Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Para Lelaki Rosa


__ADS_3

Otak encer Kristy menangkap sinyal-sinyal keterkaitan antara keponakannya yang sudah keren pagi-pagi dengan kehadiran seseorang yang ia kenali. Seketika ia kembali ke kamar tetapi Di-juniornya sudah menghilang. "Ke mana bocah itu?"


Mengabaikan penampilan yang berantakan, Kristy keluar kamar. Puluhan anak tangga ia libas untuk menuju tempat yang sudah ia petakan menjadi tujuan pertemuan. Benar, dua lelaki pemilik cinta si sulung cantik keluarga Atmadja berada di sana.


"Kalian mau ke mana?"


Dua lelaki itu kompak menoleh. Jawaban bersamaan pun terlontar dengan tingkat kemiripan nyaris mencapai tingkat kesempurnaan. "Jalan-jalan dong, Aunty."


"Mana surat izinnya?" selidik Kristy seraya mengulurkan telapak tangan.


"Om Rud, atasi Aunty!" perintah Di-junior bak bos besar.


Mas Rud bergaya, berdiri tegak dengan tangan menghormat. "Siap, bos!"


Langkah besar kemudian Mas Rud putar. Di hadapan Kristy ia pun memberikan laporan. "Aunty Kristy yang baik, hari ini Di-junior mau jalan-jalan sama Om Rud. Minta izinnya, ya?"


"Kalau berani, izin sana sama mama!" perintah Kristy menatap sang keponakan.


"Om Rud!" Di-junior kembali menatap Mas Rud untuk meminta izin pada sang mama.


"Mama nggak izinin. Sejak kapan mama membolehkanmu pergi dengan orang asing, Sayang?" Tiba-tiba gadis ayu memberikan jawaban sebelum Mas Rud meminta persetujuan.


"Om Rud!" Lagi-lagi Di-junior memanggil Mas Rud dengan maksud membuat mamanya menurut.


Lelaki yang dipanggil berulang kali menunjukkan gestur agar Di-junior tidak perlu risau. Ia mendekati gadis ayu yang masih berdiri memaku di anak tangga nomor satu. Dua pasang mata milik sang aunty dan keponakan mengamati tanpa melakukan kedipan.


"Aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan. Kalau kamu mau ikut, ayo sekalian!" ajak Mas Rud dengan sangat tenang.


Gadis ayu mengernyitkan dahi. Pola pikir lelaki di hadapannya selalu saja di luar nalar. Mana mungkin ia membiarkan putranya semakin dekat sementara dia berencana untuk menjaga jarak.

__ADS_1


Memilih tidak berkomentar, gadis ayu berinisiatif untuk merayu sang bocah kecil. "Sayang, jalan-jalannya nanti sama mama dan uncle aja, ya?"


"Tapi uncle masih sibuk kerja, Ma," timpal Di-junior yang sudah tahu jika abang baru akan menemuinya akhir Minggu.


"Jalan-jalan 'kan harus pakai uang, makanya uncle kerja dulu. Kalau sama Om Rud, hayo? Dia nggak kerja, mana punya uang coba?" bujuk gadis ayu dengan tersenyum semanis madu.


Di-junior terlalu pintar untuk menerima begitu saja. Dengan langkah pasti, ia meninggalkan sang mama dan mendekat ke Om Rudnya.


"Om Rud kerja nggak?" tanya polos Di-junior.


Mas Rud membentuk beberapa garis tipis di dahi. Mengamati putra gadis ayunya sekejap, kemudian meniti pandang pada mama bocah kecil. Kedua alis dia angkat sebagai sandi untuk mencari jawab.


Gadis ayu tak menggubris. Ia mendatarkan ekspresi wajahnya, sengaja membuat Mas Rud merengut.


Diabaikan gadis ayu, Mas Rud justru kembali mendinginkan ekspresi. Ditatapnya Di-junior dengan senyum yang menghias bibir. "Om Rud sedang libur kerja, Sayang. Tapi tenang ... Om Rud punya banyak uang."


Gadis ayu geleng-geleng. Ia selalu kalah jika sang putra sudah merasa senang. Karena ia ingat betul dengan pesan si abang yang harus mengutamakan kebahagiaan putra tunggal.


