
"Jadi, kamu nyusul Rud?" tanya mama di sela kunyahannya.
Si abang tak memberikan jawaban. Hanya sebuah senyuman ia sunggingkan sebagai balasan. Tak seperti biasanya, untuk pertanyaan satu itu dia tak banyak bercerita.
"Aryan," panggil Mama dengan maksud ambigu.
Panggilan yang nampak bukan sekadar sapaan, akan tetapi ingin meminta penegasan. Namun, yang punya nama seolah tak ingin membagi cerita. Ia tetap tenang dengan perwakilan senyuman.
"Mama, mungkin sekarang adalah saatnya mereka bersama. Jodoh yang sempat tertunda."
Mama menatap penuh arti. Putra sulungnya memang selalu tak terduga. Banyak waktu yang telah mereka lalui bersama, membuat saling memahami tanpa harus berbicara.
"Semoga semua anak Mama bahagia, segera dipertemukan dengan jodohnya."
"Aamiin," jawab Kristy dengan penuh semangat.
"Kris, udah pengen nikah?" goda si abang menanggapi balasan doa sang mama.
"Mau, kalau abang yang ngajakin," celetuk Kristy santai.
"Anak Mama sepertinya terlibat cinta segitiga," goda mama dengan senyumnya.
Ucapan mama sepertinya berdasar. Akhir-akhir ini Kristy selalu bicara tentang perasaannya pada si abang. Entah itu gurauan atau siratan yang penuh kesungguhan, nyatanya mama menangkap ada rasa yang tersimpan.
"Jadilah dokter spesialis anak dulu, nanti baru aku pertimbangkan menjadi calon aunty-nya Satya," ujar si abang dalam candaan.
"Sekarang, aku juga udah jadi aunty, Bang."
Abang hanya menebarkan senyuman. Kristy mengerucutkan bibirnya sebal karena merasa menjadi korban keisengan si abang. Sementara sang mama hanya melihat tanpa memberikan komentar.
🌺🌺🌺🌺🌺
Ruang keluarga sedang dihuni oleh tiga insan berbeda nama belakang. Keturunan dari Atmadja, Dinata dan Wijaya sedang berdiam di sana. Balita lucu itu sedang tertidur pulas. Sementara Mas Rud sedang menjaili gadis ayu.
"Mas, ngapain ikut ke sini?" omel gadis ayu dengan suara yang ditahan agar putra kecilnya tidak mendengar.
"Nggak ngapa-ngapain."
Gadis ayu kemudian mengembuskan napas kesal. "Punya rumah, kan? Pulang deh, Mas!"
"Rasanya aku nggak pengin pulang. Mama buka kosan nggak, ya?"
"Nggak," gadis ayu tegas menolak.
"Ketusmu nggak berubah ... sama ... seperti cintaku padamu," gombal Mas Rud seraya membelokkan suapan gadis ayu ke mulutnya.
Gadis ayu menggerutu. Penyerobotan makanan sekaligus sentuhan pada tangan menyulut amarah. Dengan kesal ia memukul Mas Rud dengan tangan kiri.
__ADS_1
"Jangan sembarangan pegang-pegang!"
"Aku nggak sembarangan. Justru kamu yang sengaja mencuri-curi kesempatan."
Sadar telah melakukan apa yang Mas Rud katakan, gadis ayu segera menarik tangan. Tubuh digeser dan kembali menikmati sajian di piring. Mengabaikan lelaki di hadapan yang memandang tanpa mata yang sedetik pun dialihkan pandang.
"Sa, nikah, yuk!"
Gadis ayu terbatuk-batuk mendengar Mas Rud yang tiba-tiba menyeletuk. Beberapa waktu ia habiskan untuk berusaha mengembalikan keadaan menjadi normal. Air yang ada di gelas ia teguk hingga tanpa sisa agar terbebas dari tersedak yang menyerangnya.
"Mas, balik ke London, sana! Kamu bisa membuatku mati mendadak kalau terus-terusan di sini," perintah gadis ayu sambil beranjak dari duduk.
Dari langkah yang ia ayun, telinga masih bisa mendengar kalimat singkat yang diucap oleh Mas Rud.
"Hidupku ada di sini."
Gadis ayu tak menggubris. Ia terus melangkah menuju meja makan. Piring di tangan ia letakkan dan memilih kursi di sebelah si abang.
"Cepet banget abisnya?" tanya si abang begitu melihat piring sang adik bersih tanpa sisa.
"Dihabisin Mas Rud," ujar gadis ayu dengan bibir mengerucut.
"Romantisnya yang makan sepiring berdua," ucap Kristy entah kemana arah kalimatnya, sindiran atau godaan.
"Romantis apanya? Yang ada aku masih kelaparan."
"Makanlah! Jangan sampai sakit karena kelaparan," suruh si abang dengan senyuman menawan penuh rasa sayang.
"Terima kasih, Abang," ucap gadis ayu segera membuat suapan pertama.
Abang mengusap rambut sang adik. Sentuhan itu dijadikan pengganti jawaban iya untuk ucapan terima kasih dari adiknya.
