
"Yangti, masak apa?" tanya Di-junior begitu bersiap di meja makan.
Kristy mendekati sang keponakan meskipun yang mendapatkan pertanyaan bukanlah dirinya. Ia menggeser kursi di sebelah kiri bocah cilik. Tak lantas menghadap meja, ia justru menatap lurus putra dari sang kakak.
"Makin keren aja, nih! Siapa yang dandanin?" goda Kristy seraya menaikkan kedua alis.
"Tuh, Tom-nya mama!" timpal Di-junior terdengar sebagai jawaban konyol.
Kristy mengetuk-etuk jari telunjuk di dagu. Ia nampak berpikir keras. Kalimat sang keponakan menumbuhkan rasa penasaran. "Tom? Siapa Tom? Tomas? Tomat? Tomblok?"
"Tom n Jerry, aunty."
"Emang mbak Rosa pelihara kucing sama tikus, Ma?" selidik Kristy pada sang mama yang kebetulan sedang menata sendok dan piring di meja.
Sang mama hanya menggeleng seraya melepaskan senyuman. Pertanyaan putri bungsu diabaikan dan beliau malah melihat sang cucu yang menggemaskan nan lucu.
"Yangti, kenapa di rumah ini Di-junior pintar sendiri? Aunty sama mama nggak ada beda. Lama sekali buat mengerti," ucap bocah cilik dengan berkecak kesal.
Kristy yang merasa disindir segera berpikir. Ia tersenyum kemudian, saat sebuah ide brilian melintas nakal di pikiran. "Hei, anaknya mbak Rosa! Di mana mamamu? Kuadukan kamu telah menghina kami. Awas aja nanti kami bakalan bergabung jadi Duo Cantiko!"
Di-junior begitu tenang meskipun mendapatkan ancaman. Gaya *aunt*y-nya yang lebay dengan mengibaskan surai sama sekali tidak ia tanggapi. Ia justru asyik dengan potongan buah yang diberikan yangti. "Aunty kayak anak kecil, dikit-dikit ngadu."
"Ih, kamu nyebelin! Anak siapa, sih?" gerutu Kristy sambil mengambil camilan bocah kecil.
Di-junior mengulurkan tangan kanan. "Perkenalkan, Diozza Satya Wijaya! Generasi kedua dari papa Dion Wijaya dan mama Rosalia Citra Atmadja yang tampan, cerdas dan berkelas. Keponakan uncle Aryan Satya Dharma yang tenang menghanyutkan, dan ..."
"Dan boy-nya Om Rud yang imut bikin kepincut," lanjut pemilik nama yang ia sebutkan sendiri identitasnya.
Kristy menghela napas letih. "Ma, bersiaplah! Cucumu akan semakin narsis."
"Calon adik ipar mau bergabung dengan kami, Duo Narsis?" tanya Mas Rud seraya mendekat pada sang mama keluarga Atmadja yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Mama, siapa dia? Mengapa memanggilku calon adik ipar?" gerutu Kristy setelah bertanya pada orang tua tunggalnya.
Mas Rud sedikit bergeser posisi. Ia mengulurkan tangan kanannya. "Perkenalkan, Rud Dinata! Tom-nya mama Rosa."
Kristy semakin dibuat sebal maksimal. "Mama, besok antarkan aku ke rumah Mas Aryan! Di sini aku bisa tua sebelum waktunya. Duo Narsis makin eksis dan kewarasanku semakin terkikis."
"Itu 'sih kamu yang modus, Kris," timpal mama yang jawabannya menunjukkan kubu mana beliau berada.
__ADS_1
"Ih, Mama kok' gitu, sih? Lama-lama aku di sini nggak diakui. Sepertinya aku harus segera menikah agar ada yang membelaku saat kalian menyerang ala anak STM tawuran."
"Yangti, ada yang curcol," celetuk Di-junior.
Kristy nampak terkesiap. Bukan karena diadukan tetapi karena singkatan kata curhat colongan. "Hai calon kakak ipar, dari mana keponakan polosku mendapatkan bahasa gaul itu?"
Mas Rud yang dituduh hanya melempar senyum. "Terima kasih calon adik ipar telah mengakuiku sebagai calon kakak ipar. Sungguh, aku tidak tahu dari mana boy-ku mendapatkan kata itu. Dia sangat cerdas untuk anak seusianya. Kosa katanya mengalahkan kamus bahasa."
"Tidak ada yang gratis calon kakak ipar."
"Nanti aku comblangin sama abang Aryan," timpal singkat Mas Rud tetapi sanggup membuat Kristy terkesiap senang.
"Mas Rud apa 'an, sih? Tau aja apa yang aku mau," balas Kristy seperti menolak padahal akhirnya mengakui sebuah gejolak.
"Di-junior mau dicomblangin juga, donk!"
Seketika tiga insan dewasa melesatkan pandang pada sang putra semata wayang. Sadar dijadikan bidikan, Di-junior justru membalas tatapan. "Tapi bo'ong."
Di-junior berucap dalam cengiran senyuman. Semua yang menatap dibuat lega tetapi kegemasan semakin meraja lela.
"Cucu yangti tau apa itu mak comblang?" tanya sang mama keluarga Atmadja.
Di-junior berhenti mengunyah. Ia nampak sedikit berpikir. "Mungkin temennya Mak Rempong."
