
Mas rud memutar tubuh. Bahu gadis ayu ia sentuh. Perlahan, ia membuat mereka saling berhadapan. Mata dijadikan satu tatapan. Hati ditata lewat sorot netra. "Apakah kamu akan menjadikan Aryan sebagai suami?"
Pertanyaan Mas Rud begitu menohok hingga ada pertanyaan yang kokoh bercocok. Gadis ayu tertawan oleh kegalauan. Pikirannya gamang. Nyatanya kalimat singkat itu membuat pikirannya terperangkap oleh jerat.
"Abang tetap menjadi uncle," ucap lirih gadis ayu.
Mas Rud mengangkat dagu gadis ayu yang membuatnya menunduk. "Papa dan uncle tetaplah berbeda. Putramu butuh status bukan sekadar kasih sayang yang tulus."
Gadis ayu melemparkan pandangan dari lelaki yang ada di hadapan. "Tidak untuk sekarang dan dalam waktu dekat. Bahkan mungkin untuk selamanya. Menata hati karena ditinggal pergi itu bukan hal yang bisa dilakukan beberapa hari. Semua butuh waktu."
Kalimat gadis ayu kentara sekali jika bukan sekadar sebuah penjelasan, akan tetapi ada siratan sindiran. Sepertinya luka itu masih menyisakan lara karena cinta masih memiliki rasa yang sama.
"Aku kembali untuk menghapus jejak kepedihan karena meninggalkanmu tanpa penjelasan, Sa. Kurasa kamu sudah tahu apa yang membuatku melakukan itu. Percayalah, jika sampai detik ini, aku masih mencintaimu seperti dulu."
"Rasamu mungkin masih sama, tetapi keadaan sudah berbeda, Mas. Kita sama-sama memiliki hati lain yang harus dijaga."
"Tidak ada hati yang harus kita jaga lagi, kamulah yang menutup diri."
Mas Rud melepaskan jemari dan dagu yang bersatu. Ia menggeser badan dan segera memutar stir bundar. Mobil pun melenggang di jalanan dengan penumpang yang saling diam.
Waktu yang terus berlalu dalam beku, ternyata membawa gadis ayu menyusuri bunga tidur. Entah karena rasa lelah ataukah perasaan yang membuncah hingga ia jatuh dalam lelap.
Mas Rud mengulurkan tangan dan membelai surai hitam panjang. "Maafkan aku memaksamu, Sayang. Kekeraskepalaanmu harus aku yang melembutkan, karena aku tahu di hatimu hanya ada aku tetapi kamu tidak mau mengaku."
Mobil yang terus melaju, telah sampai pada sebuah halaman luas yang dipenuhi pohon-pohon berdaun hijau. Rindang dan sangat menyejukkan membuat gadis ayu tak juga terjaga dari tidur pulasnya.
Mas Rud menyalakan kembali gawai yang tadi sengaja ia matikan. Ia lantas menulis sebuah pesan yang ditujukan pada si abang.
__ADS_1
Adikmu tertidur. Nanti aku antarkan pulang kalau dia sudah bangun. Dia aman berada di rumahku. Ada bunda yang akan menjaganya dari kebuasanku. Jangan kamu khawatirkan berlebihan.
Pesan yang terkirim segera ditimpa dengan sebuah panggilan. Bunda yang menjadi tujuan telepon, hanya memerlukan sekejap untuk menjawab.
"Minta tolong bukakan pintu depan, Bun! Rud mau membawa masuk Rosa yang sedang tidur."
Panggilan itu pun ditutup tanpa menunggu waktu lebih lama berlalu.
Dengan segera, Mas Rud turun dan membuka pintu di sebelah kiri gadis ayu. Penuh sikap hati-hati, ia mengangkat tubuh mungil itu agar tidurnya yang lelap tidak terganggu. Bahkan pintu ditutup perlahan agar suaranya terdengar kecil di indra pendengaran.
Jarak antara mobil terparkir dan kamar tidak membuat Mas Rud kalang kabut. Gadis yang sedang bergelayut membuatnya terhanyut hingga langkah terasa ringan tanpa beban. Jangankan permukaan datar, puluhan anak tangga pun dilibas tanpa mengenal kata kebas.
Pintu ruang pribadinya yang sudah dibuka sang bunda, memudahkan Mas Rud membopong kekasih hatinya. Ranjang adalah tujuan agar sang gadis dapat segera dibaringkan. Bukan karena didera lelah karena jika diizinkan ia lebih memilih berlama-lama membawa gadis ayu dalam sentuhannya.