"Kalian bikin aku iri," aku Kristy masih setia dengan kerucutan bibirnya.
"Mau aku ambilin makan, juga?" tanya si abang yang peka dengan perasaan Kristy.
"Nggak, masih banyak."
Abang menggeleng. Merasa lucu dengan tingkah adiknya yang diserbu cemburu. "Habiskan makananmu! Jangan sampai kurus karena belum ada yang ngurus."
"Makanya, cari yang bisa ngurus!" sela Mas Rud yang tiba-tiba duduk di samping adik bungsu keluarga itu.
"Ah, Mas Rud," timpal Kristy semakin cemberut.
Entah mengapa, si bawel malam ini menjadi sangat rewel. Perasaannya mudah terusik sehingga ia menjadi berisik. Bukan menyindir dengan kata-kata tegas, akan tetapi justru tersihir, berubah buas. Kejombloannya sedang meronta dengan banyaknya perhatian untuk sang kakak.
Tanpa banyak kata, ia memilih mengakhiri suapan ke mulutnya. Mengabaikan banyaknya makanan yang masih tersisa di piringnya. Wajah yang masih terus ditekuk ia bawa sampai beranjak dari duduk.
__ADS_1
Tak ada yang menahan kepergian Kristy. Anggota keluarga itu sudah saling memahami. Marah jangan dicegah. Biarkan sendiri, nanti akan meluruh seiring waktu berganti.
"Ada apa sih, Ma?" tanya gadis ayu yang tidak tahu akar masalah yang dialami Kristy.
"Adikmu cemburu."
Mama memberikan balasan singkat yang membuat gadis ayu semakin semangat untuk mencari jawab. "Cemburu? Memang dia punya pacar?"
"Cemburu sama kamu."
Jawaban Mama semakin membuat gadis ayu bertanya-tanya. Penyebutan namanya sebagai biang masalah membuatnya resah. Apalagi yang menjadi korban hati adalah adiknya sendiri.
"Apa aku merebut pacarnya?"
"Bukan. Lelaki yang sepertinya dia suka, memberimu perhatian yang sangat banyak," terang mama yang seketika membuat gadis ayu tahu siapa lelaki yang dimaksud.
Kata perhatian yang sangat banyak, di dunia gadis ayu hanya mengacu pada dua orang. Pertama ada kekasih halalnya yang telah tiada, dan satu lainnya adalah abang tersayang.
Seketika gadis ayu melesatkan pandang pada kakak sulung keluarga Atmadja yang tepat berada di sisi kirinya. Memperhatikan dengan teliti sang lelaki dari sisi ke sisi.
"Bang, kamu memang tampan. Tapi jangan merusak persaudaraan. Tanggung jawab tuh sama perasaan Kristy!"
"Bener tuh, nikahin Kristy!" timpal Mas Rud tak kalah santai dari gadis ayu.
"Kalian berdua mengapa berkata begitu sama Aryan?" Mama memarahi mantan dua sejoli.
"Marahin Mas Rud tuh, Ma! Jangan aku! Ini masalah interen keluarga Atmadja. Dia siapa?" ucap gadis ayu seraya melirik tajam kepada Mas Rud.
"Wah, ada yang nantangin buat segera aku halalin rupanya."
"Kalian berdua selalu beradu mulut, letak cintanya di mana?" goda si abang dengan tersenyum sempurna. Melupakan jika baru saja menjadi sasaran kemarahan mereka berdua.
"Cinta apa? Cintaku hanya buat Mas Dion."
Senyap.
Ruangan yang awalnya berisik, seketika sunyi tanpa ada yang berani mengusik. Dion, seperti menjadi nama yang tak bisa diucap sembarangan. Ibarat raja, maka ia menempati sebuah singgasana. Tinggi dan sangat dihormati.
Mendapati suasana canggung akan terus mengungkung, sang mama bertindak bijaksana. Helaan napas panjang nan mendalam sengaja dibuang. Mendahului deheman untuk memulai nasihat pada hati yang sedang mencintai.
"Anak-anak mama semua, perasaan jangan dibuat candaan! Cinta itu datang sendiri. Tak perlu diminta karena rasa lebih tahu untuk menemukan pemiliknya. Jangan mencaci karena hati akan lepas kendali jika cinta sudah bicara. Menolak atau menerima itu adalah hak, tetapi kewajiban kita adalah menjaga agar tidak merusak kesucian cinta. Ikhlaslah mencintai seperti Aryan. Tangguhlah berjuang seperti Rud. Jujurlah dengan hati seperti Kristy. Tapi ... jangan mengingkari perasaan seperti Rosa."
"Loh, kok aku?" gadis ayu tak terima dengan nasihat terakhir sang mama.
Bibirnya seketika mengerucut. Langkahnya dipacu lagi. Pergi.
Dua lelaki tampan hanya bergeming. Menyadari jika amarah wanita lebih seram daripada harus berhadapan dengan sekompi pasukan yang siap perang, menjadikan mereka memilih untuk diam.
__ADS_1
"Tugas kalian mengatasi dua putri mama yang sedang merajuk!"