
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Mas Rud ketika gadis ayu membuka mata.
Kepingan ingatan dan nyawa yang belum sepenuhnya kembali pada tempatnya, ia berikan waktu untuk bekerja maksimal. Netranya ia putar pada sekitar. Ruangan yang asing dan kehadiran sang kekasih membuatnya sadar jika ia masih belum pulang.
Perlahan ia mendudukkan badan. "Jam berapa, Mas?"
"Jam lima."
Gadis ayu menutupkan punggung tangan Pada mulut yang menguap. "Bunda, ke mana?"
"Di halaman depan sama putra kita," jelas Mas Rud.
"Salat dulu, Sayang! Aku tinggal, ya?"
Gadis ayu segera beranjak ketika Mas mantan bodyguard-nya juga bergerak keluar kamar. Ia merapikan ranjang dan mengambil air penyuci. Ibadah dua rakaat pun ia jalankan untuk mengawali rasa syukur pada pagi hari.
"Ya Allah ... aku berada di sini pasti atas seizin-Mu. Kujalani apa yang sudah Engkau tulis. Kuterima dengan ikhlas jalan hidupku yang berliku tajam. Mas Dion, Abang Aryan, dan Mas Rud yang telah Engkau percaya untuk menjagaku, berilah mereka bahagia."
Doa itu ditutup dengan kata aamiin. Harapan yang diminta gadis ayu untuk hidup orang lain melukiskan perasaan yang tidak rela jika ia menjadi penabur luka. Itu karena ia tidak mungkin menerima semua cinta yang dipersembahkan untuknya. Akan ada yang terluka dan itu adalah abang. Lelaki yang sudah menemaninya melewati masa sulit dan akan kembali ia beri sakit. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta kebahagiaan untuknya.
Gadis ayu menahan agar kristal kesedihan tidak ia jatuhkan. Ia harus tegar karena itu adalah yang selalu diupayakan oleh semua orang yang memberinya rasa sayang.
Sang gadis melipat mukena dan sajadah. Ia harus kembali menyambut dunia nyata. Bersiap dihujani kasih dari sang kekasih.
Kaki yang meninggalkan jejak mulai beranjak. Kamar ia tinggalkan dan mencari tempat di mana penghuni rumah berada.
"Keliling daerah sini naik motor, yuk!" ajak Mas Rud yang tiba-tiba datang dari luar rumah.
"Dingin, Mas. Lagian aku memakai rok, nggak nyaman kalau motoran," timpal gadis ayu beralasan walaupun ada keinginan untuk merasakan apa yang kekasihnya tawarkan.
"Ganti baju dulu. Ayo!" ujar Mas Rud seraya menggandeng gadis ayu menuju ke lantai atas.
"Aku nggak mau memakai bajumu, Mas."
"Kamu pakai bajumu sendiri."
Tiga garis lurus berundak di dahi gadis ayu. "Aku nggak bawa baju ganti, Mas.
"Di sini banyak bajumu. Kamu lupa jika pernah meninggalkan pakaian? Selain itu aku dulu membelikanmu baju. Semoga masih muat," jelas Mas Rud begitu masuk ke kamar dan segera membuka lemarinya.
"Sebanyak ini?" tanya gadis ayu melihat setengah ruang lemari berisi gantungan pakaiannya. Mulai dress, kaos pendek, celana panjang, kemeja dan baju hangat, semuanya ada.
__ADS_1
"Hanya itu yang kamu tinggalkan untukku. Seharusnya semua isi lemari ini adalah pakaianmu."
Gadis ayu menoleh mendengar Mas Rud berceloteh. Dalam kalimat ambigu itu terselip rasa sakit. Namun, ia mencoba menepikan dengan memberikan keketusan. "Nanti aku lelang semua bajumu, Mas. Habis itu aku kuasai lemari ini."
Mas Rud melengkungkan senyuman. "Aku menanti saat itu, Sayang."
"Dan sekarang saatnya Mas untuk keluar. Aku mau ganti pakaian dulu."
"Nggak butuh sukarelawan? Untuk membukakan resleting belakang, mungkin?" goda Mas Rud.
Gadis ayu mendorong tubuh Mas rud. "Mas Rud sayang, pengen keluar sekarang atau aku pulang?"
"Penawaranmu tidak menggiurkan, Sayang. Seharusnya pilih aku cium di sini atau di sini," terang Mas Rud seraya menunjuk bibirnya berkali-kali. Sungguh jebakan pilihan dari seorang profesional.
"Mas!" seru sang gadis bernada tinggi.
Bukannya pergi, Mas Rud justru duduk di tepi ranjang sambil memamerkan kakinya yang dibuat menyilang dan kedua lengan menumpu lurus ke belakang. "Ganti baju saja sekarang! Aku akan menunggumu di sini."
"Mengapa melotot, Sayang? Aku sudah melihat semuanya, apa yang masih kamu sembunyikam dariku?" ujar Mas Rud ketika gadis ayu menggerutu lewat raut.
"Atau mau aku bantu?" Tawaran semakin membuat geram.
