
Hai-hai yang masih favoritin novel ini! Terima kasih, ya.🥰🥰🥰🥰
Depe sedang tergerak hati untuk up lagi. Kangen sama kebucinan karena di sebelah lebih dominan somplak.😁😁😁
Setuju nggak up suka-suka?😁😁
Jangan lupa mampir di "Pengantin Pisang"!🥰🥰🥰🥰
🍁🍁🍁🍁🍁
Air yang berwarna biru jernih, memoles keindahan bagi dua pasang mata yang melihatnya. Matahari yang sebentar lagi bersembunyi di peraduan, belum sempurna menyemburatkan warna orangenya.
Waktu seakan berlari. Waktu mendekati seperempat abad bergulir begitu cepat. Dulu, di pantai yang sama, orang yang sama sedang menatap senja. Kali ini pun sama. Tidak ada yang berbeda, kecuali umur yang tidak lagi muda.
"Mas, bagaimana perasaanmu padaku?" gadis ayu yang sudah melewati masa itu tetap ayu walaupun jelas tidak lagi menjadi gadis. Bahkan saat disebut gadis ia bukan lagi seorang gadis.
"Perasaanku sudah berubah gadis ayuku," aku Mas Rud yang akan tetap menganggap Rosa sebagai gadis ayunya sepanjang masa.
"Apakah kamu tidak lagi mencintaiku seperti dulu, Mas?" telisik gadis ayu seraya menoleh pada lelaki di sisi kananya. "Benarkah cinta itu sudah tergerus waktu?
Ada gusar yang merenyah di kalbu gadis ayu. Dulu ia percaya jika rasa Mas Rud tidak akan pernah berubah. Walaupun ia sendiri tahu, bahwasanya manusia memiliki rasa jemu, tetapi Mas Rud berbeda. Gelora cintanya terus berdebur layaknya ombak yang tiada henti menyapa pantai.
Mas Rud mengusap bibir gadis ayu dengan ibu jari. "Apakah kamu pernah berpikir jika bisa kembali bersamaku setelah semua yang terjadi pada waktu itu? Tidak, 'kan? Tetapi aku tidak sepertimu. Hatiku terus menyimpan rasa secara utuh. Hanya padamu. Doaku adalah kamu bahagia. Namun, Tuhan mengabulkan segala asaku. Bukan hanya kamu bahagia, tetapi bahagia bersamaku. Jadi, masih ragukah kamu akan anugerah rasa yang telah Tuhan titipkan pada lelaki bernama Rud ini?"
Gadis ayu terharu. Netra beningnya mulai berkaca-kaca. Bahagia itu terpampang nyata.
__ADS_1
Mas Rud menatap dengan sangat lembut. "Sayang, rasaku berubah. Bukan berkurang, tetapi semakin bertambah. Jika dulu aku mencintaimu, maka sekarang aku sangat sangat sangat sangat mencintaimu. Setiap napas yang akan aku embuskan, sudah ku-booking atas namamu. Kamu, tidak ada yang lain."
Kata semakin bersembunyi. Gadis ayu tidak sanggup untuk menutup riang di kalbu. Ia membelai surai sang lelaki. "Mas, terima kasih. Kamu adalah kiriman Tuhan yang tak ternilai bagiku. Aku tidak akan pernah bisa menandingi rasamu padaku."
Sepasang suami istri itu saling memeluk. Keromantisan kala usia kepala empat menyapa, bagi kebanyakan orang mungkin puber kedua. Namun bagi mereka cinta hanya satu selamanya.
Sementara itu, berjarak sekitar enam meter seorang pemuda yang baru saja menginjak usia dua puluh tahun melihat lurus pada kedua orang tuanya. Ia tersenyum. "PaRud, Mama, kalian memang idola."
"Kak, jangan melihat mereka terus! Nanti laper, loh," celetuk seorang gadis muda yang tampak memiliki usia di bawah pemuda yang ia ajak berbicara.
"Laper ya tinggal makan, gitu aja, kok, repot," timpal santai pemuda tampan yang memiliki tinggi di atas rata-rata teman seusianya. Ia kemudian menutup mata gadis di sampingnya. "Kamu belum cukup umur, jangan terlalu sering melihat keromantisan PaRud dan Mama."
