
"Kamu ngapain, Sayang?" Abang yang baru saja mengunci pintu seketika mematung karena melihat adik yang dihalalkannya sedang menekuk lutut di samping ranjang.
Punggung diulur hingga kepala lurus dengan lantai. Kepala berganti menoleh ke kanan, kiri, dan memutar ke semua sisi di bawah ranjang. "Ngecek CCTV, Mas."
Abang yang merasa aneh dengan kelakuan orang-orang malam ini, hanya menggeleng. "Kalau sudah ketemu, bilang padaku di mana letaknya! Biar nanti posisiku bagus di kamera."
"Mau live streaming, Mas?" selidik Kristy santai.
"Boleh. Biar mereka puas. Pasti mereka penasaran. Akan kubuktikan kalau aku tidak kalah sama bucin sebelah." Abang berujar dengan sangat tenang. "Cek juga kalau ada kecoa terbang! Siapa tahu itu adalah drone kiriman reader."
Kristy bangun dari posisinya yang anti-mainstream. "Sebenarnya tokoh utama di sini siapa, 'sih? Kenapa mereka kepo sama kita? Harusnya kan sama bucin sebelah," timpal Kristy seraya mengulur punggungnya yang terasa pegal.
"Duduk sini!" perintah abang seraya menepuk sisi sebelah kiri dari ranjang yang ia tempati.
"Pijitin, Mas! Kenapa aku kayak nenek-nenek begini?" oceh Kristy mengambyarkan suasana romantis. Biasanya jika lelaki memanggil untuk duduk, maka akan memberikan pijitan yang membuat si wanita merasa tersanjung. Nah ini, justru membuat bibir mengukir lengkungan kecil.
"My secret admirer, aku mau belajar romantis sama kamu kok rasanya berat, ya?" jujur abang seraya memijit pundak dan menjalar pada punggung Kristy.
"Panggil namaku aja, Mas! Kok aku geli dengernya," aku Kristy seraya mengulur lehernya ke kiri dan kanan.
"Sebenarnya aku juga canggung. Tapi ... kita harus belajar. Sekarang kita sudah menjadi suami istri. Aku ingin memperlakukanmu layaknya seorang lelaki kepada wanita yang ia cintai."
Pengakuan itu membuat jantung Kristy seolah berhenti dalam beberapa detik. Ia yang awalnya berbicara asal, menjadi menahan kata. Ia sadar jika lelaki yang kini berada dibelakangnya sedang mengajak untuk menyelami perasaan. Bukan lagi sebagai kakak dan adik yang senang bercanda, akan tetapi pembahasan romantis sebagai sepasang suami istri.
Perlahan Kristy memutar badan. Ia belum berani langsung berhadapan. Sudut yang ia pilih hanya sembilan puluh derajat. Beberapa waktu, ia setia dengan posisi menunduk. Bahkan, kata pun ikut membeku. "Mas, aku ... juga ingin belajar mencintaimu seperti wanita dan lelaki yang sebelumnya tidak berstatus sebagai kakak adik."
Abang terlalu peka akan muara kalimat yang Kristy ucap. Ia beringsut dari duduk. Setelah menjauhkan diri dari ranjang, ia memilih untuk bersimpuh. Jemari sang istri ia genggam dengan setulus hati. "Mulai detik ini, mari kita mulai berkenalan dari awal! Aku bukan kakak dan kamu bukan adik. Kita adalah Aryan dan Kristy."
Kristy masih diam. Ia tampak salah tingkah. Abang memang sangat manis. Namun, ia biasa bersikap begitu kepada kakaknya. Kali ini, ia yang diperlakukan seperti itu. Jujur, hatinya tergiur, tapi entah mengapa ia merasa kikuk.
"Mulai detik ini aku akan memanggilku My S.A singkatan My Secret Admirer. Biar gampang aku Indonesiakan saja, Maisee. Bagaimana? Apa kamu keberatan , Maisee?" Abang sedikit mengangkat dagu Kristy agar tatapan mereka membentuk garis lurus.
Kristy hanya sanggup mengangguk. Menurutnya ini gila. Ia sama sekali tidak menyangka jika pada akhirnya, lelaki yang diam-diam ia idamkan sekarang merayunya dengan kata sayang dalam hubungan halal.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana kamu akan memanggilku? Jangan Mas! Itu sudah identik dengan Rud," terang Abang dengan sebuah senyuman yang semakin melelehkan hati Kristy.
Kristy terkesiap. Ia tergagap. "Ma-mau kupanggil apa, M-Mas?"
Abang menegakkan badan. Ia kembali mengangkat dagu Kristy yang sempat ia lepaskan sesaat. "Aku memberimu waktu lima menit untuk menemukan panggilan sayang buatku."
Deadline itu membuat Kristy semakin keras berpikir. Namun, ia sukar menemukan jawaban karena otaknya terganggu oleh pemandangan indah yang terhampar di hadapan. Wanita mana yang bisa menolak ketika dihadapkan pada perut kotak-kotak. Tanpa sadar Kristy menelan saliva.
"Maisee ..." Abang mengangkat tubuh wanita yang sedang hanyut dalam lamunan mesum. Ia tatap netra indah dari wajah sang istri. Mereka saling diam, akan tetapi tatapan tidak sedetik pun menjauh. Bahkan semakin dekat dan terjebak dalam gejolak.
Raut semakin membuat kepincut. Bibir sebentar lagi tidak akan memiliki jarak dalam senti. Perlahan mata saling memejam. Naluri menuntun untuk menuntut sesuatu yang empuk saling bertaut.
