
Sebuket bunga berwarna putih dan sekeranjang warna-warni berbau semerbak berada di tangan sepasang lelaki dan gadis ayu. Kaca mata hitam, bertengger pada masing-masing indera penglihatan. Entah untuk sekedar menghalau silau atau untuk menjadi penghalang sesuatu yang nanti akan terjadi.
Gadis ayu itu memantapkan langkah untuk terus berjalan beriring dengan lelaki di sampingnya. Melewati sepinya lahan yang luas. Hanya jajaran batu nisan yang diselimuti rumput yang menghijau nampak di sepanjang perjalanan. Berhenti ketika ada sebuah peristirahatan bertuliskan sebuah nama yang dikenalnya "Dion Wijaya".
Perlahan gadis itu menekuk kedua lututnya. Menatap nanar rumah terakhir bagi kekasih yang sudah mengikrarkan janji suci pernikahan untuknya. Sebuket bunga itu ia letakkan. "Mas, harusnya kamu menjemputku? Bukankah kamu tahu kalau Rosamu ini sangat suka kau manjakan?" ucap gadis itu seraya menaburkan bunga di atas pusara.
Lelaki yang sedari tadi setia menemani, duduk berjongkok di sebelahnya. Diam, hanya ikut menaburkan bunga. Sesekali ia mengusap bahu gadis di sampingnya. Ia tahu benar bagaimana perasaan seseorang yang ada di sisi kirinya itu. Meskipun ia nampak tegar dan mencoba bercanda, jauh di lubuk hatinya masih menyimpan rasa untuk sang suami tercinta.
Keberadaannya di sini pun, atas permintaan gadis itu. Sempat ia menahan tapi dimentahkan. Bukan tanpa sebab, lelaki itu hanya tidak ingin terjadi hal yang akan membawa ingatan pedih gadis itu pada kepergian mendadak sang lelaki. Dalam ingatannya masih sangat tergambar sempurna saat gadis itu terdampar dalam alam bawah sadar. Dirinya menolak bahwasanya sang suami telah pergi meninggalkannya. Bukan sesaat tapi untuk selamanya.
Sebuah kepergian yang indah tapi tetap saja memberikan duka. Dalam sujud terakhirnya di sepertiga malam, lelaki yang kini hanyalah tinggal nama itu menemui Maha Penciptanya. Tanpa merasakan sakitnya nyawa saat hendak terlepas dari raga, ia tersenyum melepas kepergiannya meninggalkan dunia. Sang istri yang tak lain gadis ayu itu, hanya sanggup meluruhkan air mata saat didapatinya imam salatnya tak kunjung bangun dari sujudnya.
__ADS_1
Teriakan pada sunyinya malam itu, masih terdengar di telinga sang lelaki. Bagaimana kelunya bibir gadis itu, hanya sanggup menggedor pintu apartemennya tanpa bisa berkata apa-apa. Dia yang juga tengah terbangun untuk mengambil air minum, secepat kilat ditariknya begitu pintu apartemen ia buka. Gemetar yang melingkupi seluruh raganya, bisa dia rasakan dengan sangat kentara. Gadis itu sangat lemah. Namun ada kekuatan yang menjadikannya kuat dan itu tak dia ketahui dorongan dari mana.
Denyut nadi yang sudah tidak teraba, membuat lelaki itu memutuskan untuk membawa suami sang gadis ke rumah sakit. Mendapatkan kepastian tentang napas, apakah masih bisa dihela kemudian atau terhenti sampai di sini. Dalam pekatnya doa yang terus dipanjatkan, air mata sang gadis meluruh sempurna. Fokus lelaki itu ia bagi antara menenangkan atau membelah jalanan malam.
"Mas, aku kangen," lirih gadis itu yang membuyarkan khayal sang lelaki tentang bagaimana ajal meninggalkan raga dari lelaki yang kini terbaring di bawah pusara.
Dia usap punggung gadis itu. Meminta tetap kuat dan tidak kembali meratap. Sekuat tenaga ditahan tapi bening air mata itu tetap lolos begitu saja. Isak kecil yang tak bisa dia abaikan, semakin terdengar perih di telinga sang lelaki. Waktu boleh bergulir tapi cinta tidak berakhir.
