
"Mengapa kalian cepat sekali akan kembali pulang? Padahal papi sama mami ingin melihat kalian menikah di sini." Mami memangku sang cucu seraya berbicara dengan sang menantu.
"Terima kasih untuk niatan Mami dan keluarga eyang. Tapi Rosa tidak sanggup melakukan itu, Mi. Biarkan kami menikah di Jakarta, saja."
Permintaan eyang dan keluarga Jogja sungguh mulia. Mereka meminta izin untuk menikahkan gadis ayu dan Mas Rud. Namun hal itu ditolak dengan halus. Tentu saja, kesiapan gadis ayu yang menjadi alasannya. Ia tidak akan bisa menikah dengan dua orang lelaki di tempat yang sama.
"Kami semua akan datang ke pernikahan kalian. Jangan khawatirkan Sharika, dia hanya terbawa perasaan sesaat," ucap mami meyakinkan jika pernikahan Mas Rud dan gadis ayu akan mendapatkan restu penuh.
"Terima kasih, Mi. Sekali lagi, maafkan Rosa karena tidak bisa menjaga satu cinta untuk Mas Dion."
"Minta maaflah jika kamu melupakan keluarga sini," ucap mami untuk mencairkan suasana.
"Itu tidak akan terjadi, Mi. Mami tetap Mami Rosa dan eyang untuk Di-junior. Mas Rud sudah janji akan mengajak kami berlibur ke sini setidaknya setahun sekali. Abang juga menawarkan bantuan untuk mengantar. Keluarga Jogja akan tetap menjadi keluarga Rosa selamanya."
Dua wanita yang terikat rasa karena seorang Dion itu saling berjanji untuk tetap dekat meskipun tidak lagi menjadi ibu dan menantu. Bagi mereka tidak ada kata mantan, karena kehadiran Di-junior sebagai pengait hubungan.
🍁🍁🍁
"Beneran mau pulang pagi ini? Jangan dong! Aku masih kangen," ujar Maya seraya memeluk gadis ayu.
"Gantian kalian yang main ke Jakarta."
"Tentu saja. Kami akan datang semua waktu pernikahan kalian. Siapa yang akan bisa melewatkan bersatunya sepasang kekasih yang memiliki cinta luar biasa begitu saja?" goda Maya dengan ekspresi bahagia.
Gadis ayu hanya membalas dengan sebuah lengkungan sempurna. Senyum yang memancarkan bahagia itu terlukis manis di bibir sang calon pengantin.
"Sudah selesai say goodbye-nya?" tanya Mas Rud setelah berdiri di samping gadis ayu.
"Pasti yang ngeyel ngajak buru-buru pulang nih Mas Rud! Udah nggak sabar ya mau halalin?" sindir Maya dengan tanpa basa-basi.
"Iya, dong. Nggak sabar mau ngasih adik buat Di-junior sekalian nyiapin jodoh buat putrimu yang cantik," ucap Mas Rud sembarang.
"Jangan mau besanan sama dia, Sayang," timpal Rendra yang tiba-tiba datang.
"Wah, kesempatan emas ditolak. Rugi sekali, Anda."
__ADS_1
"Amankan putri kita dari keturunaannya. Bapaknya begini, anaknya juga tidak jauh berbeda. Aku ngeri putri kita dicintai segila ini," timpal Rendra dengan santainya.
"Cinta gilanya Mas Rud itu bikin nagih loh, Mas Ren," ujar gadis ayu dalam sikap malu-malu.
"Tuh, dengerin! Itu baru cintanya yang bikin nagih. Belum yang lain-lain."
Gadis ayu mencubit perut Mas Rud. Ia merasa gemas dengan ulah nakal yang suka sekali mengumbar gurauan asal jika sudah berkumpul dengan Mas Rendra.
"Tuh, 'kan? Belum diapa-apa'in aja udah cubit-cubit. Coba kalau aku ladenin, minta lebih pasti." Mas Rud semakin menjadi-jadi.
"Woi, jangan mesra-mesraan di sini! Dalam kamar, 'tuh!"
"Ayo, Sayang!" Mas Rud menggandeng lengan tangan gadis ayu seolah benar-benar akan pergi ke kamar.
