Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Tersetrum Rasa


__ADS_3

Gadis ayu itu menutup mulutnya. Sebuah senyum coba ia sembunyikan tetapi mata yang berbinar tak bisa berbohong rasa cinta dari seorang lelaki masa silamnya itu masih sanggup membuat hatinya berbunga. Ia seperti tersetrum rasa. Sebuah kekuatan dari kedalaman perasaan yang tersalurkan lewat sebuah novel.


Kenangan itu seakan dihadirkan lagi. Cinta masa muda yang menggelora. Datang sesaat dan pergi dengan luka yang menyayat. Saat kini sebuah fakta berbicara, rasa itu seolah masih menunjukkan tahtanya. Bukan berarti telah berhasil melengserkan nama yang sudah tercetak di buku resmi, hanya sekedar mengenang memori. Toh, penguasa hati itu bukan manusia. Sejauh mana coba menghindar jika sang Maha Cinta masih menaruh rasa maka jatuh cinta itu tiada salahnya.


Penghakiman bukanlah milik mata yang memandang. Karena hati hanya bisa diselami oleh sanubari. Sang pencinta sekadar pelaksana sedangkan penggeraknya adalah Sang Pencipta.


Bab. 11 : Kejutan Kecil


Sebentar lagi, azan magrib akan berkumandang. Perjalanan kami masih terdampar di tengah jalan tol dengan ratusan mobil menghampar. Warna merah menyala, tertangkap sepanjang mata memandang. Tak berkutik.


"Sa," panggilku lembut.


Tak ada balasan jawaban. Mungkin dia sedang sibuk dengan benda pintarnya seperti biasa. Namun, saat kumenoleh kudapati matanya sedang terpejam. Dia terbuai impian. Kuulurkan tangan untuk membelai rambutnya. "Tidurlah, Sayang."


Kemacetan yang menghadang adalah faktor yang bisa memicu kemarahan saat berkendara. Namun jika bersamanya, aku ingin macet itu tak ada ujungnya. Apalagi melihatnya sedang bobok cantik seperti ini. Rasanya ingin aku dekap dalam pelukan. Menggerakkan hidungku di ujung indra penciumannya. Ah, khayalanku semakin meliar jika di sampingnya.


Gawai yang tiba-tiba berdering, segera kuangkat setelah kubaca siapa yang menjadi sang peneleponnya. Tak biasanya Ayah menghubungi jam segini. Mungkinkah ada hal penting?


"Maaf, Yah. Rud sedang terjebak macet. Selain itu ....," tak kulanjutkan kalimat penolakan terhadap permintaan Ayah untuk mampir ke kantornya. Ingin jujur sedang bersama Rosa, tetapi aku tak mau jika hanya akan memicu perdebatan. Sebagaimana kuingat jika Ayah sudah mengingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan wanita yang juga sedang diincar oleh Ardi, keponakannya.


"Baik, Yah."


Kulihat lagi wajah pulasnya. Aku bersyukur dia masih tertidur. Sedikit khawatir jika dia mendengar apa yang baru saja aku bicarakan. Bukan takut, aku hanya tak mau dia merasa tak enak karena menjadi penyebab ketidakpatuhanku pada Ayah. Gadis ini paling keras kepala, apalagi jika menyangkut dengan sesuatu yang tak sesuai dengan pemikirannya. Kedekatannya dengan almarhum sang Papa membuatnya selalu tak bisa jika membuat lelaki yang berkedudukan sebagai orang tua diduakan.

__ADS_1


Kelelahan yang mendera, membuatnya terus terlelap sampai mobilku berhenti di pelataran rumahnya. Mesin tetap menyala karena masih tak rela ia bangun dari tidurnya. Mama yang membuka pintu utama merasa heran karena tak ada yang kunjung turun. Alhasil, aku keluar dengan pelan-pelan. Pintu mobil pun tak kututup sempurna karena pasti akan mengeluarkan suara yang mengusik kelelapannya.


Begitu sampai di hadapan Mamanya, segera kucium punggung tangan wanita mulia itu. "Rosa ketiduran di mobil, Tante. Mau saya bangunkan tetapi kasihan."


"Anak, itu! Kalau sudah tidur begitu, lama bangunnya dia. Kebiasaan dari kecil. Tante bisa minta tolong gendong ke kamarnya, Nak!"


