
Dengan secarik pesan di tangan, gadis ayu segera meraih cardigan. Dress pendeknya ia balut dengan luaran untuk segera mencari keberadaan dua lelakinya. Tak lupa, gawai bercokol manis di tangan.
Dengan sedikit berlari kecil, gadis ayu keluar kamar, melewati lorong panjang hotel, mendekam dalam lift kosong yang membawanya turun ke lantai dasar. Melihat sekeliling dan mengarahkan jalan ke halaman depan. Sayangnya Satya bersaudara itu luput dari pandangan.
"Nyari, siapa?"
Suara yang sangat gadis ayu kenal itu spontan membuatnya memutar badan. Lelaki yang biasa dipanggil abang itu tengah tersenyum manis dengan kembaran kecilnya di gendongan. Tanpa rasa bersalah dia bertanya sang gadis mencari keberadaan siapa.
Si adik memukul bahu kiri lelaki itu dengan sebal. "Kalian dari mana saja?" tanya wanita langsing itu dengan napas terengah-engah.
"Beli es klim, Mama," celetuk Di-junior dengan ekspresi imutnya.
"Ini!" tunjuk adik tersayang pada si abang.
Memerlihatkan secarik kertas yang sudah membuat gadis ayu kalang kabut dan ternyata mereka sedang santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Di-juniol mau nyali Om Lud, Ma. Kalena gak ketemu, uncle ajak cali es klim," ujar bocah cilik yang sangat pintar itu. Dua tahun lebih memang usianya, tetapi garis keturunannya sebagai anak Dion yang sangat perhatian dan memiliki uncle yang sangat bijaksana, membuatnya sudah seperti anak usia lima tahun saja.
Kosa katanya sangat banyak. Ocehannya tak seperti anak-anak. Pemikirannya dewasa. Mungkin berada diantara orang-orang istimewa, membuatnya matang sebelum waktunya. Entahlah ... dia yang harusnya dijaga justru terlahir sebagai malaikat kecil penjaga.
"Lain kali, jangan seperti ini ya, Sayang. Mama khawatir," ujar sang mama sambil mengusap rambut lebat bocah kecinya yang mewarisi gen sang papa.
"Lain kali kalau Di-juniol mau nyali Om Lud, Mama pasti diajak," ujar polos bocah cilik itu.
"Jawab aja, iya!" perintah si abang melihat ekspresi sang adik yang mulai sendu.
Senyum terlampir di bibir. Bukan suatu pameran yang menampakkan kejujuran, akan tetapi pemaksaan agar tidak menimbulkan keadaan yang makin gawat. Cercaan pertanyaan dan ajakan yang semakin intens, itu lebih mengganggu perasaan gadis ayu daripada beratnya menjalani hari sebagai single parents.
"Mbak Rosa!" seru suara seorang perempuan yang tiba-tiba saja mengalihkan perhatian gadis ayu pada perasaan yang tengah berkecamuk.
Seketika gadis ayu menoleh pada asal datangnya suara. Menampakkan senyum yang kali ini benar-benar bahagia. Sosok itu juga mengulas senyum kebahagiaan yang sama.
"Rianti ... Nyonya Rianti," sapa gadis ayu sedikit terjeda karena melihat seorang lelaki sangat berwibawa mengekor di belakang sang wanita yang dia ketahui sebagai suami wanita dihadapannya itu, Tuan Alexander Kemal Malik.
__ADS_1
"Mbak Rosa gak usah sungkan begitu. Panggil Rianti aja," ujarnya saat mereka saling melekatkan pelukan dan sentuhan di pipi kiri dan kanan.
Rianti mengabaikan sang suami yang tampak mengobrol akrab dengan si abang. Gadis ayu tak terlalu memedulikan itu. Dia lebih menikmati pertemuan dengan Rianti yang dikenalnya lewat Kristy.
"Mbak, maaf ya. Waktu pernikahan Mbak, aku gak bisa datang."
"Aku tahu kalian sibuk, tenang saja itu tidak masalah." timpal gadis ayu dengan senyuman kejujuran, tak seperti sandiwara yang tadi ia lakukan di depan putra semata wayang.
"Terimakasih untuk kado waktu aku lahiran," ucap gadis ayu lagi.
"Maafkan lagi, karena hanya Kak Tya Gunawan yang bisa mewakili kedatangan kami."
"Itu suatu kebanggan luar biasa bagi kami, Ri."
Rianti tersenyum. Dia mengalihkan pandang dari gadis ayu dan menoleh pada keberadaan tiga lelaki di sebelah sana. Entah siapa yang dilihatnya. Namun hal itu tidak lama karena setelahnya dia kembali memerhatikan wajah wanita di hadapannya.
