Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Kesepian Yang Sama


__ADS_3

Lembar berikutnya terbuka. Sebuah judul yang sama seperti keadaan yang kini dirasakannya, kesepian. Melihat ada rasa yang sama, lembar itu diberi pembatas, ditutup. Meletakkan novel kesayangannya di meja dan ia mengambil makanan ikan dan menaburnya di atas kolam yang dihuni oleh sejumlah ikan koi. Ia duduk di pinggiran kolam dan memperhatikan gerombolan ikan yang berebut makanan darinya.


"Dulu, kalian berebut cintaku. Namun sekarang, kalian tinggalkan aku sendiri. Jika saja waktu bisa kuputar kembali, ingin rasanya aku ada di masa itu. Meskipun aku salah berpikiran seperti ini, kuakui aku merasa sepi."


Gadis itu menebar lagi butiran kecil-kecil itu yang segera disambut oleh semua ikan yang ada di kolam. Mulut lapar mereka tak bisa dibohongi bahwa mereka butuh makan. Tak peduli teman, mereka tetap saingan.


"Apakah aku salah, jika aku rindu kalian perebutkan? Ah ... Maafkan, aku!"


"Maaf untuk apa?" tanya seseorang yang baru datang dari arah belakang gadis itu.


Tanpa menoleh pun, gadis itu tahu siapa yang sedang bertanya padanya. Tentu saja dia adalah lelaki yang sama seperti yang tadi sempat menyapanya. Gadis ayu itu tak menjawab pertanyaan lelaki itu. Karena sebenarnya, ia sendiri tak ingin mengutarakan alasannya, cukup hanya ada dalam benak. Ia malah memilih berdiri dan berbalik, menghadap lelaki di belakangnya. Menyerahkan bungkusan yang tadi dia ambil isinya untuk memuaskan hasrat makan belasan ekor ikan. "Lihatlah bagaimana ikan-ikan itu saling berebut apa yang ada di tanganmu!"


Gadis itu melangkahkan kaki kembali ke meja di mana novel itu dia geletakkan begitu saja. Segera duduk dan menyenderkan punggung. Menatap seseorang yang juga baru saja duduk di seberang meja. Dia sengaja diam, karena dia tahu setelah ini lelaki itu yang akan mencercanya.


"Ingin mengulang jatuh cinta dengannya?" tanya lelaki itu selalu dengan senyum simpulnya.


"Sudah kubilang, aku tak ingin lagi mengenal cinta," ulang gadis itu agar sang lelaki yakin dengan kalimat yang dia ucap selalu, dua tahun terakhir ini.


"Jangan membohongi dirimu sendiri!" ingat lelaki itu agar sang gadis bisa move on dari cinta yang sudah berakhir oleh takdir Tuhan.


"Bapak, juga!" ucap gadis itu membalikkan kata.


Lelaki di depan gadis itu beranjak dari duduknya dan mendekat. Mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut. Tak ada penolakan.


"Buka lagi novelmu! Aku mau ikut membacanya," perintah lelaki itu.


Tanpa sepatah kata, gadis ayu itu mulai membuka novelnya. Menemukan judul dengan pilihan kata yang mewakili perasaan sang gadis ayu. Lelaki yang memilih duduk di sandaran tangan kursi tersebut, melingkarkan tangannya pada bahu kiri gadis ayu itu. Seolah tahu jika lembar kertas ini aku menghadirkan rasa yang membuat hati sang gadis dicubit asam manis kenangan lalu.


Bab. 7 : Kesepian Tanpamu


Ingatanku berdua dengannya semalam, berteman keketusan, amarah dan saling menggoda selalu bermain indah dalam pikiran. Selalu ingin dekat dengannya, menikmati waktu berdua dalam tawa. Sayangnya, begitu pagi tiba, aku tak menemukannya tersenyum di sampingku, di ranjang yang sama.


Rud, dia belum menjadi istrimu. Kenapa pikiranmu sudah sejauh itu? Mengenalnya secara dua arah saja baru kemarin. Ingat itu! Belum tentu juga dia menaruh hati padamu. Ingatlah nama-nama lelaki yang keluar dari bibirnya. Dion dan juga Yo ... siapa itu? Yoyo atau Yoko atau siapalah itu. Bisa jadi mereka adalah daftar sainganmu. Jangan sok kePDan dan sok kecakepan.

__ADS_1


"Aku emang cakep," gumamku sendiri menjawab kegalauan yang berkata dalam hatiku.


"cakepmu gak ngefek di hadapan gadis ayumu, itu. Jadi jangan banyak berharap," timpal suara yang entah itu nyata atau hanya setan yang bermain dalam pikiranku saja.


"Stop, kau! Jangan terus meracau tanpa arah. Gadisku sudah terjerat pesonaku. Tunggulah saat yang tepat aku akan membuatnya dekat dan tak mampu lagi lepas dari cintaku yang ganas, buas dan beringas," tegasku, menjawab suara yang membuatku dibalut emosi karena dianggap remeh olehnya.


"Pak manajer, pagi-pagi udah marah-marah aja? Semalam, langsung ditolak, ya?" celetuk Rendra yang tiba-tiba saja sudah duduk di kursi seberang meja kerjaku.


"Mana ada begitu? Yang ada juga dia yang tak bisa menutupi jika tertarik padaku," ujarku tak mau dianggap gagal sebelum berjuang.


