Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Lingkar Rasa


__ADS_3

Layar benda pintar bergambar Di-junior. Abang nampak riang bercanda dengan sang keponakan. "Uncle baru pulang hari Sabtu, Sayang. Sabar, ya! Sementara main sama om Rud aja," ujar uncle Aryan.


"Iya, uncle."


"Mas Aryan, kangen aku, nggak?" sela Kristy ketika sang keponakan baru saja memberikan jawaban.


Lelaki yang diberi pertanyaan kemudian melemparkan senyuman. "Siapa yang nggak kangen sama adik yang bawel?"


"Mas Aryan nyebelin. Masa kangennya karena bawel? Sama kecantikanku yang paripurna, kek," gerutu Kristy seraya menyerahkan kembali gawai pada bocah cilik.


"Jangan dipikirin, Uncle! Aunty hanya pura-pura. Dia caper."


Kristy kembali menggeleng. Ia tak habis pikir dengan keberagaman kata yang dimiliki sang keponakan. Bukan sekadar kata baku akan tetapi juga bahasa gaul.


"Satya ajak Aunty jalan-jalan, ya! Kasihan," ujar uncle Aryan.


"Nanti kita jalan bareng-bareng kalau Uncle udah pulang."


Lelaki di seberang sana nampak tersenyum senang. "Baiklah. Tunggu uncle, ya! Nanti kita akan pergi bersama."


"Yey ... janji ya, Uncle!" ucap Di-junior seraya mengacungkan jari kelingking.


Uncle Aryan melakukan hal yang sama dari ujung sana. Namun tiba-tiba ada yang menautkan jari di kelingking yang Di-junior acungkan. "Janji! Om Rud nyambungin jarinya Uncle, ya."


"Hai, Uncle Aryan!" sapa Mas Rud ikut menyapa abang.


"Hai, Om Rud!" balas abang dengan senyuman.


Di-junior beranjak dari posisi. Ia menghambur ke pelukan sang mama yang baru datang. Anak kecil itu seolah memberi kesempatan dua pria untuk saling berbicara.

__ADS_1


"Kapan kamu pulang?" Mas Rud menyapa dengan meninggalkan kata uncle karena mereka sekarang hanya berdua. Sepasang ibu dan anak serta sang aunty sengaja pergi. Mereka tahu jika dua pria itu akan berbicara serius.


"Weekend ini aku pulang. Ada apa?" balas abang dengan sangat tenang.


Mas Rud memberikan senyuman untuk melarutkan perasaan yang sedikit berkecamuk. "Pingin ngobrol aja."


"Hari Sabtu aku kabari. Ada kabar apa selama aku pergi?"


"Keluarga ini kesepian tanpamu. Selama aku di sini, namamu tak henti disebut. Aku jadi penasaran." Mas Rud mencurahkan apa yang dia rasakan.


"Kamu cemburu?" goda abang seraya melebarkan senyuman.


"Entahlah. Aku hanya merasa tidak berarti saja. Kamu selalu ada buat mereka sementara aku tidak," aku Mas Rud dengan nada datar. Selipan penyesalan tergambar jelas di pandangan abang.


"Kamu yang dia rindukan bukan aku," terang abang sedikit menyemai getir.


Mas Rud menjeda jawaban. Ia seolah bisa merasakan perih dari kalimat yang disebut dengan sedikit lirih. Dilema di antara mereka berdua melengkung nyata. Mas Rud sadar jika lelaki yang sedang ia ajak berbicara memiliki ketulusan yang tidak ia punya. Pernah ia mengikhlaskan gadis ayunya untuk lelaki lain, akan tetapi sekarang ia tak lagi bisa melakukan. Lalu, bagaimana dengan Aryan? Akankah ia bisa seutuhnya rela jika wanita yang ia jaga kembali pada masa lalunya yang tidak lain adalah dirinya.


Ada senyum yang mengembang dari bibir si abang. "Wakili kehadiranku dengan keberadaanmu. Beberapa tahun ini mereka sudah bersamaku. Gantian sekarang kamu yang melepas rindu. Bukankah jika begitu akan adil untuk kita berdua?"


Kedua pria saling menata rasa. Detik yang terus berganti semakin membuat hati tidak terkendali. Akhirnya si abang berinisiatif untuk menghentikan obrolan.


"Rud, kita akan bertemu hari Sabtu. Selama tiga hari ke depan jagalah mereka untukku. Kebahagiaan mereka aku titipkan padamu."


Mas Rud merasa terharu. Ketulusan seorang abang Aryan membuat air mata seolah memaksa untuk jatuh. Ia tiada kuasa untuk menolak rasa. "Kita akan menjaganya."


Mereka berdua sama-sama menekan tombol telepon berwarna merah. Hati mereka sama-sama membuncah.


