Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Mengungkap Cerita


__ADS_3

"Sa, kenapa kamu menangis saat ditanya tentang anting?" lelaki itu melemparkan pertanyaan saat bab 8 itu selesai dieja perkata.


Sang gadis menunjuk bagian kalimat yang dimaksud dalam pertanyaan sang lelaki dengan telunjuknya. Kepalanya ia tolehkan kepada seseorang yang berada di sisi kanan. Setelah mendapatkan anggukan pembenaran, kemudian ia menghela napas seraya mengarahkan pandang kembali ke depan. "Itu adalah anting yang Dion hadiahkan sebagai kenangan saat kutolak dia terakhir kali. Anting itu adalah saksi bahwa sesalku datang kali pertama karena mengabaikannya."


"Kalau menyesal kenapa kamu tidak memintanya kembali?" tanya keturunan adam itu penuh rasa penasaran.


"Karena dia bilang sudah memiliki pengganti,"


"Aku yakin kamu sok mengikhlaskan saat dia bilang itu. Tapi setelah dia pergi tangismu tak tertahankan," sindir sang lelaki yang dibalas anggukan sang gadis ayu.


"Dan kesalahan itu kamu ulangi sekali lagi. Ketika Rud kembali datang, sebenarnya kamu masih mencintai Rud tapi ketulusan Dion membuatmu bimbang. Begitukah, adikku Sayang?" tanya lelaki itu sambil mengusap helaian rambut panjang gadis yang dipanggilnya saudara muda itu.


Lagi-lagi gadis itu menggeleng. "Aku hanya terbawa kenangan lalu. Cintaku pada lelaki yang kupilih sebagai suamiku adalah tulus. Rasaku padanya berhasil kusemai dengan baik. Sehingga tumbuh dengan subur dan semakin lebat. Sayangnya ...." Ucapan gadis itu terjeda oleh bayangan lelaki halalnya yang kini sudah tiada. Kristal bening yang mulai mendesak itu, membuat hatinya diselimuti rasa sesak.


Lelaki itu beringsut dari duduknya. Melihat ketidakberesan perasaan gadis ayu itu, yang dia kira hanya menjeda kalimat untuk menata hatinya, tapi rupanya ia sedang terisak dalam pandangannya yang ia tundukkan. Perlahan ia angkat wajah lusuh itu dengan menangkupkan kedua telapak tangan di pipi sang gadis. Dengan sangat lembut, ia hapus deraian air mata yang membasahi bagian wajah chubby-nya itu. Menatapnya lekat dan kemudian membawanya dalam pelukan.


Dia usap punggung gadis itu, menyalurkan penguatan agar tidak merasuk semakin dalam pada sebuah kenangan yang selama ini menghantui. Membuatnya harus berjuang melewati hari dengan terapi. Bukan waktu yang sebentar tapi memerkukan puluhan bulan.


"Hari ini cukup ya kita baca novelnya. Keluar, yuk!" tawar lelaki itu seraya menggenggam jemari gadis di hadapannya.


"Aku masih ingin membacanya."


"Sa, kamu membaca novel ini bukan mengobati rasa penasaranmu. Namun akan mengusik kenanganmu dengan dua lelaki yang kamu cintai, sekaligus. Sakitnya akan berlebih," ingat lelaki itu seraya mengambil novel dari tangan gadisnya.


Sang gadis berupaya mengambil novel dari sang lelaki. Sekuat tenaga dia berusaha meraih benda yang laki-laki itu letakkan di tangan yang diangkatnya lurus ke atas. "Sudah kubilang, aku ingin menyakiti diriku sesakit mungkin. Dan akan melupakan semua setelahnya. Terlahir sebagai Rosa yang baru. Begitukan yang Bapak mau?" ucap gadis itu saat usahanya sia-sia. Lelaki itu terlalu tinggi untuk dia jangkau.

__ADS_1


"Pak," rengek gadis itu dengan tatapan mengiba.


Sang lelaki menghela napas kasar. Hal yang tak pernah bisa dilakukannya adalah melihat gadis itu memohon. Dan tentu saja, runtuhlah keteguhannya. "Jangan menangis lagi jika kamu membacanya! Atau aku akan menyitanya dan menyimpan ini," tegas sang lelaki kembali menyerahkan novel itu ragu-ragu.


"Makasih, Abang," ucapnya seraya memberikan kecupan di pipi kanan sang lelaki.


