
Abaikan ide brilian dari papa dan mama pada bab sebelumnya, karena mereka sepakat untuk menjadikannya sebagai rahasia. Jangankan orang lain yang tahu, rumput yang bergoyang pun stress karena tidak mendapatkan bocoran. Sungguh rapi mereka menyimpan teka-teki.
Lebih baik, setting latar kita alihkan pada sebuah tempat sunyi yang akan kembali menyibak emosi. Di bawah langit sore yang masih jauh dari semburat oranye, sepasang anak manusia terdiam di sebuah pusara. Mereka tidak lain adalah Mas Rud dan gadis ayu yang menemui lelaki berhati malaikat.
"Mas Dion, maafkan aku ke sini bersama Mas Rud. Bukan maksudku untuk membuatmu cemburu, apalagi berniat menduakanmu. Kami hanya ingin meminta restumu. Perasaan ini tidak mungkin kami sembunyikan lagi."
Gadis ayu mengusap nisan suaminya dengan menahan rasa. Ia tidak mau menggulirkan kristal bening karena tangis akan membuat sang lelaki bersedih. Sang gadis ingin membuktikan bahwasanya ia akan menjadi wanita tegar agar sang suami bisa tenang.
"Mas, kamu adalah lelaki terbaikku. Sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa menggantikanmu. Tahtamu tinggi, tak akan pernah bisa tergapai. Dia ...." Gadis ayu menoleh pada sang kekasih.
Mas Rud menggenggam jemari sang gadis. "Dion, aku tidak akan menggeser posisimu di hati istri dan putramu. Kedatanganku hanya untuk mengambil alih penjagaanmu atas diri mereka. Izinkan aku melakukan itu seperti apa yang kamu lakukan dulu padanya saat aku pergi."
Keduanya lantas terdiam. Mereka seperti tercekat omongan. Gadis ayu sedang menata rasa, begitu juga dengan lelaki di sampingnya.
"Kalian di sini?"
Sebuah suara wanita membuat dua insan itu mendongakkan kepala. Mereka bertiga terpaku pada satu garis lurus.
"Sharika," ucap Mas Rud seketika.
Gadis ayu tidak mampu bersuara. Ia terpaku. Keterkejutan membuat kata-katanya tersekat hingga tidak bisa terucap.
"Rosa, apa ada sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Mbak Sharika melihat kebersamaan adik iparnya dan sahabatnya semenjak kuliah.
"Kita bicarakan di tempat lain, Shar."
Mas Rud menggenggam jemari gadis ayu. Sebelah tangannya ia sentuhkan pada nisan. "Kami pamit dulu. Aku yakin kamu memberi izin. Sekarang biarkan aku meminta restu pada kakakmu."
Gadis ayu bergeming. "Mas, aku akan selalu mencintaimu dengan sisi hatiku yang telah terpatri atas namamu. Meskipun nanti aku telah memilikinya, dirimu akan selalu kutemui seperti dulu. Tidak akan ada yang berubah."
__ADS_1
Sepasang kekasih itu berdiri perlahan secara bersamaan. Mas Rud menjadi wakil gadis ayu untuk pamit terlebih dahulu. "Shar, kami tunggu di parkiran."
Ketika dua insan yang saling menggenggam itu sudah berlalu, wanita yang dinamai Sharika itu mendekat ke nisan. "Dion, bagaimana aku harus bersikap terhadap apa yang baru saja aku lihat?"
Hening.
Yang diajak berbicara bergeming. Ah, tentu saja. Dion sudah damai di sana.
"Kamu ingin aku merestuinya? Adik tersayangku, kapan kamu tidak berbaik hati? Tapi ... entahlah. Aku tidak bisa janji."
Mbak Sharika mengusap nisan adik lelakinya. "Tenang saja, Adikku! Mbak akan ..."
Ucapan Mbak Sharika terjeda ketika ada dering nyaring dari gawai yang ada di tas selempangnya. Panggilan itu ia biarkan begitu saja.
"Mbak pergi dulu untuk berbicara dengan istrimu. Apakah kamu ingin menitip salam untuknya? Iya? Ah, kamu ternyata masih sama. Baiklah, nanti akan kusampaikan. Ada rindu yang dititipkan padaku."
