
"Abang, kapan pulang?" suara manja sang adik menjadi obat mujarab atas rindu yang menggantung di kalbu.
"Kenapa? Mau minta oleh-oleh apa?" jawab abang dengan ketenangan maksimal.
"Abang selalu bertanya seperti itu. Tapi kalau kujawab kakak ipar, ujung-ujungnya hanya harapan tinggal harapan."
Ucapan gadis ayu disambut tawa oleh abang. "Makanya minta oleh-oleh yang bisa aku bawakan saja. Jangan manja begitu! Nanti aku dicemburui sama Rud."
"Biarkan saja dia cemburu, Bang. Pokoknya nggak ada yang akan bisa memisahkan kita sebagai adik dan abang, apalagi datangnya belakangan," timpal gadis ayu dengan penuh ketegasan.
Abang tetap tenang meladeni emosi berapi-api sang adik. "Iya ... iya ... tapi kamu juga harus menjaga perasaannya. Aku akan tetap menjadi abangmu tetapi dia sebentar lagi suamimu. Dengar adik, abang?"
"Denger, Abang. Pokoknya Rosa akan selalu mendengarkan nasihatmu. Ohya, jadinya kapan abang balik?" Gadis ayu kembali pada pertanyaan pertama.
"Weekend. Sudah sekangen itukah sama bakmi buatanku?"
"Aku kangen masak bakmi sama Abang. Cepet pulang, Bang!"
"Aku akan segera pulang. Sabarlah!"
"Hati-hati, Abang. Miss u," pesan gadis ayu yang akhirnya menutup panggilan itu.
Di ujung telepon yang dimatikan gadis ayu, abang menatap gawai seraya mengukirkan sebuah senyuman. "Aku juga selalu merindukan ceriamu."
Rindu ... rasa yang sama dengan kemasan yang berbeda. Dua hati yang disatukan oleh status dibingkai oleh kasih sayang bernama saudara.
Berputar arah dari si abang, sang adik melesatkan tatap setelah menurunkan benda pintar dari indra pendengaran. Lelaki yang berada di sisi kanan menjadi bidikan penglihatan.
"Harus semanja itukah kamu padanya?" tanya Mas Rud menampakkan rasa cemburu.
"Ini belum seberapa. Biasanya aku bermanja di pelukannya," timpal gadis ayu seolah sengaja menyulut api cemburu semakin berkobar di kalbu Mas Rud.
"Setelah ada aku, jangan lagi melakukan itu! Aku tidak rela dia menyentuhmu berlebihan," ungkap Mas Rud to the point.
Gadis ayu tetap santai menanggapi peringatan sang kekasih. "Masa kamu cemburu sama abangku, Mas?"
__ADS_1
"Aku cemburu sama semua lelaki yang ada di dekatmu, kecuali boy-ku."
"Kalau kamu cemburu sama Di-junior, aku bakalan pikir-pikir menerimamu kembali, Mas."
"Cemburuku terarah, Sayang."
Gadis ayu sengaja menggoda Mas rud. "Arah mana, Mas?"
"Mengarah ke pelaminan."
Gadis ayu diam. Hatinya berbunga-bunga akan tetapi ia tidak mau memperlihatkannya berlebihan. Begitulah ia selalu menggoda kekasihnya yang memiliki cinta yang membara.
Dua insan yang terpikat oleh tatap dan pernah terpisah karena kelicikan itu memang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan cinta. Canda tawa mereka selalu memancarkan kedalaman rasa. Mungkin itulah hal yang membuat orang di sekitar termasuk abang ikhlas merelakan wanitanya dibahagiakan oleh lelaki yang selalu membuatnya bisa merasakan kebahagiaan sempurna.
Dimensi ruang berputar kembali ke Jogja. Abang baru saja selesai mandi dan duduk berdua dengan eyang di taman depan. Mereka menikmati waktu sore dengan pisang goreng dan wedang tape.
"Nak, apakah cucu menantuku masih ada di hatimu?"
Abang menatap eyang dengan lembut dalam balutan senyum. "Dia akan selalu ada di hati Aryan, Eyang. Mengikhlaskan bukan berarti membuang. Bukankah begitu?"
"Rasa yang bermetamorfosis dari cinta sebagai seorang laki-laki kepada lawan jenis menjadi kasih sayang dari seorang abang kepada adik, itulah yang terus Aryan pupuk, Eyang," jelas abang mengutarakan perasaan.