Lelaki membuang pandang menjauhi mata sang gadis. Ditahannya senyum yang sebenarnya ingin dia kembangkan sempurna. Percayalah jika hatinya sedang berbunga. Itu adalah kecupan pertama yang dia terima dari gadisnya. Meskipun berlabel Abang, tapi dia cukup merasa senang.


Ketika sang lelaki masih berkutat dengan hatinya yang berbunga, gadis itu sudah sibuk untuk memulai membaca.


Bab. 9 Incaran Yang Sama


Satu jam menjelang tengah malam, aku sudah sampai di rumah. Senandung kecilku terhenti saat kudapati Ayah yang masih terjaga. Dia seolah sedang menunggu kedatanganku. Dengan melihat wajah seriusnya, aku tahu jika dia ingin membicarakan hal yang penting. Segera ku duduk di sofa seberangnya.


Kuiyakan niatnya dengan menganggukkan kepala.


"Bundamu bilang, kamu sedang mendekati anak sulung keluarga Atmadja. Apakah itu benar?" selidik Ayah tanpa menampakkan senyum sedikitpun.


Keluarga Atmadja adalah salah satu keluarga terpandang di kota ini. Perusahannya yang bergerak dalam bidang perkebunan sudah dikenal dimana-mana. Tak heran jika anak-anak perempuannya adalah incaran banyak pria.


"Iya, Yah. Ini Rud baru pulang menemani Rosa menghadiri pertunangan sahabat dekatnya," jelasku berikutnya.


"Lupakan dia, Rud! Carilah gadis lain untuk kau pilih!" perintah Ayah yang membuatku menghela napas mendalam.


"Ardi juga mengincarnya, jangan berurusan dengan keluarga Sastro Sudjarwo," terang Ayah sebelum aku meminta penjelasan.

__ADS_1


Ardi dan keluarga Sastro Sudjarwo tidaklah asing di telingaku. Aku mengenalnya dengan baik. Karena sesungguhnya Sastro Sudjarwo dan Sasmita Dinata terhubung oleh tali persaudaraan. Mereka memiliki kakek dan nenek yang sama. Ardi dan aku adalah keturunan keempat, sepupu jauh.


"Yah, Rud bisa mengalah untuk urusan lain, tapi untuk cinta maaf Rud tidak bisa," jelasku penuh keyakinan.


"Ayah hanya mengingatkan, kamu tahu sendiri bagaimana kelicikan mereka dalam dunia bisnis. Tentunya mereka juga akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanitamu itu."


Ayah melangkah pergi setelah mengingatkanku tentang masalah yang pasti akan aku hadapi jika tetap memaksa mendekati Rosa. Tepukan di bahu yang Ayah lakukan, kurasakan sebagai sebuah persetujuan untuk tetap berjuang meskipun akan lebih berat.


"Rosa adalah cinta pertama Rud, Yah. Berjuang! Itulah yang akan Rud lakukan bukan menyerah bahkan sebelum memulai berperang.


__________________________________________________


"Berjuang? Kamu meninggalkanku, Mas. Di mana perjuanganmu?" gumam gadis itu setelah membaca novelnya.


"Berjuang itu menemani di sisi. Bukan melepaskan tanpa penjelasan. Apakah dia pikir aku hanya sanggup menemani bahagianya? Apakah dia pikir anak gadis keluarga Atmadja itu manja? Sehingga tak bisa menahan tangis jika situasi harus mengiris. Rosa adalah gadis yang tegar. Tersakiti hati bisa melemahkan tapi bersama saling mencintai walaupun harus tertusuk-tusuk duri,aku akan sanggup menghadapi."


Sebuah usapan di pundak menguatkan gadis ayu yang sedang menggumam itu.


"Kamu terlalu meremehkanku, Mas. Apa salahnya kamu bicara? Diammu bukan hanya melukaimu, tapi juga aku," gadis itu berusaha menahan air matanya.


"Kamu jangan memvonis dia begitu, Sa. Kamu belum membaca halaman berikutnya. Yang aku baca, dia akan memperjuangkanmu. Jika pada akhirnya dia menyerah pasti ada hal yang menekannya terlalu kuat," lelaki itu memberikan pandangan.


Benar. Aku terlalu fokus pada akhir kisahku dan mengabaikan kenyataan jika pada mulanya dia mengokohkan diri sebagai pejuang sejati. Bukan pecundang seperti yang ia bilang ketika harus meninggalkanku saat masih sayang. Sama seperti yang dia katakan pada lembar thank you novel ini.


Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


__ADS_2