Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Siapa Jodoh Terbaik?


__ADS_3

Keseriusan pembicaraan antara sang mama dan putri bungsunya, masih terus berlanjut. Ketidakpercayaan Kristy tentang keputusan Masnya pun masih coba ia yakinkan dalam hatinya.


"Ma, Mas Aryan gak pengen apa buat dapetin mbak Rosa? Mana ada sih orang mencintai setulus itu? Rasanya mustahil," Kristy terus memutar otaknya untuk menelisik.


"Itu nyatanya ada, Kris. Kedalaman hati orang gak ada yang tau, tapi mama bisa merasakan ketulusan dari ucapannya. Jika tak ada dia, entah apa jadinya mbakmu waktu itu."


Sang mama membuka memori lama ketika putri sulungnya terpuruk ketika ditinggal sang menantu. Gadis ayu larut dalam kesedihan yang akut. Dia terus saja meratap karena ujiannya begitu berat.


Putri sulung kembali kehilangan sosok yang membuatnya bisa berdiri tegak saat dia shock. Dan saat itu dia berada pada kondisi yang sama. Beruntungnya ada si abang yang menjadi sandarannya.


Tanpa embel-embel pamrih, lelaki yang mendapuk diri sebagai uncle itu selalu setia di samping gadis ayu. Mengajaknya bicara hingga sang adik bisa kembali ceria seperti dulu kala. Keponakan pun tak luput dari tangan kasihnya. Sehingga wajarlah mereka berdua sangat dekat seperti anak dan orang tua lelakinya. Seperti itulah, lelaki itu ada untuk Rosa dan Satyanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Uncle ... foto!" pinta Di-junior sambil bergaya dengan bakmi di mejanya.


Sang gadis hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Duo Satya-nya. Sedari tadi, mereka sibuk sendiri. Mengabadikan gambar dengan gaya yang beragam. Saling suap-suapan bakmi, sungguh menggemaskan sekali.


Gadis ayu sudah terbiasa dengan tingkah mereka. Ini bukan pertama kalinya, karena memang seperti itu sudah biasa. Kedekatan mereka akan membuat iri siapa saja yang melihatnya. Termasuk gadis ayu yang berstatus sebagai sang mama.


"Kalian sudah kenyang hanya dengan berfoto?" sindir gadis ayu.


"Habiskan saja makanmu! Lelaki itu punya cara berbeda untuk bahagia," timpal si abang dengan tenang.


"Mama ... mama makan saja! Biar gemuk," celetuk Di-junior yang membuat gadis ayu semakin dianggap pengganggu oleh dua lelaki itu.


Ditelantarkan seorang diri, gadis ayu memilih untuk fokus pada bakmi. Makanan yang entah dari kapan menjadi menu favoritnya itu, segera ia habiskan tanpa sedikit pun tersisa.


Gadis ayu melihat dua lelaki di hadapannya. Dalam diam ia memerhatikan dalam. Hingga khayalnya melayang.


Dalam pandangan netra gadis ayu sebagai seorang mama, ia melihat jika yang dihadapannya adalah sang suami dan putra semata wayang mereka yang sedang bercanda. Dion Wijaya dan Diozza Satya Wijaya ada di netra gadis ayu dalam bayangan semu.


Jika saja ini nyata, alangkah bahagianya?


🍁🍁🍁🍁🍁


Rencana awal hanya makan, akan tetapi agenda berikutnya untuk pulang justru berubah ke taman. Di-junior nampak bahagia bisa mencoba beraneka permainan untuk anak-anak. Sementara sepasang kakak adik itu memilih sebuah bangku untuk duduk santai sambil mengawasi tingkah sang bocah cilik.

__ADS_1


"Bang," panggil gadis ayu seraya memerhatikan wajah si abang dari sisi kiri.


"Mau cilok?" goda si abang setelah menolehkan pandangan.


"Bang!"


"Mau es doger, juga?" timpal si abang lagi.


Gadis ayu memukul paha si abang dengan geram. Lagi-lagi hanya ditanggapi senyuman, tanpa sedikit pun kemarahan. Hanya usapan di rambut sang adik yang kemudian ia lakukan.


"Kenapa abang suka sekali sih mengacak rambutku?" gerutu gadis ayu seraya merapikan kembali surai hitamnya.


"Karena kalau mau mengacak-acak hatimu, sudah ada Mas Rudmu," goda si abang dengan tenang.


