Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Di antara suami istri


__ADS_3

"Istriku." Kalimat abang itu yang membuat gadis ayu termangu.


Kekasih mas Rud yang duduk di kursi sebelah ranjang pasien abang hanya bisa diam. Ia bahagia karena sang kakak tampak baik-baik saja. Namun, ternyata daya ingatnya bermasalah. Hal inilah yang membuatnya terbawa arus gamang.


"Bang," panggil gadis ayu lembut.


"Apa, Sayang?" balas abang dengan senyuman termanis.


Lengkungan indah itu kini memantik resah. "Bang ... aku siapa?"


Lengan abang mengulur untuk menjangkau surai hitam gadis ayu. "Kamu Rosalia Citra Atmadja, istri Aryan Satya Dharma. Mama dari putra kita, Diozza Satya Wijaya."


Gadis ayu menelan saliva. Ingatan abang masih tajam tentang segala hal. Hanya satu yang tidak benar, status pernikahan. Entah mengapa, abang mengakui sang adik sebagai istri.


"Kalau dia siapa, Bang?" gadis ayu ingin menyelidiki ingatan abang tentang sang kekasih.


"Aku jelas mengenalnya. Mengapa kamu bertanya seolah aku telah melupakannya, Sayang," timpal abang dengan senyuman.


"Rud, mendekatlah! Aku tidak akan cemburu dengan kehadiranmu. Bukankah kamu dan istriku telah sama-sama punya hidup baru?"


Mas Rud bangkit dari duduk. Dia berjalan ke arah lelaki yang terbaring. Pandangannya lurus pada gadis ayu.


Dua kekasih yang tengah dipisahkan status oleh si abang itu bertelepati hati. Tatapan mereka berbicara, meskipun hanya dapat diartikan oleh keduanya saja.


"Tenang, Sayang. Aku akan bersandiwara. Kita


akan membantu proses pengembalian daya ingatnya. Aku pernah mengalami itu."


"Terima kasih atas pengertiannya, Mas. Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu, Sayang. Serahkan semuanya padaku."

__ADS_1


Gadis ayu melepas pandang dari sang pemilik hati. Ia kembalikan tatap pada abang yang menggenggam jemarinya erat. Keadaan ini menyulitkan gadis ayu. Ia terjebak dalam persimpangan yang tidak bisa ia pilih salah satu.


"Bagaimana keadaanmu?" Mas Rud bertanya seolah ia sama sekali tidak tersakiti oleh kenyataan yang didapatkan sepagi ini.


"Tidak ada yang lebih membahagiakanku selain membuka mata dan melihat dia ada di sisiku," balas abang seraya melirik sebentar pada wanita yang dia akui sebagai istri.


Suasana kembali hening. Gadis ayu menahan sesak di kalbu. Ia tidak dapat berkata-kata, hanya batinnya yang sibuk berbicara, "Bang, aku harus bagaimana? Memanjakan ingatanmu yang sekarang ataukah menentang?"


Mas Rud pun berucap dalam hatinya yang sedikit menguapkan nyeri. "Menghadapimu ketika seperti ini, justru membuatku tidak bisa menggunakan tenaga. Apakah ini adalah cara Tuhan untuk menunjukkan bagaimana pengorbanan perasaan yang telah kamu lakukan untuk kami?"


"Sayang, kapan aku boleh pulang? Mengapa pasien sesehat aku masih ditahan?" tanya abang tanpa sedikit pun melepaskan senyuman.


Gadis ayu tidak memiliki jawaban. Otaknya justru dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran.


"Tunggu kunjungan dokter! Kalau memang susah sehat, pasti akan diizinkan pulang." Mas Rud mewakili gadis ayu memberikan jawaban.


Bertepatan dengan selesainya kata yang diucap Mas Rud, dr. Kresna masuk. Ia dan seorang perawat mendekat. Dengan senyum manis ia menyapa semua yang ada di dalam ruangan, termasuk papa yang sedari tadi duduk di sofa memperhatikan ketiga putra-putrinya.


"Selamat pagi, Bapak Aryan! Bagaimana kabarnya pagi ini?" dr. Kresna ramah dalam memulai kata.


Dokter Kresna yang sudah mengetahui seluk-beluk cerita di antara keluarga Kristy menanggapi dengan tersenyum manis. Ia sedikit menunduk sebagai salam perkenalan. Hanya sekejap menatap, kemudian ia kembali menitikkan pandangan pada abang Aryan.


Gadis ayu yang terus diakui sebagai istri mulai merasa tidak nyaman. Ia dilema. Tidak mungkin ia mementahkan kalimat dari lelaki yang mengaku sebagai suaminya. Itu sama saja akan menjadi masalah baru. Pelan-pelan, butuh waktu untuk menjelaskan.


"Bang, biarkan Dokter memeriksamu dulu. Aku menunggu di sofa sama papa, ya?" pamit gadis ayu.


Abang membiarkan sang istri dalam ingatannya untuk pergi. Ia kembali fokus pada dokter yang akan memeriksanya.


