
"Kami sudah pernah melakukan semuanya." Abang semakin membuat Mas Rud geram.
Emosi lelaki itu terpancing. "Aryan, kita harus membuat perhitungan!"
"Kamu mau hitung-hitungan denganku? Apakah kamu tidak takut akan kalah telak? Kamu hanya beberapa bulan bersamanya, sedangkan aku bertahun-tahun menemaninya. Melewati waktu berganti, suka dan duka, tangis dan tawa," ujar abang yang tak sedikit pun membuat Mas Rud gentar.
"Walaupun hanya sebentar tetapi aku adalah sang pacar. Kamu? Tahun-tahunan hanya menjadi abang," tohok Mas Rud.
Abang tetap dengan ketenangan maksimal, "Mantan pacar, Rud."
"Kamu benar Aryan. Aku adalah mantan pacar yang sebentar lagi akan jadi suami," yakin Mas Rud dengan senyum percaya diri.
"Bicaralah seperti itu di depan Rosa dan lihat apa reaksinya?" tantang si abang yang siap diterjang oleh si pejuang.
"Besok aku akan melamarnya," ucap Mas Rud melebihkan jawaban untuk tantangan abang.
Lelaki yang lebih tua tiga tahun itu pun mengulas senyum. Entah dengan latar belakang apa, akan tetapi sepertinya dia bahagia. Kemarahan sang mantan dari adik tersayang tak membuatnya ikut geram.
"Jangan putus asa ya kalau ditolak! Adikku itu hatinya batu."
"Kalau aku putus asa, yang sedang meneleponmu ini adalah hantu."
"Kamu memang hantu, Rud. Wujudnya nggak ada tetapi rasanya nggak berubah."
Ada tawa kecil yang mengukir dari bibir lelaki yang disebut telah dijemput oleh malaikat maut. Disebut sebagai hantu bukannya menggerutu justru bisa melucu. "Aku memang hantu di hatinya gadis ayu."
Si abang pun tak kalah usil. "Dia bukan gadis lagi."
"Bagiku dia tetap gadis ayuku," kekeh Mas Rud.
Kali ini, abanglah yang tersenyum ganti. "Cinta memang buta, ya?"
"Sebuta rasamu padanya. Aku sarankan, mulailah membuka hati dari sekarang!"
"Sebelum aku membuka hati, terlebih dahulu akan kututup telepon ini."
__ADS_1
"Tunggu!" Mas Rud buru-buru menghentikan niat si abang.
Abang menunggu apa yang akan dikatakan Mas Rud dengan tenang. Sebenarnya ia juga hanya basa-basi untuk segera menutup panggilan. Karena sedari tadi, Mas Rud belum mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Besok, antarkan aku ke makam Dion!" pinta Mas Rud sebelum abang menyela.
"Mau apa kamu menemuinya?" telisik abang.
Ada suara napas yang dibuang halus. "Banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya."
Obrolan yang awalnya bernuansa debat, seketika menjadi penuh haru. Pertautan rasa diantara lelaki yang mencintai satu wanita, kedalamannya saling dimengerti sehingga menyebut namanya saja ada getar yang menebar.
Abang terlebih dahulu bisa menguasai perasaan. "Besok pagi aku jemput."
Kebaikan yang diakui oleh siapapun, itulah hati suci abang Aryan. Tak pernah memberatkan dengan perasaan yang dimiliki dan justru membantu sebuah rasa untuk bersatu. Hanya satu pertanyaan yang terus mengganggu, kapan ia akan menemukan cinta yang dicintainya?
🍒🍒🍒🍒
"Ternyata begini ya jadi yang kedua?" sindir bunda ketika Mas Rud menghampiri meja makan untuk sarapan dengan pakaian yang sudah rapi.
"Menjadi yang kedua itu berat, apa kamu sudah siap?" tanya Bunda seraya mengusap lembut lengan sang putra.
Mas Rud meletakkan dagu di bahu bunda sebelah kanan. "Mencintai Rosa membuatku siap segala-galanya, Bun. Jangankan untuk bahagia, lara pun aku lewati dengan sepenuh hati."
Bunda menghentikan kegiatannya untuk mempersiapkan sarapan. "Bunda bangga memiliki putra sepertimu, Nak. Perjuangkan cintamu! Bila dulu ada Ardi dan Pak Dhenya yang menghalangi pernikahan kalian, mungkin sekarang perasaan Rosa sendiri yang akan menjadi benteng pertahanan kebersamaan kalian."
