Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Haruskah Menjadi Rahasia Lagi?


__ADS_3

Pak dhe Haryo, nama yang menempati silsilah keluarga sebagai kakak tertua dari sang mama gadis ayu, disebut sebagai orang yang menjadi penggagal kebersamaan putri semata wayang dan Mas Rudnya yang tercinta. Kenyataan yang belum seutuhnya terungkap justru semakin membuat penat menggeliat. Meronta untuk dilepaskan agar benang kusut bisa kembali runtut.


"Maksud, Mama?" si abang terus menuntut penjelasan.


Ketika sang mama hendak memutar kata, entah mengungkap kejujuran kisah lalu ataukah masih menutupinya, gadis ayu sedang mendekat ke arah mereka. Pandangan abang menangkapnya, sehingga ia segera mengubah mimik muka dan gestur tubuhnya. Mama yang menyadari juga segera menguasai perasaannya kembali.


"Sepertinya lagi ngobrol serius? Abang sedang curhat sama Mama?" celetuk gadis ayu yang kemudian duduk di sofa panjang si abang.


"Iya, abangmu bilang dia melihat banyak gadis cantik di pernikahan kemarin." Mama mencoba melempar gurauan agar tidak ketahuan sedang membahas si penanya.


"Tumben mata abang bisa melihat wanita cantik, Ma?" sindir gadis ayu sambil memerhatikan wajah abang dengan memicingkan mata.


"Bosan lihat wajahmu terus," timpal si abang dengan senyum tipisnya.


Mendapatkan ejekan seperti itu gadis ayu nampak menggerutu. "Awas ya bilang begitu tapi masih juga mengekor aku ke mana-mana! Abang gak ingat bagaimana Mas Dion dan Mas Ru-"


Gadis ayu buru-buru memotong kalimatnya sendiri. "Rosa ke depan dulu!"


Langkah kecilnya dia seret hingga cepat berlalu dari hadapan dua orang yang telah mendengar kalimatnya yang tiba-tiba terlontar begitu saja. Menjauh, berharap tak akan digoda kembali mengenai laki-laki dari masa lalunya yang sudah lama pergi dan kini sedikit mengusik lagi.


Di teras rumah, dia berhenti sejenak. Mendudukkan diri di kursi sambil mengatur napasnya yang terasa sesak. Dia pudarkan rasa dengan melihat putra semata wayangnya yang tengah asyik dengan aunty-nya.


Tuhan ... jaga mulutku! Aku bisa membohongi hati akan tetapi jika bicaraku meloloskan pengakuan bagaimana aku bisa mengelaknya?


Dia sudah menemukan penggantiku. Jadi biarkan aku melepasnya dengan ikhlas. Seperti dia yang sudah merelakan takdir cintaku untuk Mas Dion. Kami memang tidak berjodoh. Sesakit apapun itu, pasti akan bisa sembuh oleh waktu.


Gadis ayu mengusap bulir yang mengalir. Mengulum senyum agar kuat itu menjalar ke dalam tulang sum-sum. Tidak sekadar inginnya hati tetapi juga dibuktikan oleh diri.


"Aku pulang dulu, ya!"


Si gadis menoleh mendengar suara abang yang datang dari dekatnya. "Tumben ingat pulang?"


"Pasti gara-gara wanita cantik di nikahan kemarin, kan? Siapa? Berani ya gak kenalin ke aku! Aku pecat jadi abang, mau?" cerca gadis ayu dengan sorot matanya yang susah dibaca.

__ADS_1


Mendapatkan kebawelan dari sang adik, abang justru berjalan mendekat. Mengulurkan tangan dan mengacak puncak kepala gadis ayunya. Tak ada penolakan, justru lengannya digamit mesra oleh adik yang biasa ketus dan kini menjadi sedikit manja.


"Kamu akan tetap menjadi adik abang apapun yang akan terjadi. Tidak ada yang akan saling menggantikan. Jangan takut kamu akan kehilangan aku, itu tidak akan terjadi!"


"Bang ... pulanglah! Papa pasti merindukanmu," ujar gadis ayu begitu sudah ditenangkan oleh si abang.


"Jangan sedih lagi! Atau aku akan menggagalkan pertunangan Rud dan membawanya ke hadapanmu."


"Jangan mulai lagi, Bang! Pulang, sana!" gerutu gadis ayu.


Melihat adiknya marah, abang justru merasa senang. Itu berarti jika adiknya sudah bisa ia tinggalkan dengan sedikit lebih tenang. Daripada melihat tangis, ia lebih rela jadi korban kemarahan.


"Aku bawa Satya, ya! Papa kangen katanya," izin si abang yang harus di-iya-kan oleh sang adek tersayang.


