Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Rahasia


__ADS_3

"Aku tidak merasa pernah dilamar, Bang."


Kalimat yang meluncur dari bibir sang gadis, membuat sang Abang dilanda penasaran yang besar. Sesungguhnya itu juga yang gadis itu rasakan. Mungkin justru jauh lebih besar. Bagaimana tidak, ada kenyataan yang tak selaras. Walaupun itu masih niat, tetapi akan semakin menebar gusar. Jika terjadi, mengapa ia tidak mengetahui. Jika tidak sempat terlaksana, alasan apa yang menjadi latarbelakangnya.


"Aneh, mengapa bisa begitu?" gumam Abang pada dirinya sendiri tetapi tak bersuara lirih. Alhasil si gadis pun mendengar dan akhirnya sama-sama membutuhkan jawaban sekarang.


Tak perlu menjeda waktu karena penasaran itu harus segera diserbu dengan pelega kalbu. Membacanya lagi, itu adalah langkah yang paling tepat. Agar semua tanya terjawab dengan cepat.


Bab. 22 : Merancang Kejutan


Kata melamar, selalu terbayang dalam ingatan. Membuai perasaan untuk terus dikuasai oleh khayalan-khayalan. Merakit cerita indah berbingkai cinta dalam langkah menuju kehalalan. Menjadikan gadis ayu sebagai calon ibu dari anak-anak yang pasti sangat lucu-lucu.


Ah, sepertinya aku terlalu jauh dihanyutkan kehaluan. Membayangkan dua cincin melingkar, saling mengikat perasaan. Pintu gerbang menuju pernikahan suci yang merupakan penyatuan dua hati. Menjemput pahala melalui bahtera rumah tangga. Bersamanya aku ingin menua.


"Lu kenapa, sih? Senyum-senyum sendiri sejak datang tadi?" tanya Rendra begitu sudah selesai mandi. Nampak segar dan ada wangi yang menebar. Tak seperti saat aku baru datang. Muka kucel dengan baju compang-camping. Eh, bukan deh. Celana pendek dan kaos putih polosnya. Baju kebesaran untuk terlelap pada malam yang gelap.


"Temenin gue nyari sesuatu!" ajakku menyembunyikan tujuan kepergian.


"Kenapa gak bilang dari tadi? Ganti baju lagi, nih," gerutu Rendra sambil menghempaskan diri di sofa.


"Malah duduk," timpalku mengomentari aksinya. Bukan balik ke kamar malah ikutan bersantai.


"Mau ke mana, sih? Punya pacar kok ngajaknya gue," seloroh Rendra sambil bermain dengan benda pipih.


"Adalah pokoknya. Makanya buruan ganti baju! Atau mau pergi begini? Oke aja sih," ucapku sambil melihat pakaian yang Rendra kenakan.


Kaos hitam dengan sedikit tulisan di bagian depan serta jogger pants warna senada, menjadi outfit yang Rendra pilih. Gaya santai itu kemudian aku bandingkan dengan diri sendiri. Sebuah kemeja warna putih membalut tubuh bagian atasku. Penampilan yang sangat kontras jika kami pergi bersama tanpa Rendra mengganti setelannya.


"Rapi bener, kita mau ke mana?" tanya Rendra seraya menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


Belum juga aku menjawab, dia sudah cengengas-cengenges dengan seseorang di seberang sana. Sudah pasti itu adalah Maya. Wanita yang entah memiliki status apa di hatinya. Pacar, gak ada jadian. Teman, tapi mesranya kelewatan. Hubungan dua insan itu abu-abu.

__ADS_1


"May, sepertinya rindu kita akan menggebu. Hari ini kita gak bisa jalan dulu. Aku harus nemenin pangeran," sindir Rendra dengan gaya santainya.


Tak kupedulikan ulah sahabat satu itu. Daripada mendengarnya menggombal, lebih baik kumembuka situs online tempat yang akan aku datangi. Melihat-lihat sesuatu yang mungkin menarik hati. Banyak, tetapi hanya beberapa yang menggoda mata. Meski awalnya aku ragu, tapi aku sudah menentukan pilihan.


"Makin siang makin gawat, nih. Kena sawan, Bro?" celetuk Rendra yang mengalihkan perhatian dari benda pintar.


"Lu pikir gue bayi, bisa sawan. Yang ada Rud mau bikin bayi!"