Mas Rud melepaskan pelukan dari tubuh sang bunda. Berjalan memutar hingga saling berhadapan. "Ardi dan Pak Dhe Haryo ... bagaimana kabar mereka?"
Bunda menggeser kursi dan kemudian ia tempati. Napas ia hela mendalam sebelum menceritakan kisah yang sepertinya akan mengusik luka terpendam. "Ardi sudah menikah."
Mendengar pernyataan bunda, Mas Rud ikut mendudukkan diri. "Kapan? Dengan siapa, Bunda? Kok bisa?"
Satu lagi helaan napas terlepas. Bunda nampak berat untuk bercerita, akan tetapi beliau memaksa. "Setelah kita kehilangan ayah dan perusahaan bangkrut mereka menjauh dengan sendirinya. Mungkin mereka merasa sudah menang."
"Mengapa mereka tidak mengganggu hubungan Rosa dan Dion, Bun?" selidik Mas rud penasaran.
__ADS_1
"Karena Mamanya Rosa mengikhlaskan asetnya untuk diambil alih oleh keluarganya. Sebagai ganti, beliau memohon agar Rosa dibiarkan menikah dengan Dion."
"Ardi menerima semudah itu?" Mas Rud semakin penasaran.
Mama meneguk air putih yang telah ia siapkan untuk sarapan. "Tentu saja tidak. Mereka berencana mencelakai Dion, akan tetapi justru mereka sendiri yang celaka."
"Maksud Bunda?" Mas rud terus mencerca jawab.
"Ardi kecelakaan. Kakinya terjepit dan yang sebelah kiri terpaksa harus diamputasi." ujar bunda seraya menahan perasaan kasihan.
Mas Rud terkesiap. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sebagai manusia normal, ia tak menampik kalau di sudut hatinya terselip rasa senang. Namun, sebagai sesama manusia bahkan masih ada hubungan keluarga tentu saja rasa kasihan itu ada.
"Lalu, Pak Dhe Haryo?"
"Setelah kejadian itu, Pak Dhe tetap kekeh untuk menjodohkan mereka. Apa yang sudah dikorbankan Mama Rosa tidak mengubah niat mereka."
Mas Rud merasa geram. Tangannya mengepal dan bersiap ia hantamkan. Namun sang bunda meredam amarah sang putra. Sebuah usapan di lengan menjadi pilihan. "Mereka sudah dapat balasannya, Nak."
"Balasan apa, Bun?" Mas Rud menelisik lebih jauh.
"Pak Dhe Haryo stroke."
Sekali lagi, Mas Rud bersorak dalam hati. Ia biarkan dirinya menjadi jahat dalam waktu sekejap. Lara yang harus ia rasa sempurna, tentu tidak salah jika ia merasa senang ketika si biang kerok terperosok.
"Apakah mereka sedang menuai hasil perbuatannya pada Rud, Bun?"
"Ekspresimu, Rud!"ingat Bunda yang menemukan percikan bahagia di atas kabar duka.
"Izinkan Rud sedikit menertawakan cerita hidup, Bun! Sedikit, saja!"
"Hanya sedikit? Cukup, Nak! Hidup bukan cerita lucu. Semua sudah ditulis dan kita tinggal menjalaninya saja. Tidak ada orang yang tidak pernah salah. Saling memaafkan itu indah."
"Rud belum bisa melupakan semua yang mereka lakukan, Bun. Terlampau sakit. Kebahagiaan yang mereka hancurkan, apa masih pantas dimaafkan? Tidak, Bun! Setidaknya untuk sekarang maaf itu belum bisa Rud berikan," aku Mas Rud dengan menahan geram karena kenangan menyakitkan yang harus membuatnya kehilangan orang-orang yang dia sayang kembali tergambar di pikiran.
Bunda mengusap punggung sang putra. "Perlahan-lahan kamu pasti akan bisa melakukannya. Tak ada guna menyimpan dendam, Nak!"
__ADS_1
Mas Rud hanya bisa mengulaskan senyum tipis. Yang Bunda bilang benar, tetapi sakit hati masih bertahta tinggi. Harta bisa kembali, tetapi ayah telah memasuki alam abadi. Rosa? Hanya tinggal dia kunci dari maaf yang akan dia beri.