"Itu anak Mbak?" tanya Rianti sambil menunjuk pada Di-junior yang masih asyik memakan es krim di gendongan si abang.
"iya," balas singkat gadis ayu.
Ada beberapa hal yang hampir meluruhkan kristal bening sang gadis. Kesalahpahaman Rianti tentang abang yang dikira adalah Dion membuatnya merasakan kesedihan. Di sisi lain, kedekatan Di-junior dan sang uncle, membuat gadis ayu bahagia dan lara sekaligus.
"Kalian pasangan romantis ya, nyari es krim aja bertiga?" celetuk Rianti yang masih mengamati tingkah menggemaskan putra sang gadis.
Hanya senyum yang ia ukirkan. Tak mungkin ia bercerita apa yang terjadi sebenarnya. Biarlah kesalahpahaman itu tak perlu diluruskan. Toh juga tak ada yang dirugikan.
"Kalian juga romantis, sepagi ini udah jalan berdua," balas gadis ayu untuk mengalihkan topik pembicaraan agar tidak lagi membahas keluarga kecilnya.
"Kami mengantar keberangkatan Lyca," jelas Rianti yang justru membuat gadis ayu mengerutkan kening karena merasa asing dengan nama yang baru saja wanita cantik itu sebutkan.
Menyadari telah membuat bingung, Rianti segera memberikan penjelasan. "Lyca itu sepupu Alex, Mbak."
"Oh," ucap gadis ayu lirih seraya menganggukkan kepala tanda mengerti.
__ADS_1
"Tunangannya Mas Rud," ucap Rianti yang sepertinya menyesal dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Terbukti dari telapak tangan yang ia gunakan untuk membungkam mulutnya kemudian.
"Tunangannya Mas rud?" ulang gadis ayu dengan nada lirih. seperti bicara dalam hati tetapi diikuti suara kecil.
Rianti nampak salah tingkah. Dia tahu bagaimana kisah yang terjadi antara seseorang yang dia ajak bicara dan tunangan gadis yang dia sebut sebagai sepupu sang suami. Menyadari ia telah salah bicara, penjelasan berikutnya ia ceritakan dengan ekspresi harap-harap cemas.
"Mereka dijodohkan, Mbak."
"Perjodohan?" kata itu seketika mengingatkan gadis ayu pada kisahnya dan Mas Rudnya yang diwarnai masalah itu.
Gadis ayu mencoba sekuat tenaga untuk menepikan gelenyar rasa yang tiba-tiba timbul di hatinya. Dia samarkan bahwa itu hanyalah kesamaan cerita yang sedikit menyesakkan dada. Namun sepertinya, perjodohan mantan lelaki yang pernah mengisi harinya dan perempuan dari klan Malik itu tidak seburuk yang pernah ia alami. Nampaknya mereka bahagia.
Ingatan gadis ayu tiba-tiba melayang pada kejadian semalam. Nampak gadis yang sepertinya bernama Lyca mendapatkan perhatian dari seorang Mas Rudnya. Ada getir yang coba terus ia usir.
"Semoga mereka bahagia, Rianti."
Kalimat yang keluar begitu saja dari bibir gadis ayu tanpa ia sadari mengapa bisa terjadi. Namun ia yang memang pandai menyembunyikan rasa, menampakkan ekspresi seolah sama sekali tak terpengaruh, padahal hatinya sedang bergemuruh.
"Mbak, aku pergi dulu, ya! Nanti doa Mbak akan aku sampaikan."
Wanita cantik itu perlahan menjauh dari gadis ayu dan mendekat untuk sekadar say hello dengan Di-junior sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka. Sementara gadis ayu masih setia memaku.
"Kamu mengenal istri Tuan Alex?" tanya si abang yang memudarkan lamunan adiknya tersayang.
"Dia calon sepupu Mas Rud," jelas gadis ayu yang sekejap kemudian dia ralat jawaban. "Maksudku ... dia teman kuliah Kristy."
"Mengapa bisa jadi calon sepupu, Rud?" selidik si abang yang tiba-tiba saja menjadi ingin tahu.
"Mas Rud sudah ditunangkan dengan sepupu suaminya," jelas gadis ayu sedikit terbata.
Si abang memahami apa yang terjadi. Dia kemudian meraih jemari si adik dan menuntun langkahnya untuk beranjak pergi sebelum anak semata wayangnya menyadari jika sang mama hendak mengalirkan air mata.
"Di-juniol kangen Om Lud, Ma."
__ADS_1
Seketika langkah gadis ayu terhenti. Menyeret langkah si abang untuk tak melanjutkan ayunan kaki. Bening kristal yang dipaksa sekadar mengintip akhirnya justru mengalir.
"Tuhan ... kuatkan!"