Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Awas Jatuh Cinta Lagi!


__ADS_3

"Alarm jatuh cinta,


sebentar lagi kayaknya menyala," sindir lelaki yang baru saja duduk di hadapan gadis ayu yang tengah mengukir senyum ketika membaca novel.


"Apa 'an, sih?" celetuk gadis itu, menandai novelnya dan meletakkan di meja.


"Kita berangkat jumat malam, ya?" ujar lelaki itu lagi.


Sang gadis membenarkan duduk. Menatap penuh arti pada seseorang yang baru datang itu. Ada gusar yang tak bisa ia sampaikan. Mencoba mengabaikan tapi rasa itu menyembul dari dasar. Mungkinkah yang baru saja ia dengar itu benar?


"Cerita apa yang aku lewatkan selama tiga hari?" tanya lelaki itu seraya meraih novel yang berada sedikit jauh dari jangkauannya. Terpaksa ia ulurkan tangan agar benda itu bisa berada di tangan.


Senyumnya terkembang sebelum novel itu ia buka. Tepat pada bagian penanda, sang lelaki menajamkan penglihatan. Tak berapa lama, ia menutup novel itu kembali. Menghantamkan pandang pada gadis pemilik novel yang baru ia baca. Sorot penuh selidik, menyasar manik mata hitam di depannya.


"Bagaimana perasaanmu setelah membaca bab ini?"


"Biasa aja," jawab gadis ayu itu tak terpengaruh oleh tatapan tajam si Abang.


"Yakin?"


"Hmm," gadis ayu itu hanya menggumam.


Jujur hatinya tak sebiasa apa yang dikatakannya. Bagaimanapun, ia pernah merasakan apa yang tertulis di novel itu. Sebagai pemeran utama wanita, tentu saja ia mengingat jelas chemistry yang sangat kuat antara dirinya dan sang penulis novel. Bukan sekadar main-main tetapi adalah kesungguhan rasa yang luar biasa.


"Rud sudah membuktikan ucapannya, Sa."


Gadis itu mengernyitkan dahi. Menelisik arti dari pernyataan sang lelaki. Kemudian ia menghela napas saat menyadari ke arah mana obrolan mereka dibawa. Itu pasti keterikatan antara janji yg pernah lelaki masa lalunya itu ucapkan dan amnesia yang dia alami. Semuanya terbukti. Saat semua terlupakan, hanya gadis dan cintanya yang dia ingat.


Kenyataan cinta luar biasa yang pasti menggetarkan hati bagi siapa saja yang mengetahui kisah mereka. Namun, cerita tinggalah cerita. Tuhan menakdirkan lain. Sekarang gadis ayu di sini dengan keadaaan seperti ini. Dan sang mantan entah berada di mana. Bagaimana dirinya, gadis itu sudah tidak mengetahuinya begitu lama. Mungkin saja dia sudah sembuh dari amnesianya dan menemukan wanita lain yang dicintainya. Menggantikan cinta sang gadis ayu karena sang waktu adalah penyembuh luka dan penyirna lara.

__ADS_1


"Itu kebetulan saja, Bang," tolak sang gadis pada kenyataan yang sebenarnya membuat dia berpikir ulang.


"Kebetulan? Itu adalah pembuktian, Rosa. Alam bawah sadar manusia, mana mungkin bisa disetting?"


"Sudahlah, Bang. Jangan membuatku mengingatnya terus!"


"Kamu membaca novelnya berarti memang sengaja ingin mengingatnya. Bernostalgia rasa."


Si Abang benar. Keputusan sang gadis untuk membaca novel itu setelah sekian lama dia abaikan, semata pasti karena dorongan dari alam bawah sadar. Gadis ayu masih kepo, ingin tahu apa isi cerita yang ingin lelaki masa lalunya tunjukkan kepadanya. Kenyataan bahwa gadis itu tak bisa berhenti dan meneruskan membaca sampai halaman terakhir itu, juga bukti bahwa sang penulis membuat penasaran tingkat tinggi.


Gadis ayu mengarahkan pandang pada lain arah. "Abang gak percaya padaku?"


"Kamu saja tidak percaya pada hatimu sendiri, bagaimana aku bisa percaya padamu."


Sang gadis menatap lekat sang Abang. Menguatkan hati dan menepikan ragu yang sedikit membelenggu. "Aku akan membuktikan weekend nanti!"