"Kamu pakai baju di mataku juga seperti tel--"
Bukannya diam, Mas Rud justru menarik tubuh gadis ayu hingga oleng dan jatuh di pangkuan. "Aku tidak bisa berhenti lagi. Kamu selalu membuatku tidak tahan untuk mendiamkanmu walaupun hanya sebentar."
"Mas, lepaskan! Tidak enak kalau dilihat Bunda. Apalagi kalau dilihat Di-junior. Apa kamu tidak malu?"
"Aku memang sengaja biar terciduk terus dinikahkan."
"Ngawur kamu, Mas."
Gadis ayu terus berusaha menepis gamitan, akan tetapi Mas Rud tidak berusaha melepaskan. Yang ada, jarak di antara mereka justru semakin terlibas.
"Aku memendam rindu selama lima tahun, Sayang. Apakah kamu pikir itu mudah? Setiap malam wajahmu selalu terbayang. Sentuhanmu kurindukan. Bercanda denganmu aku inginkan. Tapi yang bisa kulakukan hanya mengingatmu, melihat fotomu dan menahan rindu," jelas Mas Rud yang membuat gadis ayu seketika memaku.
Tidak ada lagi berontak. Ia bergeming. Lelakinya ia pakukan tatapan. "Aku pernah merasakan itu saat kamu tinggalkan tiba-tiba, Mas. Sakit. Sangat perih. Aku merindu tapi yang datang bukan kamu."
"Maafkan, aku! Sungguh aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Aku hanya tidak ingin kamu kehilangan tawa karenaku. Sakitmu sebentar 'kan, Sayang? Dia datang memberimu bahagia dan aku yang akhirnya harus menanggung luka. Tersakiti oleh pilihanku tersendiri," ujar Mas Rud seraya menunduk menahan air mata yang hendak meluruh.
Gadis ayu mengangkat dagu Mas Rud. "Jangan menangis! Kamu sudah terluka terlalu lama, Mas. Biarkan aku membahagiakanmu sekarang!
__ADS_1
Tangan yang tadi memukul dada, kini melingkar di leher. Wajah gadis ayu maju. Memaku dalam jarak sejengkal saja. "Mas, aku mencintaimu. Masih begitu banyak cinta yang aku punya hanya untukmu. Jika dulu kamu yang begitu banyak berkorban, sekarang saatnya aku menepikan segala perasaan. Aku ada untukmu."
Perlahan gadis ayu mendekatkan diri dan sebuah sentuhan kecil ia berikan di bibir. Hanya sekilas tapi cukup membekas. "Jangan pernah bersedih lagi. Sudah saatnya kita bahagia."
Sekali lagi gadis ayu memangkas jarak. Namun bukan bibir yang disisir melainkan pipi kiri. "Hari ini cukup. Sekarang keluarlah, Mas! Aku mau ganti baju."
"Aku rasa belum cukup."
"Mas, jangan semua sekarang! Nanti kamu bosan," timpal gadis ayu beralasan agar sang kekasih segera pergi.
"Kamu salah, Sayang. Mana ada aku bosan sama kamu? Yang ada justru semakin ketagihan," aku Mas rud seraya memberikan kecupan lembut.
Gadis ayu terkesiap. Ia tidak menyangka jika Mas Rud akan mengecup. "Sepertinya aku salah telah memulai."
"Kamu serba salah, Sayang. Kalau kamu tidak memulai, aku yang akan memulai." Mas Rud berucap dengan senyuman nakal.
Helaan napas sang gadis embuskan. "Iya ... iya ... aku tahu kekasihku ini vacuum cleaner."
"Kok vacuum cleaner?"
"Tahu vacuum cleaner?" tanya gadis ayu.
"Penyedot debu," jawab Mas Rud memberikan arti.
"Nah itu," timpal gadis ayu seraya beranjak dari pangkuan. Ia memanfaatkan kelengahan Mas Rud yang larut dengan rasa penasaran.
"Maksud kamu aku tukang sedot?" Mas Rud menelisik semakin jauh.
"Hm," jelas gadis ayu terwakili dengan gumaman lirih.
"Seperti ini?"
Belum sempat menjawab, bibir gadis ayu sudah disapu oleh sesuatu yang lembut. Seolah terhipnotis, sentuhan itu bersambut. Tautan benda kenyal perlahan mulai bermain nakal.
Liukan liar menggetarkan lidah yang berpadu belitan. Sisi-sisi terjelajahi dengan s*ksi. Gejolak meningkat dan semakin merayap. Napas memaksa berhenti sesaat meskipun rasa masih ingin terus diberi nikmat.
Kecupan kecil menutup sentuhan dua insan yang dimabuk rasa. "Sudah cukup, Sayang. Kalau aku semakin nakal takutnya kamu ketagihan."
Gadis ayu mencubit perut Mas Rud. "Aku yang seharusnya bilang begitu."
Mas Rud tersenyum seraya mencubit gemas pipi gadis ayunya. "Buruan ganti baju! Aku keluar dulu."
__ADS_1
"Nggak jadi lihat aku ganti baju?" goda gadis ayu.
"Nggak, ah! Udah tahu," ujar Mas Rud seraya berhenti di balik pintu. Ia melebarkan senyuman nakal dan kemudian keluar.