Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Menutup Rasa


__ADS_3

Perasaan yang kembali dipermainkan, akhirnya menjatuhkan sebuah keputusan. Melemparkan cinta yang pernah ada di dasar jurang agar tak lagi bisa kembali merangkak ke daratan. Pertemuan kali ini sudah membuktikan jika rasa masih terselip tetapi waktu telah mengubah segalanya menjadi sulit.


Tak boleh terbawa suasana. Karena sesungguhnya detik yang berganti telah membawa rasa itu pergi. Menyingkir dari satu nama dan menemui hati baru dengan segala cerita cinta yang akan lebih bahagia.


"Ma ... kenapa menangis?" lelaki kecil itu bangun dan mengusap air mata yang mengalir di pipi sang gadis ayu.


"Mama tidak menangis," tutur gadis ayu dengan menampakkan senyum lebarnya secara terpaksa. Menutupi kesedihan yang tak ingin ia perlihatkan kepada sang putra kesayangan.


Bocah kecil yang lucu itu melekatkan penglihatan pada ukiran senyum itu. Sebentar kemudian ikut melebarkan senyum juga. "Ma ... senyum mama kayak punya Om Lud."


Seketika darah berdesir. Kalimat Di-juniornya seperti luka yang tak sengaja mengiris tetapi terasa perih. Tak seberapa menganga tetapi membuka luka. Ada getir yang tak bisa menyingkir. Datang tanpa sengaja diundang.


"Senyum mama seperti senyummu, Nak."


"No ... no ... no ...."


Bocah kecil itu semakin nampak menggemaskan. Bergaya memakai bahasa inggris segala. Raut muka dan gerakan tangan yang ia tunjukkan bersamaan, rasanya ingin mengganggunya saja. Menggelitik hingga suara tawanya mengusik ketenangan yang meraja.


"Lalu, senyummu seperti siapa?" selidik gadis ayu dengan senyum manisnya.


"Seperti papa Dion Wijaya, Ma."


Ada gelenyar aneh saat nama itu disebutkan. Kerinduan yang memantik kristal bening akan menggelinding. Menyusuri jalan yang menurun dan berakhir di pipi. Berusaha ditahan tetapi tetap tak bisa bertahan dalam ketegaran.


"Mama kangen sama Papa?" bocah kecil itu kembali mengusap air mata sang mama dengan jemari mungilnya.


Gadis ayu itu memeluk lelaki kecilnya. Mendekap dengan erat. Merasakan kalimat bocah itu tak ubahnya seperti papanya. Penuh perhatian dan bahkan sangat perhatian. Tak salah, jika gadis ayu merasa jika Di-junior adalah reinkarnasi sang suami.


"Papa hanya butuh doa kita Ma bukan air mata."


Kristal bening sang gadis meluruh semakin keruh. Bocah lucunya berkata lebih dari usianya. Ini bukan anaknya melainkan suaminya yang berbicara. Naluri seorang istri terlalu peka jika tak bisa menyadari itu semua.

__ADS_1


"Ayo, Ma! Kita berdoa untuk papa," ajak Di-junior dengan senyum tulusnya.


Bocah kecil itu membimbing tangan sang mama untuk menangkup seperti ketika sedang berdoa. Dia pun kemudian melakukan hal yang sama. Mata kemudian ia tundukkan. Mengambil napas untuk kemudian larut dalam kekhusyu'an.


"Ya Allah, mama kangen papa. Ganti lindunya dengan pahala, Ya Allah. Pahala yang membuat papa bisa bahagia di sana. Ganti juga kelinduan mama dengan tawa, Ya Allah. Ada Di-juniol di sini yang akan menggantikan papa untuk membuat mama bahagia."


Sungguh ... yang dihadapan gadis ayu itu bukan seorang anak berusia dua tahunan, akan tetapi lelaki dewasa yang terperangkap dalam raga bocah kecil yang pintar.


"Di-juniol, gak mau lihat Mama sedih. Kata uncle Alyan, kalau Mama sedih nanti papa juga akan sedih. Makanya Mama harus bahagia," celoteh bocah kecil itu dengan polosnya.


Gadis ayu semakin tak bisa membendung rasa haru. Jelmaan suaminya itu semakin ia peluk dengan lembut. Dalam penglihatan gadis ayu dia bukan memeluk tetapi sedang dipeluk oleh kekasih halalnya.


"Mama ... bisa bawa Di-juniol bertemu Om Lud gak? Semalam kami belum banyak belcelita," celetuk polos bocah cilik itu.


"Mama gak bisa, Nak."


"Kalau uncle Alyan, bisa Ma?" selidik Di-junior lagi.


