
Gadis ayu tersenyum mencermati bagian terakhir novel yang ia baca. Teringat lagi dengan rangkaian kalimat itu yang dulu pernah ia rangkai di benda pipihnya. Sama persis dengan yang sekarang ada di novel yang ditulis oleh pengirimnya. Dia masih ingat ketika pesan itu ia baca, seketika hatinya berbunga. Senyum bahagia terlukis sempurna. Lelaki itu memang berbeda. Menggombal dengan style-nya sendiri.
"Mas, kalimatmu tersampaikan dengan sempurna kepadaku. Waktu itu dan sekarang sama-sama tepat menyasar."
Tak mau berlama-lama mengkhayal liar, gadis itu segera membuka lagi, lembar demi lembar.
Bab. 15 : Merindumu Aku Tak Mampu
Pesanku yang terkirim tak segera ia balas. Hatiku galau dan merasa cemas. Apakah ia tak mengerti jika hatiku sungguh merindu? Sengajakah ia menggoda? Pesanku dibaca dan diabaikan begitu saja. Ah, aku rasa memang dia ingin mempermainkanku. Awas saja jika dekat! Dia bakalan gak selamat. Aku akan mengamuk, memeluk dan merajuk.
Kukirim lagi sebuah pesan. Menanyakan alasan dibalik pesanku yang dia biarkan. Ingin marah tapi aku tak mau gegabah. Takutku jika dia salah kaprah, memvonisku sebagai lelaki yang tak ramah. Rasanya jengkel, ingin bawel tapi aku masih takut dia memberiku label.
Kukirim lagi sebuah anak pesan untuknya. Gadisku ini memang berbeda. Ia jual mahal walaupun sudah jelas seberapa harga yang ia tawarkan. Membuatku semakin gemas. Namun itu pulalah yang menjadikanku tak bisa berpaling darinya. Tak menjadi wanita obral murah meskipun yang menawarnya adalah konsumen high class.
Tak ada juga pesan masuk yang ia kirimkan. Aku semakin kelabakan. Berganti posisi dari duduk, berdiri, berjalan mondar-mandir dan menghempas diri di ranjang. Serba salah hanya karena menunggu sebuah balasan. Beginikah riuhnya hati jika rindu itu sedang merebakkan diri?
Saat kesabaranku hampir saja berada di ujung waktu, notifikasi itu masuk. Bahagia tak terkira karena itu berasal darinya. Sebuah kalimat singkat yang sebenarnya tak memberikan jawab. Justru sebuah ejekan untuk rasa menyiksa yang seakan membunuh tanpa meninggalkan luka.
"Mas, merindukanku?" Kenapa aku enggak, ya?"
Tak ada pilihan lain, aku segera meneleponnya. Video call tepatnya. Rinduku sudah menggunung. Melintasi dimensi dan menyisir setiap sisi. Bukan hanya pada suaranya yang renyah menggoda tetapi rautnya yang tak acuh dan terkadang manja itu selalu bermain di ingatanku. Tak ingin lepas meskipun hanya sesaat.
"Mas, pakai baju dulu!" perintahnya sambil membelokkan garis pandang saat teleponku diangkatnya setelah aku menunggu beberapa waktu.
Kuperhatikan badan atasku, ya aku lupa memakainya. Terlalu fokus pada kerinduan hingga aku melupakan pakaian yang seharusnya aku kenakan. Segera kuraih kaos yang tadi sempat kuambil tetapi hanya kusampirkan pada sandaran sofa.
"Lihat sini! Aku sudah gak telanjang dada lagi," perintahku ganti.
Dia menolehkan wajahnya. Matanya ia picingkan dan baru melebar sempurna saat benar-benar yakin bahwa aku tak membohonginya. Sebuah senyum canggung ia pamerkan. Hatiku mendingin. Seolah diisiram oleh ribuan kubik air pada hatiku yang telah memantik bibit kebakaran karena sebuah kerinduan.
__ADS_1
"Yakin kamu tidak merindukanku?" selidikku berharap menangkap kebohongan dari wajahnya.
"Lihat saja aku apakah seperti seorang yang dilanda rindu?" godanya seraya memutar tubuh. Menunjukkan jika badannya tetap segar dalam balutan daging tebal. Bukan kering kerontang tinggal tulang karena tersiksa kerinduan.
"Apakah aku hanya merindu sendiri?"
"Sepertinya begitu."
