Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Ancaman Hati


__ADS_3

Tanpa penjagaan dari seorang Abang, gadis itu membiarkan hatinya terombang-ambing rasa. Tak mencoba untuk menguatkan ataukah mengendurkan pegangan. Ia membiarkan rasanya dibawa oleh arus yang memutar di sekelilingnya. Ingin tahu sejauh mana, masa kelam membawanya dalam putaran. Apakah akan tergerus arus dan menghilang dalam pusaran? Ataukah tetap akan tegar menghadang bak karang di lautan?


Ia tahu, bahwasanya bangkit dari kehilangan itu sangat sulit. Lama waktu yang telah ia habiskan untuk menipiskan trauma karena ditinggalkan mendadak. Dan ia tak tahu kapan waktu akan membawanya pada masa di mana hatinya akan kembali tertembak. Manusia hanyalah raga hampa jika tanpa cinta.


Gadis itu melihat lagi undangan yang kemarin diberikan oleh si Abang. Ia tahu jika pengantin yang namanya tersemat di sana memiliki hubungan dengan keluarga Tuan Alexander Kemal Malik. Ia menduga jika menghadiri undangan itu maka kemungkinan untuk bertemu dengan lelaki pemilik novelnya sangat tinggi.


Ia menimang, apakah sanggup jika akan kembali bertemu dengannya? Padahal hanya membaca novelnya saja ia seolah dihamparkan pemandangan nyata. Apa yang terjadi jika ia melihatnya ada di depan mata?


Bukan! Bukan ia telah memudarkan rasa pada seseorang yang telah pergi. Hanya saja, hati tak pernah bisa dikuasai. Dua kisah singkat dengan cerita yang berbeda tentu saja punya kenangan yang mendalam. Melupakan bukan berarti cinta itu tak ada lagi. Mengenang tak akan menjadikan rasa itu kembali datang. Kecuali memang Tuhan menghendaki itu terjadi.


Seperti yang Abangnya selalu bilang, cinta itu bukan untuk dirutuki tetapi dinikmati. Menjadi pencinta itu harus bahagia. Pemilik hatimu bahagia dan tentu saja diri sendiri juga tak boleh merana. Cinta itu suci. Jangan dinodai dengan sebuah keegoisan yang hanya akan menyakiti. Mencintai itu menyatukan bukan memisahkan.


Sama seperti ketika gadis itu menguatkan hati untuk membaca kisah yang sudah ia biarkan mengendap. Bukan untuk menghempas yang sudah pergi dan berniat mendekap yang pernah dekat. Karena waktu sudah membuat ceritanya sendiri. Seperti gadis itu yang telah memiliki status berbeda, sang lelaki yang pernah dicintainya pun pasti sama. Apalagi hati lelaki itu mudah berpaling. Kecuali hati Dionnya yang tetap meratukan dirinya di sepanjang napas hidupnya. Dan satu lagi, Pak Aryan. Lalu apakah mantan pemilik rasanya seperti kedua lelaki ini? Ataukah seperti kebanyakan lelaki di luaran sana yang mudah mengganti penghuni hatinya?


Perlahan, gadis itu melentikkan jemari di lembar novel berikutnya.


Bab. 13 : Bukan Ayah Melarang


Kehidupan selalu hadir dengan dua sisi yang saling berseberangan. Hitam dan putih ada diantara abu-abu yang seringkali membuat ragu. Hatiku yang sedang berbunga seketika sedikit melayu saat panas datang tanpa siraman sang hujan. Bahagiaku setelah menggodanya sirna saat sebuah ketukan membuyarkan khayal.


"Rud, Ayah ingin bicara!"


Segera aku bangkit dari ranjang dan membukakan pintu kamar. Mengubah tawa menjadi wajah berekspresi sopan dengan sedikit senyuman. Lelaki yang paling kuhormati dengan kewibawaannya itu selalu membuatku tak bisa bersikap sembarangan. Tegas dan berkharisma. Membuatku enggan untuk cengengesan bila saling berhadapan. Berbeda dengan Bunda yang penuh kelembutan dan masih bisa aku ajak bercanda, Ayah lebih serius dan religius.


"Kamu serius berhubungan dengan putri sulung keluarga Atmadja?"


"Rud serius, Yah."


"Seserius kamu untuk mendapatkannya, maka seserius itu pula ancaman yang harus kamu hadapi. Apakah kamu siap?"

__ADS_1


Tak ada kegentaran yang berhasil menaklukkan keyakinanku untuk memperjuangkannya. Kelicikan keluarga Ardi juga tak bisa memupuskan cintaku menjadi benci. Rasanya, aku justru mendapatkan keberanian berlipat.


