
"Sayang, apa yang sedang kamu tulis?"
Mas Rud tak sabar menunggu jawaban. Akhirnya ia memilih untuk membuat sebuah panggilan. Bukan sekadar telepon tetapi ia memilih video call. Namun ia terkesiap karena yang tertangkap kamera adalah gadis ayunya yang sedang terlelap. Lantas, siapa ya mengangkat panggilannya?
Rasa penasaran bercampur pikiran tidak karuan bersarang dalam benak. Ia yakin gadis ayunya wanita baik-baik. Tidak mungkin jika ia sedang memadu kasih dengan lelaki lain.
Saat pikiran liar semakin membayangkan hal-hal diluar nalar, tiba-tiba suara yang sangat ia hafal menyapanya dengan ceria.
"Om Rud!"
"Kamu bisa mengucap huruf R, anak pintar?" Mas Rud langsung bisa menemukan ketidakbiasaan panggilan dari Di-junior. Namanya yang dulu disapa Lud kini sudah sempurna disebut Rud.
"Bisa dong, Om. Di-junior, 'gitu."
"Jam segini kok belum tidur, Sayang? Mama aja udah pulas, tuh."
"Mama emang bobok dari sore, Om. Paling sebentar lagi bangun," terang Di-junior dengan jelas menyebut huruf R diusianya yang 4 bulan lagi mencapai empat tahun.
"Kalau begitu jangan berisik! Nanti kalau mama bangun kamu dimarahi karena belum bobok," perintah Mas Rud seraya memasang telunjuk di depan bibir.
Dua pria berbeda usia itu pun menjalankan misinya. Dengan melirihkan suara, mereka saling bercerita. Lucunya, Di-junior malah mengarahkan kamera pada sang mama.
Senyum tak berhenti mengembang dari sudut bibir Mas Rud. Bukan hanya karena lucunya tingkah Di-junior, akan tetapi ia bisa menikmati wajah gadis ayu tanpa henti.
"Sayang, besok kita jalan-jalan, yuk! Nanti Om Rud jemput, gimana?" tawar Mas Rud seraya menitikkan fokus pada wajah gadis ayu.
Bocah lucu itu menampakkan keriangan maksimal. Sorot matanya tak bisa berdusta jika ia teramat bahagia. "Oke, Om! Uncle sedang sibuk, jadi Di-junior main aja sama Om Rud."
"Oke, boy! Besok, kita seru-seruan seharian!"
"Di-junior takut dimarahi mama, Om," akunya dengan polos yang membuat Mas Rud semakin gemas.
Mantan bodyguard itu menampakkan kepercayaan diri maksimal. Gesturnya sangat meyakinkan. "Tenang, 'kan ada Om Rud! Masalah mama kecil."
__ADS_1
"Om Rud memang yahud!" ujar Di-junior dengan mengacungkan jari jempol.
Mas Rud lagi-lagi terbahak melihat putra dari gadis ayunya begitu hebat. Namun, tawanya perlahan ia lirihkan karena gadis ayu mengubah posisi tidur. Hilanglah keindahan itu dari tatapan.
"Om, Di-junior ke kamar mandi dulu, ya? Kebelet."
Di Junior pergi begitu saja bahkan saat Mas Rud belum mengiyakan jawaban. Gelengan Mas Rud seketika terpaut pada leher jenjang yang terekspos liar tanpa terbalut surai panjang. Gejolak nakal tiba-tiba saja memenuhi khayalan. Tanpa sadar, saliva berlebihan terpaksa Mas Rud telan berulang.
Astagfirullah
Seirama dengan kalimat istigfar, pandangan Mas Rud dipaksa memutar. Arah lain menjadi sasaran agar nafsu liar tidak semakin nakal. Ia lelaki normal. Bagaimanapun, sesuatu yang mulus tetap akan membuat nafsunya menggebu. Sekuat ia menahan, tetaplah godaan akan membuatnya kuwalahan.
"Mengapa aku jadi mesum melihat dia? Apakah karena aku telah melihat setiap inci tubuhnya? Ataukah cintaku sudah berubah menjadi nafsu?" batin Mas Rud.
