Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Dingin


__ADS_3

Gadis ayu tertegun. Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Mas Rud. "Apakah aku yang harus menyetir?"


"Bukankah kamu tidak mau aku stir? Ya sudah sekarang kamu yang bawa mobil. Aku sedang mengendalikan hatiku."


Gadis ayu ingin membantah, tetapi sadar ia telah salah. Mas Rud bukan abang yang akan selalu menuruti apa yang ia mau. Justru bersama Mas Rud ia menjadi seorang yang penurut. Entah sihir apa yang dimiliki lelaki itu tetapi rasanya ia rela berkata iya.


Ketika gadis ayu fokus dengan jalanan, Mas rud memilih untuk menyamankan posisi. Ia menyetel jok mobil hingga bisa untuk merebahkan tubuhnya. Kedua lengan ia kunci di depan dada dan kemudian memejamkan mata.


Gadis ayu hanya menghela napas dalam, saat diliriknya sang mantan terlihat terlelap. Tak ingin dibodohi, ia lambaikan tangan kiri di depan wajah sang lelaki. Gadis ayu terkesiap saat tangannya tiba-tiba ditawan dalam genggaman.


Ingin memberontak tetapi ia juga harus sigap. Sebagai pengendali mobil, fokusnya tidak boleh terbagi. Lama-lama, cekalan itu melemah sehingga gadis ayu bisa kembali menarik tangannya.


"Kamu beneran tertidur atau hanya pura-pura, Mas?" ucap lirih gadis ayu.


"Kenapa kamu memedulikanku?" sahut Mas Rud.


Gadis ayu melirik. Hanya sesaat dan kemudian kembali tak memedulikan. Ia berusaha menata rasa agar tidak goyah diombang-ambingkan oleh sang mantan.


Pernah melewati hari bersama sang lelaki, membuat gadis ayu paham bagaimana cara untuk bertahan. Pesona yang terpancar begitu terang hingga sangat sulit untuk menyangkal jika hati telah sedikit terbungkam.


Perjalanan yang tak seberapa jauh, tidak terlalu memakan waktu tempuh. Gadis ayu menyalakan lampu sein ke kanan karena rumahnya telah nampak di depan. Lalu lintas yang tidak terlalu padat, membuat mobil berbelok dengan cepat.


Mas Rud yang masih terlelap membuat gadis ayu terpaksa keluar untuk membuka pintu gerbang.


Saat gadis ayu kembali, ternyata sang lelaki telah berpindah ke balik kemudi. "Duduk di sebelah!"


Sang gadis merasa kesal. Ia memilih berjalan masuk ke halaman rumah. Mas Rud ia biarkan sendiri di mobil.


Ditinggalkan sendirian, Mas Rud segera melajukan mobil hingga menepi di parkiran. Dengan cepat mematikan mesin dan turun dari mobil.


Dua orang yang sedang bersantai di teras, ia temui secara bergegas. "Ini kunci mobilmu. Sekalian aku pamit."


"Kalian bertengkar?" Abang mencari jawaban karena gadis ayu juga buru-buru ke dalam setelah menyapa sebentar, sama dengan yang dilakukan oleh Mas Rud.


Mas Rud hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Kris, aku pulang duluan. Sampaikan salam buat mama dan putraku, ya!"


"Nggak mau nginep?" goda Kristy seraya mengulum senyum.

__ADS_1


"Nggak ah, takut ganggu yang lagi PDKT," celetuk Mas Rud sambil mengukir senyum menyindir.


"Wah, Mas Rud emang tahu perasaanku. Cepat pulang kalau begitu!" usir Kristy tak bersungguh-sungguh.


"Bang, adikmu sudah kuantarkan pulang. Kurasa kamu juga harus segera pulang," ujar Mas Rud seraya berjalan menjauh, meninggalkan dua orang yang terikat persaudaraan tanpa ikatan darah itu.


Rupanya dua pasang mata insan yang ditinggalkan, menatap Mas Rud hingga menghilang di balik pintu gerbang. Mereka berdiam entah apa yang bermain di masing-masing pikiran.


"Mas Aryan, mereka kalau bertengkar lucu, ya?" celetuk Kristy sambil mengambil cemilan di toples.


"Rud itu bisa mengacak-acak perasaan Mbakmu. Berbeda dengan Dion yang selalu manis, Rud itu punya kolaborasi rasa. Dia bisa membuat Mbakmu tersenyum, menggerutu, manja tanpa disadarinya atau malah marah tetapi cinta," jelas abang yang dibenarkan oleh sang adik bungsu.


"Cinta mereka itu penuh warna, Mas," ucap Kristy menilai.