"Kakak, apa 'an, sih? Aku udah gede. Pacarku aja banyak," celetuk remaja berusia lima belas tahun itu.
"Perubahan itu perlu, Kakak. Aku, Cherriya RR Wijaya adalah Mama yang menaikkan level kebucinan para pria," terang gadis kecil yang merupakan putri dari Mas Rud dan gadis ayu.
Di-junior tidak memedulikan celotehan sang adik. Ia merangkul, seraya membawa langkah mereka berbalik. Dua insan dewasa yang mereka temui hanya di sapa sekadarnya. "Uncle, jangan mesra-mesraan seperti PaRud dan Mama di tempat umum!"
Kepergian Di-junior dan Cherriya diikuti oleh gelengan dari Abang dan Kristy. Keponakan yang telah meninggalkan masa anak-anak itu semakin membuat hari mereka berwarna. Setiap waktu, selalu saja ada tingkah yang membuat senyum merekah. Kadang penuh kasih, tetapi seringkali beradu argumentasi.
"Di-junior itu perpaduan Mas Dion, Mas Rud, dan kamu, Mas. Memiliki sayang yang tulus, bijaksana, dan yang pasti seperti PaRudnya. Punya bibit bucin, menyenangkan dan tidak mudah dilupakan." Kristy mendata sifat sang cucu pertama keluarga Atmadja.
"Idaman sekali, ya?" timpal Abang belum juga meredakan pandangan dari sang keponakan yang telah jauh dari jangkauan.
"Iya, idaman seperti mamanya."
__ADS_1
"Kok, aku denger ada nada kecemburuan, ya? Apa ada yang menyindirku?" Abang sengaja menggoda Kristy. Ia tahu jika sang istri sering merasa cemburu atas rasa yang ia miliki pada gadis ayu.
"Jangan ke-GR-an, deh, Mas!" timpal Kristy seraya menjauh pergi. Ia berjalan ke arah dua sejoli kawakan yang tiada henti menebar kebucinan.
Jarak yang tidak seberapa jauh itu, segera membuat Kristy dan gadis ayu bersatu. "Hei, kalian! Kapan pensiun bucin-bucinan di depan khalayak umum? Ingat umur wahai saudaraku!"
"Mas, denger ada yang bicara, nggak?" Gadis ayu sengaja membuat Kristy semakin emosi.
"Nggak, Sayangku. Mungkin itu deru angin yang cemburu dengan cinta kita." Mas Rud pun ikut menebalkan amarah Kristy.
Merasa dijadikan korban, Kristy meninggikan intonasi suara, "Aku adalah angin. Semilir yang akan menjadi badai. Siap menghempas pasangan bucin."
"Abang! Istrimu perlu perawat," teriak gadis ayu tanpa menoleh. Ia tahu suami Kristy ada di belakang mereka sedang memperhatikan tingkah konyol para penduduk kediaman Atmadja yang mulai menua.
Tidak ada yang berubah dari Abang. Sekali saja gadis ayu memanggil, maka ia akan segera sigap menghampiri. "Kalian sebentar lagi akan punya cucu, masih saja bertingkah seperti dua puluh tahun yang lalu."
"Itu karena abang masih memedulikanku seperti dulu. Istrimu cemburu, Abang."
"Maisee, jangan cemburu! Dia adikku. Mana mungkin aku akan menjadikannya madumu? Kamu nggak lihat ada bodyguard? Lelaki itu sangat galak," Abang menarik Mas Rud dalam pusaran perdebatan.
"Siapa yang galak?" timpal Mas Rud. Lelaki yang sedari tadi terus merangkul sang istri, perlahan mulai berdiri. Ia mendekati abang tetapi wajah di arahkan pada Kristy yang berdiri bersebelahan. "Kamu cemburu sama istriku? Sekarang, aku akan membuatmu cemburu padaku."
Mas Rud kemudian merangkul abang dan membawanya berputar arah. Mereka kemudian meninggalkan senja yang perlahan tenggelam.
Gadis ayu pun bangkit dari duduk. Ia mengekor langkah dua lelaki yang ia kasihi. Namun, ia sengaja berhenti tepat di dekat sang adik. "Lelaki jangan kebanyakan di cemburui. Lihat, tuh! Kalau mereka mulai kelainan, bagaimana coba?"
__ADS_1