
Bab. 16 : Sentuhan Pertama
"Bunga yang cantik untuk kekasih yang lebih cantik," rayuku seraya memberikan buket bunga yang kubawa.
"Boleh aku jual lagi?" celetuknya yang membuyarkan keromantisan yang sudah aku bangun dengan sempurna.
"Jualah, asal hatimu kau pasrahkan untukku," timpalku dengan senyum smirk membalas tingkah konyol gadisku yang cantik.
"Kamu merayuku, Mas?" tanya gadis itu seraya menerima bunga dan segera memutar langkah. Kembali masuk ke rumahnya untuk beberapa saat.
Gadis yang berbeda. Biasanya aku digombalin, sekarang gombalanku malah dia cuekin. Sepertinya dia harus tahu jika gombalanku itu mahal. Agar dia merasa beruntung telah mendapatkan rayuan dari kekasih sepertiku. Lelaki tampan buruan para gadis ayu di luaran sana. Jual mahalah sesukamu, maka jangan salahkan jika aku akan semauku juga.
"Bukankah merayu kekasih sendiri itu hukumnya wajib?" selorohku sambil menggandeng tangan dan membawanya menuju mobil yang terparkir.
Tak ada penolakan. Justru jemari ia tautkan. Mulut berkata tidak tetapi gerak tak bisa menolak. Aku tersenyum. Dia selalu membuatku berbunga dengan caranya. Tidak selalu manja seperti gadis lainnya. Cenderung ketus tapi ketika manis begini rasanya semakin menggemaskan. Ingin mencubit, menggigit dan memberinya kenangan yang legit.
"Mas," panggilnya seraya melihat ke arahku.
Kutolehkan kepala dan menjawab sapaannya dengan sebuah senyuman. "Kita akan berangkat dan pulang kantor bersama setiap hari."
"Pasti ada syaratnya," tebaknya dengan nada tak percaya.
Kutunjuk pipiku sebelah kiri. Dan dia melengos. Aku sudah menebak dengan reaksi apa yang dia berikan atas aksi yang aku lakukan. Dan yang pasti aku sudah punya banyak cara untuk mendapatkan sentuhan di sudut sebelah itu.
"Cinta bersyarat itu tak ada dalam kamus kekasihmu ini, Sayang. Yang ada hanya cinta yang haus kasih sayang."
Mata indah itu seketika melirik tajam. Membuatku diterpa oleh kegemasan yang tak tertahan untuk diberikan sentuhan. Tanpa aba-aba segera kuraih jemarinya. Membawa kebibirku dan mencium bagian punggung tangannya. Ia tak bereaksi negatif untuk perlakuan manisku. Dalam diamnya, ada pipi yang merona merah. Dia tersipu. Bukankah itu semakin menggemaskan?
Laju mobil yang sengaja untuk kubuat lebih pelan, membuat perjalanan ke kantor yang tak seberapa jauh harus menambah waktu tempuh. Namun itu tak mengapa karena aku bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama. Walaupun nanti di kantor kami masih bertemu tetapi bila tidak hanya berdua maka akan beda rasanya.
__ADS_1
Selama detik berlalu, ada saja bahan yang bisa kami jadikan obrolan. Aku yang selalu menggoda dan dia yang tak bisa menyembunyikan bahagia. Gadis ketusku tak berkutik dengan trik yang membuatnya klik. Dia terjatuh dalam cinta yang sengaja kubuat indah untuknya.
"May, kayaknya ada yang jadian, nih," sindir Rendra ketika kebetulan kami keluar dari mobil bersamaan.
"Iyalah jadian, emang kalian? Awas May, jangan mau jadi korban PHP!" ejekku balik untuk sahabat tukang gombal, Rendra.
Maya mendekati Rosa dan merangkul dengan riang. "Selamat, ya! Aku iri, deh."
Maya melirik Rendra saat kata iri itu ia ucapkan dengan sedikit penekanan. Yang disindir tetap santai. Entahlah bagaimana pikiran sahabatku satu itu. Susah sekali menentukan pilihan hati. Berbanding denganku yang sangat cepat dan tepat dalam memilih cinta. Sepertinya mata batinku memang lebih tajam. Bisa mendeteksi jodoh dari jarak jauh. Bahkan sepertinya hatiku sudah tersetting untuk menerima cinta hanya darinya saja.
"Kode keras, tuh!"
Aku semangat menyindir, Rendra hanya nyengir. "Anak orang jangan di PHPin terus, diserobot yang lain nanti nangis-nangis."
"Maya tuh udah distempel sebagai milik Rendra. Iya kan, Sayang?" ujar Rendra seraya meraih jemari Maya dan segera menggandengnya untuk bergegas meninggalkan parkiran.