"Ma, keponakanku salah pergaulan kayaknya. Perlu kita panggilkan uncle-nya, nih." Kristy berbicara seolah abang adalah pawang yang bisa menjinakkan putra sang kakak.
"Menurut mama, itu hanya modusmu mau ketemu Aryan," timpal mama sengaja menggoda putri bungsunya.
"Mama," ucap Kristy sebal-sebal manja.
"Tenang calon adik iparku! Boy akan kuatasi. Di-junior sama aku, abang Aryan khusus untuk dirimu, bagaimana?" tawar Mas Rud dengan mengulurkan senyum.
Kristy semringah. "Kurestui Mas Rud jadi kakak iparku. Tidak perlu lagi pakai kata calon. Yuk, makan! Kemon!"
Perhatian Di-junior pada sang aunty, berakhir dengan gelengan kecil. "Keluarga ini memang aneh."
Decakan bocah kecil ditimpali senyuman tipis pada bibir dua insan yang ada di meja makan. Hanya Kristy yang mencebik karena keponakannya selalu saja bisa membuatnya tidak berkutik. Kata-katanya unik mengusik.
"Tumben pada anteng! Biasanya kalian berdua berantem," celetuk gadis ayu yang baru saja memasuki dapur.
__ADS_1
"Aunty udah nyerah, Ma!" lapor Di-junior.
"Wah, itu kabar menggembirakan! Mari kita makan untuk merayakan kemenangan, Sayang!" ajak gadis ayu seraya mengambil posisi duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Mas Rud.
Meja makan itu pun seketika hanya diliputi suara kunyahan makanan yang lirih terdengar. Semua terfokus dengan makanannya tanpa ada yang berbicara. Hingga saat piring-piring bersih dan gelas tak lagi menampakkan bekas, Kristy adalah moderator yang mengajak berbicara Di-junior.
"Hei, keponakan! Sudah kenyang?"
Di-junior mengangguk dengan kedua ibu jari mengacung. Dimulutnya masih ada sedikit sisa makanan sehingga ia memilih diam.
"Telan-telan! Minum! Habis itu kita telepon uncle, setuju?" tawar Kristy pada akhir kalimat perintah.
Manik hitam langsung berbinar. Semburat kebahagiaan berpendar dari tatap. Bocah kecil segera menyelesaikan makan dan berdiri menghampiri sang aunty. "Ayo, kita telepon sekarang! Uncle pasti sudah sangat merindukanku."
Tangan sang aunty ditarik hingga segera beranjak dari kursi. "Yangti, Mama, Om Rud, kami tinggal dulu, ya!"
"Bilang uncle kalau mama juga kangen, Sayang," titip pesan gadis ayu pada putranya yang lucu.
"Aku cemburu," bisik Mas Rud yang membuat gadis ayu melirik sebentar kemudian mengabaikan.
Seperti gadis ayu yang tidak mengindahkan rasanya, Mas Rud pun tanpa permisi meraih jemari dari sang kekasih. Tautan itu ia bawa dalam pangkuannya.
"Ma, Rud mau meminta restu."
Terjeda sesaat, Mas Rud kembali berucap kalimat, "Rud tidak ingin kehilangan Rosa untuk kedua kali. Mungkin ini terlalu terburu-turu, akan tetapi kami sudah sama-sama mengakui perasaan masing-masing. Rud pikir niat baik harus disegerakan daripada menjadi fitnah."
"Mama menyerahkan keputusan pada kalian berdua. Asalkan kalian bahagia, bukan berdua akan tetapi bertiga dengan Di-junior maka mama pasti akan merestui."
Mas Rud menatap gadis ayu sebelum kembali meyakinkan sang mama. "Rud sudah menganggap Di-junior seperti putra kandung, Ma."
"Mintalah restu pada Aryan. Dia adalah Abang kalian," perintah mama dengan menebar senyuman.
Seketika suasana sepi. Terdiam. Mereka bertiga tidak ada yang berbicara. Pikiran masing-masing berkelana ketika nama abang dibawa-bawa.
"Nak, mama yakin kamu akan membahagiakan Rosa walaupun semua tahu jika kamu menahan luka yang tidak pernah kamu buka. Hanya doa yang bisa mama panjatkan semoga Tuhan mengirimkan wanita yang akan tulus menjagamu seperti kamu selalu ada saat Rosa susah dan senang. Kamu pasti akan bahagia walaupun tidak bersama Rosa, Nak," batin Mama seraya menahan bulir di kedua sudut mata.
Wanita paruh baya itu tidak berbicara dalam hati seorang diri, ada hati lain yang juga sedang membatin.
Sanubari gadis ayu tidak luput ikut menahan rasa yang menjemput kedua orang di sebelahnya. "Bang, maafkan Rosa untuk kali kedua! Aku selalu egois dengan perasaanku, padahal abang selalu menepikan pedih agar aku tidak bersedih. Tapi, aku juga tidak bisa membalas perasaan abang melebihi seorang adik kepada sang kakak."
__ADS_1
"Aryan, maafkan aku kembali untuk mengambil wanita yang telah kamu jaga selama ini."
Mas Rud tidak mampu banyak berkata meskipun sesungguhnya ia ingin banyak berbicara. Ia memahami hati Aryan jika kenyataan kembali membuatnya harus terima cintanya berhenti pada status abang. Namun, siapa yang bisa mengendalikan hati? Tak ubahnya dirinya dan gadisnya, Aryan juga pasti menahan gejolak rasa.