Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Di-junior Bikin Error


__ADS_3

Senja mulai tenggelam tetapi pelukan tak kunjung dilepaskan justru semakin dieratkan. Tetap dalam kediaman, mereka setia pada posisi hingga tak sadar jika waktu telah lama berputar.


"Om Rud sama Mama lagi ngapain?"


Suara lucu dari putra sang gadis ayu, membuat Mas Rud seketika memutar tubuh. Ia genggam jemari gadis yang ia cintai. Melangkah beriring untuk menghampiri sang bocah kecil.


"Sudah bangun, Boy?" tanya Mas Rud melempar jauh jawaban dari pertanyaan yang diajukan.


Mas Rud melepas tautan jemari tangan dan kemudian menekuk lutut. Putra gadis ayu ia bawa dalam gendongan. "Mama pingin diajakin jalan-jalan juga, Boy. Sekarang, kita mandi, yuk! Boleh 'kan Om mandi di sini? Nanti malam kita bawa Mama ke luar. Setuju, nggak?"


Sebelum Di-junior memberikan persetujuan atau penolakan yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan, gadis ayu terlebih dahulu mencubit lembut perut Mas Rud.


"Aw! Lihat tuh, Boy! Mama nyuruh kita buru-buru. Om dicubit-cubit terus."


Mas Rud semakin menggoda. Bahkan ia menghalalkan segala cara. Merasa di atas angin, ia sengaja membuat gadis ayu semakin tersipu. Semua yang baru saja terjadi sudah membuktikan bahwa apa yang ia yakini adalah suatu kebenaran. Meskipun kata memulai lagi perjalanan rasa yang sempat tertunda belum terucap, akan tetapi gelagat tak perlu lagi didebat.


"Ma, sabar! Kami mandi dulu. Mama juga dandan yang cantik! Ayo, Om!" Di-junior mempercepat laju pendekatan Mas Rud.


Dua pria berbeda usia itu segera melangkah menjauh dari gadis ayu. Seolah sudah tahu seluk beluk kamar itu, Mas Rud dengan santai membawa Di-junior ke kamar mandi.


Gadis ayu menghapus jejak mereka dengan senyum. "Mas Dion, maafkan aku menduakan cintamu. Hati tak bisa lagi kubohongi. Dia gigih sepertimu."


Ada bulir kecil yang mengalir. Entah atas nama apa, yang jelas ia sudah jujur pada keduanya. Sang Maha Cinta sudah membolak-balikkan hatinya. Ia tiada kuasa mempertahankan kesetiaan karena rasa masa lalu yang sudah tenggelam, mengapung kembali ke permukaan.


Ketika gadis ayu mengaku tentang rasa yang bergelantung di kalbu, dering nyaring membelai telinga kanan dan kiri. Tanpa beban, ia lajukan langkah menuju kamar. Nakas menjadi tujuan karena di sanalah benda pintar itu bersandar.


"Adik abang mengapa menangis?" tanya uncle Aryan begitu video call diangkat.


"Kangen Abang," timpal gadis ayu seraya membawa senyum.


Lelaki di ujung sana sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan sang adik. "Abang juga kangen. Nanti kita makan bakmi sepuasnya ya, buat merayakan hari bahagia."


"Abang jadian?" celetuk gadis ayu tak sadar jika dialah yang jadi aktris makan-makan.


"Iya," timpal abang membuat gadis ayu senang.


"Bawa pulang, Bang! Secepatnya! Harus aku introgasi dulu."


Abang tersenyum mendengar rentetan ucapan adik tersayang. "Iya, nanti Abang introgasi."


"Aku yang akan introgasi, Bang," tegas gadis ayu.


Abang tak sedikit pun mengendorkan senyuman. "Hei, kamu yang baru jadian bukan abang. Jadi, nanti Rud akan aku introgasi."


"Ah, Abang! Kupikir aku beneran mau punya kakak ipar," gerutu gadis ayu.

__ADS_1


"Selamat kamu kena jebakan Abang Aryan yang tampan!"


Gadis ayu mengerucutkan bibirnya yang imut. "Awas ya kalau Abang pulang! Aku hukum."


"Nggak takut. Palingan suruh bikinin bakmi," timpal abang menebak apa yang akan ia terima sebagai balasan.


"Kali ini, beda."


"Apa?" selidik abang dengan sangat tenang.


Gadis ayu menampakkan raut licik seraya mata menyipit. "Rahasia."


Kakak beradik itu terus saja berdebat tanpa jeda. Benar kata Di-junior, tangis sang mama penawarnya adalah uncle Aryan. Inilah buktinya, bulir air mata kini berganti tawa bahagia.


"Satyaku sudah pulang?" selidik abang ketika kata rahasia tak bisa lagi diganggu gugat.


"Sudah, Bang. Ia baru bangun dan sekarang sedang mandi."


"Baiklah kalau begitu. Kamu juga buruan mandi. Nggak malu, wajahmu penuh bekas tangisan?" ejek abang.


"Abang juga mandi, sana! Bau tahu!" ejek balik gadis ayu.


Sindiran yang saling berbalas itu menjadi akhir dari video call dari sepasang kakak-adik. Abang meminta izin untuk mematikan telepon karena ada tamu yang membunyikan bel kamar hotel. Sang adik mengiyakan seraya menghadiahkan senyuman sebagai salam penutupan.


Baru saja gawai diletakkan, suara handle pintu terdengar diputar. Refleks, gadis ayu menoleh. Seketika ia membuang pandang karena Mas Rud keluar dengan setengah tubuh tidak terbalut.


"Kaosku terjatuh di kamar mandi. Kamu punya kaos yang bisa aku pakai, nggak?" tanya Mas rud dengan santai.


