
Ketika Mas Rud masih larut dalam khayalan masa lalu dengan gadis ayu, dering telepon mengganggu. Waktu yang sudah jauh meninggalkan malam, membuat lelaki bertubuh tinggi itu segera kembali ke kamar untuk mengambil gawai. Mendapati siapa sang pemanggil, dering itu dihentikan di indra pendengar.
"Ada apa, Lyca?" tanya Mas Rud seraya berjalan kembali ke balkon.
"Ternyata kamu masih mengingatku, Mas. Kupikir sudah lupa," timpal Lyca dengan sindiran kecil.
"Aku tidak sejahat itu, Lyca. Maaf, tadi siang aku mengabaikan teleponmu."
Gadis yang sempat terikat pertunangan tanpa perasaan itu sedikit menerbitkan tawa. "Aku tahu pasti Mas Rud sedang bersama Mbak Rosa."
Mas Rud tidak lagi menimpali. Ia justru menanyakan maksud Lyca meneleponnya. Karena semenjak kedatangannya di Indonesia, baru kali ini gadis itu menghubungi.
"Apakah Mas Rud sudah berhasil untuk kembali mengambil hati Mbak Rosa?" Lyca justru kembali mengulik sesuatu yang sengaja Mas Rud tutup.
"Apakah kamu juga sudah kembali pada Anton, maksudku Tuan Kenzo?" telisik Mas Rud mengembalikan pertanyaan serupa kepada Lyca.
"Tidak semudah itu, Mas. Dia punya hati lain yang harus ia jaga."
Apa yang Lyca jelaskan membuat Mas Rud memikirkan hal serupa. Apakah gadis ayunya memiliki pikiran yang sama dengan Lyca. Walaupun perpisahan rumah tangga antara Rosa dan Tuan Kenzo berbeda, akan tetapi status mereka serupa sebagai duda dan janda dengan 1 orang buah hati.
"Lyca, apakah Tuan Kenzo sudah kembali menyatakan perasaan padamu?"
"Mengapa bertanya seperti itu? Apakah Mbak Rosa menolak Mas Rud?" Lyca seolah bisa membaca apa yang Mas Rud maksud dari pertanyaan yang dia runut. Mantan tunangannya itu seperti hendak mencari jawab dari sikap gadis ayunya melalui Lyca.
"Dia memintaku kembali padamu," aku Mas Rud tak menutup kenyataan yang gadis ayunya katakan.
"Itu sama seperti yang kulakukan pada Ken, Mas. Aku juga memintanya kembali pada Monica."
Mas Rud semakin tertarik dengan misteri hati yang sedang ditunjukkan oleh dua orang wanita yang pernah diperkiran akan menjadi jodohnya tetapi meleset semua. "Mengapa kamu melakukan itu, Lyca? Tidakkah kamu peduli dengan perasaanmu sendiri? Bukankah kalian saling mencintai? Mengapa harus saling menyakiti lagi?"
__ADS_1
Lyca menghela napas sesaat sebelum menjawab. "Wanita memang selalu mengedepankan perasaannya, Mas. Tapi, bukan berarti ia selalu dikuasai oleh hati. Kesetiaan seorang wanita terhadap pasangannya menempati tahta tertinggi sebagai wujud kehormatan dan harga diri. Seperti Mbak Rosa yang mencoba mengabaikan rasa terhadap Mas Rud yang masih jelas ia rasakan demi kesetiaan yang ia pasrahkan kepada suaminya yang telah meninggal."
Kalimat Lyca yang begitu panjang, Mas Rud cerna secara perlahan-lahan. "Rumit sekali hati wanita itu, Lyca."
"Serumit kisah kita, Mas. Bukankah begitu?" Lyca mencoba mencairkan suasana yang terlalu kaku karena cinta yang sungguh berliku.
"Aku akan terus berjuang sampai ia yakin jika hanya akulah dermaga cinta terakhirnya," ungkap Mas Rud yang membuat Lyca memberikan big applause.
"Beruntungnya mbak Rosa dicintai dengan begitu agung, Mas. Coba saja aku yang menjadi dia, alangkah bahagianya!"
"Tuan Kenzo juga mencintaimu begitu dalam Lyca," ujar Mas Rud.