Mendapatkan pelototan, mas Rud segera meraih gadisnya ke dalam rangkulan penuh kegemasan. "Kamu malu-malu, aku tambah pengen buru-buru."
Rendra yang berada di hadapan mereka segera menutup mata istrinya. "Contoh buruk, Sayang. Sebaiknya segera kita usir saja mereka."
"Nggak usah repot-repot ngusir. Kami bakalan pergi sendiri, kok."
Ketika mereka sibuk menyindir satu sama lain, abang datang dengan senyuman. "Mana calon istriku?"
Gadis ayu merasa harus mendapatkan kabar terbaru. Ia mendekat pada sang abang setelah melepas rangkulan Mas Rud dengan pelan. "Siapa calon istri abang? Kok nggak cerita sama aku, sih?"
"Nanti kamu cemburu," timpal abang penuh gurauan.
"Nggak, dong! Aku malah nggak sabar pengen kenalan. Mana gadis cantiknya?"
"Kamu percaya Aryan bisa move on darimu secepat itu?" selidik Rendra dengan menaikkan kedua alisnya.
"Percaya. Abang 'kan penganut jatuh cinta pada pandangan pertama," ujar gadis ayu dengan lugu.
"Iya dia sealiran sama Rud. Bukankah semua lelakimu seperti itu?" timpal Rendra yang mengingatkan gadis ayu bagaimana ketiga pria di sampingnya terpesona dengannya sejak pertama berjumpa.
"Apakah itu berarti wanita itu mirip denganku?" tanya gadis ayu.
__ADS_1
"Dia lebih muda darimu." Maya ikut bersuara.
Gadis ayu mengalihkan pandang pada sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya. "Kamu juga sudah mengenalnya, May?"
"Tentu saja, aku bahkan mengenalnya dengan sangat baik. Tidak ada yang lebih dariku mengetahui tentang seluk-beluknya."
Merasa dinomorsekiankan karena ketinggalan kabar, gadis ayu kembali memaku pandang pada si abang. "Jadi, sekarang mulai nggak jujur sama aku?"
Abang mengacak puncak rambut sang adik dengan melebarkan senyuman. "Mana mungkin aku melakukan itu? Yang kumaksud calon istriku itu adalah putrinya Rendra. Ia mengingatkanku padamu, menggemaskan."
Rendra mengibaskan tangannya menggambarkan kepanasan. "Sayang, aku cemburu. Gadisku disentuh pria lain."
"Dia tidak akan cemburu, Mas Ren," timpal gadis ayu seraya menunjukkan senyum menggoda.
"Mana mungkin?" timpal Rendra yang tidak percaya karena sudah mengenal Mas Rud begitu lama. Lelaki itu pencemburu.
"Mungkin sekali. Mas Rud 'kan orang ketiga di antara kami."
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Mas Rud pada Rendra dan Maya yang dibuat bingung oleh pengakuan gadis ayu.
Rendra selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan. "Aku hanya tidak habis pikir, kenapa orang ketiga selalu bisa merebut hati gadis ayu?"
"Jawabannya adalah jodoh. Kalian tidak akan bisa mendebat kenyataan itu. Rud dan gadis ayu adalah satu. Sebentar berpisah, akan kembali bersatu seumur hidup. Begitu." Mas Rud sangat yakin mendeskripsikan jalinan hati yang ia yakin abadi.
Semua yang mendengar tidak ada yang membantah. Apa yang terucap sama dengan yang mereka lihat. Cinta antara Mas Rud dan Rosa memang nyata. Tak lekang dihapus masa dan status.
"Sepertinya kami harus berangkat sekarang. Kalau tidak, aku takut kalian akan semakin terpukau oleh kegilaan cinta mereka" ucap abang mengakhiri keseruan obrolan.
"Baliklah!" usir Rendra seraya menggerakkan tangannya agar mereka segera beranjak.
"Ceritaku belum selesai, Ren."
"Aku nggak minat."
"Bakalan jadi novel best seller dan film terlaris sepanjang zaman, loh."
__ADS_1
"Bodo."
Gurauan antara Mas Rud dan Rendra yang sudah lama tidak tercipta itu akhirnya ditutup dengan keberangkatan keempat tamu itu kembali ke Jakarta. Abang setuju ikut setelah dirayu oleh gadis ayu. Bahkan ia memilih duduk dibalik kemudi.