
Dua lelaki tampan hanya bergeming. Menyadari jika amarah wanita lebih seram daripada harus berhadapan dengan sekompi pasukan yang siap perang, menjadikan mereka memilih untuk diam.
"Tugas kalian mengatasi dua putri mama yang sedang merajuk!"
Mas Rud dan abang saling berpandangan. Sementara Mama memilih untuk berlalu dari hadapan.
"Kita salah apa?" tanya Mas Rud seraya meneguk air putih dari gelas yang ada di hadapan. Milik gadis ayunya yang masih tersisa.
"Cinta tak pernah salah," timpal abang dengan santai.
Mas Rud menyandarkan punggung. Ia silangkan tangan di depan dadanya. "Kita yang salah tidak memperjuangkan cinta hingga akhir nyawa."
"Perjuangan kita berbeda," timpal abang dengan kalimat ambigu.
"Sama pun tak masalah. Karena cinta tahu siapa pasangannya. Kita bisa bersaing sehat," ungkap Mas Rud dengan sangat bijaksana.
Si abang menanggapi dengan tak kalah elegan. "Kebahagiaan Rosa adalah segalanya."
Mas Rud terlebih dahulu meluruskan kaki. Berdiri sejenak untuk kemudian segera beranjak. Menatap si abang tanpa merasa sebagai seorang saingan. Lelaki yang memiliki cinta yang sama terhadap gadis ayu itu, saling memaku.
"Kapan kita akan membujuk mereka?"
"Malam ini biarkan mereka menata hati. Aku mau pulang sekarang. Mau nebeng, nggak?" tawar si abang dengan penuh ketulusan.
Mas Rud memberikan persetujuan. Anggukan disertai senyuman menjadi jawaban yang menyejukkan. Dua lelaki itu menunjukkan bahwa mencintai bukan berarti saling menaruh benci.
🍒🍒🍒
Mobil gadis ayu dibawa melaju oleh dua lelaki yang tadi bertamu. Si abang duduk di balik kemudi sementara Mas rud berada di bangku depan sebelah kiri.
"Masih tinggal di apartemen Rendra?" Mas Rud membuka percakapan.
"Apartemen Rendra sudah dijual."
"Dion?" Mas Rud menanyakan apartemen milik suami gadis ayu.
"Sebenarnya, Rosa ingin tinggal di sana. Tapi kami tidak mengizinkan. Dia tipe orang yang tak mudah melupakan kenangan dan itu tidaklah baik jika harus kembali menempati apartemen yang akan selalu membuatnya teringat akan suaminya."
Mas Rud terdiam. Kalimat abang sedikit mengusik rasa sakit yang dulu pernah ia ciptakam sendiri. Melukai gadis ayu, bukan berupa sedikit goresan akan tetapi sayatan yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
"Aryan, terima kasih."
Si abang mengerti apa maksud Mas Rud mengucapkan kalimat itu. Akan tetapi ia tak pernah menanggapi segala bentuk terima kasih jika itu berkaitan dengan gadis ayu. Baginya, ketulusan rasa untuk menjaga adiknya adalah tanpa harga.
"Simpan terima kasihmu."
Hening tercipta sesaat lamanya. Si abang fokus menyetir sedangkan Mas Rud mencoba menahan rasa getir. Ada kalimat yang tak sengaja menyentil hingga hati harus kembali ia bebaskan dari secuwil rasa yang menyempil.
"Sebelum berterima kasih padamu, aku seharusnya berterima kasih pada Dion. Dialah yang menghapus luka yang kubuat."
Mas Rud menjeda kalimatnya, "Kalian berdua adalah malaikat penjaga Rosa. Dan aku adalah iblis yang menyesatkan perasaannya."
Kalimat Mas Rud terdengar pilu. Tawa yang selalu ia tampakkan di hadapan gadis ayu, rupanya menyimpan selubung rasa yang membelenggu. Kesalahan masa lalu yang menyiksa kalbu, tumpah di hadapan lelaki yang seharusnya tak boleh mengetahui.
"Nyatanya, iblis tak selalu dibenci," timpal si abang dengan nada datar.
"Malah dicintai begitu dalam. Hingga malaikat pun tak terlihat. Begitulah cinta. Berjuanglah keras untuk menggoda hatinya sampai ia bisa yakin jika iblisnya adalah adalah jerat yang tak mungkin ia tolak. Biarkan malaikat ini tetap pada tugasnya, tak perlu kamu risau."
Mas Rud menoleh pada lelaki yang baru saja berbicara panjang lebar. Ia lemparkan senyum tipis dan kemudian memutar kembali wajahnya yang selalu nampak manis. Menatap jauh ke depan, lengangnya jalan dalam kegelapan.
"Malaikat dan iblis selalu berseteru. Aku cemburu," aku Mas Rud tanpa ragu.
