Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Restu Siapa?


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Di-junior masih pulas dalam pelukan eyang mami di kamar papa Dion. Keduanya seperti terhipnotis hingga terjebak di alam mimpi dalam waktu yang sangat lama.


Sementara itu, mama dari Di-junior sedang duduk di samping eyang dengan menunduk. Di hadapannya ada abang dan Mas Rud. Mereka sedang berbincang masalah cinta. Ya, perputaran rasa yang melingkar di antara empat insan yang salah satunya telah berbeda alam.


Eyang mengedarkan pandang. Berawal dari Mas Rud yang sangat yakin dengan tujuannya, abang yang mengukir senyuman, dan berakhir pada sang cucu menantu. Sekejap kemudian, wanita paruh baya itu berdehem sebelum memulai kata.


"Mau ngobrol apa sama, Eyang?"


"Rud ingin meminta restu, Eyang."


Kalimat penuh keyakinan itu dibalas dengan senyuman. "Restu?"


"Rud akan menikahi cucu menantu Eyang."


"Berani-beraninya kamu akan menikahi cucu menantuku. Apa yang kamu miliki hingga yakin akan menikahi dia?"


"Kami punya cinta, Eyang."


Wanita berusia lanjut itu menghela napas mendalam. "Cinta ... cinta itu apa?"


Kalimat tanya yang entah ditujukan kepada siapa itu menguap begitu saja. Tidak ada yang menjawab karena memang objek utama tidak jelas.


"Aryan, apa itu cinta bagimu?"


Abang mendahului jawaban dengan sebuah senyuman. "Cinta itu membahagiakan, Eyang."


"Membahagiakan siapa?" Eyang menyelisik lebih jauh.


"Cinta itu tentang mencintai dan dicintai. Perasaan itu dinamakan saling, oleh karenanya yang harus berbahagia adalah keduanya. Akan tetapi jika harus mencintai sendiri, maka membahagiakan itu hal yang tidak bisa diganggu gugat, Eyang."


Ada anggukan berulang pada kepala Eyang. "Apakah itu pengalamanmu, Nak? Bicaramu fasih sekali."


"Cinta bagi Aryan bukan pengalaman tetapi perasaan. Jika pengalaman, maka akan berulang dengan lain orang. Akan tetapi jika perasaan maka akan terpatri pada satu hati."


"Seperti Rud, Eyang," timpal Mas Rud dengan menebar senyum.


Pancingan eyang mendapatkan ikan. Bertanya pada abang tetapi jawaban didapatkan sekaligus dari dua orang. Sungguh trik yang amazing.

__ADS_1


Netra eyang berlari pada sang cucu menantu. Posisi menunduk menimbulkan rasa ingin tahu. "Nak, ada yang salah dengan perasaanmu?"


"Cinta Rosa pengalaman bukan perasaan, Eyang. Hati silih berganti, terombang-ambing kenangan silam."


Eyang mengusap lembut punggung gadis ayu. "Cinta hadir dengan cara berbeda pada setiap nyawa. Semua tidak ada yang salah. Karena mencintai adalah fitrah."


Gadis ayu terdiam. Ia sedang menyelaraskan antara pikiran dan perasaan. Pikir ingin menerima penjelasan, tetapi sanubari terus mengingkari.


"Eyang, bolehkah Rosa bersama Mas Rud?" gadis ayu melukis tangis di pipi.


Eyang yang welas asih, membawa cucu menantu dalam peluk. "Apakah kamu bahagia dengannya?"


Masih dalam posisi menunduk, gadis ayu mengangguk. Ia tidak mampu berkata karena buncahan perasaan terlampau besar menguasainya.


"Apakah kamu yakin bisa membahagiakannya?" Eyang bertanya pada Mas Rud dengan ekspresi serius.


"Dulu, Rud pergi untuk membahagiakannya. Sekarang, Rud datang untuk menyempurnakan kebahagiaan itu, Eyang."


"Apakah kamu mau dibahagiakan olehnya?" telisik eyang pada gadis ayu.


Gadis ayu bergeming. Perlahan ia mengangkat wajah. Dua lelaki di hadapannya dipandang dengan lekat. "Rosa serakah, Eyang."


Gadis ayu menjeda kata sementara. "Abang dan Mas Rud, Rosa ingin mereka berdua."


Nama yang disebut sama-sama merasa terkejut. Sebuah kernyitan di dahi menjadi saksi bahwa apa yang mereka dengar adalah pengakuan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Namun, tidak dengan eyang. Beliau tahu apa yang gadis ayu mau.


Wanita sepuh itu beringsut dari duduk. "Kalian bicaralah dulu. Aku akan menengok buyutku."


Sepeninggal eyang, mereka bertiga masih terdiam beberapa saat lamanya. Kebekuan baru mencair ketika abang menebar goda.


"Apakah aku perlu pergi juga?"


"Bang," ucap gadis ayu seraya menggeleng.


Mas Rud yang biasanya banyak bicara, kali ini mengunci bibirnya. Ia tahu jika gadis ayu sedang meminta restu pada si abang. Oleh karenanya, ia akan bersuara pada saatnya tiba.


