Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Lepasnya Kecemburuan


__ADS_3

"Karena ... karena abang di sini dengan bertelanjang dada. Abang mau ngapain?"


Langkah itu semakin mendekat. Gemuruh semakin riuh di kalbu gadis ayu. Ia membawa langkahnya mundur. "Bang, jangan sentuh aku!"


Lengkungan senyum yang biasa menyejukkan itu seperti menjelma menjadi auman singa lapar, menakutkan. Gadis ayu bahkan lupa untuk menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang sedari tadi ia lakukan untuk menutup tubuh atasnya yang hanya terbalut tank top.


Kemeja luaran gadis ayu terpaksa dia lepaskan di kamar mandi, karena basah terkena air kopi yang tidak sengaja ia tumpahkan. Untung saja kulitnya tidak melepuh.


"Bang, stop!"


"Kenapa, Sayang? Apakah aku membuatmu takut?" Abang terus mendekat hingga jarak semakin terkelupas.


Tubuh gadis ayu telah membentur dinding kamar yang berwarna biru. Kalbu semakin bergemuruh. Takut. "Bang, aku adikmu."


Kedua lengan abang yang sudah mengunci posisi gadis ayu, membuatnya tidak berkutik. Ia menunduk. Namun, abang mengangkat dagu dengan lembut. "Iya, kamu adik yang kucintai dan sekarang menjadi istri."


Gadis ayu menatap abang dengan dalam. "Bang, kamu abangku bukan suamiku."


"Abang?"


Gadis ayu melembutkan pandangan. Ia bahkan mulai menggulirkan kristal kesedihan. "Ingatan abang salah. Kita tidak pernah menikah. Coba abang lihat! Adakah foto pernikahan di kamar ini? Tidak ada 'kan, Bang?"


Abang terlihat mendengar penjelasan gadis ayu dengan sangat cermat. Ia bahkan menurut saat sang adik menuntunnya ke nakas.


"Lihat, Bang! Ini bukan foto Abang. Ini Mas Rud. Aku akan menikah dengannya," jelas gadis ayu seraya semakin deras mengalirkan air mata. Sungguh ia tidak tega membuka cerita sesungguhnya. Namun, ia tidak bisa jika abang terus mendekatinya dengan pikiran macam-macam.


Bingkai kecil yang berisi gambar Mas Rud abang ambil perlahan. "Ini hanya Rud. Aku tidak percaya."


"Bang, apa yang membuat Abang yakin jika kita sudah menikah?" Gadis ayu bertanya dengan lembut.


Abang memilih duduk di tepi ranjang. "Aku menggendong dan membaringkanmu di ranjang kamarku."


"Hanya itu, Bang?" telisik gadis ayu.

__ADS_1


"Aku kenal siapa diriku. Tak mungkin aku melakukan itu pada wanita yang bukan kekasih halalku."


Gadis ayu menggenggam jemari abang. Dia berdiri tepat di hadapan lelaki yang ia sayangi. Jari yang saling bertaut itu perlahan ia lepaskan dan kemudian membentuk sebuah kode janji dengan jari kelingking. "Abang ingat nggak waktu kita janji jadi kakak dan adik? Seperti ini, Bang."


Ada sekelebat ingatan yang membayang di pikiran abang. Acungan jemari sang adik seperti hadir, sama hanya dalam waktu yang berbeda. Abang memegang kepalanya. Ada nyeri yang tiba-tiba menghampiri.


"Bang ... Abang baik-baik saja?" tanya gadis ayu bernada khawatir.


Abang tidak memberikan jawaban. Ia sibuk memegangi kepala yang belum juga reda dari rasa sakit yang mendera.


Gadis ayu semakin mendekat. Ia ikut memegang tangan abang yang digunakan untuk menekan kepalanya. "Abang ..."


Sakit yang terlampau dalam mencubit, membuat abang menjatuhkan badan ke ranjang. Ia tidak sadar jika gadis ayu ikut terjerembab karena tangannya yang melekat pada tangan si abang. Mereka berada pada posisi tidak seharusnya.


Belum sempat beringsut dari atas tubuh si abang, tiba-tiba pintu terbuka dan Mas Rud masuk dengan tergesa-gesa. "Apa yang kalian lakukan?"


Tubuh gadis ayu diangkat dari atas badan abang yang masih menahan kesakitan. Dengan cekatan, Mas Rud melepas kemeja dan memakaikan pada tubuh gadis ayu yang terbuka. Tanpa berkata ia langsung menarik tubuh abang dan menghantamkan pukulan pada bagian perutnya. "Jangan mentang-mentang kamu amnesia lalu bisa berbuat semaumu, Aryan."


