
Selesai acara makan-makan, kami dibebaskan untuk pulang. Satu jam lebih cepat, waktu yang lumayan untuk melepaskan diri dari pekerjaan. Aku masih di kursiku, mempelajari beberapa berkas yang akan menjadi makananku esok hari.
Sebuah ketukan pintu terdengar dari pintu ruanganku. Sebelum kuperintahkan masuk, Rendra sudah muncul dengan senyumnya dari balik pintu. Dengan santai berjalan ke mejaku dan mendaratkan dirinya di kursi depan mejaku.
"Ikut gue, yuk!" ajaknya.
"Ke mana?" tanyaku balik sambil merapikan berkas yang sedang kubaca.
"Ketemu cewek cantik," ujar Rendra dengan senyum smirknya.
Kukembalikan berkasku pada tempatnya. Berdiri dari kursiku dan duduk di ujung meja. "Gue udah punya gadis ayu."
"Ini lebih ayu dari gadismu," yakin Rendra tapi tetap dengan gaya santainya.
"Sejak kapan gue tergoda dengan sembarang gadis ayu?" tuturku sambil mengambil benda pintarku.
Rendra berdiri dari duduknya dan mengambil kunci mobilku yang tergeletak di meja. Melangkah pergi dan berhenti sebentar di pintu yang ia buka. "Gue tunggu di parkiran!"
Dasar sahabatku satu itu. Selalu saja punya cara untuk memaksaku menuruti kehendaknya. Tak ada keputusan lain yang bisa kuambil selain mengikuti apa maunya. Segera kuraih tas kerjaku dan beranjak meninggalkan ruangan menuju ke mobilku yang sudah disanderanya.
"Silakan menikmati perjalanan penuh kejutan, Tuan!" ucapnya begitu aku sudah duduk di sebelah kursi kemudi.
"Elu mau menjebak gue dengan siapa?" tanyaku sambil memasang seat belt.
Rendra hanya tersenyum seraya menaikturunkan kedua alisnya. Terfokus dengan setirnya, sesekali bersenandung mengikuti lirik lagu yang mengalun dari sebuah radio kenamaan ibu kota. Aku memilih untuk bermain dengan benda canggihku. Menatap sebuah nomor telepon dengan keragu-raguan. Menghubunginya sekarang atau nanti malam saja.
"Jadi, gadis ayu yang sanggup bikin elu jatuh cinta pada pandangan pertama itu si Rosa?" tanya Rendra yang membuatku mengalihkan fokus.
Rosa? Nama yang menarik perhatianku. Ya ... aku tahu itu adalah namanya. Gadis ayu yang selalu mengganggu pikiranku. Tadi, aku baru saja membaca biodatanya di file karyawan.
"Kalau belum kenal, dia ketus, loh. Tapi kalau udah akrab dia ceplas ceplos," terang Rendra tanpa kupinta.
"Gadis yang penuh tantangan untuk ditaklukkan. Walaupun gue tahu, dia sudah takluk dengan pesona seorang Rud Dinata," yakinku penuh kesombongan.
"Jangan seyakin, itu!" ingat Rendra sambil membelokkan mobilnya ke sebuah butik langganan yang kami kenal pemiliknya.
"Maksud lu gadis ayu itu, Sharika?" tanyaku menyebut pemilik butik yang merupakan teman seangkatan kuliah, kami bertiga adalah sahabat dalam kejahilan.
Rendra hanya tersenyum tengil. "Dia kan gadis ayu juga."
"Dia istrinya orang. Elu jebak gue jadi pebinor?" celetukku sambil mengikuti Rendra menuju butik, meninggalkan parkiran.
Kuikuti langkah Rendra dengan pasti hingga berhenti tak jauh dari dua orang gadis yang sedang kebingungan memilih dua kebaya. Aku tersenyum, kulihat gadisku adalah satu dari dua gadis yang sedang kutatap di sana.
"Beli aja dua-duanya!" sahut Rendra seraya mendekat ke arah gadis yang kuyakin sedang didekati Rendra yang bernama Maya.
Maya tersenyum gak percaya. "Mas Rendra."
"Katanya tadi ada janji sama temen?" selidik gadis di samping Maya yang kukenal bernama Rosa, gadis ayuku.
"Ini, orangnya!" tunjuk Rendra padaku yangberdiri sedikit di belakangnya.
__ADS_1
"Iiihhhh ganteng ... Maya," secepat kilat Maya mengulurkan tangan kearahku.
"Rendra ... terimakasih pujiannya," sambut tangan Rendra pada uluran tangan Maya.
"Aahhh ... Mas Rendra apa 'an, sih?" gerutu Maya.
"Jangan kegenitan, aku cemburu!"
Maya hanya senyum-senyum. Sepertinya hatinya sedang berbunga-bunga, berkembang-kembang bak di taman film-film india. Apakah gadis itu sudah masuk perangkap si raja gombal Rendra? Sepertinya.
Aku hanya terdiam menikmati adegan demi adegan Maya dan Rendra. Sejujurnya, sesekali aku mencuri pandang pada gadis ayuku yang ketahuan juga sedang mencuri pandang padaku. Kemenangan sepertinya sedang mendekat cepat, cinta datang bukan hanya padaku tapi juga padanya.
Kudekati dirinya. "Kamu gak beli kebaya juga?"
Belum sempat menjawab pertanyaanku, dia sudah melangkah menjauh. Tangannya mendekatkan sebuah benda pipih ke pipi kiri, mengangkat sebuah panggilan.
"Mas Ren, kenalin temennya dong!" pinta Maya yang mengalihkan perhatianku dari gadis ayu itu.
Mendengar permintaan Maya, kufokuskan mataku pada lelaki yang kusebut sebagai sahabatku itu. Mencari ekspresi apa yang dipilihnya ketika sang gadis pujaannya mencoba menggodaku.
