Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)

Mas Rud (Novel Cinta Sang Bodyguard)
Ada Apa?


__ADS_3

Perjalanan yang diawali itu akhirnya akan mencapai titik finish sebentar lagi. Panjangnya jalan tol antara Jogja dan Jakarta sudah terlewati tanpa kemacetan sama sekali. Saat ini, mereka sedang menyusuri tol dalam kota dan sebentar lagi akan keluar gerbang dengan lancar.


Senja yang penuh semburat warna oranye terlihat indah di langit. Gadis ayu dan Di-junior nampak pulas di kursi belakang. Seat belt yang terpasang menahan mereka dari guncangan. Sementara Mas Rud dan abang tengah berbincang santai di bangku depan.


Sepuluh menit berlalu, mobil berpenumpang empat orang itu telah memasuki halaman kediaman gadis ayu. Mas Rud menggendong Di-junior yang masih terlelap. Sementara gadis ayu masih mengumpulkan nyawa karena baru saja membuka mata.


"Masih ngantuk? Perlu aku gendong juga?" goda abang pada sang adik yang nampak masih malas untuk beranjak.


"Boleh, Bang," timpal gadis ayu asal.


"Aku hanya basa-basi. Kalau benar-benar mau digendong, tunggu Mas Rudmu balik lagi," ucap abang dengan menawarkan senyuman.


"Aku mau digendong Abang," ujar gadis ayu balik menggoda.


"Jangan manja berlebihan! Kamu 'kan tahu jika calon suamimu itu pencemburu."


"Kalau 'gitu, Abang aja deh yang jadi calon suamiku."


"Aku nggak mau jadi serepan. Udah, ayo turun!"


Dengan bermalasan, gadis ayu keluar mobil. Ia bergelayut pada lengan abang karena masih belum terjaga dengan benar. Sesampainya di sofa ruang keluarga, ia merebahkan dirinya begitu saja.


"Secapek itukah perjalanan dari Jogja?" sindir Kristy yang ikut duduk santai di karpet bersama si abang.


"Aku masih ngantuk," jawab gadis ayu seraya memejamkan mata.


"Mandilah dulu, Sayang! Sudah kusiapkan air hangat di bathtub," ujar Mas Rud yang baru saja bergabung.


"Mas Rud perhatian banget. Enaknya jadi Mbak Rosa," celetuk Kristy sambil memasukkan camilan ke dalam mulut.


"Mau kayak Mbak Rosa? Tuh, siapin air buat Mas Aryan mandi! Dia lelaki penyayang juga, sama sepertiku. Curi terus hatinya! Semangat, Kris!" ucap Mas Rud yang dibalas semangat balik oleh Kristy.


"Apa nih sebut-sebut namaku?" tanya abang yang baru saja masuk ruang keluarga.


"Kristy pengen disayang," celetuk Mas Rud seraya mendekat pada gadis ayu. Ia menekuk lutut dan membangunkan sang kekasih dengan hati-hati.


Sementara si abang juga mendekati Kristy seraya mengumbar senyuman. "Ada apa adik bungsu abang?"


Belum sempat Kristy menjawab, abang disibukkan oleh dering telepon yang memanggilnya. Ia pun sedikit menjauh.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, abang kembali dengan senyuman kecil. "Adik abang semua, aku balik dulu, ya. Papa kangen. Salam ya buat mama."


"Ayo, aku antar! Kamu masih capek habis nyetir jauh," tawar Mas Rud.


"Tidak usah, aku naik taksi saja. Kamu juga capek. Lagian, rumah kita tidak searah. Kamu cuma berkedip saja sudah sampai, aku jauh."


"Bang, hati-hati!" ucap gadis ayu yang tiba-tiba bangun dan memeluk abang dengan penuh rasa sayang di hadapan Kristy dan Mas Rud.


"Aku akan selalu hati-hati. Punya adik semanja ini mana mungkin aku bisa ceroboh," timpal abang seraya membelai surai sang adik.


Kemesraan sepasang saudara buatan itu harus diakhiri ketika abang harus segera pulang. Ada rasa tidak rela dihati gadis ayu, tetapi berusaha untuk ditepisnya. Ia melepas kepergian abang hingga sosoknya menghilang, tidak lagi nampak pada indra penglihatan.


Ketika ia memutar tubuh, ia melihat Kristy dan Mas Rud menatapnya penuh. "Ada yang salah?"