Gadis ayu menatap si abang dengan penuh perasaan. "Bang, bagaimana caranya merapikan hati yang teracak-acak olehnya?"


"Minta pertanggungjawaban sama pelakunya!"


Sang adik seketika melepas napas lelah. Jawaban si abang bagaikan hujan yang tak mungkin menghujam di teriknya siang kala musim kemarau datang. Si abang yang mengerti pun segera menambahkan penjelasan.


"Sa ... cinta sejati itu tak akan mudah pergi. Aku yakin kamu masih menyimpan perasaan untuknya. Dan dia pun pasti sama."


Si abang mengusap lembut rambut si adik. "Tau darimana kamu kalau dia tidak diciptakan untuk jadi jodohmu?"


Sang gadis menghela kembali napasnya. Bibirnya terjeda untuk berbicara. Matanya menerawang, membawa khayalan bermuara dalam pikiran.


"Dulu dia berjuang untuk menggagalkan pernikahanmu. Mungkin sekarang waktunya kamu untuk melakukan hal yang sama."


"Sudahlah, Bang. Saranmu semakin ngawur. Sepertinya, Abang butuh asupan cinta."


Si abang kembali mengacak puncak rambut adiknya. "Cintamu dan Satyaku sudah lebih dari cukup untukku."


"Abang harus menikah," ujar si adik dengan penuh tatapan kasih.


"Kalau kamu sudah menikah aku akan menikah," timpal si abang dengan senyuman.


"Aku sudah menikah, Bang. Bahkan aku sudah punya putra sebesar itu," tunjuk gadis ayu pada Di-juniornya.

__ADS_1


"Ayo, kita menikah! Buat Di-junior punya banyak orang yang menyayanginya," pinta si abang sambil menoleh ke arah gadis ayunya.


Spontan gadis ayu menoleh ke arah abangnya. "Abang mau menikahiku?"


Sebuah usapan dipuncak kepala sang adik, ia lakukan bersamaan dengan senyum termanis yang ia berikan. "Kamu mau aku nikahi?"


Gadis ayu nampak bergeming. Tak menyangka kalimat tanya dari abang akan terlontar. "Bang,"


"Bukan aku yang menikahimu, tapi lelaki yang kamu cintai."


"Maksud, Abang?"


"Cinta pertamamu."


Tatapan penuh penasaran itu seketika berubah memerlihatkan mata yang berair. Gadis ayu memutar haluan pandang. Menundukkan mata dan menahan isaknya.


Pemilik nama cinta pertama itu terlalu berbelit dalam sanubari. Hati terus dikuntit hingga rasa tak pernah bisa bangkit. Terus terlilit oleh kisah sulit yang berakhir sakit.


"Abang saja yang menikah dengan wanita yang abang cintai!" perintah si adik berikutnya.


"Kamu mau aku nikahi?" timpal si abang sambil menahan lengan sang adik yang berdiri.


"Kakak adik gak boleh menikah," timpal gadis ayu.


Si abang menarik lembut tangan sang adik agar kembali duduk. "Oleh karena itu, harus ada lelaki lain yang bisa menjagamu sepanjang waktu. Aku hanya bisa menjaga semampu yang aku bisa sebagai kakakmu saja."


"Abang akan meninggalkan kami?" selidik gadis ayu dengan menatap jauh pada putra semata wayangnya yang masih asyik berlarian.


"Kamu yang harus meninggalkanku. Karena aku akan tetap di sini untukmu."


"Kapan Abang akan menikah?" tanya balik sang adik yang telah bisa menguasai perasaannya.


"Setelah Satyaku mendapatkan papa baru," celetuk si abang yang dibalas kerucutan bibir oleh adik tersayang.


"Abang kan sudah bisa menggantikan papanya," timpal gadis ayu dengan duduknya yang kembali bisa santai seperti tadi.


"Kamu mau aku nikahi?"

__ADS_1


"Kakak adik gak boleh menikah," terang gadis ayu mengulang pembicaraan yang tadi sudah terjadi diantara mereka.


Bukannya kembali mengusik hati, dua manusia itu justru saling melemparkan senyuman. Selalu saja ada tawa jika ada abang di samping adik tersayang. Lengkaplah kebahagiaan itu, dengan adanya juga ukiran senyum yang diperlihatkan seorang Di-junior dari ujung sana.


__ADS_2