Obrolan abang dan Kristy terus memutar. Hingga tanpa mereka sadari, telah banyak waktu mereka habiskan untuk berkomunikasi. Meskipun membahas masalah Mas rud dan si sulung cantik di keluarga Atmadja, tetapi itu adalah sebuah rekor obrolan terpanjang.


"Kris, aku pulang dulu, ya! Salam buat mama dan Satyaku," pesan abang sebelum pulang yang disanggupi Kristy.


"Hati-hati, Mas!"


🍁🍁🍁


Gadis ayu meletakkan lagi novel dari Mas Rud. Ia memilih untuk pergi ke kamar mandi. Ketika semua pakaiannya telah tanggal, ia segera menenggelamkan badan di bathtub.


Tanpa diinginkan, ingatan tentang kejadian beberapa hari lalu kembali terngiang. Saat ia berendam dan ketiduran, Mas Rud mengangkat tubuhnya dalam keadaan telanjang. Seketika gejolak hatinya terasa mengganggu.


"Mas Dion, maafkan aku yang tak bisa menjaga diri. Bagaimana mungkin ada lelaki lain yang melihatku tanpa sehelai kain?"


Perasaan gadis ayu semakin tak tenang. Ada sesal yang bersemayam. Berendam yang biasanya merilekskan badan, ini justru tidak berpengaruh besar.


Kaki gadis ayu dipaksa untuk keluar. Bathtub ia tinggalkan dan shower menjadi tujuan. Di bawah guyuran air dingin, gadis ayu melepaskan segala ketegangan.


"Bagaimana aku harus menghapus kenyataan menyebalkan ini?"


"Mengapa dia harus melihatnya?


"Ah!"

__ADS_1


Gadis ayu terus menggerutu. Ia berupaya menemukan cara untuk mengembalikan sesuatu yang ia tahu jawabannya adalah mustahil. Namun ia tidak menyerah. Pikirannya terus ia peras hingga pada akhirnya ia hanya sanggup berteriak.


Tuhan ....


Saat pikiran buntu, gadis ayu memilih untuk meraih handuk. Tidak ada yang bisa menjawab kegundahannya. Ia teringat dengan si abang yang mungkin akan bisa membuatnya tenang.


Saat melihat kemeja yang tergantung, langkahnya terhenti dan mematung. Tak sadar ia mengulurkan tangan. Aroma yang menguar ia hirup mendalam.


"Mengapa aroma ini bisa membuatku tenang?" batin gadis ayu.


Kemeja itu kembali ia pakai. Entah apa yang tiba-tiba membuatnya mengambil keputusan itu. Sepertinya, alam bawah sadar yang memberikan tuntunan.


Gadis ayu keluar kamar mandi dengan wajah yang lebih berseri-seri. Kemeja itu sepertinya membawa aura bahagia. Langkah yang ia ayun menuntun untuk mengambil novel di atas meja riasnya.


Merebah di ranjang, tangan gadis ayu menimang-nimang. Apa yang akan dia lakukan terhadap kenangan yang ada di genggaman. Membuka lagi ataukah meletakkan sembarang.


"Untuk apa aku membacanya lagi?" ucap gadis ayu seraya melepaskan novel itu dan memilih beranjak dari posisinya.


Kaki gadis ayu menapaki lantai. Melepaskan diri dari kamar, langkahnya mengarah pada lantai pertama rumah. Menuju pintu utama dan mencari seseorang yang tadi berada di teras rumahnya. Hanya sang adik yang masih duduk sambil bermain gawai.


"Abang mana?" tanya gadis ayu ketika tak menemukan orang sekaligus mobil milik orang yang dia cari.


"Pulang," jawab Kristy santai.


"Kok nggak pamit sama aku?" ucap sebal gadis ayu.


"Takut kali, habis marah-marah mulu," sindir Kristy seraya mengunyah keripik.


Merasa sudah cukup informasi yang ia gali, gadis ayu memilih untuk kembali masuk. Tiada keinginan untuk melanjutkan obrolan karena ia tahu jika sang adik akan menyudutkannya habis-habisan.


Ketika langkah sudah sampai di kamar, yang pertama gadis ayu lakukan adalah menyambar benda pintar. Sebuah video call ia alamatkan untuk abang tersayang. Namun, berulang kali dia mengulang, teleponnya tetap diabaikan.


"Abang lagi ngapain? Apa masih di jalan? Mengapa kamu meninggalkanku tanpa pesan?"


Gadis ayu mondar-mandi di kamar. Hatinya gusar. Tak biasanya si abang tiada kabar.


"Bang, angkat dong!" perintah gadis ayu dibingkai rasa cemas.

__ADS_1


Lagi dan lagi ia mengulang panggilan. Namun hasilnya selalu tak ada jawaban. Gadis ayu semakin ditawan kekhawatiran. "Ya Allah, jaga abang!"


__ADS_2