"Saham perusahaan kita sepertiganya dimiliki oleh keluarga Ardi. Ayah tidak takut kehilangan harta jika kamu bahagia. Namun jika keselamatanmu yang terancam, maka Ayah tak bisa merelakan."


"Yah," panggilku ragu.


Ada makna mendalam dari penuturan Ayah barusan. Cinta. Cintaku pada gadis ayuku dan cintanya padaku sebagai seorang kepala keluarga kepada anak lelakinya, tak terpisahkan meskipun harus berhadapan dengan rintangan besar yang siap menghadang. Keputusan besar yang harus diambil dengan pertimbangan matang. Tak bisa asal melarang tetapi juga bukan hal mudah untuk memberikan dukungan.


"Selama ini, Ayah memberimu kebebasan untuk menentukan jalan hidupmu. Bahkan Ayah tidak masalah ketika kamu memilih untuk bekerja di perusahaan lain yang sesuai dengan background pendidikan yang kamu pilih sendiri. Untuk masalah jodoh pun sebenarnya Ayah tidak ingin memaksamu. Namun, jika wanita yang kamu pilih ada sangkut-pautnya dengan keluarga besar kita, Ayah harus ikut campur."


Kutundukkan pandangan. Obrolan ini berat. Dan aku tahu, bagaimana harus bersikap. Ayah paham jika aku tak kan menyerah. Oleh karenanya ia tak bisa melarang dan hanya sanggup terus mengingatkan. Berada di posisinya sulit. Aku pun tak bisa membatasi hatiku untuk berkelit. Cinta ini selalu mendorongku untuk bangkit. Berjuang tanpa kenal mundur di awal jalan.


"Mantapkan hatimu! Ayah berikan waktu seminggu!" ujar Ayah sebelum beranjak meninggalkanku.


Hatiku sudah mantap. Tak ada sedikit pun keraguan dalam hati untuk pergi darinya. Aku yakin jika dia pun memiliki rasa yang sama. Jadi, apa yang bisa membuatku untuk mundur? Ancaman dari Ardi? Takut itu tak pernah menjelmakan diri dalam pikirku. Mungkin dia punya kekuatan uang untuk membeli semua. Namun untuk cinta, kurasa itu tak akan berkuasa. Apalagi jika yang dia hadapi adalah keketusan hati seorang Rosa.


Aku tahu, ada lelaki lain yang sudah berjuang mendapatkan hati wanita yang kuincar. Tetapi sepuluh tahun berlalu, hati itu tetap liar tanpa pawang. Dan kini, saat aku memberikan penawaran, aku yakin ia membuka perasaan. Menunggu untuk kulamar.


Kuhela napas panjang. Memantapkan hati untuk terus merapatkan cinta padanya. Kuraih benda pipih yang tergeletak sembarang di ranjang. Membuka pesan atas namanya. Dia masih online.


Naluriku mengatakan untuk meneleponnya.


"Belum tidur?" sapaku saat mendengar suaranya yang masih bening. Basa-basi semata untuk membuka bicara.


"Sebentar lagi, Mas."


"Sa, besok aku jemput ya?" Entah kenapa aku memilih kalimat itu. Padahal tadi tak ada niatan untuk berbicara sepertimu itu. Niatku hanya ingin mengucapkan selamat tidur saja.


"Kalau aku menolak?" tanyanya santai.

__ADS_1


"Aku kangen," akuku tanpa ragu.


"Tumpuk dulu kangennya, Mas. Aku ingin tahu Mas beneran rindu ataukah sekedar nafsu," celetuknya yang membuatku tertantang.


Ingin membuktikan juga, seberapa lama aku bisa jauh darinya. Apakah aku bisa melewati hari tanpa dia yang kucinta. Dan juga aku ingin tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama. "Apakah kamu mau merindu bersamaku?"


"Maksudmu apa, Mas?"


"Kita putus komunikasi, yuk! Siapa yang gak kuat, boleh hubungin duluan!" ujarku yakin padahal hatiku meragu bisa melakukan itu.


"Baiklah."


"Setelah telepon ini kita tutup, kita saling menjauhkan diri, ya! Di kantor juga gak boleh bertemu," jelasku yang diiyakan olehnya. Aku jadi berpikir, mengapa begitu mudahnya gadisku menjawab iya? Apakah ini justru membuatnya bebas? Apakah cinta ini hanya aku yang memiliki?


Tidak!


Tidak!


🍇🍇🍇🍇🍇


Jangan lupa mampir di novelnya Trio Somplak n The Gank, ya! 🥰





__ADS_1




__ADS_2