
Hai, semua pembaca setia Mas Rud! Maafkan Depe baru kembali. Terimakasih untuk yang tetap setia menanti.
Sebelum membaca ini, silakan membaca di bab sebelumnya, ya! Karena bab pengumuman hiatus sementara kemarin sudah Depe ganti up episode baru.
Yang kangen Mas Rud, ini Depe kasih visulnya.
💐💐💐💐💐
Jatuh cinta. Tak pernah kubayangkan jika akan menjadikanku seaneh ini. Selalu dibayangi wajah ayu yang ketus melulu. Bukannya benci akan tetapi rasa itu semakin membikin jatuh hati. Entahlah, aku juga tak mengerti. Apakah ini wajar ataukah aku kena pelet kuda liar?
"Pak Manajer, kerja Pak! Jangan mikirin cinta, aja!" goda Rendra yang baru saja masuk ruangan untuk meminta tanda tangan.
"Ini juga kerja."
Mulai kubuka lembaran kertas yang dibawanya. Setelah kumengerti barulah kububuhkan goresan singkat dari jemariku. Satu, dua dan selesai semuanya. Kukembalikan pada sang pengantar yang tengah memamerkan senyuman. Siap untuk godaan berikutnya.
"Mepet terus nih, kayaknya?"
"Hm, semakin mepet aku semakin kepelet," akuku yang membuat Rendra semakin santer menggoda.
"Hati-hati khilaf!" ledek Rendra berikutnya.
"Aku justru merencanakan khilaf. Biar buruan dinikahin. Kira-kira punya ide gak buat khilafin anak orang?" timpalku menanggapi godaan Rendra. Sahabatku satu ini kalau godain gila-gilaan makanya harus dibalas dengan kegilaan beneran biar dia puas.
"Wah parah lu, Bro! Rosa harus diamankan nih dari buaya," ujar kasar si manusia gombal.
"Gue Pakaya, aman."
__ADS_1
"Bapaknya buaya? Darurat, ini. Aku keluar dulu deh buat nyelametin calon mangsamu."
Rendra terburu-buru meninggalkan ruanganku seraya membawa dokumen yang tadi diserahkannya. Menyembul dari balik pintu sebelum benar-benar ditutupnya. Meledek terakhir kali sebelum pergi.
"Jangan perawanin anak orang!"
Ocehannya yang makin nyeleneh itu kubalas dengan lemparan kertas yang kebetulan tadi sempat aku remas dengan tanganku. Bukan dengan kegeraman tetapi senyum yang mengulas. Bagaimana candaannya itu semakin tak beradab. Segilanya aku mencinta tak akan mungkin aku sakiti sejauh itu. Kecuali ada hal lain di luar kendaliku. Kalau hanya menyicip sedikit, bolehlah. Eh ....
Cinta seolah sudah menawanku menjadi budaknya. Rasanya waktu tak ingin kulewati tanpa bergelut dengan segala tentangnya. Aku tak segan untuk menghubunginya lebih dulu. Padahal selama ini, aku selalu benci dihubungi oleh gadis yang memberiku hati. Sekarang, sepertinya aku terjebak dalam karma yang membuatku cinta buta.
Pekerjaan kukebut agar saat waktu pulang menjemput, aku bisa mengantarnya tanpa ada kata kalah debut. Kupasang badan di rute yang ia lalui sebelum dia sempat melangkahkan kaki. Menyiapkan karpet merah sebagai penghormatan untuk cinta yang ingin kudekap tanpa mengenal kata lelah.
"Pulang, yuk!" ajakku saat dia masih menatap layar dengan lekat.
"Sayang, mau aku cium, gak?" godaku semakin tak tahu malu. Memanggilnya dengan sebutan itu saja sudah di luar batas sebagai seseorang yang baru mengenal apalagi penawaran yang kuajukan. Pantas saja jika seketika dia mengayunkan tangannya ke arahku.
Sebuah gulungan kertas mendarat sedikit keras di tulang belikat yang dibalut daging dengan lekat. Tidak menghasilkan rasa sakit. Namun justru kutarik kedua sudut bibirku, memberikan senyum terbaik padanya. Matanya membulat. Semakin geram dengan candaan yang aku berikan.
Penolakannya bukan membuatku patah arang tetapi malah semakin berani. Kumemutar langkah hingga berdiri di belakang kursinya. Membaliknya perlahan hingga ia tepat menghadapku. Sangat dekat. "Aku lelaki bertanggung jawab, Rosa. Tadi aku jemput maka sekarang harus aku antarkan pulang dengan selamat."