Sementara Kristy tertawa melihat kakak sulungnya tidak bisa berbuat apa-apa karena Mas Rud sudah menguasai sang putra. "Mas, buruan berangkat! Mbak Rosa kan plin- plan, sekarang diam bisa-bisa sebentar lagi koar-koar."


"Aunty, nggak begitu! Mamaku paling baik sedunia," rayu Di-junior seraya meminta Mas Rud untuk membawanya mendekat pada sang mama.


Tanpa berkata-kata, pipi kanan wanita yang dicintainya itu dicium dengan lembut. "Di-junior sayang Mama."


Jika sudah seperti itu, maka hati siapa yang tidak luluh. Walaupun ia tahu ucapan sang putra modus, tetapi gadis ayu merasa jika kasih sayang Di-junior begitu tulus.


"Mama juga sangat menyayangimu, Sayang," balas gadis ayu seraya mencium kening sang putra semata wayang.


Posisi Di-junior yang berada pada gendongan Mas Rud, membuat wajah gadis ayu hanya berjarak tipis di hadapan sang lelaki. Keberaniannya beberapa tahun lalu untuk mencuri sentuhan pertama dibibir sang gadis, kali ini ia ulang kembali. Bukan pada tempat yang sama akan tetapi cukup di pipi kanan saja.

__ADS_1


Gadis ayu seketika menoleh dan hampir saja bibir mereka berdua bersentuhan. Buru-buru, wanita berparas ayu itu menarik diri. Jantungnya berdebar tak terkendali. Ingin bersikap biasa tetapi nyatanya ia tidak bisa.


"Sayang, pulang sebelum sore, ya! Ingat, jangan sampai lewat!" pesan gadis ayu seraya melangkah menjauh.


"Kris, bantu Mbak persiapkan kebutuhan Di-junior untuk jalan-jalan! Jangan lupa bawakan baju ganti dan tisu basah!"


Setelah pesan tersampaikan, gadis ayu melajukan langkah meninggalkan sang mantan. Debar hatinya masih belum bisa ia tata. Ia tidak kuasa untuk berlama-berlama berdekatan, karena sungguh membuatnya kacau berkelanjutan.


Segelas air bening ia teguk begitu gadis ayu sampai di dapur. "Mas Dion ... abang ..."


"Ada apa panggil-panggil mereka?" Mama yang tidak sengaja mendengar karena sedang memasak tak kuasa untuk diam saja.


Wanita yang telah melewati usia setengah abad itu begitu paham dengan tabiat yang tersemat pada diri putrinya dengan sangat akurat. Jika nama lelaki-lelaki itu dipanggil, tandanya hati sang putri tengah dipelintir oleh rasa getir.


"Di-junior, Ma."


Gadis ayu menjeda kalimatnya sebentar sebelum akhirnya kembali ia lanjutkan. "Mengapa ia begitu mudah dekat dengan Mas Rud? Bagaimana aku bisa menjauhkan mereka?"


Mama nampak menghela napas. Ditatapnya lekat sang putri lantaran tahu apa yang sedang menyerbu relung kalbu gadis ayu. "Terkadang, seorang Mama harus menepikan egonya demi kebahagiaan seorang buah hati."


Nasihat mama cukup singkat, akan tetapi tepat menghunjam pada sasaran. Gadis ayu tidak perlu diguyur uraian panjang karena dia mudah menangkap apa yang tersirat.


"Ma," sapa gadis ayu tanpa berlanjut kata apalagi kalimat.


"Yang tahu hatimu hanya kamu," ucap mama tanpa menunggu putrinya kembali berbicara.


Gadis ayu sedang mencoba untuk mencerca hati. Siapa gerangan yang menguasai puncak rasanya. Status membawa nama sang suami sebagai pemilik tertinggi. Namun saat dia telah pergi dan abang yang setia menemani, beradapkah saat ia meninggalkannya begitu saja. Mas Rud, sang mantan yang kembali datang masihkah punya ruang hingga debaran bar-bar tidak bisa ia tepikan.


Rasa yang rumit itu detik ini sedang mencubit sakit dan semakin nyelekit. Siapa yang tidak ingin dicinta? Namun jika banyak pria menjadi pilihannya, kepada siapakah cinta itu akhirnya menjatuhkan rasa?

__ADS_1


__ADS_2