Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Gesturmu Jujur


__ADS_3

"Mas Rud," sebut lirih gadis ayu ketika melihat foto besarnya yang tergantung di dinding kamar.


Perlahan ia menyingkap selimut yang menghangat di tubuhnya. Ingin menyasar foto besar, tetapi netranya tersangkut pada sebuah bingkai yang duduk bebas di nakas. Seketika, tangan melentur, terulur untuk mengambil kenangan indah tentang cinta yang telah lama gugur.


Foto gadis ayu dan Mas Rud sedang bermain di pantai, itulah yang tertanam di bingkai. Kenangan terakhir sebelum kisah mereka tiba-tiba berakhir.


Gadis ayu mengusap lembut wajah Mas Rud. "Ternyata kamu masih menyimpannya, Mas."


Foto manis yang menjadi awal kisah tragis, gadis amati dengan teliti. Netra memaku dan bibir menjadi kelu. Kisah yang telah menjadi sejarah, seketika membuatnya tak bisa berkata-kata.


Foto itu diletakkan gadis ayu dalam posisi terbalik. Barisan tulisan mengusik pandangan. Bingkai itu, ia ambil lagi.


Foto ini adalah awal sekaligus akhir kisah manis kita, Sayang. Tetapi aku berdoa semoga akan menjadi awal lagi dan tak akan pernah berakhir suatu saat nanti.


Gadis ayu tak sadar meng-aamiin-kan doa dalam tulisan yang ia baca. Spontan ia menutup mulutnya dengan telapan tangan.


"Mengapa aku mengucapkan itu?"


Seketika, gadis ayu meletakkan bingkai itu dengan apik. Tidak ada lagi keinginan untuk melihat sekeliling karena ia tahu banyak hal yang akan mengingatkan pada kisahnya dengan sang pemilik kamar. Buru-buru ia keluar meskipun samar-samar matanya menemukan seberkas kenangan yang menggetarkan. Abaikan, perintah itu yang coba ia kuatkan agar tidak tergoda untuk mendekatinya.


"Sudah bangun, Nak?" tanya bunda Mas Rud ketika gadis ayu sedang menata perasaan dengan bersandar di pintu kamar.


Gadis ayu segera mendekat pada wanita yang sudah ia kenal dengan akrab. Dengan penuh hormat, punggung tangan wanita paruh baya itu ia cium lekat. "Maafkan Rosa tertidur di kamar Mas Rud, Bun ... eh ... Tan."


Sang Bunda mengusap surai hitam panjang milik gadis yang dicintai putranya. "Panggil Bunda seperti dulu, Sayang!"


Sebuah senyuman hasil pembauran antara kecanggungan dan ketulusan, mengembang sempurna dari kedua sudut bibir gadis ayu. Bunda yang bisa membaca perasaan sang gadis berusaha mencairkan suasana.


"Bagaimana kalau mengobrol sama bunda?" tawar Bunda dengan senyum ramah.


Anggukan persetujuan dilakukan gadis ayu. Tanpa ragu ia mengikuti langkah bunda untuk menuruni tangga. Tepat saat melewati ruang keluarga, ia melihat Mas Rud tengah terlelap.

__ADS_1


"Bunda lihat siapa yang memencet bel dulu, ya," ucap bunda seraya melangkah meninggalkan gadis ayu yang memaku menatap Mas Rud.


Kalimat bunda tidak dijawab. Sama seperti bel yang tidak terdengar, suara bunda juga pudar di indra pendengar. Fokusnya tertuju pada hasil bidikan mata.


Tanpa sadar, gadis ayu melangkah. Mendekati Mas Rud dan berhenti tepat di samping sang lelaki. Perlahan kaki ia tekuk hingga terduduk. Dalam diam, Mas Rud ia pandang penuh kedalaman perasaan.


Tangan gadis ayu terulur hingga hampir bersentuhan dengan pipi. Sayangnya, ia berhenti.


"Mas," panggil lirih gadis ayu.


"Apa, Sayang?" jawab Mas Rud seraya membimbing jemari gadis ayu untuk melekat di pipi.


Dalam keterkejutan, gadis ayu berusaha menarik tangan tetapi tertawan. Usaha yang terus dilakukan tak membuahkan hasil membahagiakan. Namun, pelepasan yang Mas Rud lakukan tiba-tiba, membuat gadis ayu terjatuh di atas tubuh Mas Rud.


"Malu-malumu, membuatku mau."