Pelekatan dua benda kenyal mulai nakal. Awal canggung, akhirnya berlomba saling mengungkung. Penyatuan itu tidak terhenti sampai di situ. Jemari mulai bermain. Posisi pun berganti. Berdiri di lantai, beranjak nikmat di pembaringan. Menghabiskan malam dalam deru napas yang hangat. Berharap jika perasaan yang awalnya terasa kaku bisa semakin lembut.
Berlainan ruangan, ada sepasang pengantin baru juga yang sedang berduaan. Mereka sama-sama terengah. Napas keduanya tersengal. Bukan ... Mas Rud dan gadis ayu tidak sedang menikmati malam pertama seperti Kristy dan abang. Mereka berdua, kehilangan banyak cadangan oksigen karena sedari tadi asyik dengan candaan. Dan kini, mereka saling berpelukan di sofa dengan Mas Rud memeluk gadis ayu dari belakang.
"Sayang," panggil Mas Rud.
"Bolehkah untuk malam ini kita menghabiskan malam dengan sesuatu yang spesial?"
Pikiran gadis ayu sudah terbawa khayalan. "Aku terserah kamu, Mas."
"Apakah kamu masih menyimpan novel dariku?"
Gadis ayu mengernyit. Ia kehilangan arah. Tujuan pemikirannya dan sang lelaki sepertinya tidak sejalan. Ia kemudian sedikit memutar badan. "Hm. Untuk apa?"
"Coba bawa ke sini!" perintah Mas Rud.
Menurut perintah Mas Rud, gadis ayu mengambil apa yang suaminya mau. Novel ber-cover hitam berpadu pink itu ia ambil dari laci. Langkah akhirnya ia kembalikan pada pangkuan suami tersayang.
"Mas mau apa dengan novel ini?" tanya gadis ayu mencari tahu.
Jawaban Mas Rud bukanlah berupa rangkaian kalimat, tetapi sebuah tindakan tidak terpikirkan. Ia membuka halaman terakhir dari novel yang ia tulis. Dalam posisi lengan yang melingkar pada perut gadis ayu dan dagu yang menumpu pada bahu, ia menunjuk barisan kata. "Sayang, maukah kamu membacakannya untukku?"
__ADS_1
Gadis ayu memaku netra. Ia belum pernah membaca bagian yang diminta. Perlahan ia membuka katupan bibirnya.
Aku mengikhlaskanmu bersamanya. Namun jika suatu saat nanti, Tuhan meridai aku bersamamu, maka ..."
Gadis ayu menghentikan kalimat. Ia menengok pada si penulis novel. Netranya berubah sendu. Ada haru yang membuat bulir mengalir di pipi.
Dengan lembut, Mas Rud menyeka air mata yang tiba-tiba saja mewakili kata. "Maafkan aku! Sungguh ini bukan doaku. Namun, sepertinya Tuhan yang telah menggariskan. Apakah kamu memaafkan atas tulisan yang tidak sengaja membuat statusmu berubah, Sayang?"
Gadis ayu berganti menyeka bulir bening sang suami. "Jangan menangis, Mas! Aku sudah ikhlas atas semua yang terjadi. Kehilangan Mas Dion dan kembali mendapatkanmu adalah jalan takdirku. Aku bahagia."
Dua sejoli itu, menangis bersama. Malam pertama bukan bergelut dengan lelehan keringat, tetapi justru mencipta sendu. Mereka saling memeluk.
"Mas, mari kita tunaikan apa yang telah digariskan. Kita harus melewati malam ini seperti yang kamu mau!" pinta gadis ayu seraya melepas pelukan.
Mas Rud menyulam senyuman. Ia bahagia mendengar pengakuan bidadari hatinya. Sebuah anggukan dia berikan sebagai jawaban.
Maju beberapa menit, setting latar kembali ke kamar sang putra tunggal. Di atas ranjang berukuran sedang, tiga nyawa sedang bersemayam pada tubuh yang saling memeluk. Di-junior diapit oleh Mas Rud dan gadis ayu. Mereka saling menatap dengan menghiaskan senyuman. Secara bersamaan mereka mencium sang putra kesayangan.
"Di-junior sayang sama PaRud dan Mama," ucap sang putra dengan mata terpejamnya. Entah ia mengigau atau sadar, yang jelas ia merasa senang. Terbukti ada lengkungan senyuman yang ia ciptakan.
Mas Rud dan gadis ayu mengeratkan lingkaran tangan. Mereka saling memandang. Sorot mata mereka berbicara. Cinta, itulah kata yang menggambarkan perasaan keduanya.
"Sayang, terima kasih untuk segala cinta yang kamu berikan tanpa mengenal batas kesalahan yang telah kulakukan." Mas Rud bertelepati hati.
"Mas, terima kasih untuk pengorbanan dan perjuangan yang telah kamu lakukan. Aku beruntung bisa mendapatkanmu lagi. Terlebih ketika aku mengingat apa yang kamu tulis pada halaman terakhir novel hadiahmu, Mas. Jujur, aku speechlees. Ternyata cintamu setulus itu padaku."
Keduanya tetap saling menatap. Pikiran mereka berpadu dalam khayalan, terngiang pada tulisan di lembar yang tadi gadis ayu bacakan, tetapi tidak dilanjutkan.
Aku mengikhlaskanmu bersamanya. Namun jika suatu saat nanti, Tuhan meridai aku bersamamu, maka akan kuhabiskan malam pertama kita dengan seranjang bersama putra kalian. Sungguh, aku bukan hanya ingin mencintaimu, tetapi aku berharap kehadiranku adalah untuk kebahagiaanmu secara utuh, dan itu pasti akan berhubungan dengan buah hatimu. Jadi, izinkan aku menua bersamamu dan putramu.
Inilah akhir tulisanku. Sebuah novel tentang kedalaman rasa seorang Rud Dinata kepada Rosalia Citra Atmadja. Semoga cinta kita abadi **selamanya.
END**
__ADS_1