."
Gadis ayu terus menyuarakan kepedihan hati yang semakin menjadi. Suaranya bertarung dengan deru tangisnya yang kian meraung. Memecah kesunyian pagi dan mewarnainya dengan kepedihan yang terlalu dalam.
"Seandainya ... seandainya dia tak lancang ... maka mas Rud akan di sini sekarang!"
Sang adik kembali mengeratkan dekapan. "Mbak ... jangan bermain lagi dengan kata seandainya. Dengan berkata seperti tadi, Mbak seperti menyesali kehadiran mas Dion sebagai suami. Istigfar, Mbak."
__ADS_1
Kalimat terakhir sang adik, rupanya merangsek dalam pikir gadis ayu. Raungan tangisnya mengecilkan suara. Namun, ternyata bukan karena larut dalam istigfar akan tetapi justru lantaran kehilangan kesadaran.
Tubuh gadis ayu melemas dan jatuh melunglai dari pelukan Kristy. Dalam kepanikan, sang adik hanya bisa berteriak, mengharapkan pertolongan. Sayangnya, sang mama sedang ke pasar. Dia hanya sendirian mengurus sang kakak yang tiba-tiba pingsan.
Dengan sekuat tenaga, ia bopong tubuh sang kakak untuk dibaringkan di ranjang. Ilmu kedokteran yang sedang ia perdalam sangat membantunya melakukan tindakan pertolongan pertama untuk orang yang kehilangan kesadaran.
🛌🛌🛌🛌🛌🛌
Aroma minyak kayu putih menguasai ruangan yang ditempati sang gadis ayu. Di ranjang berselimut warna biru itu, pemiliknya sudah membuka mata setelah satu jam ia meninggalkan alam sadarnya. Di sisinya, ada sang abang yang tengah memerhatikannya mendalam. Sesekali membelai rambutnya yang berantakan.
Tak ada kata yang tercipta di antara keduanya. Sang adik masih kelu. Dan sang kakak juga tahu, sehingga ia memilih untuk menunggu waktu. Percuma memberikan nasihat pada sang adik saat hatinya masih dipenuhi oleh kekecewaan dan sesal yang melekat dengan erat.
Netra mereka yang tak sengaja bertemu pandang, memperjelas bagaimana jika perasaan sang gadis ayu begitu terguncang. Sorot penuh luka berpendar dengan begitu nyata. Melukiskan bagaimana jika ia didekap oleh kenangan yang menyayat.
Hanya bulir kristal bening yang kembali mengalir. Menyapu pipi yang sedari tadi sudah basah oleh terbukanya sebuah kisah. Isakan semakin kencang dan saat itulah jemari sang abang menyeka air mata yang semakin meraja lela.
"Menangislah! Luapkan semua perasaanmu! Namun, nanti jika semua sudah selesai ... sadarlah jika hidupmu tidak berhenti di sini. Rud masa lalumu. Begitupun dengan Dion sebagai suamimu. Kamu harus bahagia!"
Gadis ayu memegang tangan si abang yang masih melembut di pipinya. Memberinya tatapan yang dengan mudah dapat dipahami sang lelaki. Hingga pada akhirnya, abang Aryan memindahkan sentuhan dari pipi gadis ayu ke jemari yang lentik itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu terus menangis. Katakan padaku, apa yang bisa membuatmu bahagia maka aku akan memberikannya! Jika kamu bersedih maka aku merasa tak ada artinya berada di sini."
Tanpa menunggu waktu berlalu, gadis ayu bangkit dari tidurannya. Mendekap sang abang seperti seorang adik yang meminta perlindungan pada sang kakak tersayang. "Bang ... sakit!"
💔💔💔💔💔
__ADS_1
Mampir yuk ke novel sahabat somplak author. Di jamin lebih gereget daripada novel author ini.😁😁😁