
Lelaki yang biasanya menemani hari si gadis ayu, kali ini tengah terpekur sendiri. Hanya berteman dengan sebuah novel kesayangan yang biasa mereka baca bersama. Helaan napas kasar dibuangnya perlahan. Bukan untuk dirinya tetapi karena nasib miris yang harus dialami si gadis.
"Sa, kupikir hidupmu akan bahagia setelah memilihnya. Ternyata Tuhan memberikan kehidupan yang penuh liku. Dan taukah kamu satu hal yang tidak aku sesali? Pilihanku untuk berada di sisimu sampai detik ini. Tidak untuk mengganti, hanya sekadar menjadi tempat bersandar. Karena aku tahu, sebesar kamu mencintai suamimu, ada juga rasa setinggi itu untuk lelaki lain yang tidak kamu sadari."
Lelaki berpostur tinggi dengan senyum sangat manis itu menimang novel di tangannya. "Jika kamu tahu, bahwasanya gadismu ini telah sendiri, apakah kamu akan kembali?"
Sejenak berlalu, novel itu dia letakkan. Wajahnya ia raup perlahan. Kemudian menghela nafas panjang. Bukan karena dirinya telah lelah akan tetapi karena ia membayangkan liku jalan seperti apa yang akan dilalui sang gadis setelah ini.
Selepas dari makam beberapa waktu lalu, sang gadis belum lagi membaca novelnya. Dia biarkan tergeletak di meja hingga debu menjadi baju. Perasaanya yang membuncah saat mengunjungi pusara sang suami sepertinya belum dapat kembali ia kuasai. Alhasil novel yang terakhir dibaca sedang mengungkit rasa jatuh cinta sang mantan tercinta, membuat dia galau untuk kembali ia kunjungi. Dua perasaan yang saling bertolak belakang. Kerinduan lantaran kehilangan serta kangen karena cinta yang dalam tak akan bisa mengisi hati dalam satu waktu.
Lelaki itu kembali memusatkan manik hitam pada gadis yang sedang sibuk dengan masakannya. Semenjak kematian suaminya, jarang sekali ia berkutat di dapur. Kenangannya dengan lelakinya yang pandai memasak itu, membuatnya enggan menjelajah tempat satu ini. Entah karena apa hari ini dia begitu bersemangat.
"Cobain deh, Pak!"
Lelaki itu kembali memamerkan senyum andalannya. Segera menyuapkan sesendok nasi goreng seafood yang ia ingat dengan jelas bahwa ini adalah masakan yang sering dibuatkan suami sang gadis untuk sarapan. Dia menangkap bahwa wanita di hadapannya sedang dilanda rindu pada lelaki halalnya itu.
"Sepertinya kamu harus memasakkanku setiap hari. Ini lezat," aku sang lelaki dengan memamerkan ibu jarinya.
"Bukankah Bapak yang sudah berjanji untuk memasakkanku. Menggantikan ...," jeda sang gadis untuk kalimat yang seharusnya menyebutkan nama suaminya yang telah tiada.
"Sampai ada penggantinya," sela lelaki itu sebelum sang gadis terbawa kesedihan kembali karena semakin terhanyut dengan kenangan.
__ADS_1
Raut wajah sang gadis yang sudah menunjukkan semburat kesedihan perlahan menarik senyum kecut. "Aku gak mau menggantinya, Bang. Hanya dia lelaki yang tulus memperjuangkanku."
Tanpa berkata, sang lelaki mengangkat novel yang tadi diletakkannya. Cukup beberapa detik dan ia menaruhnya lagi. Meskipun hanya sebentar, dia yakin gadis pembuat nasi goreng seafood itu memahami apa yang dia maksud. Terbukti dengan kediaman yang dia tunjukkan.
Pembahasan sensitif tentang perasaan itu, akhirnya membuat suasana menjadi kelam. Kabut hitam membuat suram. Namun, itu tak akan berlangsung lama karena si Abang pandai mencairkan suasana.
"Aku udah kenyang. Baca di deket kolam renang, yuk!" ucap lelaki itu seraya menarik lengan gadis itu dengan lembut.
