Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Doa


__ADS_3

Malam sudah melewati pukul sepuluh. Empat raga yang menyatu dalam dua cinta terbagi dalam dua kubu. Rendra dan Maya, sepasang kekasih yang baru saja mengikat diri itu duduk mesra di ayunan rotan balkon resort yang kami tempati. Aku dan gadis ayuku, bersandar pada pagar pembatas. Menikmati cahaya bulan yang menyempurnakan bentuknya tepat malam ini.


"Mas, menurutmu cantikan mana antara aku dan bulan?"


"Tentu saja bulan."


Senyum penuh pengharapan itu seketika berubah dari cerah menjadi kerucut sempurna. Kekasih hatiku itu pasti berharap mendapatkan jawaban sebaliknya. Menunggu aku mengatakan bahwa ia adalah kecantikan yang tak ada lawan.


"Bulan itu sangat cantik, tetapi aku tidak tertarik. Dia memberikan keindahan pada semua mata yang memandang. Kamu ..." ucapku menjeda kalimat berikutnya karena senyum yang sempat menghilang itu perlahan mulai kembali.


Gadis yang semula berdiri di sampingku itu, kutarik dalam dekapan. Kupeluk ia dari belakang. Menepikan malu dan menengahkan cinta yang tiada bertepi. Bahagia karena sebentar lagi kami akan disatukan dalam bahtera rumah tangga.


"Sayang, kamu tahu ... percuma jika kamu ingin mencari perbandingan untuk kecantikanmu di hatiku. Sampai bumi kamu itari ribuan kali, bagiku hanya kamu yang akan menempati seluruh hati ini. Tak akan ada pengganti."


"Mengapa aku senang mendengarnya, Mas? Padahal aku tahu jika semua itu hanya rayuan palsu."


"Itu karena kamu sudah mencintaiku sepenuh hatimu. Tak akan ada celah yang bisa dimasuki walaupun sebutir kecil rasa benci."


"Mulutmu manis sekali, Mas?" ujarnya sambil menengok, mengintip raut wajah lelaki yang gemar sekali menggodanya ini--aku.


"Kok, tahu? Pernah nyobain, ya?" godaku lagi yang justru membuatnya memutar badan.


Kami saling berhadapan. Ia tengadahkan kepala. Bening hitam itu menyasar sesuatu yang menempati sisi bawah wajahku. Disentuhnya bibirku dengan jarinya.


Ada getar yang menyasar pemilik debar. Hatiku berdesir, ingin mengusir sentuhannya tetapi jujur aku menikmatinya. Sepertinya, benarlah kalimat yang pernah kudengar, jika sepasang keturunan adam dan hawa berduaan maka yang ketiga adalah setan.


Ya ... ada makhluk tak kasat mata itu yang sedang menelusup di antara cinta yang kami punya. Membisikkan deru nafsu untuk menghapus rasa tulus dan menggantinya dengan gejolak jahan*m.


Kutepis perlahan jemari lentik itu dari bibirku yang masih suci dari sentuhan wanita. Ibarat seorang perempuan, maka bibirku masih perawan. Tak terjamah, bahkan untuk dirinya, kekasih yang belum aku halalkan.


"Jangan menggodaku! Aku bisa rakus kalau kamu merayuku terus," ujarku seraya melayangkan sebuah ciuman di keningnya.


"Woi ... kalau udah gak tahan, masuk kamar sana!" celetuk Rendra setelah melihat kami dengan posisi sangat intim.


Kuabaikan kalimat Rendra yang juga berkelakuan sama, peluk-pelukan dalam posisi lebih berdekatan. Maya bersender di dada bidang kekasih yang memangkunyanitu. Sebenernya aku atau dia yang sudah kebelet?


"Jangan berisik!" seruku sambil sekali lagi mengecup hidung gadisku yang mancung.


Matanya ia pejamkan membuatku kembali harus menahan hasrat yang tiba-tiba saja bergejolak. Helaan napas kubuat agar aku tak terjerat, diperbudak oleh cinta yang berkhianat dan menjadi bejat.


Kucubit hidung yang tadi sempat kucium itu. "Buka matamu, Sayang! Sudah kubilang jangan memancing sisi liar Rud Dinata."

__ADS_1


Rosaku yang ayu nampak malu-malu. Ia perlihatkan senyum canggung yang justru membuatku semakin terkungkung dalam rasa cinta yang agung. Dia selalu saja membuatku semakin jatuh cinta. Tak sedetik pun aku ia buat bernapas dari cinta yang semakin tak ingin lepas.


"Lebih baik, kita tidur dulu! Besok kita kan perjalanan pulang. Jangan sampai kelelahan," nasehatku seraya menggandeng tangannya.


"Mas, pengen ..." ujarnya sambil menunjuk Maya dan Rendra saat kami melewati mereka berdua.


Kukernyitkan dahi. Mencari jawab dari kalimat ambigu yang ia ucap. Tak mungkin gadis ayuku meminta sesuatu yang tak semestinya. Hal terlarang yang tak mungkin aku kabulkan sekarang. Meskipun aku mau tetapi aku tahu sejauh mana aku harus menjaga dirinya. Meninggikan kehormatan dengan cinta yang aku sanjungkan. Bukan merusak sesuatu yang harus aku jaga sepenuh jiwa raga.