"Mbak Rosa segitunya sama abang? Aku cemburu," ucap Kristy berwajah serius.


"Aku juga ingin cemburu tetapi terganjal janji di Jogja. Rasanya dilema," timpal Mas Rud tak kalah menggerutu.


Gadis ayu membuang napas perlahan. "Aku sudah terbiasa begitu dengan abang. Bukankah kalian juga tahu?"


Penjelasan gadis ayu tidak berhasil mengubah apapun. Ia pun kembali menghela napasnya lagi. "Beri aku waktu untuk mengurangi kemanjaanku dengannya!"


"Aku mandi dulu," pamit gadis ayu untuk meninggalkan Kristy dan Mas Rud.


Dua insan itu memaku langkah yang dibawa pergi putri sulung keluarga itu. Hingga menghilang di balik tangga lantai dua, barulah mereka saling melekatkan tatapan.


"Kita salah bicara, Mas?" telisik Kristy merasa tidak enak hati.


"Mungkin dia kecapekan. Sudahlah, kita memang harus terima kedekatannya dan Aryan yang sedikit membuat perih. Ngomong-ngomong, beneran kamu suka sama Aryan?"


"Nggak," jawab Kristy singkat.


"Kok cemburu?" Mas Rud terus mengejar pengakuan calon adik ipar.


"Itu hanya candaan saja, Mas. Jangan percaya dengan semua perkataanku tentang Mas Aryan."


"Oke! Aku tidak akan percaya jika kamu tidak menyukainya," ujar Mas Rud seraya mengangkat kedua alisnya bersamaan.


"Mas Rud menyebalkan," balas Kristy kesal.

__ADS_1


"Memang hanya Mbakmu yang kuizinkan melihatku dan jatuh cinta. Yang lain harus kesal karena aku tidak bisa melihat mereka berharap."


"Kalian berdua emang pasangan menyebalkan. Cocok. Buruan nikah!"


Mas Rud menebar senyuman beraura bahagia. Ia sandarkan punggung pada sofa yang baru saja ia jadikan pelepas lelah dari posisi bersimpuh. Ia senang menggoda calon adik ipar dan itu sepertinya akan berkelanjutan.


"Nikah bareng yuk, Kris? Seru kayaknya," ujar Mas Rud.


"Boleh, tapi aku nunggu ada dewa jatuh dari atap dulu."


"Dewa apa'an?" tanya asal Mas Rud.


"Anggota Dewan."


"Matre kau, Kris."


"Hari gini makan cinta? Kalian aja!"


Mas Rud melepas tawa. Ia merasa lucu dengan tingkah sang calon adik ipar. Sindiran yang dilayangkan sudah jelas menyasar padanya. Cinta gila, itulah titik fokus dari kalimat ketus itu. Bukannya merasa tersinggung, justru ia merasa dikungkung haru. Tidak banyak yang memiliki rasa setinggi dirinya. Itu adalah cinta yang luar biasa.


"Memang hanya kami yang bisa hidup dengan cinta."


"Kalian emang pasangan aneh," ujar Kristy tanpa basa-basi.


Disebut tidak seperti kebanyakan orang, Mas Rud malah tertawa riang. "Cinta kami akan tertulis dalam sejarah. Bersanding dengan Rama-Sinta, Romeo-Juliet, Aryan-Kristy ... eh pasangan terakhir skip ya!"


"Mas Rud menyebalkan." Lagi-lagi Kristy dibuat kesal.


Ketika mereka tengah saling berulah, tiba-tiba ada dering nyaring yang membuat bising. Suara itu berasal dari tas gadis ayu.


"Angkat, Mas!" perintah Kristy pada Mas Rud.


"Biar diangkat mbakmu sendiri aja," balas Mas Rud karena tidak suka mengutak-atik benda pribadi pasangan.


Kristy setuju. Panggilan itu mereka biarkan. Namun, ketika dering berulang kesekian kali, maka hati menjadi tidak tenang. Mas Rud merasa tergerak untuk membuka tas. Gawai itu diambil. Ia mengernyitkan dahi. Sebuah nomor tanpa nama membuat curiga.


"Halo!" sapa Mas Rud setelah mengangkat panggilan itu.


Raut wajah semakin berubah. Kediaman Mas Rud menimbulkan rasa penasaran. Kristy menjadi ikut bingung.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya gadis ayu yang baru saja turun dan merasa ada hal yang terjadi, ketika melihat Mas Rud dan Kristy.


__ADS_2