Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Abang Aryan


__ADS_3

"Abang, bangun!"


"Bang!"


Jerit mengusik di tengah hening. Mas Rud terbangun dari tidur. Ia mendekati gadis ayunya yang terus memanggil abang dengan histeris. Keringat yang mengucur dari dahi tidak terbendung lagi.


"Sayang, bangun!" ucap Mas Rud seraya mengusap pelan lengan sang kekasih. Tangan sebelahnya, menyeka peluh yang terus meluruh.


"Sayang, bangun!" Mas Rud mengulang perintah pada gadis ayu.


Mata itu terbuka. Napas terengah dan lidah berucap cepat. "Abang. Mas ... bagaimana keadaan abang? Dia baik-baik saja, kan?"


Mas Rud berusaha menenangkan gadis ayu. Ia membelai surai agar bisa mendamaikan hati. "Kamu hanya mimpi, Sayang. Tenanglah. Atur napas dulu! Sebentar aku ambilkan minum."


Gadis ayu menurut nasihat Mas Rud. Ia menarik dan mengembuskan napas perlahan. Lantas ia memilih untuk duduk. Punggung ia sandarkan dan melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul tida dini hari.


"Minumlah," ucap Mas Rud seraya menyodorkan segelas air putih.


"Mas, salat yuk! Kita doakan abang," ajak gadis ayu setelah menyelesaikan dua tegukan.


"Ayo, Sayang."


Salat di sepertiga malam itu pun mereka tunaikan. Berawal wudu dan kini memasuki doa dengan khusyuk. Mas Rud memimpin permohonan dan gadis ayu meng-aamiin-kan.


"Ya Allah, dia adalah malaikat yang Engkau kirim untuk kekasih yang kucintai. Tetap tugaskan dia di sini, jangan biarkan kami berbuat sesuka hati tanpanya. Dia adalah penjaga, jadi jaga dia untuk kami, Ya Allah."


Kristal bening mengalir pada masing-masing pipi. Mas Rud dan gadis ayu terlarut dalam doa yang khusyuk. Harapan mereka hanya satu, keselamatan abang Aryan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sementara itu, keesokan hari di rumah sakit abang masih terbaring dalam keadaan mata belum terbuka. Ada perban yang membalut kepalanya.


"Mas, ayo bangun! Aku ingin melihat senyummu lagi, walaupun kamu harus bangun bukan untuk melihat senyumku. Mbak Rosa ... bukankah kamu ingin melihat senyumnya? Mas, bangun!"


"Jadi, dia lelaki yang membuatmu menolak semua lelaki yang mendekatimu, termasuk aku?" Kedatangan seorang lelaki mengagetkan Kristy yang sedang berbicara lirih pada abang.


Tanpa menoleh, Kristy membiarkan air matanya meleleh. Lelaki yang mengaku mencintainya itu, ia persilakan melihatnya menangis. Ia tidak peduli. Baginya apa yang disaksikan oleh matanya, membuat hatinya sungguh nestapa.


"Mengapa dia belum bangun, Kres?"

__ADS_1


"Tenanglah! Hasil pemeriksaannya baik, dia pasti baik-baik saja," ujar lelaki yang disapa Kres itu seraya menepuk pelan bahu Kristy.


"Mas kamu mendengarku, 'kan? Iya, 'kan? Aku tahu jika Mas tidak akan sanggup membuat Mbak Rosa menangis. Kalau seperti ini, Mas jahat."


Kristy menghakimi abang agar ia terbangun untuk membuat penyangkalan. Hatinya sangat tidak tenang. "Bang, awas aja kalau kamu membuat Mbakku terus-terusan memikirkanmu! Aku pastikan akan memarahimu habis-habisan."


Kristy berhenti mengomel. Kata-katanya tercekal oleh perasaannya yang dangkal. Ia kacau. Melihat lelaki itu terbaring, hatinya membuncah tidak terarah. Kepingan rasa berserakan.


"Aku keluar dulu." Kresna meninggalkan Kristy seorang diri. Dokter spesialis saraf yang ikut memantau keadaan abang itu memberikan waktu pada Kristy untuk berbicara berdua dengan lelaki yang diberinya hati.


"Bang, kamu itu kriteria lelaki impianku. Tetapi aku sadar jika anganku tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku tahu pasti jika hatimu hanya milik mbak Rosa. Oleh karena itu, sadarlah! Demi mbak Rosa ... aku rela."


Kristy mengusap bulir bening yang berlari tanpa kendali. Ia sungguh terlarut dalam galau. Kalbunya meracau.


Lelaki yang masih terbaring tanpa senyum yang biasanya selalu mengukir di bibir itu, Kristy pandangi tanpa henti. Ada keinginan untuk menggenggam jemari ataupun memberikan ciuman di pipi, tetapi urung ia sentuh. Rasanya tidak adil untuk melakukan semua itu. Tidak. Ia tidak ingin curang.