Hal itu sering terjadi. Bocah cilik itu pergi berdua dengan uncle Aryannya. Jalan-jalan dan menginap di sana bisa tiap akhir pekan dia lakukan. Kedekatan duo satya itu memang tak perlu diragukan.


🍓🍓🍓🍓🍓


Malam telah lewat pertengahan waktu. Sendirian di kamar membuat gadis ayu terpaku. Mata sulit dipejamkan karena perasaan yang tidak tenang. Seliweran bayangan silih berganti membuat hati sulit untuk dibuat memasuki alam mimpi.


"Mikirin masa depan."


"Gak usah dipikirin tetapi dijalanin."


"Sebelum dijalanin harus dipikirin dulu," ujar gadis ayu tak mau mengalah.


"Sejak kapan kamu main pikiran? Biasanya main hati," timpal si abang selalu berusaha membuat sang adik marah padanya.


"Aku ingin kerja lagi, Bang?" aku gadis ayu dengan sendu.


Si abang memerhatikan sang adik dengan penuh kasih sayang. Jika saja dekat, dia pasti akan mengulurkan lengan untuk membawa adik dalam pelukan. Lantaran ia tahu jika niat gadis ayu bukan untuk mencari uang melainkan menyisihkan pikiran tentang seseorang.


"Kerja apa? Bagaimana dengan Satyaku?"

__ADS_1


Gadis ayu tampak berpikir. Ada gurat kebingungan yang terpancar. "Pekerjaan apa yang cocok buat aku, Bang?"


Gadis itu justru bertanya balik. Maka semakin yakinlah jika memang dia hanya ingin mengalihkan pikiran. Agar tidak terbelenggu oleh kegamangan.


"Urus Di-juniormu saja!" perintah abang dengan memaniskan senyuman.


"Apa aku mengurus perkebunan Mama aja ya, Bang? Sepertinya lingkungan yang asri sangat baik untuk kesehatan. Di-junior juga akan bisa lebih dekat dengan alam."


Pikiran gadis itu langsung disanggah oleh lelaki bijaksana itu. "Jangan pisahkan aku dengan anakmu!"


Mereka berdua akhirnya sama-sama diam. Gadis ayu tahu bagaimana abangnya itu sangat menyayangi buah hatinya. Ketika suaminya pergi, lelaki itulah yang membantu mengurusnya. Hadir sebagai pelengkap untuk kesempurnaan pertumbuhan sang bocah cilik. Mengantisipasi ketimpangan emosi karena hanya diberikan kasih sayang dari wanita tanpa seorang pria.


"Aku bisa membawamu kemanapun yang kamu mau, tetapi aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan Satyaku. Di sini, aku bisa berkunjung sesukaku. Jika di sana, orang lain akan menggunjing. Aku tidak mau kamu difitnah."


Pengakuan si abang membuat sang gadis berpikir ulang. "Lalu, aku harus bagaimana, Bang?"


"Tetap di sini! Biarkan anakmu tumbuh di antara orang-orang yang menyayanginya. Jangan sampai ia merasa tersisih dan kekurangan kasih sayang."


Gadis ayu memilih tak mengeluarkan kata. Ia fokus mendengarkan. Tak mau membenarkan pemikirannya sendiri. Rupanya, usia membuatnya lebih dewasa. Tak lagi mementingkan ego seperti beberapa waktu yang lalu.


"Bang ..." lirih gadis ayu yang terdengar samar.


"Kita lanjutkan membahas masalah ini besok. Sekarang tidurlah!"


Gadis ayu menurut. Tak lagi menyangkal kalimat yang abangnnya ucapkan. Ia memilih berbaring. video call ia biarkan menyala, karena begitu yang selalu abangnya minta jika ia begadang. Tak percaya mematikan panggilan sebelum ia benar-benar terlelap.


Ketika si abang telah mematikan panggilan, gadis ayu kembali membuka mata. Ia merasa bersalah karena telah berbohong. Namun, jujur hatinya belum mampu membuat dirinya berlalu dari alam sadar ke dunia impian.


Gadis ayu bangkit dari ranjang. Melihat novel yang tergeletak di meja riasnya. Ada keraguan yang datang membayang. Menyimpan kembali atau meneruskan membaca tetapi hatinya akan semakin terluka.


Hembusan napas letih ia buang seiring langkahnya yang tertatih. Tangan mengulur meskipun hati masih coba mengatur alur. Mengambilnya ataukah membiarkannya memeluk meja.


💛💛💛💛💛

__ADS_1


Mampir ke novel sahabat depe, yuk!



__ADS_2