Kalimat godaan Mas Rud membuat gelembung rasa tak bernama di hati gadis ayu. Mungkin saja rona merah sudah bersemu di pipinya hingga senyum lelaki di hadapannya tersungging sempurna.


"Lepasin, Mas! Nggak enak dilihat bunda," ujar gadis ayu seraya menepis tangan Mas rud.


Gadis ayu memelototkan mata. "Mas!"


"Kalau nggak mau di kamar juga nggak masalah, Sayang. Di sini saja! Bunda akan paham, kok." Mas Rud terus membuat gadis ayu terjatuh dalam ruang rayu.


"Mas, aku bukan Rosamu yang dulu. Jangan sembarangan! Aku ini istri orang."


Mas Rud melekatkan tatap pada gadis ayunya. Wajah yang akan dipalingkan, ia pegang dengan satu tangan yang tidak ia gunakan untuk menahan tangan gadis tetap menyentuh pipinya.


"Bagiku, kamu adalah Rosaku yang dulu. Sama, tak ada satu hal pun yang berubah."


"Ubahlah pikiranmu itu, Mas!" perintah gadis ayu.

__ADS_1


"Aku akan mengubah status kita," yakin Mas Rud.


Gadis ayu sengaja mencubit pipi yang ia sentuh dengan jemari. "Sakit, nggak?"


"Cubit di sini!" perintah Mas Rud seraya menunjuk bibirnya.


"Mas, jangan seperti ini! Biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang seperti sebelum kamu datang. Aku sudah bahagia dengan keluargaku. Jadi, kamu juga harus membahagiakan dirimu sendiri. Kalau kamu terus seperti ini, aku sedih," ucap gadis ayu tak mampu menahan air mata hingga jatuh berderai.


kristal bening itu menetes ke pipi Mas Rud. Seperti sebuah aliran rasa, lelaki itu juga tak dapat menahan perasaan. Membiarkan air matanya meluruh, ia justru menghapus bulir kesedihan sang gadis.


"Apa yang kamu tangisi? Kalau kamu bahagia, mengapa kamu mengeluarkan air mata? Apakah aku menyedihkan? Atau ... kamu tidak bisa mengambil keputusan?"


Gadis ayu menunduk. Isaknya tak dapat lagi ia tahan. "Cukup, Mas! Jangan diteruskan!"


Gadis ayu menutup bibir Mas Rud dengan jari telunjuk. Kepala pun tak lagi ia jaga dari dada mantan terindahnya. Ia menepikan batas yang ia buat.


Mas Rud membelai rambut panjang sang gadis. Hatinya sangat memahami perasaan wanita yang meletakkan kepala di dadanya. Sejatinya, ia ingin memeluk, tetapi ia urungkan. Gadisnya berbeda, ia tipe yang tidak mudah menyandarkan diri. Dikasihani adalah pantangan dalam hidupnya.


Kedua insan itu tenggelam dalam kubangan rasa masa silam yang sebenarnya terlalu dalam hingga susah untuk diapungkan. Gadis ayu menata rasa di kalbu. Mas Rud mencoba memberikan kedamaian pada hati yang kalut. Mengganti kepergian saat dulu ia meninggalkan gadis ayu sendirian.


Di sudut lain rumah, sang bunda berdiri memaku. Menyaksikan Mas rud dan Rosa yang terendam dalam kata yang susah untuk diungkapkan. Begitu besar cinta yang mereka miliki, hingga sang bunda ikut merasakan perih.


Pandangan itu kembali melesat pada dua insan. Saat rasa dan tubuh masih bertaut, dering telepon yang berada di atas meja menggema.


Perlahan gadis ayu mengangkat kepala. Menjauhkan diri dari sang mantan kekasih. Secara tak sengaja, ia melihat nama yang tertera di layar benda pintar yang terus bergetar.


Perubahan raut wajah gadis ayu membuat Mas Rud menyadari jika ada yang salah dengan telepon yang terus berdering. Ia segera bangun.


Tangan gadis ayu ia genggam sebelum meraih benda pintar.


Tubuh Mas Rud ia perosotkan hingga duduk di karpet dan menjadikan sofa sebagai sandaran. Pemilik tubuh yang tangannya ia tawan, ia tarik dalam pelukan dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Kedua manik mata itu saling menatap. Ada cinta yang begitu agung terlihat sangat pekat. Hingga kebohongan kata dengan sangat mudah dimentahkan oleh sorot netra yang berbicara. Mata adalah jendela hati, itulah yang mengungkapnya.


"Angkat teleponnya!"


__ADS_2