Gadis ini, sungguh menggemaskan sekali. Selalu bisa membuatku semakin mencintainya. Aku yang biasanya menolak kini dipaksa untuk merayu tanpa kenal kata menyerah. Baiklah, tak apa asal aku bisa menaklukkannya. Membuatnya bertekuk lutut di bawah naungan cintaku untuknya.
"Kalau aku merindukan yang lain, apakah kamu juga tak merindukanku?"
"Sepertinya begitu."
"Jika aku mencintaimu, apakah kamu juga akan bilang jika kamu mencintaiku?"
"Sepertinya begitu."
Dia yang tidak sadar telah terjebak oleh kalimatku, merasa kebingungan. Memikirkan ulang semua yang tadi kubilang dan apa yang baru saja aku katakan. Bibirnya membuka kesal saat pikirannya menemukan jawab jika ia telah menjadi korban dari permainan kata seorang Rud Dinata.
"Kamu curang, Mas. Aku cabut kata-kataku tadi," ucapnya dengan bersungut menahan sebal.
Kupasang wajah penuh kemenangan tapi dimatanya nampak menyebalkan. "Aku tak menerima pencabutan berkas."
"Aku mengatakannya di bawah kesadaran," elaknya.
"Justru itu adalah sebuah kejujuran tak terbantahkan," yakinku untuk mematahkan sikap ngototnya.
Dalam hati aku terbahak. Dia benar bahwa mengucapkan itu tanpa sadar. Karena aku memang memancing agar kata itu mengerling hingga aku punya cara untuk menyatakan cinta. Begitulah Rud mencari celah dari setiap kesempatan yang datang.
__ADS_1
"Itu menurutmu."
Gadis ayu itu kuyakin juga menumbuhkan cinta atas namaku. Hanya saja ia malu mengakuinya. Padahal aku menunggu saat ia menjadi manja, hilang semua keketusan yang biasa ia suguhkan. Rud siap jadi tempatnya meluapkan segala perasaan yang bersandar. Suka, duka, tangis dan tawa.
"Pokoknya kita jadian. Selamat tidur, Sayang. Besok aku jemput."
Layar menghitam. Telepon aku matikan. Hatiku berbunga dan dia pun pasti sama. Hanya dia pasti sedang mengomel karena aku berbuat sesuka hati. Biarkan saja. Kalau dia gak terima pasti menelepon ganti, ini? Adem ayem. Itu berarti dia menerima jika kami memang sudah sah menjadi sepasang kekasih.
Rasanya aku sudah tak sabar menunggu esok tiba. "Bersiaplah gadisku, kupastikan kamu bakalan tak bisa berkata jika aku bukan kekasihmu."
💐💐💐💐💐
Senandung kecil tak berhenti mengukir dari bibir. Melagukan bahagia yang kini sedang menjadi raja dalam singgasananya. Menobatkan seorang ratu, membuatku seolah menjadi orang terbahagia sedunia. Senyuman yang tak pernah lepas mengisyaratkan jika mendapatkan gadis itu membuat stok bahagiaku tak mengenal kata tehempas.
Dengan penampilan yang sudah kumaksimalkan, kini berdiri di depan pintu rumah gadisku. Rapi dan wangi, tampan dan menawan, serta senyuman yang pasti kuulas tanpa mengenal kata malas. Menunggu siapa yang akan membuka pintu. Yang pasti siapapun dia, akan terpukau dengan pesonaku.
"Langsung berangkat aja, yuk!" ucapnya begitu membuka pintu.
Seketika dia terpaku saat matanya sudah melekat pada penampilanku. Dia terpana. Kuyakin hatinya sedang berbicara. Tentang kekaguman kepada seorang kekasih yang entah sudah bisa ia akui atau tidak. Yang jelas aku berhasil membuat kekasih ketusku ini menjadi manis.
"Selamat pagi, Sayang!" sapaku untuk membuyarkan lamunannya yang tak kunjung ambyar.
Kutangkap jika ia terkesiap. Berusaha untuk bersikap biasa padahal ia masih terpesona. Mencoba melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyum sempurna. Menghapus canggung yang mengepung karena beku dalam pesonaku. Melihatnya seperti itu rasanya ingin sekali raga ini mendekapnya. Ah, Rud tahan diri!
🦚🦚🦚🦚🦚
Jangan lupa kepoin novel baru Trio Somplak n The Gank! Judul ganas Isi Bikin Perut Mulas.
__ADS_1