
Titik air mata membasahi kulit kepala. Gadis ayu ikut terharu mendengar penuturan Mas Rud. Jemarinya membelai rambut hitam sang mantan. "Kita tidak berjodoh, Mas."
Seketika, Mas Rud mengangkat kepala. Jemari yang membelai surai, ia raih. Manik mata yang meluruhkan air mata, ia tatap penuh kelembutan. "Bersediakah jika aku memintamu sebagai jodohku?"
Gadis ayu terkesiap. Kalimat yang ia ucap untuk mematahkan semangat justru berbalik membuatnya tidak berkutik. Hanya netra yang saling memandang tanpa ada jawaban yang terlontar.
"Mas, aku tidak pantas untuk kamu jadikan istri. Carilah wanita yang lain!"
"Kamu yang tidak pantas untukku ataukah aku yang tidak pantas untukmu?" Mas Rud membalik pertanyaan.
"Aku," yakin gadis ayu dengan membuang pandang.
Mas Rud mengembalikkan titik fokus gadis ayu dengan memutar dagu. "Kenapa?"
"Aku janda."
"Memang mengapa kalau kamu janda? Bukankah aku yang pertama merenggut ciumanmu?" ingat Mas rud seraya menutup mulut gadis ayu dengan jari telunjuk.
Seketika angan kedua insan dilambungkan pada malam saat gadis ayu, sang suami, abang dan Mas rud berada dalam satu lingkar tempat duduk di kereta yang membawa mereka ke Jogja. Pernikahan Rendra menjadi alasan kebersamaan tanpa ada unsur kesengajaan. Mungkin memang Tuhan sudah menggariskan pertemuan yang akan menjadikan keruwetan perasaan menjadi jalan kegamangan menjadi sebuah keyakinan pada satu pilihan.
Kala itu, Dion dan gadis ayu duduk dalam satu bangku. Sementara di hadapan mereka ada Mas Rud dan abang Aryan. Awalnya, kursi mereka berposisi depan belakang, namun tiba-tiba bangku diputar dan menjadi surprise bagi sepasang kekasih, Dion Wijaya dan Rosalia Citra Atmadja.
Seketika suasana menjadi canggung. Kehadiran abang menjadi air di antara dua bara api yang berkobar siap untuk saling membakar. Gadis ayu dibelenggu risau. Kehadiran Mas Rud setelah perpisahan sekian waktu, membuat kalbu galau.
"Kebetulan sekali ya kita bisa bertemu di sini," ujar Dion memecah kesunyian.
Pertanyaan itu tidak bisa ditangkap hanya sebagai wujud dari rasa terkejut, tetapi terselip kecurigaan karena faktor kesengajaan. Namun, gadis ayu tahu jika malaikatnya pasti sedang dilanda cemburu hanya saja ia tepikan dengan membuat sebuah kalimat ambigu.
"Kebetulan yang mengejutkan, bukankah begitu?" Mas Rud justru menyuratkan kalimat Dion yang tersirat.
"Kebetulan atau setingan Tuhan?" Abang menimpali dengan melemparkan senyuman.
Gadis ayu hanya bisa menunduk. Ia tidak ikut berkomentar dengan obrolan biasa yang sebenarnya tidak biasa itu. Sesekali ia mencuri pandang pada Mas Rud dan rupanya tatapan mereka beradu. Kedalaman rasa itu teraba.
__ADS_1
Keempat raga itu memang berada pada satu tempat. Hanya saja pikiranya masing-masing berkelana.
"Mata kalian penuh kejujuran. Akan tetapi aku tak bisa melepaskan. Maafkan aku egois untuk kali ini, Sayang." Dion membatin dengan mata memejam. Terbayang jelas saat ia menangkap Rosa dan Mas Rud saling menatap lekat meskipun hanya sesaat.
Buncahan hati itu teraba oleh si abang. Lelaki yang juga bagian dari tiga pria pencinta Rosa, hanya bisa menata hatinya. "Posisiku rumit karena mencintai wanita yang memiliki kekasih. Tetapi keruwetan rasa di antara kalian bertiga sungguh membuatku tak bisa berkata-kata."
Lain di hati sang pencinta, lain pula rasa yang mendera sepasang mantan kekasih yang sama-sama ditikam perih. Mereka berbicara lewat telepati rasa.
"Mengapa kamu kembali?"
"Tuhan yang menuntunku menemukanmu."
"Jangan mengusikku lagi!"
"Kamu yang terusik, mengapa aku yang kau cabik-cabik? Apakah kamu masih mencintaiku? Kurasa memang begitu."
Tatapan dua insan itu semakin menukik tajam. Gadis ayu membelokkan pandang beberapa waktu kemudian karena tidak kuasa menata hatinya. Keresahan yang semakin menggila membuatnya benar-benar dibenturkan pada kegamangan.