Berjarak dua ratus meter dari nisan yang berulang kali diberikan sentuhan kasih sayang itu, Mas Rud dan gadis ayu masih setia menunggu. Mereka duduk bersandar pada kap mobil tanpa melepaskan genggaman jemari.
"Mas, aku takut," ungkap gadis ayu.
Mas Rud mengusap punggung tangan gadis ayu yang berada dalam genggaman. "Sayang, jangan pernah merasa takut! Selama ada aku di sampingmu maka segala keresahanmu akan menjadi tanggung jawabku."
"Mbak Sharika, Mas."
"Dia urusanku," tegas Mas Rud memberikan keyakinan.
"Mas, apakah Mbak sharika akan menentang?"
"Semua akan terjawab setelah kita saling berbicara. Itu orangnya." Mas Rud mengarahkan pandang pada kedatangan kakak ipar gadis ayu.
__ADS_1
"Ikuti mobilku!" hanya kalimat perintah singkat yang diucap ketika Mbak Sharika mendekat.
Tanpa banyak berkomentar, Mas Rud dan gadis ayu menuruti kemauan wanita berusia tiga puluh tahun itu. Mobil sedan hitam, menjadi panutan di jalanan. Terus beriringan hingga kendaraan berbelok pada sebuah restoran. Parkiran menjadi akhir dari mesin yang dimatikan.
Sebuah kecupan di dahi sang gadis terjadi sebelum mereka keluar mobil. Ada kekuatan yang tersalurkan hingga ketegangan sedikit teredam. Tulang-tulang yang sempat melunglai kini bisa diajak menapaki bumi. Parkiran berhasil dilalui dan lantai restoran pun sukses dijejaki.
Di sebuah meja berbentuk lingkaran dengan kursi bersandaran warna hitam, menjadi tempat mereka untuk melepaskan obrolan. Mas Rud dan gadis ayu duduk bersebelahan, sementara Mbak Sharika ada di hadapan.
"Jelaskan padaku!" perintah Mbak Sharika tanpa basa-basi.
"Kami akan menikah, Shar."
Gadis ayu mengeratkan genggaman. Itu adalah indikasi jika ia meminta penjelasan mengenai kalimat yang baru saja ia dengar. Tatapannya yang menghunjam sang kekasih tidak ditanggapi.
"Benarkah? Aku sungguh terkejut. Sinyalmu kuat sekali, Rud? Bisa mendeteksi kesendirian Rosa dari jarak jauh. Setahuku kamu di London. Lalu, bagaimana kabar tunanganmu jika kamu kembali memilih adik iparku?"
Cercaan yang berkumpul dengan sindiran, tak sedikit pun membuat Mas Rud gamang. Wanita di hadapannya itu telah lama ia kenal. Sikapnya yang asal bicara tidak asing lagi baginya.
"Adik iparmu dan aku sudah terpasang detektor. Jangan kaget jika kami kembali bersama karena memang hati kami terikat kuat. Ini bukan salahnya. Aku yang memaksa dia untuk membiarkanku menjaganya setelah kepergianmu adikmu."
" Rasanya aku tidak rela membiarkan adik iparku kembali ke pelukanmu. Perjuangan Dion memilikinya dan kebersamaan mereka tidak sebanding. Jujur, aku ingin dia menjaga statusnya hanya untuk adikku. Tapi ... siapa aku?" ucap Mbak Sharika terdengar miris.
Getaran kesedihan seorang kakak yang iba dengan nasib adiknya, ikut membawa rasa gadis ayu dalam deru. Ia merasa bersalah karena sudah menepikan suaminya yang telah tiada dan kembali berdiri bahagia dengan sang mantan kekasih.
"Mbak, maafkan Rosa telah menduakan Mas Dion. Ini memang salah," aku gadis ayu seraya menunduk. Air mata tak kuasa ditahannya tetap di sudut mata.
Usapan lembut di punggung, Mas Rud berikan sebagai penguatan. "Cinta tak pernah salah, Sayang. Dia selalu datang pada hati dan waktu yang tepat."
"Kamu benar, Rud. Adikku datang saat kamu meninggalkannya. Dan kini kamu datang lagi saat dia pergi. Itu tepat atau L*knat?"
__ADS_1