"Dia sudah memilih Monica. Aku hanya menjadi cinta yang disisihkan olehnya, Mas. Miris sekali ya nasibku? Dicampakkan lelaki yang mencintaiku dan juga ..." Lyca tak melanjutkan kalimatnya.
Mas Rud bisa menebak kalimat apa yang seharusnya Lyca katakan untuk menyempurnakan ungkapan perasaannya yang sungguh menyedihkan. Ada keraguan untuk meneruskan, akan tetapi kemudian ia paksa untuk memberikan penguatan.
Ada tawa terdengar meskipun nada getir begitu kentara bergetar. "Mas Rud tidak perlu minta maaf padaku. Seharusnya keluarga Maliklah yang melakukannya. Mereka telah memaksamu untuk menerimaku. Padahal semua juga tahu jika kita tidak saling mencintai."
"Aku juga salah karena menerimanya. Padahal aku tahu pada akhirnya akan seperti apa. Lalu, mengapa kamu tidak menolak perjodohan kita? Apakah kamu tertarik padaku?" Mas Rud mencoba mencairkan suasana dengan sedikit menawarkan tawa.
"Percaya dirimu terlalu tinggi, Mas. Aku hanya mencoba untuk belajar menerima hati yang lain," jujur Lyca.
Mas Rud kembali menelaah kalimat yang Lyca ucap. "Apakah proses belajarmu sudah berhasil mencintaiku?"
"Untungnya belum. Kamu baik tapi aku sadar itu hanya wujud perhatian terhadap teman. Perasaanmu padaku tidak lebih dari itu, Mas."
Sebenarnya Mas Rud tahu jika Lyca sedikit berharap lebih padanya, akan tetapi ia menyimpan kenyataan agar wanita itu tidak merasa jika dirinya begitu menyedihkan.
"Untung saja, ya? Masa kamu mau jatuh cinta berkali-kali dengan bodyguard keluarga Malik," ujar Mas Rud dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Karena bodyguard keluarga Malik semuanya pilihan, Mas. Bukan sekadar piawai menggunakan senjata api tetapi juga menarik hati," timpal Lyca mengakui kenyataan.
Terang saja Lyca berbicara begitu, karena barisan bodyguard tampan menjadi juru kunci keamanan keluarga besarnya. Sebut saja Anton, lelaki yang sudah merebut hatinya. Selain itu juga ada Mas rud, mantan tunangan yang lebih memilih mantannya yang janda daripada dirinya. Dan juga ada Tommy, bodyguard yang diam-diam menaruh hati.
"Tapi bodyguard yang kamu cintai bukan bodyguard biasa, Lyca. Dia pewaris tahta keluarganya."
"Aku mencintainya bahkan sebelum tahu kenyataan itu, Mas. Rasaku padanya tulus."
"Aku tahu itu, Lyca," jujur Mas Rud mengakui apa yang juga ia tahu.
Beberapa waktu mereka saling terdiam. Ada kecanggungan untuk terus membicarakan tentang perasaan masing-masing.
Mas Rud mengambil inisiatif. "Kamu meneleponku bukan hanya untuk menanyakan semua ini 'kan Lyca?"
"Ah, tidak! Aku hanya ingin memastikan keadaan Mas Rud baik-baik saja. Aku menunggu kabar baik." Lyca mengakui niat sederhana di balik acara menelepon Mas Rud.
"Aku juga menunggu kabar baik dari kalian," ucap balik Mas Rud sebelum telepon itu Lyca tutup.
Helaan napas panjang Mas Rud lepaskan setelah pembicaraannya dengan sang mantan tunangan menjadi sejarah panggilan. Ia memasukkan benda pintar ke dalam saku celana santainya.
Sebentar kemudian, gawai itu ia ambil lagi. Netranya mencari nama gadis ayunya. Kata online yang menjadi penanda jika cintanya masih terjaga, membuat Mas Rud mencoba untuk mengirimkan pesan padanya.
Apa kamu tak bisa tidur karena tak ada aku yang memelukmu?
Pesan itu segera tercentang biru. Mas Rud seketika mengembangkan senyum. Apalagi ketika gadis ayu sedang mengetik, rasa bahagia semakin membuat lelaki narsis itu tak berkutik.
Pikirannya melanglang buana. Memikirkan apa yang akan ia baca sebagai balasan rayuannya.
"Sayang, apa yang sedang kamu tulis?"
__ADS_1