"Jangan melihatku seperti itu, Mas!"
"Jaga bicaramu, Mas! Kamu tidak lihat di sebelahku ada siapa? Dia kekasihku."
"Aku tahu."
"Kalau Mas tahu, maka seharusnya Mas bisa menjaga sikap."
"Aku hanya diam. Apakah itu sebuah kesalahan fatal? Kecuali aku menyentuhmu, maka bolehlah kamu menggerutu."
"Bicaramu semakin ngelantur, Mas. Sebaiknya engkau tidur. Lihat, mereka berdua sudah terlelap!"
"Tidurlah! Aku rindu melihat wajah lelapmu."
Gadis ayu tak dapat lagi menahan gemuruh perasaan. Harapan untuk segera dipertemukan dengan tujuan masih terlalu panjang. Waktu masih menunjukkan dini hari. Itu artinya telepati hati masih akan terus menghantui.
__ADS_1
Terus diserbu belenggu galau, gadis ayu memilih untuk berdiri. Ia tinggalkan jejak dan mulai melangkah. Ruangan sempit di antara dua gerbong di sanalah kini ia menata rasa yang tidak tertolong. Helaan napas panjang ia lepaskan untuk menghempaskan keruwetan perasan lantaran sang mantan. Tubuh ia sandarkan untuk membuat kerisauannya semakin samar.
"Sudah kubilang kamu tak bisa pura-pura kalau cinta kita sudah usai. Jujurlah kalau kamu memang masih mencintaiku!" Suara Mas Rud membuat gadis ayu terkejut.
Gadis ayu semakin terkesiap saat jarak tiba-tiba dipangkas. Mas Rud memupus celah dua tubuh. Tanpa permisi, ia menyisir bibir dengan sangat mahir hingga membuat darah berdesir. Sentuhan lembut membuat gadis ayu terhanyut. Mas Rud tahu jika air mata gadis ayu meluruh. Ini kesalahan, tetapi kenekatan perasaan siapa yang dapat menahan. Kedalaman rasa yang menuntun semuanya.
"Lihatlah, bahasa tubuhmu saja tak bisa menolakku!" bisik Mas Rud setelah berhenti mem*gut.
Plak!
Mas Rud mengusap pipi kanan yang baru saja dihadiahi sebuah tamparan.
Gadis ayu tersenyum puas, akan tetapi Mas Rud menjadi buas. Langkah kaki yang hendak dibawa berlari, terjebak saat sebuah gamitan bermain di pinggang. Tarikan erat menjerat tubuh gadis ayu.
Niat memberontak dibalas gerakan sigap. Tangan Mas Rud menelusup hingga tengkuk bertekuk lutut. Secepat kilatan petir, bibir kembali di sisir. Kelembutan yang menghangat perlahan menjadi penuh gejolak. Lagi-lagi hati tak bisa dibohongi, khilaf untuk kedua kali. Sempat tersadar sebentar tetapi hipnotis e*rotis tak bisa ditepis. Bibir berusaha diusir tetapi lidah justru dibelit dengan indah.
"Aww! Mas Rud memekik karena bibir yang tiba-tiba digigit.
Detik berganti, rupanya kesadaran gadis ayu telah kembali. Tak sekadar gigitan, ia juga menginjak hingga tangan yang melingkar di pinggang berhasil ia hempaskan.
Plak!
Sebuah tamparan kembali mengagetkan hingga membuat khayalan kembali terbang pada masa sekarang. Bukan lagi di ruang kosong antar gerbang melainkan ayunan rotan di balkon.
Gadis ayu membelokkan arah pandang yang awalnya lurus pada netra Mas Rud. Tautan masa lalu masih menderu dalam kalbu. Ciuman lakn*t membuatnya tak kuat menatap.
"Kamu salah tingkah sama seperti malam itu. Jadi bisakah kusimpulkan jika ciuman itu sekarang masih kamu inginkan?"
Pandangan mereka semakin menjauh. Namun Mas Rud justru menarik lembut tengkuk. Seperti sebuah deja vu, gadis ayu memaku. Mas Rud mengangkat tubuh. Wajah semakin merujuk pada satu arah. Kepala memutar mèmbentuk sudut dengan benar.
Pikiran gadis ayu meliar. Jantung semakin berdebar bar-bar. Bibir digigit seraya netra dibuat menyipit.
Sebuah kecupan bersandar sebentar. Sengaja menggoda, Mas Rud kemudian menghindar. Gadis ayu ia biarkan memejam. "Bukalah matamu atau aku akan melakukan lebih dari itu!"
__ADS_1
Seketika mata gadis ayu membuka. Ia pikir Mas Rud sudah menyingkir. Namun rupanya ia masih berada tepat di hadapannya.
Sesaat netra keduanya kembali beradu manja. Wajah gadis ayu maju. "Cium aku!"