Tuhan ... izinkan aku untuk melihat ia terlelap setiap rasa kantuknya datang menyergap. Biarkan aku menjadi lelaki yang ia lihat terakhir dan pertama kali saat matanya menutup dan kembali membuka.
Aku ingin melihat wajah ayumu setiap waktu. Ketusmu menggemaskan, tetapi wajah polosmu membuatku tak bisa menahan untuk tidak memberikan sentuhan. Ingin rasanya kupeluk sepanjang malam. Memberikan kehangatan pada jiwamu yang kuyakin diselimuti dinginnya perasaan.
Terdiam sejenak, Mas Rud kemudian mengulurkan selimut hingga menutup lebih dari setengah badan sang gadis ayu. Kembali mengamati dan setelahnya beranjak pergi. Membiarkan cintanya menikmati mimpi indah tanpa ulah dirinya yang dipenuhi gairah.
🍒🍒🍒🍒🍒
"Katanya mau membawa mantu dan cucu, mana cucunya?" goda sang bunda begitu Mas Rud mendekat ke ruang keluarga.
"Putraku sedang bersama yangtinya, Bun. Lain kali aku ajak ke sini," ujar santai Mas Rud seolah mereka benar-benar sudah menjadi keluarga kecil.
"Kamu ngaku-ngaku atau sudah diakui, Rud?" Bunda tak berhenti menggoda.
__ADS_1
Mas Rud tersenyum simpul. "Bagaimana mungkin aku bisa membawanya tidur di kamar kalau dia menolakku, Bun?"
Sang bunda memberikan pukulan kecil pada lengan sang putra. "Jangan nakal! Itu namanya zina."
"Bunda pikirannya kejauhan. Rud masih tahu batasan. Hal itu jelas terlarang, tapi kalau nyicil-nyicil sedikit, masih bisa diberi maaf 'kan, Bun?" tanya Mas Rud pada akhir kalimat sok benarnya.
Bunda kembali memukul sang putra dengan menambah sedikit tenaga. "Beristirahatlah! Jinakkan pikiranmu yang meliar!"
"Di kamar, Bun?" goda Mas Rud dengan menaikkan kedua belah alisnya bersamaan.
Bunda menjewer telinga kiri putra bungsunya. "Di sofa sini."
"Ah, Bunda nggak asyik!" celetuk Mas Rud.
Sang Bunda mengabaikan penilaian putra tampannya. Beliau memilih untuk menaiki tangga dan masuk ke kamar. Mendudukkan diri di tepi ranjang seraya mengambil bingkai kecil dari nakas. Foto berduanya dengan almarhum sang suami, beliau amati dengan kesungguhan hati.
Yah ... apakah kamu melihat putra kita telah kembali? Bukan sekadar fisiknya tetapi juga cintanya yang begitu besar untuk Rosa, calon mantu kita yang dulu gagal dan kini Rud yakinkan akan benar-benar ia sanding di pelaminan.
Bunda mengusap pelan foto sang suami. "Semoga putra kita diberikan kebahagiaan bersama Rosa ya, Yah. Bunda tidak sanggup jika pada akhirnya mereka kembali terpisah."
Ada kristal bening yang tiba-tiba mengalir. Rasa cinta seorang bunda melihat putranya kembali memperjuangkan rasa, menjadikan doa sebagai pemulas bibirnya. Karena sesungguhnya, harapan bahagia putranya sama seperti yang menjadi keinginannya.
Ya Allah ... Engkau memang pemilik tali jodoh. Namun, izinkan hamba untuk terus memohon agar Engkau mengaitkan cinta antara putra hamba dan gadis ayunya. Mereka sudah melewati pahit getirnya dipisahkan, kini ridai mereka untuk meneguk manisnya kebersamaan.
🍇🍇🍇🍇🍇
Di bawah kehangatan pelukan selimut, gadis ayu mengerjapkan netra seraya mengingat di mana kini ia berada. Ruangan yang belum akrab dalam pandangan membuat rasa penasaran harus segera diberi jawaban. Pikirnya menemukan setitik cerah lokasi yang ia tempati.
__ADS_1
"Mas Rud," sebut lirih gadis ayu ketika melihat foto besarnya yang tergantung di dinding kamar.