Tiba-tiba gadis ayu kembali membalik badan hingga wajahnya tertangkap kamera. Mas Rud kembali menitikkan netra pada muka bantal gadis ayu. "Tuhan ... percepat waktuku untuk bisa melihatnya setiap waktu. Jangan beri kesempatan bagi lelaki lain untuk melihatnya seindah ini. Percayakan padaku, Tuhan."
"Om Rud," sapa Di-Junior membuat Mas Rud terkejut. Spontan ia menebarkan senyuman agar tidak terciduk sedang menata hatinya yang teraduk-aduk.
"Setelah sarapan, Oke! Oh ya, kita pakai baju samaan, yuk!"
Di-junior mengacungkan ibu jarinya. "Oke!"
"Karena besok kita akan jalan-jalan, sekarang Di-junior bobok dulu, ya!" perintah Mas Rud dengan sangat lembut.
"Masih kangen, Om," ucap balita lucu tak rela teleponnya diputus Mas rud.
"Besok kita akan bersama seharian, Sayang," bujuk Mas Rud.
"Janji ya, Om? Pokoknya jemput Di-junior pagi-pagi!"
Mas Rud memberikan keyakinan dengan raut wajah keseriusan. "Percaya sama, Om!
Di-junior tak lagi menahan telepon itu untuk diakhiri. Namun Mas Rud meminta bocah kecil itu untuk merebahkan diri di samping sang mama tanpa mematikan teleponnya. Ia akan memastikan dulu bahwa Di-junior tidur baru telepon akan ia tutup.
__ADS_1
Sekian menit berlalu, rupanya alam mimpi telah menjemput putra kecil sang gadis. Mas Rud menerbitkan senyum melihat dua orang yang ia sayang terlelap dengan melekatkan pelukan.
"Sebentar lagi, pelukan kalian akan lengkap dengan kehadiranku."
Janji untuk segera menutup, Mas Rud ulur beberapa waktu. Ia menatap gadisnya agar terbawa ke alam mimpinya. Senyum kembali terkembang bersamaan dengan panggilan yang ia selesaikan.
Gawai itu tak juga Mas Rud lepaskan dari genggaman. Ia membuka galeri fotonya yang berisi screen shoot-an gadis ayu yang tengah tertidur. Tanpa sadar, ia tersenyum senang.
"Apa 'sih mantra cintamu? Mengapa aku sampai menjadi gila karena ingin memilikimu?"
Bodyguard yang sudah pensiun itu senyum-senyum. Netra seolah dipaksa untuk tak berkedip karena cinta itu membuatnya tak ingin sekalipun menjauh meskipun hanya sedetik.
"Waktu sudah lima tahun berlalu, akan tetapi sikap jual mahalmu masih saja berlaku. Apa perlu aku tinggalkan agar kamu sadar dengan perasaan yang begitu besar, hm?"
Gawai itu kemudian dia letakkan di ranjang. Tubuh dia rebahkan dengan berbantal lengan kanan. Pikiran ia bawa melayang dan akhirnya justru terjatuh pada kelelapan tidur malam yang panjang.
🍒🍒🍒🍒🍒
"Aunty, Di-junior udah keren belum pakai baju ini?" tanya bocah kecil seraya bergaya di depan Kristy yang masih asik rebahan di ranjang.
"Udah keren kayak uncle Aryan," celetuk Kristy sembarang.
"Uncle bukan keren tapi elegan," timpal Di-junior yang membuat Kristy terbangun seketika.
"Elegan? Anak kecil tahu dari mana kata elegan? Sok banget," ujar Kristy seraya merapikan rambut yang acak-acakan.
"Dalam diri Di-junior mengalir darah pujangga, tahu," ungkap putra gadis ayu dengan gaya sok smart.
"Keponakan aunty emang keren! Anaknya Mbak Rosa dan Mas Dion beneran ini. Dijamin asli seratus persen!" Kristy mengacungkan empat jempolnya sekalian.
"Mau ke mana, 'sih? Pagi-pagi buta udah keren aja?" selidik Kristy seraya beranjak dari duduknya. Ia berjalan untuk membuka gorden dan kemudian menghirup udara segar dari balkon.
Ketika anggota badan ia gerakkan, tak sadar matanya menangkap kedatangan seseorang yang berjalan dari arah parkiran. Spontan aktivitas ia hentikan untuk mengamati apa yang dilakukan orang itu. "Mau apa dia jam segini sudah datang ke sini?"
__ADS_1