
"Siapa yang akan menikah?"
Suara yang bertanya tiba-tiba, membuat ketiga insan dewasa itu menoleh seketika. Dari arah pintu, berjalan seseorang dengan raut penasaran ingin mendapatkan penjelasan.
Abang seketika berdiri dan berjalan mendekati. "Eyang."
Wanita yang berusia sekitar delapan puluh tahun tersebut tersenyum menyambut sapaan abang. "Nak Aryan, akhirnya kita bertemu lagi. Apakah kamu yang akan menikah?"
Abang membalas senyuman eyang. "Aryan belum menemukan wanita yang tepat untuk menikah, Eyang."
"Apakah kamu masih mencintai cucu menantuku?" goda eyang seraya berjalan menuju ruang tamu di mana Rendra dan Maya berada. Beliau memilih kursi di sebelah kiri Maya untuk mendudukkan diri.
Abang pun kembali ke tempatnya semula. Ia hanya menjawab candaan eyang dengan senyuman. Dan semua bisa tahu apa maksud dari gestur itu.
"Tidak, Eyang. Aryan sudah menganggapnya sebagai adik. Bukankah Eyang meminta Aryan mengenalkan gadis berbeda sebagai pasangan?"
"Apakah kamu sudah menemukannya?" tanya balik eyang.
Abang menyunggingkan senyuman. "Belum, Eyang."
"Sepertinya hatimu belum bisa membuka rasa untuk wanita lain, Nak. Menginaplah beberapa hari di sini. Nanti, eyang akan memberimu trik jitu untuk menemukan hati yang baru."
Rendra yang merasa tergelitik oleh ucapan sang eyang, ikut angkat bicara. "Rendra boleh ikutan kelasnya eyang, nggak?"
Spontan, Maya menepuk keras bahu sang suami. "Awas kamu nakal, Mas!"
"Lelaki itu harus sedikit nakal, Sayang. Terlalu baik nanti jomblo kayak Aryan."
"Tapi kamu udah punya aku. Berani mendua?" Maya merasa kesal dengan Rendra.
"Siapa yang akan menduakanmu, Sayang? Aku hanya ingin memperdalam ilmu. Bagaimana caranya mempertebal rasa sayang pada pasangan, begitu!" kilah Rendra yang akhirnya bisa mengubah amarah Maya menjadi semburat merah di tulang pipi bagian atas.
"Sepertinya, kamu juga harus belajar sama Rendra untuk merayu wanita, Nak." Eyang menyindir cucu lelakinya sekaligus menggoda abang.
__ADS_1
Lagi-lagi hanya senyuman yang bertengger di bibir. Entah apa yang ada di pikiran dan hatinya, yang nampak hanya sebuah ketenangan. Abang selalu begitu. Terlampau sulit untuk menyelami perasaan terdalam yang ia miliki.
Kedalaman rasa seorang Abang Aryan berbanding terbalik dengan ekspresi bahagia yang akan sangat mudah terbaca di wajah Mas Rud dan gadis ayunya. Mereka yang kembali dalam kubangan cinta, telah menyatu dengan lumpur dan siap untuk bertempur.
"Dia sudah tidur?" tanya Mas Rud kepada gadis ayu.
"Kecapekan, Mas. Dari berangkat tadi dia sibuk bertanya ini apa, itu apa. Sekarang tinggal ngantuknya," balas gadis ayu seraya memperhatikan wajah pulas putra tunggalnya.
"Kamu tidak ikut tidur? Istirahatlah jika mengantuk! Perjalanan kita masih jauh," ujar Mas Rud sambil membelai surai sang gadis.
"Aku nggak ngantuk, Mas."
"Baiklah. Tidurlah nanti saja bersamaku," goda Mas Rud.
Gadis ayu mencubit perut Mas Rud. "Mas, jangan sembarangan bicara! Di-junior bisa saja mendengarnya. Itu akan menjadi contoh buruk."
"Habis, aku nggak sabar."
Mas Rud kembali mengacak puncak rambut gadis ayu. Senyum yang mengembang menunjukkan jika hatinya teramat senang. Godaan demi godaan yang ia lontarkan bukan berarti menjadi petunjuk bahwa ia mesum. Itu hanya sebuah ungkapan rasa gemas yang telah tertahan selama bertahun-tahun.
"Emang kamu nggak gemas sama aku?" tanya Mas Rud dengan senyum penuh arti.
"Enggak."
"Masa?"
"Hm."
"Padahal Lyca aja gemas sama aku, loh."
Seketika gadis ayu menoleh ke arah Mas Rud. Ia menyelisik kebenaran kata-kata dari kekasihnya. Wajah yang tidak juga menjauhkan senyum dari bibirnya itu, ditatap dengan lekat.