"Lu, mau kawin?"


"Iyalah kawin, tapi nikah dulu. Emang elu, kawin dulu baru ... gak nikah-nikah juga, sih."


Skak mat. Namun bukan Rendra namanya kalau tidak bisa berkilah. Wajahnya itu tak sedikit pun menampakkan raut tersudut. Senyum tetap diumbar yang justru membuatku tak sabar. Ingin menampar dengan kalimat kasar tapi aku urungkan.


"Siapa bilang gue udah kawin?" kekeh Rendra semakin memancing emosi.


"Kelakuan elu, udah kebaca sama gue, Bro!"


💫💫💫💫💫


"Elu serius mau kawin?" tanya Rendra setelah kami sampai di tempat yang ingin kudatangi.


"Masih bisa elu meragukan keseriusan gue? Ini tempat bukan untuk main-main," jelasku menanggapi dengan sangat serius.


Rendra tersenyum nyengir. "Gue masih belum percaya aja, Bro. Lama sekali menjomblo, sekalinya menemukan wanita, langsung kawin aja."


Aku tak bisa menyalahkan pemikiran Rendra. Dia benar tentang semuanya. Aku tak bisa menyangkal, karena memang semua itu datang tanpa bisa kutangkal. Segalanya telah tertulis dan aku tinggal menjalani.


Begitu mendudukkan diri, Rendra melakukan hal yang sama. Mbak-Mbak berseragam putih mengambil sepasang cincin berwarna perak. Tak hanya satu tetapi ada lebih dari lima. Galaulah aku dibuatnya.


Berpikir dan terus berpikir. Mana yang sekiranya mewakili karakternya dan juga sesuai dengan seleraku. Tidak berlebihan tetapi elegan. Ya ... gadisku anti dengan sesuatu yang terlalu mencolok. Dia suka sesuatu yang berbeda. Harga standar tapi kelihatan elegan, Jikalau mahal tetap tidak menarik perhatian.

__ADS_1


"Mbak, saya mau yang ini!" putusku kemudian setelah melewati waktu lumayan panjang untuk memilih sepasang cincin yang indah di penglihatan.


"Bro, gue fotoin, deh!" usul Rendra yang langsung kuiyakan dengan senyuman.



"Cakep!" seru Rendra sambil menunjukkan foto hasil jepretannya.


Kuambil gawai dan memerhatikan dengan seksama. Senyum kukembangkan, puas dengan hasil jepretan. "Ketampanan gue emang gak perlu disangkal."


"Elu narsis, Bro! Yang cakep itu apa yang elu pegang," kekeh Rendra menyebalkan.


"Ren, Elu jangan bocorin masalah ini ya ke Rosa! Maya juga gak boleh tau. ini adalah kejutan."


Rendra mengernyitkan dahi lalu mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Ok!"


_______________________________________________


"Kejutan, Mas?" gumam gadis ayu.


Ia menatap novelnya sangat lama. Di halaman itu, sengaja sang penulis menyertakan foto yang diambil sahabatnya. Visual yang menampilkan sang mantan tengah memamerkan sebuah kotak berwarna pink berisi sepasang cincin yang akan dia gunakan untuk melamarnya, membuat air matanya tumpah.


"Bang," sang gadis menunjukkan visual itu pada sang Abang.


Memahami jika sang gadis sedang rapuh hati, Abang menarik tubuh adik kesayangan ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut hitam panjang itu dengan penuh kasih. Memberikan ketenangan pada hati yang sedang membuncah.


"Aku bisa membuatmu bertemu dengannya jika kamu mau!"


Sang gadis bergeming. Tidak menjawab. Hanya membenamkan wajah pada dada si Abang lebih dalam. Ia tak tahu bagaimana gejolak perasaan yang sedang menderanya.


Lelaki itu mengambil gawai yang sedari tadi ia taruh di meja. Belum sempat membuat panggilan, tangan gadis itu menurunkan tangan sang Abag. Gelengan kepalanya mengisyaratkan sebuah larangan. Abang pun meletakkan kembali benda pipih itu dan memilih mengusap punggung sang gadis dengan tangan yang hendak dibuat menelepon barusan.

__ADS_1


"Ikuti jalan yang sudah dibentangkan, jangan kamu belokkan!"


__ADS_2