Kecemburuan yang indah. Bukan saling adu otot tetapi bicara tanpa ada kata yang nyolot. Rivalitas yang cerdas.
Mas Rud kembali melekatkan tatap pada lelaki di sisi kanannya. Sejenak tanpa mengedipkan mata, hatinya menilai sebuah rasa yang tinggi. Cinta luar biasa yang menjelma dari seorang pria untuk seorang wanita yang teramat dicintainya.
"Kita sama-sama saling mencintai dan menaruh cemburu. Apakah kamu juga menginginkan dia sama sepertiku?" selidik Mas Rud.
Si abang meluruskan pandang pada lelaki pemilik cinta pertama sang adik. "Yakin kamu ingin tahu?"
"Tidak. Aku sudah dapat menebak."
"Hanya aku yang tahu hatiku," timpal si abang mematahkan pemikiran Mas Rud.
Mas Rud membalas senyuman atas jawab yang diucap abang. Sebagai sesama lelaki, ia mengerti bagaimana hati ketika mencintai. Meskipun berbeda cara tetapi tujuannya pasti sama. Bahagia. Hanya saja puncak kebahagiaan itu untuk siapa, dia masih menerka.
Mereka kembali terdiam. Pemikiran sedang diselaraskan dengan perasaan. Dua pencinta yang sedang berjalan bersama, entah siapa yang akan sampai pada titik akhir perjalanannya.
"Rumahku yang pagar putih," jelas Mas Rud ketika mobil mereka mendekati rumahnya.
__ADS_1
Abang menepikan mobilnya. Berhenti tepat di depan gerbang yang Mas Rud sebutkan. Hingga dibatas perpisahan, masih tak ada juga yang berbicara.
"Terima kasih, Aryan."
🍁🍁🍁🍁🍁
Mas Rud terpaku di depan pintu rumah. Bertahun-tahun ia tinggalkan, rasanya ada segan yang membuatnya enggan untuk membuat sebuah panggilan. Sang Bunda sudah kembali menempati kediaman mereka setelah sempat tinggal bersama sang kakak.
Kenangan manis yang dibungkus kepahitan, membuat perasaannya membuncah tanpa arah. Kepingan masa lalu membuat ragu untuk masuk. Namun, langkah yang sudah ia mulai tak akan mungkin membuatnya mundur kembali. Tak ada kata menyerah untuk kedua kali.
Sebuah ketukan akhirnya ia buat setelah hati dan pikirannya sempat berdebat. Dalam penantian hingga ada yang membukakan, khayalnya melayang. Apa yang akan dia katakan, itulah yang sedang ia carikan jawaban.
Bunda ....
Mas Rud ingin banyak berkata, tetapi kalimat terhenti pada sapaan tanpa kelanjutan. Belum bertemu, bibirnya sudah kelu. Bagaimana jika wanita yang melahirkannya sudah benar-benar ada di depan mata?
Sekian waktu berlalu, akhirnya terdengarlah upaya membuka pintu. Detik yang seharusnya tak terlalu lama rasanya seolah sedang bermain drama. Dalam gerakan slow motion, waktu seperti sedang mempermainkan rasa kangen. Rindu yang sedang menjebak Mas Rud, membuatnya hatinya semakin kalut.
Perlahan pintu itu terbuka. Seorang wanita setengah baya dengan jilbab hitamnya berdiri dengan rasa tak percaya. Sorot matanya memperlihatkan jika sedang disergap keterkejutan.
Bibirnya bergetar, "Rud."
Lelaki yang dipanggilnya segera menghambur dalam pelukan. Keduanya tenggelam dalam rasa yang susah dijelaskan. Kebahagiaan lantaran pertemuan yang sama sekali tak terpikirkan akan terjadi secepat ini.
"Kamu pulang, Nak?" Sang Bunda masih belum sepenuhnya percaya jika yang ada dalam pelukannya adalah putra bungsu yang telah pergi membawa luka cinta.
"Bunda," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Mas Rud. Tak ada kata lain yang sanggup disebut. Rindu yang meletup-letup memberangus semua yang ingin dikatakannya sebagai wujud cinta. Sirna.
"Ayo masuk, Nak!"
Langkah Mas Rud perlahan meninggalkan pintu dan terus melaju. Melewati lantai pertama tanpa berhenti, kemudian menaiki tangga dan di depannya kini terpampang pintu kamar. Dengan menepis keraguan, handle pintu itu ia putar.
Manik hitam menyapu seluruh ruangan. Sebuah foto besar yang tergantung di dinding kamar, membuat sorot matanya berbinar.
Gadis ayu.
Pandangannya berhenti. Hatinya diingatkan lagi pada cinta berbingkai lara. Kisah pilu yang ingin ia lebur dan ia buatkan sejarah baru.
"Apakah kamu pulang untuknya, Nak?"
__ADS_1