Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Kejujuran Derai Air Mata


__ADS_3

Gadis ayu terpaksa menutup novelnya. Ia terisak. Matanya sembab. Tulisan itu menusuk dalam perasaan. Ia terbawa dalam kubangan kepedihan yang sama.


"Mas Rud." Nama sang mantan ia ucapkan di sela tangis yang tidak kunjung mereda.


Sebuah pelukan tiba-tiba menghangatkan perasaan gadis ayu yang membeku. Spontan ia menoleh dan ...


Ada seseorang yang memeluk gadis ayu dari belakang. Kristy, sang adik dari gadis ayu tahu jika kenangan sang kakak sedang berteriak. Menggeliat hebat hingga batin tak kuat.


"Menangis tak akan cukup untuk menutup lukamu. Peluk! Jangan terus-terusan Mbak beri kata-kata ketus!"


Gadis ayu diam mendengarkan. Ia paham, hanya saja entah mengapa ia memilih jual mahal. Ada hati yang ingin ia jaga, mungkin itulah alasannya.


"Kristy yakin Mas Dion mengikhlaskan Mbak kembali pada Mas Rud."


Sebenarnya gadis ayu tahu bahwasanya apa yang dikatakan sang adik tak perlu ia sangsikan. Hati malaikat sang suami tak akan bisa melihatnya terluka. Hanya saja ia ingin membuktikan kesetiaan yang telah ia janjikan. Bukti bahwa ia memilih sang suami dengan setulus hati, itulah yang ia yakin sedang menguji hati.


"Mbak tidak akan menjadi pengkhianat jika kembali pada Mas Rud."


Satu lagi kalimat Kristy sedikit mengikis baris keteguhan hati. "Kris, kenapa dia harus datang lagi? Aku sudah baik-baik saja tanpanya."


Kristy melepas pelukan. Ia mencari kursi di hadapan sang kakak dan dari sana kembali memberikan jawaban. "Itu, orangnya datang. Mbak tanya aja sendiri."


Sebenarnya, Kristy akan memberikan jawaban lain. Namun sebelum ia membuka kata, terdengar suara mobil yang sangat ia hafal memasuki pelataran rumah. Satu ide segar memutar, apa yang baru saja terucap itulah yang harus ia katakan.


Seketika gadis ayu melihat ke arah kedatangan orang yang dicintainya. Ia bingung harus berbuat apa.


"Mbak, samper!" perintah Kristy mengompori.


Gadis ayu kembali melihat ke arah mobil setelah sempat mengalihkan pandang pada sang adik. Kaki baru akan mengayun tetapi urung karena Mas Rud turun dengan melempar senyum. Hati yang sempat yakin kini kembali meragu lagi.

__ADS_1


Dari kejauhan Mas Rud membawa Di-junior dalam gendongan. Rupanya, bocah menggemaskan itu tenggelam dalam alam bawah sadar. Seharian bermain, pasti ia kelelahan. Namun raut senang tergambar jelas di wajahnya yang terlelap dengan tenang.


"Mau dibobokkan di mana?" tanya Mas Rud begitu mendekat pada gadis ayu.


"Di kamarku saja," balas gadis ayu seraya berdiri dan berjalan terlebih dahulu.


Kristy yang menatap kepergian mereka hanya menggeleng sambil mengukir senyuman. "Yang satu narsis dan yang satu jual mahal. Mereka yang saling mencintai, tapi kenapa aku yang gemas sendiri?"


Meninggalkan Kristy, latar beralih ke kamar. Mas Rud begitu hati-hati merebahkan Di-junior di ranjang. Sepatu bocah kecil ia lepaskan dan kemudian sebuah ciuman penuh rasa sayang ia berikan di dahi sang putra semata wayang. Sekali lagi, begitulah Mas rud menganggap Di-junior sebagai putra sendiri.


"Pengen aku cium juga?" goda Mas Rud begitu melihat gadis ayu memaku.


Mas Rud memilih menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Di-junior setelah kalimat nakalnya tidak mendapatkan sambutan.


"Kamu menangis karena membaca novel itu lagi?" tanya Mas Rud seraya mendekat pada gadis ayu.


"Apa kamu membutuhkan pelukan?"


Mas Rud semakin mendekat hingga jarak benar-benar terpangkas. Tanpa berbicara ia segera meraih tubuh gadis ayu ke dalam pelukan penuh kehangatan. "Aku tahu perasaanmu. Diamlah dalam pelukanku!"