Kubiarkan dia dengan posisinya sementara aku merangsek ke mejanya dan mematikan laptop yang masih menyala. Merapikan meja yang sedikit berantakan serta memasukkan sebuah benda pintar ke tas yang kemudian aku tawan. Aku raih pergelangan tangannya dan menuntun dia untuk berjalan.
Tak lagi ada penolakan. Hanya saja langkahnya yang sedikit tertinggal akhirnya membuatku melambatkan ayunan kaki. Tas yang dia inginkan, aku kembalikan. Berdua berjalan dengan perasaan bahagia, itu aku. Dan dia pun sepertinya sama. Walaupun tak mengajakku bicara tetapi aku tahu dia tak menampakkan wajah kurang sedapnya.
"Apa kamu ingin ke suatu tempat?" tawarku berharap dia akan mengabulkan keinginanku untuk menghabiskan waktu lebih lama dengannya.
"Iya."
Hatiku berbunga. Tak berhenti mengucap syukur karena ingin mendekatinya seakan sangat dimudahkan. Jalan yang ingin kulewati seakan sudah disterilkan dari duri-duri. Dibentangkan panjang tanpa hambatan.
__ADS_1
"Ke mana?"
"Ke rumah Mama."
Aku jatuh, bukan sekedar menyentuh tanah tapi lebih dalam dari itu. Bisa disebut nyungsep ataupun nyusruk. Saat sudah melambung dan dihempaskan itu rasanya limbung. Ingin merutuki kesialan tapi takut membuatnya pergi karena merasa mendapatkan ancaman kekerasan.
Bukan Rud namanya jika langsung menyerah. Dipermainkan, maka akan aku balas lagi dengan godaan. Dia tak akan menang jika berurusan dengan seorang Rud Dinata. Akan kubuat dia tak bisa berpaling dariku. Hanya mengingatku dalam setiap detik yang akan ia lalui.
"Bagaimana kalau ke hatiku saja? Rumah tanggaku?"
"Ngelamar aku ceritanya?"
Yes, dia masuk perangkap. Rud, kamu memang aktor yang andal. "Bukan."
Rosa menengok ke kanan, dimana aku memang sedang menunggu saat ini terjadi. Menelisik raut mukaku dengan memicingkan mata. "Modus?"
"Tulus, tetapi bukan sekedar melamarmu. Aku ingin segera menikahimu. Bahkan kalau di sini ada penghulu, aku akan memaksanya untuk menikahkan kita saat ini juga."
Tulusku sekarang menjadi modus. Kuraih jemarinya dengan jemari kiriku. Sedikit menguat agar usahanya untuk melepas hanya akan berakhir sia-sia. Perlahan kurasakan jika genggamannya mengendur. Ia merelakan tangannya untuk kuberi sentuhan. Meskipun wajah ia palingkan, tetapi aku tahu jika ia mengizinkan.
"Maukah kamu menjadi pelengkap hidupku?"
"Berapa banyak gadis yang sudah menjadi korban mulutmu yang manis, Mas?"
Seketika kutepikan mobilku di pinggir jalan yang lengang dari pedangan. Kulepas seat belt dan memutar badan. "Maksudmu mulut manis itu, beginikah?" kuusap bibirnya yang berwarna pink muda itu dengan ibu jariku.
Dia nampak ingin menghindar. Namun tanganku yang menarik tengkuknya lembut, membuatnya terkunci. Tatapannya ia buang sembarang. Tak sanggup menatap manik hitamku yang tak sedetik pun melepaskan pandang. Menyergap hati yang kuyakini juga sedang didera cinta.
Kumiringkan kepala. Berhenti tepat di depan bibirnya yang sungguh menggoda. Entah apa maksudnya, tetapi dia memilih menutup mata. Kutarik senyum simpul. Aku bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Kugeser kepalaku ke sisi pipinya. "Hanya kamu korban mulut manisku. Rayuanku dan ini akan pelan-pelan merayumu hingga benar-benar tenggelam dalam lautan candu yang kutawarkan," ujarku sambil mengusap lagi bibirnya dengan jari lembutku.
__ADS_1
Kediaman yang ia lakukan, membuatku semakin merasa dekat dengan kemenangan. Dia menikmati bisikanku. Tak mau kehilangan kesempatan, segera kucium pipinya dengan lembut. Terkesiap dengan sentuhan tiba-tibaku, dia memilih melengos. Namun rona merah di pipinya sempat tertangkap oleh penglihatanku. Aku bahagia.
"Rosa, mengakulah jika kamu juga mencintaiku!"