"Bang, Rosa sama Mas Rud ..." Gadis ayu belum menemukan kata yang tepat untuk berucap.

__ADS_1


Abang yang telah paham kemudian menyunggingkan sebuah senyum penenang. Ia menggulirkan pandang dari sang adik kepada lelaki yang ada di sisi. "Rud, bolehkah aku memeluknya?"


Mas Rud hanya menepuk bahu abang dari gadis ayu. Jujur, hatinya pasti merasa cemburu. Akan tetapi ia sadar bahwasanya kedekatan mereka setelah Dion pergi, tidak akan bisa direngganggan oleh kehadirannya sebagai calon suami. Terlalu jahat jika ia meminta Aryan menjauhi Rosa karena pada saat abang mengembalikan hidup sang adik, iya tidak memberikan sumbangsih.


"Kamu mau menikah sama Rud?" tanya abang setelah mendekat.


"Abang merestui?" tanya balik gadis ayu dengan mata berkaca-kaca. Senyuman tulus dari sang abang semakin membuat gadis ayu terlarut dalam suasana sendu. Ia tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan rasanya.


"Bang, maafkan Rosa! Aku tidak buta melihat semua yang abang lakukan. Tapi, cintaku yang tidak bisa melihat. Aku jahat. Saat terpuruk hanya abang yang ada di sisiku, tetapi saat Mas Rud datang, abang kutinggalkan. Maaf, Bang," gadis ayu mendekap abang penuh rasa sayang.


Lelaki yang selalu tenang dan menunjukkan sikap bijaksana itu menyambut pelukan sang adik dengan lembut. "Kenapa harus terus minta maaf? Apakah aku pernah memintamu untuk membalas rasaku? Dari awal aku hanya izin untuk mencintaimu bukan memaksa untuk kamu cintai balik. Sejak kamu masih bersama suamimu ataupun sekarang saat kamu memutuskan untuk kembali pada Rud, aku selalu mendukung kebahagiaanmu. Jangan menangis! Aku bahagia melihat kalian kembali bersama."


"Kebaikan abang membuatku merasa sangat jahat. Abang menyia-nyiakan masa muda demi aku, sedangkan waktu tua akan kuhabiskan dengan Mas Rud. Apa namanya jika itu tidak beradab?" Gadis ayu menatap abang dengan penuh rasa bersalah.


Sebuah usapan pada puncak surai sang adik, menjadi penenang dari si abang. "Kalau kamu terus-terusan ragu, maka akan kukirim Rud kembali pergi jauh. Pada saat itu jangan lagi menangis di bahuku! Jangan ada sesal karena kembali kehilangan!"


"Abang yang membawa Mas Rud kembali?" selidik gadis ayu seraya menatap Mas Rud dan si abang bergantian untuk mencari jawaban.


Perlahan abang melepaskan pelukan. "Aku adalah abang yang akan selalu mengupayakan kebahagiaanmu dan Satyaku. Masalah kebahagiaanku, Tuhan sudah menuliskannya. Kalian bersatu dahulu, nanti akan ada yang datang untuk menyempurnakan kebahagiaanku. Pada saat itu maka aku akan pamer sama kalian. Jadi jangan mengasihaniku seperti ini! Aku tidak mau menjadi penghalang pernikahan kalian."


Gadis ayu kembali memeluk sang abang. "Abang akan selalu menjadi abangku. Mas Rud atau nanti istri abang tidak boleh menjauhkan kita. Aku akan tetap memelukmu seperti ini saat aku mau."


"Iya," balas abang seraya menyambut isyarat janji yang dikiaskan sang adik dengan pertautan dua jari kelingking.


"Pelukannya jangan lama-lama! Aku cemburu," celetuk Mas Rud seraya tersenyum. Ia bahagia akhirnya mendapatkan restu dari lelaki yang sangat banyak berkorban untuk gadisnya. Pengakuan itu sebenarnya hanya godaan saja.


"Mas Rud harus janji kalau akan membiarkanku tetap seperti ini sama abang. Kalau nggak, aku akan membatalkan rencana pernikahan kita," ancam gadis ayu dengan serius.


"Pelukan aja terus! Aku nggak masalah. Paling nanti kalau Aryan punya istri aku peluk istrinya aja sebagai ganti," ujar santai Mas Rud yang dibalas gerutu oleh gadis ayu.


"Mas Rud nggak boleh begitu! Awas aja kalau berani main peluk wanita lain!"


"Sana, peluk calon suamimu! Kasihan dia cemburu," perintah abang kepada gadis ayu.


"Aku mau peluk abang aja. Dia marah-marah, aku takut," aku gadis ayu seraya menjatuhkan peluk pada si abang seraya sengaja mengejek sang kekasih dengan menjulurkan lidah.


Ketika mereka bertiga tengah larut dalam canda, eyang yang melihat dari jauh menarik senyum bahagia. "Le Dion, bahagialah di sana. Istri dan anakmu berada di tangan yang tepat. Aryan dan Rud sama-sama tulus sepertimu."

__ADS_1


__ADS_2