Kali ini gadis ayu menurut. Ia sama sekali tidak berontak. Justru membalas pelukan dengan erat. Ia tenggelamkan wajah pada dada bidang sang mantan.


Mas Rud tidak banyak berbicara. Ia belai surai hitam itu dengan penuh kasih sayang. Sesekali ia menciumi puncak kepala dari wanita yang sangat dicintainya. Tiadanya penolakan membuat bibir itu berulang memberikan sentuhan.


Sekian waktu berlalu dalam kelu, pelan-pelan gadis ayu melonggarkan pelukan. Kepala ia tundukkan seraya melangkah ke belakang. "Maaf, aku terbawa perasaan."


Gadis ayu hendak memutar langkah, tetapi Mas Rud lebih cepat menarik lengan. "Kita bicarakan ini secara dewasa. Jangan terus-terusan membohongi perasaan."


Gadis ayu hanya diam. Bahkan saat Mas Rud membawanya ke balkon, ia sama sekali tidak berkomentar. Di sebuah ayunan rotan, wanita bersurai hitam itu didudukkan. Sementara sang lelaki bersimpuh di hadapan. Genggaman lengan kini berganti dengan pertautan jemari.

__ADS_1


"Ini tangisan apa?" Mas Rud membelai pipi gadisnya yang menampakkan sisa-sisa air mata.


"Hatimu merindukanku tetapi bibir selalu mengucapkan lain. Apa kamu tidak lelah karena terus berbohong?" ujar Mas Rud seraya menatap gadis ayu.


"Aku bisa membaca pikiranmu dan bahkan sebelum engkau berbicara aku juga tahu apa yang kamu rasa. Tapi, aku ingin mendengar dari bibirmu sendiri bahwasanya apa yang aku inginkan sama seperti yang kamu rasakan. Sudahkah kamu siap untuk berbicara jujur?"


Gadis ayu tetap menunduk. Rangkaian kalimat Mas Rud membuatnya tak sanggup untuk terus menutup rasa yang sudah terbaca. Bibir kelu tetapi kristal bening mengalir tanpa bisa dibendung.


Mas Rud kembali menghapus air mata yang meluruh tanpa jeda. "Jangan menangis lagi! Ku mohon! Aku sudah terlalu banyak membuatmu menangis karena kepergianku dulu. Sekarang aku kembali untuk melihatmu tertawa karenaku. Jika kamu masih bersedih, apakah aku harus pergi lagi?"


Gadis ayu mengeratkan tautan jemari mereka. Ia menggeleng. Perlahan ia angkat wajahnya hingga tatapan saling beradu dengan Mas Rud.


"Aku kembali untuk menebus tangismu dengan tawa. Tapi, jika kamu tetap menangis juga itu artinya kehadiranku tak ada gunanya. Mungkin aku memang tercipta untuk membuat luka dan lelaki lain yang mengobatinya."


Kristal perih mulai menitik di pipi sang lelaki. Mas Rud menangis. Ia tak kuasa menahan sesak di dada.


Tangan gadis ayu terulur. Perlahan menyentuh pipi Mas Rud yang dipenuhi oleh air mata yang meluruh. Kali ini, gadis ayu berganti menyeka bening kristal sang mantan. "Mas ...."


Dua insan itu menyatu dalam netra yang saling memaku. Bibir yang kelu diintimidasi oleh hati yang memendarkan rasa perih. Sorot mata menjadi cermin yang menguliti kisah yang ingin dimuarakan pada luasnya samudra bahagia .


"Kamu jahat, Mas."


"Aku memang sangat jahat. Bahkan lelaki paling bejat."


Kalimat Mas Rud menggemburkan bulir bening yang semakin subur mengalir. Keduanya semakin diusik oleh isak tangis. Bahkan alam seakan ikut mendendangkan kepedihan dengan melesatkan derasnya hujan.


Mas Rud merebahkan kepala di ujung pangkuan gadis ayu. "Maafkan aku, Sayang! Kupikir dengan meninggalkanmu, maka kamu akan bahagia. Nyatanya kita berdua sama-sama terluka. Aku yang salah mengambil keputusan."


Titik air mata membasahi kulit kepala. Gadis ayu ikut terharu mendengar penuturan Mas Rud. Jemarinya membelai rambut hitam sang mantan. "Kita tidak berjodoh, Mas."

__ADS_1


Seketika, Mas Rud mengangkat kepala. Jemari yang membelai surai, ia raih. Manik mata yang meluruhkan air mata, ia tatap penuh kelembutan. "Bersediakah jika aku memintamu sebagai jodohku?"


__ADS_2