Adik dari gadis ayu memilih pergi. Ia tinggalkan ruang berwarna putih itu seraya berdoa semoga keajaiban segera menunjukkan kuasa. Abang sadar, itulah kabar yang harus ia dengar.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Bagaimana keadaan pasien di dalam, Dok? Apakah dia sudah bisa membuka mata? Abang tidak kenapa-napa, 'kan?" gadis ayu mencerca seraya melabuhkan air mata pada kedua pipinya, ketika dokter Kresna baru saja keluar ruangan.


Penjelasan dokter hanya sedikit meredakan rasa khawatir yang terus mendominasi hati. Ia sungguh tidak sabar menunggu abang sadar. Rupanya, rasa tidak rela ketika abang akan pulang adalah pertanda bahwa semua ini akan terjadi.


Gadis ayu mengabaikan keberadaan dokter itu. Mas Rud yang kemudian berganti menanggapi karena gadis ayu terlarut dalam kungkungan sendu.


Tiba-tiba, ia di bawa pada kenangan beberapa tahun silam saat sang suami tiba-tiba hilang kesadaran. Ia mondar-mandir menanti kabar dari dalam ruangan tindakan. Abang menemaninya dengan sabar. Kini, keadaan berbalik.


"Tidak," gadis ayu berucap lirih seirama kristal bening yang tiada henti mengalir.


Kepalanya terus menggeleng. Ia menolak situasi yang sama akan terulang. Cukup sekali ia kehilangan sandaran. Dirinya tidak akan mampu bangkit untuk kedua kali.


"Bang," ucap itu semakin kecil, mengecil, lirih, dan kemudian menghilang ditelan kesadaran.


"Sayang," Mas Rud terkejut begitu melihat sang kekasih tiba-tiba pingsan. Seketika ia mendekati tubuh lemah yang terbaring di lantai. Dokter yang baru saja akan berlalu, kembali menghampiri. Mas Rud membopong tubuh gadisnya ke ruang IGD.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Berada dalam ruangan serba putih tanpa sekat, pandangan gadis ayu fokus pada sosok yang tersenyum lekat. Lelaki itu menatapnya dengan teduh. "Kenapa adik abang?"

__ADS_1


Rasanya gadis ayu ingin berlari untuk memeluk sang lelaki, akan tetapi kakinya terasa berat sekali. Ia terus berusaha tetapi tidak bisa. "Abang, jangan berdiri jauh-jauh! Aku ingin memelukmu."


Pipi yang kenyal itu seketika diguyur oleh cairan kesedihan. Air mata yang seharusnya diseka, mengular tanpa jeda. "Abang, mau ke mana? Mengapa kamu berbalik arah? Abang!"


Gadis ayu terus memanggil dengan tangan yang melambai. Namun, lelaki itu melempar senyum dan berlalu. Berjalan menjauh, jauh dan kemudian hilang di balik kabut.


"Abang! Bang, kembali! Jangan main-main,Bang! Aku sedang menagih janjimu. Mana yang kamu bilang akan terus berada di sisiku? Kamu bohong, Bang. Abang!"


Seruan itu terus menggema tanpa ada jawabnya. Sosok yang dipanggil tidak kunjung kembali. Yang ada justru perubahan warna. Putih yang menyelimuti, perlahan berganti hitam yang menutup pandangan. Gadis ayu memutar badan. "Bang ... abang!"


Kesadaran gadis ayu menghilang. Ini seperti deja vu. Pingsan di dalam ketidaksadaran. Sesuatu yang sulit dilogika pikir tetapi ternyata benar terjadi. Itulah yang dialami sang gadis.


Sekian waktu terjerat dalam pusaran ruang alam bawah sadar, perlahan kelopak itu tersibak. Pekat hitam sudah menghilang. Putih kembali mewarnai. Bukan abang yang hadir pada pandangan, akan tetapi Kristy.


Gadis ayu memutar pandang. Di sisi lain ia temukan Mas Rud yang nampak lega memulas senyum. Namun, ia seperti linglung. Hatinya bingung. Banyak tanya menggantung. "Aku?"


🍁🍁🍁


Hari ini, Mas Rud asli sedang berulang tahun ke ....


Doa terbaik untukmu, Mas.😁


Kado buatmu 🎁 Emang Mas Rud baca novel ini?πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Anggap aja baca ya, biar kita semua ditraktir😁😁




Anggap aja itu Mas Rud yang asli. Sama cakepnya kok. Bedanya JCW cakep ala oppa, yang asli cakep ala Mas Lokal. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


JCW ketahuan putih, tinggi, jago bela diri dan bisa nyanyi. Miriplah sama Mas Rud asli. Dia juga tinggi 176 cm, kulitnya bersih, matanya teduh, jago bela diri, pinter ngaji dan yang pasti dia adalah orang literasi juga.


Pernah ada yang tanya di komen, apakah Depe guru Bahasa Indonesia? Jawabannya bukan. Yang benar, justru Mas Rud aslilah yang berkecimpung dalam bidang itu. Kami sama-sama orang yang menyukai sastra.πŸ₯°


Nah kenapa jadi bahas dia? πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Udah ah, ini kan bab sedih, kenapa jadi bongkar biodata, sih?🀭

__ADS_1


__ADS_2