Sementara itu, di sofa papa yang sedang duduk didekati oleh gadis ayu. "Pa, abang amnesia?"


Lelaki paruh baya itu menghela napas perlahan. "Maafkan, abangmu ya! Dia pasti akan sangat kecewa pada dirinya sendiri jika ingat telah mengakuimu sebagai istri di hadapan Rud. Apalagi sebentar lagi kalian berencana untuk menikah, dia pasti akan merasa sangat bersalah. Sabar sebentar lagi, ya! Papa akan menjelaskannya secara pelan-pelan."

__ADS_1


"Papa jangan berpikiran seperti itu. Kami mengerti keadaan abang," balas gadis ayu memberikan ketenangan.


Lelaki yang sudah gadis ayu anggap sebagai orang tua lelakinya itu tampak melepas napas panjang. Sorot netranya nanar melihat jauh pada abang. Ada gemuruh rasa yang tidak tersampaikan, tetapi dapat gadis ayu rasakan.


"Dokter bilang, jika Aryan rutin menjalani terapi maka ingatannya yang salah tentang status kalian akan segera pulih. Namun, papa tahu itu sedikit sulit mengingat situasimu dan dia. Papa hanya meminta doamu saja. Tidak harus kamu selalu ada di sisinya, nanti papa yang akan menjelaskan." Ucapan papa membuat gadis ayu terbelenggu sendu.


Tiba-tiba saja bulir bening tidak terkontrol lagi. Kristal kesedihan itu mengalir tanpa bisa dikendalikan oleh hati. Gadis ayu menggeleng. "Tidak, Pa. Rosa akan tetap di sisi abang. Seperti dia yang membantu Rosa kuat saat ditinggal mas Dion, maka sekarang Rosa juga akan menemaninya melewati ini."


"Ini bukan acara balas budi, Nak. Kamu tidak perlu melakukannya." Papa mengulaskan senyum untuk menguatkan putri cantiknya sekaligus menjaga kekokohan rasanya sendiri.


"Ini bukan balas budi, Pa. Tapi, ini adalah wujud sayang Rosa sebagai adik. Pengorbanan abang selama ini tidak akan pernah terbayar. Hanya ini yang Rosa bisa lakukan untuk membuat abang senang. Papa lihat, senyum abang begitu sempurna. Mana mungkin Rosa bisa melunturkannya?" ucap gadis ayu menyuarakan suara kalbu.


"Terima kasih ya, Nak. Semoga kejadian ini tidak berimbas pada rencana pernikahanmu dengan Rud."


Gadis ayu menyulam senyuman. "Sama-sama, Pa. Aamiin."


Beralih pada sisi ruang yang lain, Mas Rud mendengarkan obrolan antara abang dan dr. Kresna dengan saksama. Sesekali lelaki berpostur tinggi itu melirik pada sang kekasih. Namun, ia segera mengembalikan pandang pada si abang.


"Aryan, perasaan yang selalu kamu sembunyikan akhirnya dapat kubaca. Seperti aku yang hanya mengingatnya ketika amnesia, kini pun kamu terjebak dalam hal yang sama."


Sebuah napas berat mengelupas lewat desah lelah. Mas Rud membawa netranya menghambur pada sembarang arah. "Kamu curang. Aku hanya mengingatnya, tetapi yang kamu tahu dia adalah istrimu. Langkahmu satu jejak di depanku."


Permainan kata Mas Rud dalam benak terpaksa berakhir ketika suara dr. Kresna menyebut jika abang sudah boleh pulang. "Sayang, kamu dalam bahaya? Bagaimana jika dia ...? Ah, aku harus berbuat apa?"


"Terima kasih, Dok. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan." Abang tampak sangat senang.


Belum juga dr. Kresna sepenuhnya keluar dari ruangan, abang sudah banyak menebar kegelisahan. Bukan lagi sekadar suara hati Mas Rud, akan tetapi juga bagi gadis ayu. Bahkan sang papa pun menjadi gamang karenanya.


Abang memutar pandang pada gadis ayu yang merupakan istrinya saat ini. "Sayang, aku nggak sabar untuk pulang. Rasanya kangen sekali dengan Satyaku yang menggemaskan dan juga mamanya yang ketus manja."


Gadis ayu mengulas senyum canggung. Ia menatap Mas Rud. Matanya bercerita, mengungkap rasa yang berlabuh darurat ketika kondisi gawat. "Mas, apa yang akan terjadi ketika kami pulang? Aku adalah istri baginya. Bagaimana jika ...?"

__ADS_1


Belum sempat memberikan jawab lewat tatap, Mas Rud sudah tersalip kata oleh abang. "Sayang, mengapa kamu tidak segera ke sini? Tidakkah kamu ingin memelukku mendengar kabar bahagia ini?"


Kata pelukan yang biasanya bukan sebuah kejutan, kali ini menjadi sesuatu yang membuat gadis ayu semakin terkesiap. Perlahan ia berjalan, seraya memaku pandang pada Mas Rud. "Mas, di muka umum dia ingin memelukku. Bagaimana kalau berdua malam-malam?"


__ADS_2