Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Sayang yang Ambigu


__ADS_3

Mas Rud mengusap lembut punggung milik putra sang gadis ayu. Ada gejolak rasa luar biasa yang sedang merebak di hatinya. Bocah kecil membuatnya bergeming. Ada ikatan batin yang terjalin tanpa mereka sadari.


"Sayang, Om mau pulang dulu," balas Mas Rud setelah sekian waktu membisu.


"Tidak, Papa harus di sini!" timpal Di-junior dengan mengeratkan pelukan.


"Papa?" Mas Rud mengulang panggilan putra kecilnya.


Perlahan, Di-junior melepas pelukan dari lelaki yang ia panggil papa. Netra bulat itu berkaca-kaca. "Maukah Om Rud kupanggil Papa?"


Bulir bening kembali mengalir di pipi. Mas Rud menyeka air mata. Bukan miliknya, tetapi kristal haru itu punya putra kandung sang gadis ayu. Ia justru membiarkan wajahnya dibanjiri oleh bulir bahagia.


"Panggil Om dengan sebutan papa, Sayang! Lakukan apapun yang bisa membuatmu tertawa. Om tidak akan bisa melihatmu bersedih."


Jemari kecil itu mengulur pada wajah Mas Rud. Linangan deras itu diseka Di-junior hingga tiada berbekas. "PaRud ... bolehkah Di-junior memanggil begitu?"


"Boleh, Sayang." Mas Rud melihat benda yang melingkar di pergelangan tangan. "Ini sudah malam, bobok lagi, yuk!"


Di-junior menggeleng. Lelaki kecil menolak permintaan.


"PaRud akan menemanimu bobok, Sayang." rayu Mas Rud lembut.


Kepala milik putra gadis ayu mengulang gerakan. Ia bergeming.


Mas Rud membelai surai tebal milik Di-junior. "PaRud tidak akan pergi walaupun kamu sudah bobok, Sayang. Ayo, PaRud gendong ke kamar!"


Bujukan Mas Rud kembali mental. Putra tersayang tetap memberikan penolakan. Entah mengapa dia menjadi sangat manja. Padahal selama ini ia adalah anak kecil yang sangat mandiri.


"Di-junior lapar, Pa." Pengakuan Di-junior menyemai tawa. Haru yang sempat membelenggu terkelupas oleh rasa lapar yang lucu.


Mas Rud mencubit hidung mancung sang putra. "Kenapa nggak bilang? Mau makan apa, Sayang?"


"Di-junior mau makan hasil masakan Papa dan Mama," ucap polos Di-junior.

__ADS_1


Penyebutan kata mama, seketika membuka ingatan Mas Rud pada wanita yang ia cintai. Semenjak ia berpamitan, sang gadis tidak kelihatan. Ke mana dia?


Mama yang masih berdiri di depan pintu kamar putri sulung, perlahan berjalan mendekati dua lelaki yang mendaulatkan diri dalam ikatan keluarga. Beliau ingin memberikan jalan tengah bagi masalah yang datang. Keinginan sang cucu sepertinya mempersulit Mas Rud.


"Sayang, yangti tadi masak spesial. Ayo, cobain masakan yangti!"


"Tidak, Yangti. Malam ini Di-junior mau masakan yang dibuat Papa dan mama. Kalau nggak, Di-junior nggal mau makan," ucap bocah yang biasanya lucu itu menampakkan ekspresi cemberut.


"Tapi ... mama sedang pergi, Sayang," jelas yangti yang sepertinya menyadari jika sang putri belum kembali karena keberadaan mobilnya tidak berada di tempat parkir.


"Pa, cari mama!" rengek Di-junior.


"Rosa pergi, Ma?" telisik Mas Rud yang sama sekali tidak mengetahui jika gadisnya pergi.


Mas Rud segera mengecek gawai yang ia mood silent. Ia terkejut ketika ada banyak panggilan yang berasal dari sang bunda. Seketika ia kembali menghubungi dan mendapatkan sebuah fakta.


"Ma, Rud pamit pulang dulu! Rosa ada di rumah. Bolehlah Di-junior Rud ajak?" pinta Mas Rud begitu teleponnya ditutup.


"Kalian pergilah berdua, nanti kembalilah bertiga. Mama menunggu kabar baik."


🍁🍁🍁


Pesawat cinta yang terbang di kediaman papa Najendra belum juga menunjukkan akan landing dengan sempurna. Kendaraan yang melaju di udara itu masih berputar-putar menunggu persetujuan ATC yang kali ini dipegang kendali oleh Kristy. Namun, penumpang tidak sabaran yang diwakili oleh kepala keluarga segera mengambil tindakan.