"Jangan kotori mata sucimu, Sayang! Mereka contoh buruk."


Kuantarkan dia ke kamarnya yang tepat berada di sebelah kamar yang aku tempati. Berhenti di depan pintu, dan mulai kembali merayu. Gombalan malam sebelum tidur untuk kekasih yang disayangi dengan cinta yang bertabur.


"Beranikan tidur sendiri?" tanyaku basa-basi karena sesungguhnya aku tahu jika gadisku adalah seorang pemberani.


"Kalau gak berani, memang mau Mas temenin?"


Kusunggingkan senyum penuh kasih sayang. "Belum boleh, Sayang."


"Mas, peluk sebelum bobok," ucapnya menja dengan tatapannya yang sangat menggemaskan.


Segera kubuka tangan untuk mendekapnya dalam pelukan. Mengecup rambutnya dan kemudian perlahan melepaskannya dari dada bidang. "Masuklah! Aku ada di sebelah kalau kamu ingin mencari."


💖💖💖💖💖


Minggu siang sudah menyapakan diri. Saatnya kembali agar semua rencana yang tersusun malam nanti tak tersendat karena aku yang pulang terlambat. Rencanaku untuk melamarnya tak boleh gagal hanya karena jalanan terjal yang ingin menjegal.


"Iya, Ayah. Ini kita sebentar lagi akan berangkat pulang."


Sosok tegas dari pemilik nama belakangku, ternyata sangat perhatian. Penolakan awal untukku tetap bertahan, nyatanya justru paling semangat ketika kami akan bersilaturahmi untuk membangun hubungan suci. Memastikan aku ingat dan tak melupakan untuk pulang dengan cepat.


"Di rumah gak ada apa-apa, kan, Mas?" tanyanya dari bangku depan sebelah kiri.


Kuusap rambutnya perlahan. "Alhamdulillah, Ayah hanya kangen sama putra gantengnya. Takut terjebak cinta seorang Rosa dan lupa di mana rumahnya."


"Berangkat ... berangkat! Kalau ngegombal terus, aku takut Rosa bakalan hamil," seru Rendra yang segera ditimpali oleh kekasih barunya.


"Kok hamil?"


"Kan, kebanyakan gombal bikin mual, Sayang. Bukankah itu tanda-tanda kehamilan?" oceh Rendra asal mengumbar kata.


"Kalau itu benar, yang seharusnya waspada adalah kamu May," tohokku sambil menarik kedua alis ke atas.

__ADS_1


"Apa an, sih? Jangan sampai hamil duluan! Halalin dulu, baru ...."


Kekasihku itu mengingatkan tentang rencanaku untuk menghalalkannya segera. Bibirku sudah tak bisa lagi berlama-lama untuk menjaga rahasia. Sudah gatal ingin bilang jika aku ingin kami segera disahkan.


"Makanya kita berdoa dulu sebelum memulai perjalanan pulang. Semoga perjalanan kita lancar seperti hubungan kita ke depan untuk menuju pelaminan," ujarku yang tak sekadar doa tetapi juga sengaja menyerempetkan kata.


Sautan kata Aamiin dari ketiga pasang telinga yang mendengarnya, menjadi titik poin untuk memulai menyalakan mesin. Mengawali langkah meninggalkan pantai menuju ke rumah lagi.


🏡🏡🏡🏡🏡


"Aku turun di sini aja sekalian, terimakasih ya sudah mengantar," ujarku setelah mobil yang kukemudikan sampai di depan gerbang rumah Rosa.


Mobil itu segera putar balik setelah aku dan Rosa melambaikan tangan bersamaan. Selaras dengan kami yang segera memastikan kaki untuk masuk ke kediamannya.


Sapaan mamanya, membuatku menunduk hormat dan segera mencium punggung tangan seorang ibu yang memiliki doa yang hebat itu.


"Mama ingin bicara sebentar, Nak! Bisa?" tanya beliau saat Rosa meninggalkan kami karena diserbu hasrat untuk buang air kecil.


"Iya, Tante," balasku sambil mengikuti langkahnya menuju ruang tamu.


"Mama tahu, kalian serius dengan hubungan ini. Namun, seperti yang kalian tahu bahwasanya Ardi masih kekeh untuk meneruskan perjodohan. Jika kamu sudah siap, lebih baik niat baik dipercepat, Nak."


"Iya, Tante. Saya akan membicarakan ini secepatnya dengan ayah dan bunda. Rud juga akan kekeh menjadikan Rosa sebagai istri, Tan."


"Semoga cinta kalian disatuka oleh tali perjodohan, Nak."


Aamiin ... itu adalah doa yang selalu kupanjatkan. Bersanding dengan gadis yang berhasil meluluhkan hatiku tanpa perlu bersaing. Ia adalah kandidat tunggal sebagai nyonya Rud Dinata. Satu di hati, tanpa pengganti.


💞💞💞💞💞


Mampir yuk ko novel Trio Somplak n The Gank!🥰🥰😍






__ADS_1


__ADS_2