Gadis ayu tidak berani melirik. Akan tetapi sekilas tatapan yang tidak sengaja, masih membekas di ingatannya. Perut bersekat dengan dada bidang yang nampak nikmat didekap bersemayam dalam pikiran. Sontak ia menggeleng. Pesona Mas Rud tak boleh membuatnya oleng.


Langkah kaki gadis ayu dibawa menuju lemari. Ia membuka pintu seraya menata relung kalbu. Deretan pakaian ia geser tanpa arah, bolak-balik tanpa hasil. "Aku mana punya kaos seukuranmu, Mas? Adanya tank top, mau?"


"Sayang, bukankah kamu sering pakai kaos oversize dan hot pants?" ingat Mas rud seraya memilih duduk di tepi ranjang.


Gadis ayu membenarkan kalimat Mas Rud. Dulu, ia memang sering memakai pakaian jenis itu. Namun semenjak suaminya membatasi hanya untuk bersantai di kamar atau di rumah dengan catatan tidak untuk menemui tamu, hot pants ia singkirkan dari tumpukan baju.


"Mau pakai hot pants-ku?" tanya gadis ayu asal bicara.


"Kamu sanggup melihatnya? Baru melihatku begini aja udah segitu salah tingkahnya," goda Mas Rud seraya tiba-tiba berdiri di belakang gadis ayu.


"Mas, jauh-jauh!" usir gadis ayu seraya mendorong dada polos Mas Rud.


Bukannya menjauh, Mas Rud justru melangkah maju. Ia ulurkan tangannya pada salah satu kaos yang tergantung. "Ini bisa kupakai."


"Jangan! Aku pinjamkan kaos abang, aja," ucap gadis ayu seraya mau mengambil kaos di tangan Mas Rud.

__ADS_1


"Nggak mau. Aku lebih baik pakai kaosmu dari pada miliknya," tolak Mas Rud mempertahankan kaos di tangan.


"Kalian sama-sama pria. Aku rasa abang juga tidak akan keberatan."


Gadis ayu terus meyakinkan untuk meminjam kaos abang. Namun, kalimatnya terus dimentahkan sehingga pada akhirnya dia memilih mengalah. "Ya udah pakai aja kalau nggak malu. Untung warnanya putih, coba kalau pink?"


"Kalau pink aku tambah manis," timpal Mas Rud seraya menaikkan kedua alis.


"Manisan juga abang," ucap lirih gadis ayu seraya menutup pintu lemari dan beranjak menuju kamar mandi.


"Jangan memuji lelaki lain di depanku, Sayang!" Mas Rud mengekor gadis ayu seraya memakai kaosnya.


"Mas, diamlah! Jangan meracuni telinga putraku dengan panggilan sayangmu!"


Bukan Mas Rud namanya kalau menurut dengan ancaman gadis ayu. "Sayang, aku yang akan mengurus my boy."


"Kalau begitu aku yang akan menyiapkan bajunya saja," timpal gadis ayu seraya memutar badan.


"Itu juga tidak perlu kamu lakukan, Sayang. Kami adalah fashion stylist andal."


"Baiklah! Kalau begitu, aku terima beres," ujar gadis ayu seraya melanjutkan langkah menuju pintu keluar kamar.


Meninggalkan dua lelaki di kamar mandi, gadis ayu menuju dapur. Di sana, sang mama dan adik tengah menyiapkan makan malam. Gadis ayu tidak ikut membantu. Ia memilih duduk.


"Ma," panggil gadis ayu berselimut ragu.


"Mama senang dengan keputusan kalian. Tapi, kalau mau curhat, nanti saja. Kami sedang memasak," jelas mama yang ditimpali senyum oleh Kristy.


"Lalu, aku harus ngapain?" gerutu gadis ayu sambil memilih berlalu.


Ia ayun kaki hingga berhenti di sofa ruang keluarga. Di sana badan dibuat santai sambil menonton televisi. Detik berganti, ia baru ingat jika disuruh mandi oleh abang. Bergegas kembali ke kamar, ia berpapasan dengan penghuni kamar mandinya yang kebetulan juga hendak keluar.


"Putra mama tampan sekali," puji gadis ayu seraya menekuk lutut. Sebuah kecupan ia berikan sebagai wujud kasih sayang.


"Aku selalu tampan, Ma," timpal narsis Di-junior.


"Hei, kenapa kamu melihatku seperti itu? celetuk Mas Rud ketika gadis ayu memaku tatap pada sang mantan bodyguard begitu mendengar kalimat sang anak.


"Narsismu mulai menular. Besok lagi apa yang akan kamu wariskan?" gerutu gadis ayu seraya hendak masuk


Mas Rud menghadang gadis ayu. Ia rentangkan tangan di kusen pintu kamar. "Aku akan mewariskan banyak adik untuk Di-junior. Lima yang cantik dan lima lagi yang tampan. Ah, tidak! Sepuluh yang cantik dan sepuluh yang tampan."


Gadis ayu menghentikan langkah sambil berkacak pinggang. Ia tajamkan pandang sejenak kemudian mendorong dada bidang lelaki yang tiada habis menebar narsis. "Di-junior Sayang, antarkan Om Rud ke mobilnya! Om-mu harus segera minum obat."


"Obatku kan kamu, Sayang," bisik Mas Rud saat telinga gadis ayu ia jangkau sebelum berlalu.

__ADS_1


Di-junior menggeleng melihat adegan sang mama dan Om Rudnya. Ia memutar badan dan berjalan meninggalkan latar. "Ya Allah, jagalah mata dan telinga hamba! Hari ini dosa Di-junior banyak sekali. Mereka dewasa tapi nggak tahu dosa."


__ADS_2