"Tuh, muka kenapa kusut begitu?" selidik Rendra dengan senyum smirknya.


"Kangen," jujurku tanpa malu.


Suara tawa Rendra menggelegar saat mendengar pengakuanku. "Ha-ha-ha ... Rud ... Rud ... gue baru percaya kalau elu bener-bener jatuh cinta."


Asem, jadi selama ini dia anggap aku sedang membual. Menutupi kejomblowan dengan khayalan tentang cinta yang aku buat-buat. Ish ... sungguh pemikiran yang kejam.


"Baiklah aku keluar, mau nitip salam buat Rosa, gak?" goda Rendra seraya beranjak dari duduknya, berjalan keluar dan berhenti sebentar di depan pintu sebelum menutupnya kembali.


"Gak perlu," timpalku tanpa berpikir.


Dan aku menyesal dengan celetukanku sendiri. Harusnya tadi kuiyakan saja, biar dia semakin tahu bagaimana perasaanku. Gak perlu malu, karena aku memang suka, cinta dan menggebu untuk memilikinya.


"Rud, banyak cara untuk melihatnya," ujarku pada diriku sendiri.


Senyumku terkembang, sebuah ide brilian bermain di otakku. Segera kulangkahkan kaki keluar ruangan dan menuju ke ruangan editor di mana ia berada. Melihat dengan jelas seorang wanita yang kucari tengah fokus dengan layar menyala di depannya.


Aku sengaja berdehem untuk membuatnya sadar dengan kehadiranku di sebelah kiri mejanya. "Hmm."


Berhasil, dia mendongakkan kepala dan menoleh ke arahku. Memperhatikan sejenak senyumku, lalu dia fokus lagi dengan pekerjaannya.


"Hmm," ulangku pada deheman sebelumnya. Kali ini bermaksud untuk membuatnya bicara. Namun siasatku tak mempan. Dia tetap asyik dengan monitor di depannya. Mengabaikanku.

__ADS_1


"Nona Rosa, ikut saya ke ruangan!" strategi terakhirku untuk membuatnya memedulikan keberadaanku. Seperti dia yang mengacuhkanku, aku pun segera berlalu tanpa menunggu kalimat OK darinya.


Rasa deg-degan yang menyelimuti jantung, hati dan seluruh jiwa ragaku berusaha kutekan sekecil mungkin. Aku jatuh cinta tapi aku harus tetap berwibawa dan penuh kharisma. Ah ... kenapa harus begitu? Was-was, takut dia juga tak menuruti perintahku. Baru saja mau kutelepon tapi sebuah ketukan di pintu membuatku tersenyum. Itu pasti dia!


"Masuk!" perintahku seraya sedikit merapikan penampilan.


Beginikah jatuh cinta itu? Lelaki macho sepertiku menjafi flamboyan. Doyan dandan dan selalu ingin terlihat beberapa level lebih tampan. Aish ... jungkir balik dunia!


"Wow ... cakep bener nih? Tapi kok mukanya kecewa, ngarepin yang datang bukan gue, ya?" goda Rendra yang kusambut senyum kecut.


"Ngapain, sih bolak-balik? Eneg gue ngeliat lu mulu," ucapku asal ceplos.


"Tujuh tahun kemarin, Bapak nempel terus sama saya, lupa? sindir Rendra sambil menyodorkan sebuah berkas yang harus kubaca dan kemudian aku tanda tangani.


Tak kujawab sindirannya. Kuambil berkas dengan warna hijau tua itu. Mulai kubuka dan kudapati dia beranjak dari duduknya.


"Baca dulu! Nanti gue ambil," ucapnya seraya melangkah menuju pintu.


Tepat sebelum membuka pintu, sebuah ketukan kembali terdengar. Tak menunggu perintahku, dia membuka pintu itu. Aku tak berharap lagi itu dia. DiPHPin itu sakit. Tetap memilih fokus dengan berkas dari Rendra, itulah yang kulakukan.


"Masuk, Sa! Dah ditungguin tuh sama manajermu. Kangen akut dia sama kamu," celetuk Rendra tanpa menjaga harga diriku.


Kulirik arah di mana pintu itu berada. Benar, dia hadir dengan senyumnya. Cantik! Tidak! Aku harus tetap sok jaim. Harkat, martabatku yang direndahkan Rendra harus kuangkat lagi setinggi mungkin. Dengan tetap pura-pura masih fokus dengan berkasku. Mengabaikan kehadirannya hingga dia berdiri di balik mejaku.


"Bapak mencari, Saya?" tanyanya yang membuatku mendongakkan kepala.


"Duduk!" perintahku sambil menutup berkas dan meletakkan di sisi meja sebelah kananku.


"Aku merindukanmu," ucapku tanpa kontrol yang membuatnya mengerutkan kening tanda tak percaya dengan hasil pendengarannya.


"Bapak memanggil Saya hanya untuk membuat pengakuan itu? Kerjaan saya numpuk, Pak. Permisi!" ucapnya beruntun disertai dengan kakinya yang mulai beranjak dari kursi.


Kubiarkan saja dia melakukan itu. Yang penting aku sudah bisa mendengar suaranya meskipun itu sebuah omelan. Namun di telingaku seperti rayuan yang merdu. Jangankan amarahnya, wajahnya yang geram saja di mataku begitu menggemaskan. Begini banget ya Tuhan?

__ADS_1


__ADS_2