"Kris, kalau kamu menolak, papa sudah siap melamar mama untuk menjadi istri tercinta. Kita akan tetap menjadi keluarga di kartu keluarga meskipun kalian tidak mencatatkan diri di KUA," goda papa seraya mengambil sesuatu dari dalam saku celana.


"Coba lihat!" Papa menunjukkan sebuah cincin bertahtakan berlian.


Abang melangkah. Ia masuk kamar dan dalam beberapa detik kemudian sudah kembali di hadapan wanita yang ia lamar. Cincin yang masih sang papa pamerkan, abang dorong menjauh. Ia kemudian membuka kotak bening yang baru saja ia ambil.


"Papa kalah start. Walaupun aku membeli cincin ini bukan untukmu, akan tetapi aku yakin menjadikan ini sebagai milikmu. Bolehkah aku memasangkan di jemarimu?"


Papa tersenyum. Ia merasa menang. Targetnya masuk jebakan. Tanpa menunggu waktu, ia melangkah mundur. Dua sejoli itu ia biarkan mengungkapkan perasaan tanpa paksaan.

__ADS_1


Kristy yang benar-benar tidak menyangka akan menerima surprise indah, hanya menatap tanpa bisa berucap. Bahkan ketika cincin itu tersemat, kalimatnya masih tercekat. Hanya air mata yang menjadi pengganti kata. Ia bahagia.


Abang mengusap bulir bening yang mengalir di pipi Kristy. "Aku akan memberikan rasa sempurnaku walaupun itu belum langsung utuh. Berikan aku waktu untuk benar-benar bisa menjadikanmu sebagai wanitaku satu-satunya. Tidak lama, ya ... aku janji itu tidak akan membuang waktumu mencintaiku dengan sia-sia."


Kristy semakin jatuh pada lubang haru. Bahkan ketika abang membawanya dalam pelukan, ia hanya bisa diam. Namun, gestur itu jujur. Tubuh yang Kristy biarkan direngkuh, menjadi pengganti untuk kata setuju.


"Aku akan mencintaimu, terus mencintaimu, dan kita akan saling mencintai sampai tua nanti." Abang mencium puncak kepala wanita yang baru saja ia jadikan tunangan.


"Terima kasih, Mas. Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu, dan akan selamanya merangkai cinta hingga menua berdua." Kristy mengeratkan pelukannya.


🍁🍁🍁


Gadis ayu yang terburu-buru meninggalkan rumah, harus menghentikan langkah ketika tidak sengaja menabrak ujung meja. Ia mengaduh. Namun, rasa perih ia abaikan, demi untuk mencari sang kekasih.


"Aduh," pekik gadis ayu seraya terus menyeret kaki.


Jejak langkah hampir mencapai pintu. Tangan sudah mengulur, akan tetapi yang terdengar justru suara mengaduh. Itu adalah milik gadis ayu. Kali kedua ia mendera luka. Kali ini bukan pada lutut, melainkan dahinya yang terantuk. Ia mengusap sambil berucap, "Rosa, sabar! Banyak rintangan menuju tujuan. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan Mas Rud untuk mendapatkanmu."


"Mama ...!" seru Di-junior seraya menghambur dalam pelukan gadis ayu yang masih sibuk membatin.


"Sayang!" seru balik gadis ayu tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Mama ... lapar!" Di-junior langsung lapor.


"Maafkan, Mama Sayang!" Gadis ayu merasa bersalah. Menomorsatukan perasaan hingga ia melupakan sang putra tunggal. Ia kemudian menggendong Di-junior.


Sepasang ibu dan anak itu mulai melewati pintu. "Mau makan apa, Sayang? Ayo, kita kulineran!"


Mas Rud yang sedikit tersisih, tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan dengan tersenyum manis. "Sudah berubah pikiran, Sayang?"


Panggilan mesra itu entah ditujukan pada siapa. Maksud dari kalimat itu juga ambigu. Apakah membuat gadis ayu melambung? Ataukah wujud sayang pada sang putra tunggal?


"Kamu penting bagiku, Mas. Tapi, Di-juniorku tetap nomor satu."

__ADS_1


Mas Rud mengambil alih putra kecil. "Sayang, ayo ke dapur! Kita masak dan makan berdua!"


Gadis ayu melongo. Secara tidak sadar, ia melepaskan Di-junior. Ia merasa telah salah sangka. "Jadi, Sayang itu bukan untukku?"


__ADS_2