Lelaki berkaos hitam yang kontras dengan kulit bersihnya itu tersenyum smirk. "Jangan memaksa tegar! Namun jika kamu memaksa, aku akan menunggu buktinya."


Gadis ber-dress putih bunga-bunga itu beringsut dari duduknya. Mendekati lelaki yang ada di seberang. Duduk di sandaran kursi si Abang. Meraih novel yang masih berada di tangan lelaki itu dan membimbing untuk membuka pada lembar berikutnya. Tangan milik pemegang novel menurut. Ia mulai menyentuh lembaran kertas halaman selanjutnya.


Bab. 21 : Niat baik


Cinta, selalu menghadirkan bahagia saat jatuh karena rasanya. Hari terlewat begitu cepat. Detik berganti hingga terasa sudah beberapa minggu waktu berlalu. Bersamanya masa tak terasa.


Manisnya cinta yang membuat bahagia bukan hanya kurasa. Orang yang berada di sekelilingku pun terbias bahagia karenanya. Tak terkecuali Ayah dan Bunda. Mereka merebakkan senyum meskipun aku tahu jika di kedalaman kalbu mengendapkan kekhawatiran. Tentang ancaman yang mungkin akan dibuktikan, bukan hanya sekadar gertakan.


Setelah makan malam, kami bertiga berkumpul di ruang keluarga. Ayah duduk sambil membaca buku tebalnya. Aku bermanja dengan rebahan di pangkuan Bunda. Belaian tangan wanita paruh baya itu semakin memberikan kenyamanan.


"Rud, kamu udah waktunya menikah. Masa masih manja sama Bunda?"

__ADS_1


"Mumpung belum menikah, Bun."


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Ayah masih dengan mata tertuju pada lembaran demi lembaran di tangan.


"Baik-baik saja, Yah."


"Yakin, jika ia menginginkanmu sebagai pendampingnya?" selidik Ayah dengan serius.


Buku itu beralih tempat. Dari tangan menjadi meja bertaplak motif kotak-kotak. Membenarkan posisi dan menata suara untuk berbicara. Sebuah deheman menjadi awal untuk sebuah obrolan. Aku bangun dari rebahan. Menegakkan badan dan menampakkan raut wajah serius.


"Sangat yakin, Yah."


"Bun, malam Minggu depan kita akan melamar."


Bunda nampak terkesiap. Namun dalam sekejap bisa menormalkan kembali raut wajahnya. Wanita anggun ini, sepertinya sudah memahami apa maksud dari Ayah. Keluarga kami memang tipe yang tidak membiarkan anak-anaknya terlalu lama menghabiskan waktu untuk berpacaran. Jika sudah merasa cocok maka menikah adalah pilihan yang paling tepat.


Sama sepertiku, kakakku satu-satunya juga mengalami hal yang sama. Dua bulan berpacaran langsung melenggang ke pelaminan. Dan rentang waktu itu tak berbeda jauh denganku. Hanya hitungan beberapa hari, bukankah itu artinya sama saja.


Aku diam, tidak menolak dan tidak juga menyetujui. Keputusan Ayah adalah titah baginda raja yang wajib dilaksanakan. Tak ada penolakan yang akan beliau dengar jika berhubungan dengan prosesi penghalalan hubungan. Toh, untuk apa aku menolak jika itu memang impian terbesar dalam hidupku.


"Rud, simpanlah ini! Tidak usah kamu ceritakan dulu pada kekasihmu," perintah Ayah sebelum menutup kalimat pembahasan mengenai lamaran.


Aku tersenyum. Bunda pun membalasnya. Beliau mengusap lembut rambutku. "Semoga semuanya dimudahkan, Nak!"


_______________________________________________


Gadis ayu termangu. Pikirannya seolah mengingat sesuatu yang tak pernah tersimpan di memorinya. Abang yang menyadari adik kesayangannya mengalihkan fokus dari bacaan segera menengok. Mendapati raut muka penasaran. Seketika novel itu berpindah ke meja lagi.


"Ada apa, Sa?"

__ADS_1


Sang gadis melayangkan pandang pada kejauhan. Seolah membawa angannya terbang pada masa silam yang sudah jauh ia lupakan. Tentang misteri yang mengusik hati. Meninggalkan tanya yang belum ia temukan jawabnya.


"Aku tidak merasa pernah dilamar, Bang."


__ADS_2