"Jujur sama aku, Mas! Kalian sudah berhubungan sejauh apa?"
__ADS_1
"Sejauh London itu berada." Mas Rud sengaja menggoda gadis ayunya.
"Sepertinya aku harus rela mendapatkan perjaka rasa duda," ujar gadis ayu seraya membuang muka.
Sebuah usapan di puncak rambut gadis ayu kembali membelai dengan lembut. "Jangan berpikiran macam-macam! Sudah kubilang bahwa segala tentangku selalu utuh untukmu. Bukan hanya rasa tetapi juga raga."
Senyum yang terpatri di bibir, tidak bisa membohongi hati. Cinta di antara mereka benar-benar besar. Tidak terhapus meskipun jarak dan waktu menjadi penghalang. Kembali bersama setelah sekian lama berpisah, mungkin itulah sejatinya jodoh yang tertunda.
Mas Rud dan gadis ayu yang terus meluapkan rasa, seirama dengan dua lelaki yang tengah bersantai di teras sebuah rumah.
"Buka hatimu sekarang! Kedatangan Rud adalah jalan buntu cintamu. Aku tahu kamu ikhlas. Itu berarti ini menjadi saat yang tepat untukmu bisa memberi kesempatan pada wanita lain agar bisa menikmati cinta yang selama ini hanya kamu berikan pada Rosa." Rendra menasihati seolah ia bisa membaca hati abang.
Tangan kanan Rendra diangkat dengan cepat ketika abang akan berucap. "Dengarkan aku bicara!
Hati ini aku tidak ingin mendengar kalimat bijakmu. Aryan, ayo melaknat! Sekali-kali keluarkan emosimu! Jadi laki-laki jangan terlalu manis. Wanita lebih suka yang greget. Kamu lihat Dion, dia butuh sepuluh tahun perjuangan untuk mendapatkan Rosa. Rud ... dia bahkan lebih gila. Kamu! Cari wanita yang bisa kamu puja sekaligus dia memujamu. Percayalah jika yang perawan itu lebih menawan."
Lagi-lagi Rendra mengangkat tangan kembali. "Janda tetap menggoda itu hanya pesona Rosa di hadapan Rud yang mencintainya dengan gila."
Telunjuk Rendra memagari tengah bibirnya sendiri. "Aku kasih tahu, perawan itu polos, menggemaskan, bikin ketagihan, dan memuaskan."
Abang hanya memperhatikan Rendra dengan bersikap sangat tenang. Tidak ada kata terpantik emosi oleh provokasi. Bahkan senyuman itu tersungging dengan sudut yang sangat tinggi melengkung. "Aku adalah aku, Ren. Cintaku, caraku mencintai, bahagia yang ingin kucipta, semua adalah jalan hidup yang sudah aku pikirkan dengan matang. Kamu, bahkan kalian tidak akan sanggup memahami."
Sekarang, ganti abang yang mengangkat tangan untuk menghentikan penyelaan yang akan Rendra lakukan. "Aku tahu kalian mengasihaniku. Itu tidak perlu. Apa yang kalian lihat tidak seperti yang aku rasakan. Tidak ada yang bisa memahamiku selain diriku sendiri. Aneh? Ya, Rosa membuatku menjadi lelaki yang bisa mencintai sendiri tanpa rasa sakit. Mustahil! Itu 'kan kalian yang menilai. Aku yang menjalani? Happy."
Abang kembali mengangkat tangan untuk kali kedua. "Kamu tidak normal, Aryan? Justru aku menjadi lelaki normal setelah mengenal Rosa. Kamu tahu, dulu hidupku sangat monoton. Karena mengenal dia, keluarganya, hidupku menjadi sangat berwarna. Aku punya adik yang bisa kumanja. Ada keluarga utuh yang sangat kurindu. Kebahagiaan bisa hadir di sisinya jauh lebih besar dibanding dengan cintaku yang tidak seberapa dibanding milik Dion bahkan Rud."
Telunjuk abang juga ikut menutup bibirnya yang mengatup. "Aku tidak akan menikahi wanita lain hanya untuk terlihat sudah move on. Hati tidak untuk dicoba. Suatu saat cinta untukku pasti ada. Ya, aku percaya itu."
Spechless.
Rendra kehilangan kata. Ia benar-benar tidak dapat lagi menyangkal. Kalimat panjang sang sahabat membuatnya tercekat.
Sesaat ketika ia sudah mampu menguasai diri, kaki ia bawa berdiri. Mendekat abang dan menepuk bahunya pelan. "Kamu hebat, kawan! Semoga Tuhan segera mengirimkan bidadari untuk malaikat tak bersayap ini."
__ADS_1