Wah, ketiban durian runtuh, Rud. Mimpi apa kamu semalam?


Kukembangkan senyum kebahagiaan. "Baik, Tante."


Segera kukembali memasuki mobil dari pintu depan sebelah kiri. Mendapatinya yang belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak terjaga. Mulai mencari posisi ternyaman untuk membawanya. Kugeser duduknya hingga kaki itu menggantung di sisi pintu. Segera kutelusupkan tangan kiriku di punggung atasnya, sementara tangan kananku berada di paha bawah sedikit di atas lututnya bagian belakang. Dengan memusatkan kekuatan, kuangkat tubuh yang lebih kecil dariku itu.


Dalam ketidaksadaran, ia kalungkan lengannya di leherku. Hal ini membuatku semakin mudah untuk menggendongnya. Hingga perjalanan melewati tanggapun tak terasa sebagai beban. Pintu yang sudah dibukakan oleh sang Mama sebelum kami datang, membuatku lebih leluasa untuk memasuki kamarnya.


Segera kurebahkan tubuh yang masih terlelap itu di ranjang. Benar-benar tak terguncang sepanjang perjalanan. Bukannya terbangun malah semakin lelap dalam tidur. Sungguh sangat menggemaskan. Keberadaan kami yang hanya berdua, membuat setan dalam diriku menebarkan rayuan sesat. Bisikan itu membuatku berani untuk mengecup keningnya sesaat. "Tidurlah, Sayang. Mimpikan aku dalam cerita indahmu."


Tak ingin semakin terbawa hasrat, kupilih untuk segera meninggalkan kamarnya. Menutup pintu dengan perlahan dan menuruni tangga. Kudekati Mamanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. "Tante, Rud pulang dulu."


"Terimakasih, Nak. Ini ada kue buat Ibu kamu, ya. Sampaikan salam dari Tante," ucap wanita yang sangat kuhormati itu seraya menyerahkan sebuah kantong putih padaku.


Sedikit kutundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan. Senyuman kuberikan menunjukkan keramahan seorang Rud yang sopan. Kuundur diri, karena memang waktu semakin malam.


_______________________________________________

__ADS_1


Gadis ayu mengusap keningnya perlahan. Napak tilas sebuah kecupan yang baru saja ia baca dari novel yang mengisahkan perjalanan cinta mereka dari PoV sang mantan. Terbawa suasana, ia sepertinya tak merasa jika pernah diberikan sentuhan perhatian kala itu. Ranjang yang sedang dijadikan tempat rebahan pun, ia usap perlahan. Ikut menyempurnakan kenangan yang tak pernah mampir dalam ingatan.


"Rupanya banyak hal yang tak kuketahui, Mas."


Ia mendudukkan diri. "Aku terkejut dengan hal kecil ini, Mas. Apakah setelah ini ada hal lain yang akan lebih membuatku kaget? Semoga saja tidak."


Gadis itu menghamparkan pandangan jauh ke jalanan di depan rumahnya. Meskipun terhalang luasnya halaman, tetapi masih bisa ia jangkau apa yang sedang berlalu lalang. Saat fokusnya melekat, ada sebuah mobil yang masuk melewati gerbang rumahnya. Ia tahu siapa pemilik dari kendaraan beroda empat itu. Abang, yang tadi ia tinggalkan di kolam renang.


Lelaki itu melenggang masuk ke rumahnya. Dan ia yakin jika sebentar lagi pintu kamarnya akan diketuk oleh lelaki itu. Tak berselang lama, apa yang ia pikirkan menjadi sebuah kenyataan. Jawaban iya, membawa lelaki dengan penampilan casual itu mendekati dirinya yang sedang berdiri membelakangi kehadirannya.


"Mau menemaniku menghadiri ini, gak?" tanya si Abang sambil menyodorkan sebuah undangan.


Daripada banyak bertanya, gadis itu lebih memilih untuk mencari tahu sendiri. Pembungkus undangan mewah itu ia buka. Nama wanita yang tertera tidak asing baginya. Hanya saja, ia bingung bagaimana lelaki ini bisa mendapatkan akses ke pesta yang hanya bisa dihadiri kalangan tertentu itu?


🍁🍁🍁🍁🍁


Readers setia, mampir yuk ke novel Trio Somplak n The Gank!




__ADS_1




__ADS_2