"Kamu tahu, Mas, Abang kita ini setia sekali menjagaku. Bahkan dia mengabaikan usianya dan belum menikah juga. Coba kamu ada di sini, Mas. Pasti dia sudah laku," ucap gadis itu terdengar miris.
"Mas, maafkan aku. Kotak hitam dari Mas Rud sudan aku buka. Isinya novel. Dan kamu tahu, Mas, Abang selalu menemaniku saat aku membaca novel itu. Ia seperti seorang ibu, yang selalu mengomel saat perasaanku terganggu karena teringat kisah kita yang tertulis di sana. Dia takut aku sakit hati kalau kembali mengulang rasa pada pemilik novel itu. Padahal 'kan cintaku hanya untukmu, Mas. Hanya kamu. Hatiku sudah kukunci atas namamu. Aku hanya merindukanmu. Terlalu rindu. Hingga aku merasa ingin mengulang jatuh cinta. Denganmu, hanya bersamamu."
__ADS_1
Suara gadis itu terdengar begitu pilu. Kristal bening dan suara seraknya tak lagi dapat ia bendung. Kegusaran dan kegalauan perasaan ia tumpahkan. Ketegaran yang selama ini coba ia kokohkan, nyatanya rubuh begitu saja. Ia merindukan sosok bijak, lelakinya.
Lelaki yang tadi datang bersamanya, mulai ikut berbicara. Bukan menasihati tapi berupa sindiran. Gadis rapuh itu ia biarkan menghapus air matanya sendiri, tidak seperti biasanya, ketika dia yang menghapusnya. Di hadapan lelaki yang tak lain suami sang gadis, ia pantang mengambih alih tugas. Menyeka air mata dan memeluk, itu tidak akan dilakukannya.
"Lihatlah wanitamu, ini! Dia masih saja keras kepala. Lebih memilih menyakiti diri sendiri daripada pergi dan menjemput lembar baru bahagianya. Maafkan aku tak bisa mengubah pendiriannya."
Gadis ayu itu ingin sekali membalas aduan lelaki di sampingnya. Namun suaranya masih tercekat. Ia hanya mengusap nisan itu sambil tersenyum. Dalam hatinya ia membantah. Air matanya kembali bersaksi, jika sebenarnya ia masih tidak rela ditinggalkan seorang diri. Kesepian yang mendera membuatnya memilih untuk mencukupkan berada di sana. Ia memandang nama di batu nisan itu dan kemudian berdiri. Berbalik arah dan mulai melangkah. Sisa air mata itu ia sembunyikan di balik kaca mata hitam yang segera ia pakai. Terus berjalan dan melupakan apakah seseorang yang tadi datang bersamanya mengikutinya atau masih setia mengobral cerita di sana.
Hatinya seperti sedang diiris-iris. Kelebatan bayangan cerita dengan lelaki yang kini telah tenang di balik batu nisan itu rupanya masih belum bisa sedikitpun ia lupakan. kisah manis yang hanya sejenak ia nikmati membuatnya menyesal karena membiarkan lelaki itu lebih lama ia sakiti. Sungguh hatinya remuk redam sekarang.
"Masuklah," ucap seseorang yang tadi ia tinggalkan sambil membuka pintu mobil depan sebelah kiri.
__ADS_1
Lelaki matang itu segera masuk mobil setelah sang gadis ayu terduduk manis di kursinya. Ia nyalakan mesin mobil sambil memandang seseorang di sampingnya. Tak seperti di pemakaman tadi, kali ini ia beringsut mendekatkan tubuh pada lawan jenisnya itu. Menarik lembut bahu dan menenggelamkan dalam pelukannya. Dengan perlahan, ia membuka benda hitam yang menutupi mata sembab gadis itu.
Sang gadis nampak lebih tenang. Sentuhan sang Abang rupanya bisa mengobati rindu pada lelakinya. Memang bukan kedamaian yang sama tapi setidaknya masih ada yang setia di sisinya saat semua yang dia cintai telah pergi.