Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Biarkan Berjalan Seadanya


__ADS_3

"Pa ... tumben mampir? Mau cari siapa, nih?" tanya Kristy yang kebetulan bertemu Tuan Najendra Dharma di parkiran mobil halaman rumahnya.


Membalas uluran tangan si anak bungsu, papa tanpa status hubungan darah itu pun tersenyum. "Baru pulang koas?"


"Iya, Pa."


Keduanya lantas bergegas memasuki teras rumah. Pintu yang tak terkunci, membuat mereka bisa langsung masuk tanpa harus mengetuk. Papa duduk di ruang tamu dan Kristy pamit untuk membersihkan diri.


Ketika Tuan Najendra Dharma tengah memainkan gawai, sang kepala keluarga yang tak lain adalah sang mama menghampiri dengan senyum ramah. "Sudah lama, Mas?"


Wajah diangkat, senyum dikembangkan dan gawai diletakkan. "Aku baru sampai. Tumben sepi? Di mana cucuku?"


"Sudah bobok, Mas. Seharian main, sepertinya kecapekan." Mama menjelaskan seraya membuka beberapa toples camilan yang ada di meja. "Silakan, Mas!"


Entah cemilan itu menggoda selera ataukah sebagai sopan santun saja, lelaki paruh baya itu mengulurkan lengan untuk menjangkaunya. "Padahal aku kangen dengan tingkah lucu cucuku. Salahku juga ke sini malam-malam."


Papa Aryan nampak menikmati kunyahan dalam obrolan. "Makanan ini apa namanya? Enak juga."


"Kerupuk garut, Mas. Kalau di sini jarang ada, mungkin juga memang nggak ada."


"Apa itu garut?" selidik Tuan besar yang hobi menebar gurauan.


"Garut itu umbi-umbian. Seperti ubi jalar yang bisa dimakan Mas. Hanya saja, kalau ubi daunnya menjalar. Sementara garut daunnya mirip kunyit, tinggi dan lebar."


Sambil menikmati camilan yang baru dimakan sekali seumur hidup, lelaki itu memutar pikirnya. "Aku nggak pernah main ke kebun, belum tau kunyit itu seperti apa."


Mama tersenyum. "Besok lagi kalau ke sini siang saja, Mas. Nanti aku tunjukkan beraneka tanaman di taman belakang. Biar Tuan Najendra Dharma ini kenal juga sama alam, bukan cuma kenal artis perfilman."


Dua insan berusia lebih dari setengah abad itu pun saling melemparkan senyum dan tertawa bersama. Candaan sederhana yang mampu membuat bahagia. Itulah indahnya pertemanan dalam usia yang tak lagi muda. Sama-sama sendiri itu akan merasa sepi.


"Wah, boleh juga, tuh. Weekend aku ke sini, lagi. Kamu di rumah kan, Dik?"


"Belum ada rencana keluar minggu ini, Mas. Nanti aku kabari, lagi."


"Cie ... ada yang janjian, nih?" goda Kristy yang baru saja turun dari kamarnya.

__ADS_1


"Iya, donk. Biar jomblo-jomblo seperti kamu dan Aryan kepanasan. Iya nggak, Dik?" ejek sang papa yang disambut senyum oleh sang mama.


"Wah, ada yang sekongkol? Tega banget, sih," gerutu Kristy seraya ikut mencomot camilan di toples yang sama dengan sang papa. Mereka bergantian memasukkan tangan. Keseruan dan keakraban yang membahagiakan.


"Kamu beneran gak punya pacar, Kris?" selidik papa dengan gaya santainya.


Kristy yang tak kalah santai pun menimpali, "Yang ngejar sih banyak, Pa. Tapi belum ada yang klik di hati."


"Dik, anakmu sombong. Jomblo kok sombong?" gurau papa yang disambut senyum sang mama.


"Cariin yang bisa klik dong, Pa!" celetuk Kristy berikutnya. Enteng tanpa beban, apalagi rasa malu yang menyerang.


"Tuh, Mas Aryanmu juga jomblo. Gaet aja!" saran sang papa seraya menggoda dengan menaikkan kedua belah alisnya bersamaan.


"Ada pilihan lain gak, Pa? Mas Aryan hatinya sudah dilaminating."


Sang Papa dan mama mengernyitkan dahi secara bersamaan. Kristy yang menyadari segera menimpali kalimatnya lagi, "Cinta Mas Aryan sudah diamankan dari serangan luar."