Abang menitikkan kristal kejujuran di pipi. Ia tahu apa maksud Mas Rud berkata seperti itu. Pria yang meraih cintanya lagi itu sedang menjaga hati abang agar tidak terluka terlalu dalam.

__ADS_1


"Rud, kita sama-sama tahu. Aku ikhlas. Sungguh ikhlas dia kembali memilihmu. Sejujurnya tangis ini kuhindari. Akan tetapi aku manusia normal. Hati tidak bisa kukendalikan sepenuhnya."


Abang berusaha membuat air mata tidak terus meluruh. Netra ia kerjapkan dan pandang ia jatuhkan pada atap ruangan. "Ya Tuhan ... jangan buat aku menjadi jahat! Biarkan aku seperti ini. Aku bahagia. Bahagia. Sangat bahagia melihat dia kembali menemukan cinta sejatinya."


Mata memejam. Angan terbawa pada masa di mana ia tertawa berdua bersama sang pemilik cintanya. Menikmati bakmi dalam satu piring. Satu suapan dengan sendok dan garpu yang sama. "Aku ingin terus melihat tawamu. Iya ... yang terpenting adalah bahagiamu. Walaupun bukan denganku, yang terpenting kamu selalu tersenyum."


Sebuah helaan napas panjang nan dalam ia lakukan. Pikiran kembali diperlihatkan gambaran kesedihan saat menemani gadis ayu membaca novel dari sang mantan. "Jelas sekali kamu masih menyimpan rasa untuknya. Mana mungkin aku tega menghancurkan bahagiamu. Bahagialah dengannya di depan mataku!"


Abang meraup pelan wajahnya yang berluberan air mata. Baru kali ini hatinya tak terkendali. Di depan gadis ayu, abang bisa tenang. Tetapi menghadapi Mas Rud ia terkungkung gelora rasa yang akut. "Rud, hatiku saja sanggup kamu acak-acak, bagaimana Rosa tidak kacau karena hadirmu lagi?"


Badan jangkung itu beringsut. Ia beranjak dari posisi dan kemudian mengayun kaki ke balkon hotel tempatnya menginap. Hamparan pemandangan malam yang baru saja diguyur hujan membuat hatinya sedikit damai. "Hujan pasti datang, akan tetapi suatu saat pasti akan berhenti. Kubiarkan hatiku mencintai tanpa memiliki, karena kuyakin aku bahagia memilih ini. Tawamu adalah senyumku."


Senyuman yang akhirnya kembali terukir dari bibir si abang, kontras dengan air mata yang dibiarkan meluruh di pipi Mas Rud. "Aryan, bagaimana kamu bisa setenang itu? Aku tahu hatimu."


Mas Rud mengusap bulir yang mengalir. Ia teriris perih memikirkan perasaan abang. Ia jelas tahu bagaimana rasanya memenjarakan cinta. Segala kesakitan tidak akan cukup untuk menggambarkan buncahan kegundahan. Dan kini, dia di hadapkan pada pria yang mencintai gadis ayunya tetapi merelakan untuk ia jaga.


"Aku yang akan bicara dengan abang," ucap seseorang yang tiba-tiba memeluk Mas Rud dari belakang.


Mereka berdua bergeming. Tanpa harus bertanya, gadis ayu tahu apa yang sedang mengganggu kalbu Mas Rud. Mereka bertiga bermain rasa, saling berlomba mencipta bahagia dan menepikan lara yang sebenarnya terbaca.


"Sudah terlalu banyak dia berkorban perasaan. Aku tidak kuat melihat senyum yang selalu ia tunjukkan." Mas rud mengungkapkan apa yang membuatnya banjir tangisan.


"Aku sudah memintanya pergi sejak dulu, tapi dia tidak pernah mau. Aku bilang jangan selalu ada untukku, dia bilang bahagianya adalah dengan menjagaku."


Kini, ganti gadis ayu yang terbelenggu sendu. Air mata tidak berhenti bermain di pipinya. Ia merasa bersalah menjadi sumber lara dua pria yang ia sayang. "Semua ini karena aku. Sebaiknya aku saja yang pergi. Kalian berhak bahagia."


Mas rud memutar badan. Ia beranjak dari duduk dan memeluk sang gadis ayu. "Diamlah di sini! Jangan pernah pergi! Kamu adalah bahagia kami. Aku yang salah karena kembali. Mungkin sebaiknya akulah yang pergi. Kalian sudah saatnya bahagia."


Kristal bening berlomba mengalir di kedua sisi pipi dua insan yang saling berpelukan.

__ADS_1


"Jangan pergi!" ucap lirih gadis ayu seraya mengeratkan sentuhan.


__ADS_2