"Dia Rud, temenku kuliah," jelas Rendra kemudian, sambil menggenggam tangan kanan Maya.
Melihat itu, aku hanya tersenyum geli. Begitukah cara lelaki melindungi diri dari rasa cemburu? Lucu.
"Semuanya, kayaknya aku harus pulang dulu, 'nih," ucap Rosa yang baru saja kembali.
"Ada apa, Sa?" tanya Rendra.
"Biar dianter Rud aja, Sa! Aku mau pinjam Maya dulu, buat nemenin aku nyari kemeja batik. Gak 'pa 'pa, 'kan?" pinta Rendra seraya mengerlingkan mata padaku.
Ish ... kerlingan mata dari seorang pria. Seperti bermain pisang-pisangan.
"Gak usah, Mas. Ini aku dah mau pesen ojol, kok," tolaknya sambil menunjukkan layar dari benda canggihnya.
"Ayo, aku antar!" ucapku seraya melangkahkan kaki mendahuluinya. Entah kenapa aku yakin jika penolakannya hanya penghias bibir indahnya, basa-basi semata. Dan benar saja, ia berjalan di belakangku, dan masuk mobil, duduk di sebelah kiriku tanpa banyak berbicara. Sesekali aku meliriknya.
Hening.
Kami sama-sama terdiam. Hanya alunan lagu berbit rendah yang sengaja aku setel, membuat suasana lebih hidup. Kediamannya membuatku sedikit canggung untuk terus berbicara. Padahal sejatinya aku ingin sekali mengakrabkan diri. Sepertinya benar yang dibilang Rendra, pertahanan gadis ini sulit ditembus, ada tembok ganda, keketusan.
Namun bukan Rud namanya jika tak punya seribu cara untuk membuatnya bicara. Baru mau memulai kata, ia lagi-lagi disibukkan dengan panggilan masuk pada benda pipihnya. Urunglah aku dengan niatku.
"Iya Ma, ada apa?" Rosa mengangkat telepon dengan suara lirih.
"Oh begitu, baiklah gak 'pa 'pa," Rosa menyudahi teleponnya.
Raut wajahnya menampakkan kekecewaan. Aku menjadi ingin tahu. Kabar apa yang baru saja didengarnya.
"Ada apa?" tanyaku dengan menolehkan wajah ke arahnya.
"Orang-orang rumah malah makan di luar," jelasnya seraya menolehku sebentar.
__ADS_1
"Kalau gitu, kita makan dulu aja ya, kan kamu gak buru-buru!" ajakku yang memang sudah menahan rasa lapar.
"Baiklah."
Tak kusangka ia mengiyakan tawaranku kali ini tanpa penolakan. Satu langkah pendekatan dimudahkan. Ia membuka hati untuk kudekati. Aku bahagia. Dengan senyum sempurna, aku belokkan mobil ke halaman sebuah restoran yang menjadi langganan keluargaku.
"Gak 'pa 'pa kan, kita makan di sini?" tanyaku setelah kami duduk di sebuah meja lesehan nomor dua dari belakang.
"Aku bisa makan di mana aja, kok," terangnya dengan memulas senyum di bibir.
Manis ... manis sekali.
"Mau makan apa?" tanyaku setelah seorang pelayan datang membawakan daftar menu.
"Samain aja!" balasnya setelah membolak-balik kertas tebal di tangannya.
Pelayan itu pun pergi setelah mencatat semua yang kupesan. Perhatianku kembali fokus padanya yang tidak melakukan kegiatan apapun.
"Kamu, sudah mengingatku siapa?" tanyaku mengawali pembicaraan.
"Pak Rud, kan?" balasnya balik meyakinkam jawaban.
"Itu kan Rendra yang bilang," tukasku singkat.
"Emang, bukan?" tanyanya sambil memutar badan untuk lebih berhadapan denganku.
"Kenalin, aku Rud Dinata, panggil aja Mas Rud bukan Pak Rud," kenalku sambil mengulurkan tangan.
"Sama aja," jawabnya tanpa merespon uluran tanganku.
"Beda dong, aku mas-mas ganteng bukan bapak-bapak perut buncit," kilahku sambil menyunggingkan senyum maut.
Ia tak menanggapi candaanku. Tangannya justru membuka tas dan mengambil benda pintarnya.
"Sa, kamu suka nulis diary?" tanyaku setelah melihat diarynya yang tercecer keluar tas, saat ia mengambil smartphone-nya barusan.
"Iya, ini hobiku, nulis." jelasnya sambil memasukkan kembali diarynya.
"Boleh aku lihat?" pintaku sok dekat.
"Jangan dong, ini isinya pribadi, aku malu kalau kamu sampai tahu," jelasnya gamblang.
"Takut ketauan ya?" godaku.
Ia menatapku dengan sedikit mengerutkan keningnya. "Emang aku ngapain? Ohya, emang Mas tau nama aku siapa, kok panggil Sa?"
"Rosalia Citra Atmadja biasa dipanggil Rosa. Iya kan? Jangankan cuma namamu, aku juga tau ulang tahunmu tanggal 19 April," ucapku meyakinkan.
"Secret admirer-ku, ya?" cercanya kemudian.
"Kalau secret admirer, aku gak bakalan disini. Yang ada aku ngumpet-ngumpet, ngikutin kamu kemana aja, nyuri-nyuri foto kamu. Ngerti?" jelasku sambil menatapnya dalam.
__ADS_1
Kami pun kembali bersatu pandang. Kedua mata tenggelam dalam kelembutan tatapan. Ada getar tak teredam yang semakin bergejolak. Cinta ... aku menemukan cinta yang tergambar jelas dari matanya. Tuhan, inikah jawabanmu?