Berjalan di belakang sang lelaki, ia hanya diam mengikuti. Tak ada penolakan maupun kebawelan sepanjang perjalanan. Sesampainya di tempat yang di tuju, gadis itu diarahkan untuk duduk di pinggiran kolam seraya memasukkan kaki ke air.
"Mengapa harus di sini? Kalau novelnya jatuh lalu basah, gimana?" cerca gadis itu mulai terdengar lancar.
Senyum dengan lengkungan sempurna, lelaki itu pamerkan. Merasa telah menang karena bisa membuat gadis itu kembali dengan karakter banyak bicaranya jika ada yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Sebuah usapan pada puncak kepala yang selalu dilakukannya bahkan ketika gadis itu masih bersuami, kini ia lakukan lagi.
"Kenapa kamu mencurigai senyumku? Aku yang justru mencurigai hatimu," timpal sang lelaki itu.
"Aku gak mau baca kalau Abang terus menggoda seperti itu," sang gadis hendak mengeluarkan kakinya tetapi segera ditahan oleh sang Abang.
"Masih pantas ngambek begitu? Udah, ayo mulai baca!"
Sang gadis tetep kekeh mengeluarkan kakinya. Beringsut dari duduk dan mengayun langkah untuk menjauhi Abangnya yang hari ini resek sekali. Gerutuan ia keluarkan dari bibir yang ia kerucutkan hingga terbentuk sebuah huruf u besar.
__ADS_1
"Rosaku, bahkan saat kamu sedang menggerutu pun, bisa membuatku semakin jatuh cinta."
Kalimat yang baru saja lewat di telinga gadis yang disebut namanya itu, bisa membuatnya berhenti sesaat. Sebelum akhirnya memutar arah dan kembali ke hadapan sang Abang tersayang. "Abang, jangan mulai merayuku!" ancam gadis itu dengan sorot mata yang tajam.
Lelaki yang gadis itu marahi, bergeming. Tetap dengan senyum sempurna ia tidak membantah malah semakin ramah. Kembali ia mengacungkan novel yang ia buka lembarnya pada bab 10. Terlihat kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi, bukan dia yang menyusun untuk sebuah pengakuan, melainkan rayuan sang mantan yang menunjukkan jika kutukan cinta untuk lelaki yang diketusinnya itu nyata.
Mata sang gadis melotot ketika membaca rangkaian kata itu. Rupanya ia sudah salah paham. Ia pikir sang Abang sengaja menebar gombalan. Ternyata itu adalah rayuan maut dari seorang Mas Rud.
Novel itu direbut sang gadis secepat kilat. Masih dengan bibir mengerucut, ia membalik badan. Menjauhi lelaki yang telah membuatnya malu. Berjalan melewati taman dan menghilang di balik pintu ruangan. Sementara si Abang memilih untuk mengabaikan gadis itu. Membiarkan ia melepas kangen dengan bacaan yang mungkin akan membuat kesedihan yang sering datang menjadi menghilang.
Sementara sang lelaki memilih mengambil kunci mobil dan pergi, sang gadis justru mulai menenggelamkan diri dalam dunia novel bucinnya. Menghirup napas dalam dan mengembuskan perlahan sebelum lembar itu sampai pada bab terakhir yang dibacanya.
Bab. 10 : Ketusmu, Selalu Kurindu
Memasuki ruangan baruku, rasanya aku juga dibawa masuk pada kedalaman perasaan yang berpintu namanya, Rosa. Pelukanku yang tadi tak dia sadari, membuatku semakin percaya diri. Bahwasanya kehangatan rengkuhanku mampu menyamankan ketusnya yang justru selalu kurindu.
Cinta model apa yang kupunya, aku juga tidak memahaminya. Berada di dekatnya meskipun ditimpa omelan bagiku itu kalimat sayang.
"Rosaku, bahkan saat kamu menggerutu pun, bisa membuatku semakin jatuh cinta," gumamku sambil tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Tuhan, bolehkah ciptaan-Mu yang begitu indah itu segera kulamar agar segera sah? Jiwa ragaku rasanya haus akan belaian cintanya yang ketus menggoda. Berkencan dalam keromantisan yang halal, bukankan itu sangat wajar jika aku bayangkan? Bukankah seorang pencinta itu pikirannya hanya dipenuhi oleh wanitanya?
__ADS_1
Dia ... gadis ayu di mata dan hatiku.