"Eyang yakin itu bukanlah hal yang mudah, Nak. Tapi, kamu pasti bisa melakukannya."
"Aryan yakin bisa, Eyang. Tapi, bisakah Rud nanti menerima jika istrinya memiliki kedekatan dengan Aryan? Haruskah Aryan sedikit menjauh, Eyang?" Abang bertukar pikiran dengan wanita sepuh itu.
"Jika Rud tidak bisa menerima hadirmu, jangan biarkan Rosa di sisinya."
Kalimat eyang membuat abang diterpa kebingungan. Tidak ingin merasa penasaran tanpa kejelasan, akhirnya terlontarlah sebuah pertanyaan dari bibir abang. "Maksud, Eyang?"
"Nanti malam kamu akan tahu jawabannya," jawaban eyang semakin menjadi teka-teki.
Abang semakin mengernyitkan dahi. "Ada apa dengan nanti malam, Eyang?"
"Ada tamu," jawab eyang dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Tamu? Siapa, Eyang?" Abang tidak bisa untuk terus diam.
Eyang hanya tersenyum. Tangannya cekatan mengambil cangkir yang ada di meja dan kemudian menyesapnya.
Bertepatan dengan itu, ada sebuah mobil ber-plat yang tidak asing di penglihatan abang memasuki halaman. "Apakah yang Eyang maksud mobil itu?"
Tanpa menunggu, abang langsung menjemput tamu. Ia mendekati mobil yang telah terparkir. Dari pintu sebelah kiri, Di-junior keluar kemudian menghambur dalam pelukan.
"Uncle Aryan."
Abang mengangkat tubuh sang keponakan. Bocah kecil itu berada dalam gendongan si abang. Mereka kemudian berjalan mendekati eyang.
Sementara itu, di dalam mobil Mas Rud dan gadis ayu masih terpaku. Mereka masih terkejut dengan keberadaan abang di hadapan.
"Apakah aku tidak bermimpi, Mas?"
"Dia memang ada di sini," timpal Mas Rud meyakinkan.
"Bukankah?" Gadis ayu berucap sepatah kata dan tidak melanjutkannya.
"Tanyalah langsung pada orangnya! Ayo, kita turun!"
Sepasang kekasih itu pun meninggalkan mobil dan berjalan ke arah abang membawa sang putra. Gadia ayu menengok ke arah kanan di mana rumah sang mertua berada. Kediaman itu nampak sepi. Namun, tiba-tiba saja rekaman kenangan di rumah itu tergambar jelas hingga tanpa sadar ia menghentikan langkah.
Mas Rud yang mengerti apa yang terjadi memberikan usapan hangat di bahu gadis ayu. Ia ikut bergeming. Ekspresi sang kekasih membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Kilasan kisah gadis ayu bersama sang suami sedang berputar dalam memori. Ia hanya bisa memeluk untuk memberikan penguatan.
Sementara itu, gadis ayu sedang terjatuh dalam kubangan rasa masa lalu. Rumah di hadapannya seakan bercerita, bagaimana ia sedang bercanda dengan Mas Dion-nya. Lelaki yang menghalalkannya setelah perjalanan panjang perjuangannya itu kini benar-benar memenuhi ruang pikirnya.
Senyum hangat, perhatian yang tiada bertepi, kesabaran yang tiada mengenal kata habis, melemahkan sendi-sendi sang gadis. Tulang-tulangnya melunglai. Gadis ayu jatuh terduduk. Bahkan Mas Rud tidak mampu menopang tubuh gadis ayu. Bukan karena kekuatannya kalah, akan tetapi terlalu besar rasa itu melemahkan pertahanan hati.
"Mas Dion, seharusnya kamu tidak meninggalkanku secepat ini."
Suara lirih yang tersamarkan isak tangis itu membuat nyeri hati. Jangankan gadis ayu, Mas Rud saja ikut melinangkan air mata. Kedua insan itu terjerembab dalam pilu yang menyesakkan dada.
"Mas Rud, sepertinya aku tidak bisa meninggalkan Mas Dion untuk bersamamu." Suara gadis ayu semakin melemah seiring dengan tangannya yang terlepas dari genggaman jemari Mas Rud.
__ADS_1
"Sayang, bangun!" ucap Mas Rud menggoyang-goyangkan tubuh gadis ayu. Namun sang gadis terus berada dalam kediaman. Pingsan.