"Laminating hanya tahan terhadap resapan air, Kris. Dibakar api dia akan meleleh. Jadi ... tau, kan?" ujar sang papa dengan nasehat tersiratnya.


Sang Mama menggelengkan kepala. Merasa jika putri bungsunya memang senang bercanda. Itulah sisi lain Kristy yang membuatnya menggemaskan tetapi terkadang menjengkelkan.


"Mas, kamu harus berpikir ulang kalau mau menjadikan dia menantu. Lagian Aryan mana mau punya istri model begini?" sindir sang mama.


Sang papa hanya tertawa. "Namanya juga usaha ya, Kris?"


"Iya, Pa. Jodoh mana kita tahu, ya? Mbak Rosa yang dipepet tapi aku yang diijab," timpal Kristy santai seraya mengunyah krupuk garut yang masih tersisa sedikit.


"Mau Mbakmu ataupun kamu, Papa sama-sama bahagia."


Kristy menyodorkan tangannya mengajak untuk toss. "Mau nikah sama mas Aryan atau nggak, Papa tetap Papaku tersayang. Tapi ngarep lebih gak dosa kan, ya?" Kristy memamerkan cengiran senyumnya.


Sang mama hanya menyimak obrolan dua orang dihadapannya. Dalam diam pikirannya melayang. Sang putra sulung yang dijadikan bahan pembicaraan membuka lagi ingatan tentang ketulusan lelaki itu pada putri tertuanya.


Tuhan ... cinta Aryan pada Rosa masihkah ada? Ataukah sudah benar-benar berubah menjadi rasa sayang? Namun, adakah ketulusan yang sebegitu dalam?

__ADS_1


"Dik, kok malah melamun?" tanya papa yang membuyarkan pikiran sang mama.


"Aku memikirkan Aryan, Mas. Bagaimana ia bisa menyayangi putriku sedalam itu?"


"Jangankan kamu, aku saja juga bingung, Dik."


"Maafkan putriku ya, Mas. Karena Rosa, Aryan belum menikah sampai sekarang. Padahal kan kamu sangat ingin momong cucu," ucap mama dengan kalimat sendu.


"Mereka berdua putra-putriku juga, Dik. Cucumu pun adalah cucuku. Bagaimana bisa kamu bilang aku tak punya cucu?" hibur sang papa yang bisa membuat mama menyunggingkan senyumnya.


"Terimakasih ya, Mas. Keberadaan kalian menyempurnakan kebahagiaan putri dan cucuku. Jika tanpa kehadiranmu dan Aryan entah bagaiman Rosa bisa menjalani harinya hingga bisa sampai detik ini."


"Kita adalah keluarga, Dik. Jangan terus-terusan berterimakasih. Sudah ratusan kali kamu mengucapkannya. Lain kali jika aku mendengarnya lagi, maka kedua anak itu akan aku nikahkan paksa. Bagaimana?" timpal papa dengan gaya santainya.


"Mas," balas sang mama bernada tak terima.


"Makanya, sudahlah. Kita jalani hidup ini dengan santai. Biarkan anak-anak kita menyamankan perasaannya. Jika jodoh pasti akan bersama. Namun jika bukan maka pasti akan ada pasangan lain yang akan datang."


"Aku banget itu, Pa," seru Kristy sengaja memudarkan keharuan yang mama ciptakan.


"Memang kamu naksir sama Masmu?"


Dengan cuek Kristy memberikan jawaban, "Mas Aryan itu menghanyutkan, Pa. Setiap wanita yang melihatnya pasti jatuh cinta. Cuma mbak Rosa aja yang keras hatinya. Ada malaikat tapi gak sadar."


"Itulah sebabnya Mas Aryanmu jatuh cinta. Ketusnya mbakmu itu adalah candu," terang mama yang diamini sang papa.


"Aryan itu memang berbeda. Cintanya dari hati bukan sekadar tergoda keindahan fisik semata," sang papa membuka fakta.


"Kalau begitu kesempatanku kecil dong, Pa? Sepertinya Mas Aryan tak akan pernah berpaling hati?" Kristy berucap santai hingga susah ditebak apakah itu dari hati ataukah hanya di bibir saja.


"Kamu beneran berharap cinta dari Masmu?" selidik mama dengan serius.


Kristy hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Hal itu membuat papa yang ditatap sang mama ikut melakukan hal yang sama. Bedanya ada angkatan kedua tangan yang ikut serta. Alhasil sang mama menjadi bingung dibuatnya.


"Bersungguh-sungguhkah Kristy dengan ucapannya?"

__ADS_1


__ADS_2