Abang yang bertubi-tubi dipukul dan merasakan sakitnya kepala, tidak sanggup berdiri dengan tegak. Tubuhnya oleng dan membentur ujung nakas dengan keras. Lelaki itu limbung. Ia tergeletak di lantai dan hilang kesadaran kembali.


Gadis ayu melepaskan pelukan pada tubuh belakang Mas Rud. Ia tergopoh untuk melihat kondisi abang. Sambil menepuk-nepuk pipi, ia memanggil berkali-kali, "Bang ... Abang ... sadar, Bang!"


Mas Rud yang menyadari telah bertindak tanpa pikir panjang segera mendekat. Rasa cemburu membuatnya kacau. Tanpa meminta penjelasan ia langsung menafsirkan, itu adalah sebuah kesalahan besar.


"Ma ... Pa ... Abang!" teriak gadis ayu mencari bantuan. Ia menepis tangan Mas Rud yang hendak memberikan pertolongan. "Pergilah, Mas! Aku kecewa sama kamu."


"Maafkan aku, Sayang! Aku benar-benar tidak berniat menyakitinya." ucap Mas Rud seraya kembali ingin melihat kondisi abang tetapi di tepis sang gadis.


"Jangan sentuh abangku, Mas!"


"Ada apa ini?" Papa terkejut melihat keadaan sang putra yang tidak jua membuka mata.


"Abang pingsan, Pa. Tadi kepalanya membentur nakas karena dipukul sama Mas Rud." Gadis ayu menjelaskan dengan detail.

__ADS_1


"Kamu minggir dulu, Sa! Biar papa dan Rud memindahkan tubuh Aryan ke ranjang."


"Biar Rud saja, Om."


Papa membiarkan Mas Rud mengangkat sendiri tubuh si abang. Walaupun awalnya tampak sedikit mengalami kesulitan karena postur abang yang tinggi menjulang, tetapi pada akhirnya ia bisa membaringkan dengan perlahan.


Gadis ayu segera duduk di samping abang dan memanggil nama abang berulang-ulang. Sementara itu, papa sibuk mengoleskan minyak beraroma kuat di beberapa bagian tubuh abang agar membantu mengembalikan kesadaran.


Mama yang baru datang kemudian mendekat pada gadis ayu. "Biar mama saja. Kalian berdua keluar dulu. Putra kalian baru saja tertidur, jangan berisik kalau berselisih."


"Rosa mau di sini saja, Ma."


"Tidak boleh! Abangmu bisa pingsan lagi kalau kalian berdua di sini. Sudah sana! Biarkan mama dan Papa yang mengurus Aryan."


Mau tidak mau, gadis ayu memilih keluar. Ia tidak sedikit pun melihat Mas Rud. Lelaki itu ia abaikan. Rasa kesal dan amarah masih membungkam kata maaf.


Tangan yang melenggang tiba-tiba saja Mas Rud genggam. Ia membawa gadis ayu ke dalam ruang tamu. Penolakan yang dilakukan tidak ia acuhkan. "Aku memukul Aryan juga bukan tanpa alasan. Siapa yang bisa berpikir normal jika tubuh kalian saling berimpitan dengan pakaian yang tanggal sebagian?"


"Aku masih memakai tank top, Mas. Lagian aku melepas baju juga karena basah ketumpahan air," bela gadis ayu.


"Lalu, kenapa Aryan juga melepaskan kemejanya? Dia mau meminta jatah padamu, bukan?" tuduh Mas Rud yang sebenarnya tidak melenceng.


"Aku tidak tahu alasannya melepas baju karena ketika keluar kamar mandi, tiba-tiba dia di kamar dengan bertelanjang dada."


Mas Rud merasa belum puas dengan jawaban yang didapatnya. Ia kalap. "Kenapa kamu di atas tubuhnya?"


"Kepala abang pusing, ia menjatuhkan diri di ranjang. Aku yang memang memegang kepalanya, tidak sengaja ikut limbung. Mas salah paham. Jadi, buang pikiran Mas yang hanya mengedepankan kecemburuan itu."


"Benarkah seperti itu?" Mas Rud menurunkan nada suaranya.


Gadis ayu masih dikuasai emosi. Perasaannya tidak karuan, antara mengkhawatirkan keadaan abang dan sebal dengan kelakuan Mas Rud yang tidak dipikirkan secara matang. "Sudahlah, Mas. Sebaiknya kamu pulang! Aku tidak ingin melihatmu, sekarang."


"Sayang!" panggil Mas Rud pada gadis ayu yang telah berlalu.

__ADS_1


__ADS_2