Rosa hanya bergeming melihat tingkah pasangan yang sudah saling mencinta tapi berstatus mengambang itu. Teman tapi mesra. Kalau pacaran tak ada kata jadian. Ya sudahlah memang mereka adalah dua orang dengan keanehan perasaan. Mendapati matanya yang masih mengikuti langkah mereka berdua, segera kugenggam jemarinya.
"Kamu salah, Mas."
"Hm?" gumamku menelisik kalimatnya.
Rosa mengeratkan tautan tangannya. "Aku ingin tetap menjadi Rosa yang dicintai Mas Rud dengan gila."
Ademnya hati mendapatkan sebuah pengakuan. Mungkin bisa juga disebut sebagai rayuan yang memabukkan. Aku bahagia, sangat bahagia. Sesuai dengan doa yang selalu kupanjatkan, dia ternyata juga menyimpan perasaan yang sama seperti yang kurasakan. Sungguh sebuah kalimat indah yang membuat senyumku semakin merekah.
Menelusuri jalan dengan penuh kebahagiaan. Tangan yang saling menggenggam semakin meyakinkan jika pilihanku untuk terus bertahan adalah sebuah kebenaran. Dia adalah milikku. "Kau kekasihku."
🍱🍱🍱🍱🍱
__ADS_1
Berdua, adalah kata yang paling ingin selalu aku wujudkan menjadi nyata. Berangkat ke kantor bersama rasanya masih belum cukup untuk menghapus kerinduan karena berpisah semalaman. Ingin selalu dekat, mendekat dan semakin mendekap.
"Mas, jangan dekat-dekat! Kalau ada yang lihat kan gak enak," ucapnya saat aku memangkas jarak duduk kami.
Menghiraukan pintanya, justru semakin kudekatkan wajahku pada pipinya yang menggemaskan. Secepat kilat segera kucuri ciuman pertama dari sisi kanan belah pipi kanannya. Seolah tak merasa bersalah, segera ku gamit pinggang dan membawanya dalam pelukanku. "Gak akan ada yang masuk ruangan ini tanpa mengetuk, kecuali Rendra yang terkutuk."
"Mas, jangan gitu, ah. Ini kantor, jaga imaje!"
"Mana mungkin aku bisa jaim kalau ada kamu?"
Perlahan dia memutar tubuhnya dan kami saling berhadapan. Menampakkan mimik yang gemas dengan kelakuanku yang tak tahu tempat. Mengikis jarak dan membuat pipiku mendapatkan sentuhan pembalasan. Sebuah kecupan yang akhirnya membuatku melepaskan gamitan. Dia tersenyum seraya menyentilkan jemarinya pada hidungku yang mancung maksimal.
"Bermesraanlah pada tempatnya, Mas!"
"Bawa aku ke sana! Biar aku puas untuk melepaskan hasrat," jawabku sambil tersenyum smirk.
Sebuah pukulan sayang ia layangkan pada pahaku. "Bukan begitu juga maksudku, Mas. Kalau mau yang puas, halalin dulu!"
"Sekarang? Ayo!" ucapku tanpa menyelipkan sedikit pun keraguan.
Lagi-lagi pahaku dipukulnya. Lebih keras tetapi bagiku ini seperti sebuah ciuman buas. Menjadi candu yang ingin kukecap selalu. Apapun yang berasal darinya adalah cinta.
"Makan, Sayang! Kamu kalau lapar ngelanturnya gak ketulungan," tuturnya seraya menyuapiku dengan paru balado buatanku.
"Kamu juga makan, Sayang!" pintaku dengan menggigit setengah paru itu. Sementara setengahnya kubiarkan menggoda di luar bibirku.
Kuisyaratkan dengan mata agar dia menggigit sebelahnya. Awalnya menolak. Namun akhirnya tanpa ragu mulai mendekat. Menatapku lekat. Semakin lekat dan sisi lain makanan itu pun sudah berada dalam gigitan giginya. Menyisakan semakin sedikit, sedikit dan tinggal satu inci bibir kami saling membatasi diri. Pandangan terus meminta untuk kisah ini dituntaskan, sebuah sentuhan pada benda terlarang.
Matanya seketika ia pejamkan. Kepala kumiringkan. Kesempatan. Setitik lagi kecupan itu menautkan diri. Dada berdetak tak karuan.Benda kenyal itu sudah memenuhi pikirku dan sebentar lagi akan menyatu dalam kelembutan yang syahdu.
__ADS_1
"Rud ma ...," ucapan Rendra terhenti seketika saat ia menyadari jika telah datang pada waktu yang salah.
Kami sama-sama menarik diri. Merasa canggung dan sebelum menjadi bingung, Rendra sudah kembali berkata dalam perjalanannya melangkah keluar ruangan. Sebuah senyum smirk ia gantungkan di ujung bibirnya. "Makanlah duluan, aku pergi sekarang!"