Saat gadis ayu kebingungan memilih kalimat untuk mengutarakan jawaban, suara ketukan menjeda obrolan. Terdengar abang sedang meminta izin untuk masuk kamar. Seketika gadis ayu membuka pintu. Ada bahagia yang terpancar karena Tuhan telah mengirimkan malaikat penyelamat.


"Mengapa wajahmu seperti itu?" selidik abang ketika mendapati wajah sembab sang adik.


Belum sempat menjawab, uluran tangan si abang sudah mengacak puncak kepala adik tersayangnya. Mengulas senyum termanis seperti biasanya. Meninggalkan sang gadis untuk menyapa keponakan tercintanya.


"Hai, kembaran uncle."


Di-junior yang menamakan dirinya Satya ketika bersama uncle-nya itu, segera menghambur ke pelukan sang paman. Terbawa dalam keasyikan obrolan sehingga lupa dengan pertanyaan yang tadi ia tanyakan. Kesempatan ini, gadis ayu manfaatkan untuk membersihkan diri.


🛀🛀🛀🛀🛀


Meninggalkan putra dengan si abang, gadis ayu tak pernah merasa khawatir. Lelaki itu bisa momong dengan mahir. Entah belajar dari mana, tiba-tiba saja bisa dengan sendirinya. Sepertinya semua ilmu itu sudah tersimpan rapi di otak sang lelaki hanya tinggal membuka-buka memorinya saja.

__ADS_1


Gadis ayu menenggelamkan diri di bathtub. Menggulung tubuh di pusaran air hangat. Meregangkan otot-otot yang tegang karena pagi-pagi sudah dihadang berbagai pertanyaan yang membuatnya sukar untuk menjawab.


Apakah aku yang salah karena sengaja menemuinya di sini? Bukankah aku tahu jika dia pasti ada, tetapi tetap nekat juga. Menjemput lara yang akan bangkit ketika kami dipertemukan kembali setelah menahan rasa sakit.


Gadis ayu memejamkan mata. Gambaran pertemuan mereka terngiang jelas dalam ingatannya. Bagaimana kecanggungan yang sama saat bertemu di lelang amal itu masih bisa dirasakannya. Hanya saja, sekarang ia lebih bisa menguasai perasaannya.


"Dia sudah bahagia," yakin gadis ayu pada dirinya sendiri.


Pikiran yang sempat gamang, coba untuk ia damaikan. Perasaan hanyalah cerita usang yang akan lekang digilas zaman. Masa muda dan kisah cinta adalah bagian hidup yang akan menjadi sejarah. Cukup untuk dikenang dan tidak akan bisa dikembalikan.


Tidak jodoh itu memang sakit. Akan tetapi saat ia sudah mendapatkan pengganti, maka yang lama akan tertindih dan perih menjadi tiada berarti. Menatap masa depan, itulah yang harus dilakukan sekarang.


Helaan napas ia ulurkan sepanjang yang ia mampu lakukan. Melepaskan bayang masa lalu agar tidak membelenggu. Bersiap menyongsong masa depan yang terpisah dari kenangan suram.


Gadis ayu menyudahi acara berendam. Jika ia tetap memilih tenggelam maka kapan ia akan bisa lepas dari rasa yang sudah tidak pantas. Baginya, ia akan menjaga rasa untuk seorang Dion Wijaya. Bagi mantan yang tadi ia lihat, dia harus melanjutkan hidup dengan cinta yang tak akan membuatnya kalut.


Shower yang memancarkan air hangat, menjadi pembilas atas kenangan bathtub yang baru saja ia tinggalkan. Hatinya tak cukup jika hanya memilih pergi. Harus meluruhkan agar ia benar-benar bebas dan akan bisa melangkah tanpa beban.


🍂🍂🍂🍂🍂


Pintu kamar mandi yang terbuka, membawa langkahnya kembali ke ruangan yang tadi ditinggali dua lelaki yang menemaninya hingga berada di sini. Sayangnya, mereka tak dapat ditemukan pandang.


Secarik kertas kecil berwarna biru, tergeletak di nakas dengan pulpen berada di sampingnya. Benda itu menggoda untuk dibaca. Ada sesuatu yang menggerakkan gadis ayu untuk mengayun langkah mendekati tempat itu.


Mama, Di-junior mencari Om Lud sama uncle Alyan.


Raut gadis ayu seketika semrawut. "Ya Tuhan ... apa lagi rencanaMu?"


🍒🍒🍒🍒🍒


Jangan lupa mampir di karya Trio Somplak n The Gank, ya!

__ADS_1


Sudah tau kan caranya? Ketikkan namanya diberanda pencarian, maka akan keluar semua karyanya. Silakan dipilih dan selamat membaca!


__ADS_2